Monthly Archives

June 2017

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Agan Dayat, Photozine Muse dan Personal Project Photography

Photozine Muse dan Personal Project Photography

Silahkan perkenalkan diri anda?

Hai.. nama saya Muhammad Hidayat, tetapi teman teman lebih sering memanggil Agan Dayat, Saya lahir di Manado tetapi dibesarkan di Jakarta dan sekarang berdomisili di Banda Aceh.

Kenapa anda tertarik pada fotografi?

Buat saya fotografi merupakan sebuah alat atau media untuk pelampiasan emosi karena melibatkan semua perasaan seperti kesal, sedih bahkan gembira dan semua itu dapat saya tuangkan kedalam sebuah foto, dan hal itu menjadikan fotografi merupakan bagian dalam hidup saya saat ini.

Pada project Muse, apakah yang motivasi terbesar anda sehingga akhirnya muncul project ini?

Project ini saya kerjakan pada tahun 2016. Awalnya karena melihat berbagai hal yang terjadi seperti bencana alam, berbagai kejahatan dan semua kekacauan yang terjadi di negeri ini, dimana nyawa tidaklah begitu berarti beberapa orang memiliki pikiran yang sangat sempit dan dengan mudah untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga pada suatu waktu timbul seperti adanya rasa takut dalam hidup yang saya jalani, mungkin semua hal itu menimpa orang lain tetapi tidak bisa dipungkiri suatu saat akan menimpa saya.

Saat itu saya benar-benar mengalami sebuah ketakutan dan kekuatiran, sehingga hampir beberapa hari saya mengambil waktu untuk merenungkan tentang kehidupan yang saya jalani.

Akhirnya saya mendapat sebuah jawaban dari semua perasaan takut yang dialami.

Bersyukur, ya kalimat ini yang muncul dalam hati kecil saya sehingga saya seharusnya merasa bersyukur karena masih bisa tetap bernafas dan tetap dalam keadaan yang sehat hingga saat ini dan bukannya merasa takut dan kuatir.

Bagaimana dengan mereka yang hidupnya begitu mengharukan, bagaimana dengan mereka yang tetap berjuang untuk bertahan hidup dalam kesakitan dan kelaparan.

Semua perasaan dan pemikiran ini yang mendasari dalam pembuatan project Muse.

Secara visual menurut saya, karya pada Muse ini mengingatkan kepada foto-foto Jacob Aue Sobol, apakah ini suatu indikasi bawah Jacob Aue Sobol sangat menginspirasi anda?

Saya mengenal fotografi dan baru bener-bener mendalaminya sekitar pertengahan tahun 2015, sehingga masih sangat minim dengan berbagai referensi Fotografer.

Hal yang sangat menarik buat saya, saya sudah mengambil beberapa foto untuk mengerjakan project Muse dan saya mencoba share dengan beberapa teman yang tergabung dalam salah satu komunitas fotografi yang berbasis media sosial atau group LINE dan pada saat itu salah satu temen mengatakan foto saya mirip dengan karya-karya dari Jacob Aue Sobol, saat itulah saya baru tau dengan nama Jacob Aue Sobol yang sebelumnya saya tidak pernah mengetahuinya.

Saat itu juga saya mulai googling untuk melihat karya karya Jacob, membaca beberapa tulisannya dan akhirnya beliau merupakan salah satu fotografer yang begitu menginspirasi dalam melihat sebuah karya foto.

Maukah anda menceritakan proses dibalik pengerjaan project Muse ini?

Semua foto dalam Muse pengambilannya menggunakan kamera dari telepon seluler. Orang-orang yang ada didalamnya sebagian merupakan teman-teman kantor saya.

Hal yang menarik pengambilan frame demi frame dengan cara candid.

Beberapa dari mereka menertawakan saya karena baru menyadari saya mengambil foto kaki, tangan dan beberapa bagian tubuh mereka, bahkan ketika project Muse selesai beberapa dari mereka terkejut karena ada dalamnya.

