Absurdity, by Slamet Riyadi

Saya Slamet Riyadi, teman-teman biasa panggil saya Didi. Keseharian saya adalah mengajar di sebuah universitas negeri di Bandung sejak 2015 lalu. Fotografi sebenarnya bukan passion yang saya tekuni dengan serius maupun saya jadikan sebagai profesi. Sebagai seorang pengajar di jurusan desain dan sebagai praktisi desain produk, saya menyukai hal-hal yang bersifat mekanikal dan memiliki nilai desain dan engineering yang tinggi, salah satunya adalah kamera analog. Meskipun begitu, saya beruntung sudah mengenal dunia fotografi sejak saya masih duduk di bangku SD karena orang tua saya kebetulan penggemar fotografi juga hingga akhirnya saya pun “terbawa arus” dalam hobi fotografi ini walaupun tidak saya tekuni sebagai profesi.

2011 hingga 2015 saya berkesempatan untuk merantau ke negeri matahari terbit untuk melanjutkan studi saya hingga akhirnya saya ‘mengenal kembali lebih dalam’ dunia fotografi analog yang lama tidak saya lakukan sejak SMP. Saat itu saya mulai menyukai karya-karya dari beberapa fotografer Jepang yang memiliki ciri khas unik dalam teknik framing di setiap fotonya, khususnya dalam fotografi analog.

Selama saya tinggal di sana, saya mencoba mempelajari beberapa karakteristik dan keunikan yang terdapat pada karya-karya fotografer lokal di sana seperti framing, jenis kamera, focal length yang biasa dipakai, jenis film hingga exposure value yang selalu dipakai oleh mereka hingga saya berharap suatu saat saya bisa mencobanya sendiri dalam project yang akan saya lakukan.
Dalam proses studi saya di sana, saya biasanya menyempatkan 2-3 jam untuk bermain dengan kamera analog yang biasa saya bawa setiap hari sambil “hunting” disekitaran kampus dan apartemen tempat saya tinggal.

Absurdity merupakan project pertama saya yang saya anggap menjadi project yang digarap dengan tujuan untuk dapat mencoba mengadaptasi ciri khas fotografer lokal di sana dalam menyampaikan sebuah pesan “susahnya menjalani perkuliahan di negeri sakura” tersebut.
Dalam project ini, saya berusaha memvisualkan emosi positif seperti girang, senang serta emosi negative seperti rasa khawatir, panik, bingung namun dengan format yang informal.

Related:  Futile, by Ian Hananto

Kamera: Leica M3 + voigtlander nokton classic 35mm f/1.4
Film: Kodak gold 200

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Slamet Riyadi

Leave a Reply