Bagaimana anda membagi waktu antara kesibukan pekerjaan dengan pengerjaan sebuah project foto?

Sebenarnya memiliki waktu yang khusus untuk pengerjaan sebuah project foto bisa dikatakan tidak ada, biasanya saya mengambil beberapa waktu sekitar 1-2 jam pada saat weekend (itupun kalo memang bener-bener tidak sedang mengerjakan sesuatu).

Pertama kali saya melihat project Muse dalam bentuk medium cetak berupa photozine, kenapa lebih memilih menggunakan medium cetak sedangkan penyebaran secara digital lebih mudah diakses oleh banyak orang?

Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

Kenapa anda begitu tertarik dengan personal project?

Nah! Ini pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab, kembali dengan apa yang saya katakan sebelumnya bahwa fotografi itu merupakan sebuah pelampiasan emosi dan buat saya fotografi itu bagian dari hidup dan saat ini fotografi merupakan sesuatu yang sangat indah yang saya miliki saat ini. Kenapa dengan personal project ?

Disitulah saya bisa melampiaskan apa yang saya rasakan apa yang saya alami kedalam sebuah personal project, karena berbicara personal berarti sesuatu yang sangat pribadi dan sangat spesifik, saya baru menyadari bahwa personal project adalah jalan untuk melihat kembali kehidupan yang saya jalani mulai dari kecil hingga saat ini.

Apakah ada kendala tersendiri ketika proses pengerjaan personal project?

Kendalanya ya hanya satu tidak semua orang akan dapat dengan mudah untuk menerima foto dan karya yang kita tawarkan.

Adakah anda punya saran, jika nantinya ada rekan-rekan pembaca ingin memuluai sebuah project fotografi?

Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret ( dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret ) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Bio

Muhammad Hidayat (b.1982) Lahir di Sulawesi Utara dan saat ini berdomisili di Banda Aceh bekerja sebagai staf bagian anggaran pada salah satu instansi pemerintahan di Kota Banda Aceh.

Mengenal fotografi sejak pertengahan tahun 2015 dan mulai serius dan memfokuskan diri dengan fotografi, sangat tertarik pada fine art dan expressionism fotografi. Foto-foto dan karyanya sangat personal, mengambil pengalaman dari kehidupannya.

Baginya fotografi bukan sekedar menekan tombol shutter tetapi bagaimana mencurahkan segala perasaan didalamnya serta pelampiasan dari emosi.

Beberapa karya yang telah di published beberapa website Photography

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Agan Dayat

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Uncategorized,

Interview bersama Arif Sahroni, Mengenai Project Sluggish Zoo

Photo Essay Sluggish Zoo

Silahkan perkenalkan diri anda

Sampurasun nama saya Arif, lahir dan besar di kota Bandung

Apa membuat anda begitu tertarik dengan foto dokumenter?

Saya adalah orang yang menyukai sesuatu yg berbau mesin waktu, seperti film, kartun, dll.

Ketika menggeluti fotografi dokumenter saya menemukan mesin waktu versi saya sendiri yaitu sebuah foto, dengan sebuah foto kita bisa seolah-olah kembali ke masa di mana foto itu diambil, merasakan suasana ketika foto itu diambil.

Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada saat itu bisa menjadi sebuah kenangan tersendiri ketika di kemudian hari kita melihatnya, seperti “waktu itu lagi trend ini, waktu itu lagi ada kejadian ini”.

Pada project Sluggish Zoo ini apa yang menginspirasi anda? Dan apakah pesan yang ingin disampaikan pada project ini?

Kebun Binatang Bandung merupakan tempat yang sangat berkesan bagi saya, karena ketika kecil saya sering ke sana untuk bertamasya bahkan ketika saya beranjak dewasa tempat tersebut menjadi salah satu saksi kehidupan asmara saya, yang membuat saya tertarik dan terinspirasi membuat project ini adalah ketika melihat pemberitaan negatif terhadap kebun binatang ini soal hewan–hewan yang tak terurus, saya tertarik sekaligus ingin membuktikan apakah benar pemberitaan tersebut.

Saya merasakan kelesuan yang terjadi di kebun binatang itu, mulai dari kandang–kandang kosong, kotor, tak terurus, tidak ada lagi interaksi antara binatang dan pengunjung seperti atraksi mengelilingi kebun binatang menggunakan gajah atau sekedar berfoto dengan orang utan, lalu sepi nya pengunjung padahal ketika saya ke sana itu adalah hari minggu yang biasanya menjadi waktu favorit bagi masyarakat bertamasya.

Berapa lama proses dalam pengerjaannya?

Proses pengerjaannya tidak terlalu lama, kurang lebih 2 minggu

Pada umumnya photo story dikemas dengan hitam putih, kenapa anda lebih tertarik dengan pengemasan foto berwarna?

Saya pernah membuat photo story dalam hitam putih dan merasakan kekurang puasan karena tidak konsistennya hitam putih yang saya tampilkan, mungkin karena saya belum terlalu mengerti dengan foto hitam putih, jadi lebih baik saya menampilkannya dalam warna.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya saya menyukai sesuatu yang berbau mesin waktu, menurut saya warna juga bisa menjadi identitas sebuah era, baik itu warna pakaian, warna bangunan atau apapun itu

Apa saja tahapan yang anda lakukan dalam membuat sebuah project fotografi?

Mencari ide atau isu yang akan diangkat, mencari informasi singkat tentang isu tersebut, menemukan pesan yang akan disampaikan, lalu eksekusi foto sesuai dengan pesan, kesan, atau apapun yang akan disampaikan, editing foto (Sequences) biasanya saya dibantu oleh beberapa teman yang lebih berpengalaman dalam proses ini, tentunya tidak sampai merubah alur atau pesan yang saya ingin sampaikan.

Adakah anda punya saran, jika nantinya ada rekan-rekan pembaca ingin memuluai sebuah project fotografi seperti Sluggish Zoo ini?

Saran untuk memulai lebih baik untuk langsung dilakukan tidak hanya menjadi sebuah rencana atau wacana dalam diri saja, sebuah pesan yang pernah saya dengarkan dari standup comedian favorit saya yaitu Pandji Pragiwaksono dalam Juru Bicara world tour yaitu “Kunci dari berkarya adalah mulai dulu aja lalu bikin yang lebih baik, kunci dari berkarya adalah berproses”.

Saat ini referensi dan informasi sangat mudah didapatkan di internet, sehingga tidak menjadi hambatan ketika pengetahuan kita belum cukup untuk membuat suatu karya, publikasikan karya kita kepada orang–orang lalu minta mereka menilai atau mengkritik agar tahu di mana kurang nya, untuk bekal dalam meembuat project yang lain nantinya.

Nama lengkap Arif Sahroni sehari-hari dipanggil Arif, awal memulai terjun di dunia fotografi tahun 2015, belajar secara otodidak, latar belakang pendidikan Sarjana Teknik Sipil bekerja sebagai Tenaga Ahli Sipil bidang perencanaan pada konsultan in-house sebuah bank milik pemerintah, 1 tahun terakhir sedang menekuni street photography.

Pengalaman di bidang fotografi:

  • Pada tahun 2015 mendapatkan juara harapan lomba foto konstruksi nasional yang diselenggarakan LPJK,
  • Juara 1 lomba foto konstruksi yang diadakan oleh UNSERA (Universitas Serang Raya) tahun 2016,
  • 10 besar terbaik dan terfavorit di Lomba Photostory Budi Luhur Dalam Lensa Kamera 2016 tingkat Mahasiswa,
  • Mendapatkan special mention di lomba Black and white Photography – 109 yang diadakan oleh situs kujaja.com pada tahun 2016,
  • Finalis Bandung Hitam Putih pada tahun 2017, aktif di beberapa komunitas fotografi.

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Arif Sahroni