Author

Tomi Saputra Ghazali

writer

Tomi Saputra is a Freelance Photographer, Graphic Designer, Digital Marketing, and social media management practitioner. Based in Bandung, Indonesia. Is very interested in learning about many things while having conversations over black coffee. He is also actively writing for Maklum Foto.Tomi co-founded MaklumFoto, Founder Fnd It Magazine. Follow on Twitter at @udatommo

Articles, Photography,

2 Pengkarya Berbagi Pengalaman ‘Self-Published’ Photobook

Beberapa tahun terakhir ini minat pegiat fotografi di tanah air cukup antusias untuk membukukan karya-karya mereka, baik itu melalui self-published maupun publisher major. Tentunya menjadi self-publisher mempunyai tantangan tersendiri.

Silahkan simak tulisan berikut dari 2 pengkarya yang bekenan berbagi pengalaman mereka pada jalur  self-published.

DEPTH OF BLUE SEBAGAI ‘SELF-PUBLISHED’ PHOTOBOOK

Aditya Dwi Putra

Depth of Blue adalah rilisan pertama dari series visual mixtape yang menggunakan media audio (mixtape) – visual (photobook) untuk menyampaikan maksud dari karya tersebut. Nama saya adalah Aditya Dwi Putra, dan dalam kesempatan ini saya akan membagi opini dan pengalaman saya mengenai fenomana ‘self-published’ dalam ranah photobook & art-book dengan menggunakan karya ini sebagai sudut pandang dalam menyampaikan opini dan pengalaman saya.

Sedikit latar belakang, karya ini dimulai sebagai tuntutan tugas akhir dari mata kuliah fotografi seni yang saya ambil dalam tahun terakhir masa perkuliahan saya. Di-supervisi oleh Mas Henrycus Napitsunargo, persiapan dalam menyelesaikan visual mixtape/photobook ini dimulai dengan proses konsepsi karya dalam format proposal untuk memperjelas cakupan tujuan dan konsep karya ini dari perspektif yang tepat.

Saya membagi proses berkarya saya menjadi 2, yaitu proses logis (proses kreatif yang berkaitan dengan dengan proses berfikir logis, sestematis, dan berkaitan dengan premis dan hubungan sebab-akibat) dan intuitif (proses kreatif yang berkaitan dengan rasa, hal hal spiritual dan aspek-aspek ‘íntangible’).

Aspek intuitif memiliki kontribusi yang cukup besar dalam proses konsepsi dan proses pemetaan kejaran visual dari karya ini. Dan aspek logis berperan penting dalam proses eksekusi visual. Dan dalam tahap post-produksi, kedua aspek ini sama-sama memiliki andil yang cukup besar.

Secara umum karya ini memiliki tujuan untuk menyampaikan suatu emosi dasar melaui media audio (mixtape) dan visual (photography/photobook) sebagaimana disampaikan sebelumnya. Hasil akhir dari karya ini adalah suatu produk yang memilki bentuk mirip seperti photobook (saya sendiri lebih prefer menyebutnya sebagai visual mixtape) yang didampingi dengan link digital ke mixtape audio untuk merasakan keseutuhan dari karya ini.

Singkat cerita, karya ini bisa di publikasikan berkat dukungan dari salah seorang teman saya yang melihat potensi dari karya ini, dan menurutnya akan sangat disayangkan apabila karya ini hanya dapat dinikmati oleh beberapa orang saja.

Pada akhirnya, karya ini dicetak dan dipublikasikan oleh Retrospective Journal yang memiliki program untuk membantu artist independent dalam memproduksi dan menyeberluaskan karya mereka dengan memberikan bantuan dalam proses percetakan dan proses transformasi karya kedalam bentuk fisik, dengan hasil printing yang berkualitas dan juga membantu dalam proses distribusi melalui penjualan di situs mereka.

Lebih dalam mengenai topik ‘self-published’, pengalaman saya belum dapat dikatakan murni sebagai proses ‘self-publishing’. Hal ini disebabkan Retrospective Journal memiliki kontribusi yang cukup besar dalam membentuk karya ini mencapai bentuk fisiknya. Akan tetapi mungkin saya dapat memberi proyeksi tentang bagaimana mempublikasikan karya dengan jalan ‘self-published’.

Self-published photobook yang dimaksud disini adalah bahwa setiap proses yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu karya dari awal hingga akhir dan proses distribusi itu sendiri dilakukan oleh artist/photographer itu sendiri.

Keuntungan dengan memilih jalur self-published dalam memproduksi dan mendistribusikan karya adalah ketiadaan batasan dan tuntutan dari berbagai pihak terkait karya itu sendiri. Selain itu, semua keuntungan (baik materil ataupun immaterial) 100% akan menjadi hak fotografer/artis. ‘Self-Published’ (independent) sendiri menjadi cukup populer sebagai sebuah opsi publikasi dikarenakan ketatnya peluang yang diberikan oleh publisher besar terhadap para fotografer atau artist yang memilki cakupan karya dengan diversitas yang cukup beragam.

Dalam kasus saya, Retrospective Journal sendiri bisa dibilang berperan sebagi publisher minor, dikarenakan kontribusi signifikan yang diberikan oleh penerbit/percetakan asal semarang ini hanya ada dalam cakupan proses printing / produksi karya. Sedangkan mengenai kontribusi akan proses distribusi, bisa dibilang Retrospective belum memberi kontribusi yang cukup signifikan sehingga distribusi karya sebagian besar banyak dilakukan oleh artist sendiri melalui word of mouth dan sistem consignment ke beberapa retailler artbook/photobook ataupun artshop.

Keuntungan yang saya dapat disini adalah hasil printing dan binding serta packaging product yang sangat memuaskan dengan harga yang cukup terjaungkau dibanding kompetior lainya dalam ranah digital printing (print by demand).

Dalam sudut pandang lainya, permasalahan yang saya dapat disini adalah kesulitan dalam hal distribusi karya melalui sistem consignment, dikarenkan 30-40% dari harga jual produk akan diambil oleh reseller dan apabila anda meng-published photobook/karya anda dengan cara digital printing/print by demand margin keuntungan anda apabila menggunakan cara ini amanya berada disekitaran 30-40% tersebut (apabila dilakukan komparasi dengan produk sejenis).

Kesulitan ini banyak dirasakan oleh banyak artist/photographer yang mempublikasikan karya mereka dengan cara ini.

Dan salah satu resolusi umum untuk permasalahan ini adalah mencetak karya anda dengan sistem offset (print banyak, system cetakan yang notabenya lebih murah dibanding sistem digital printing, akan tetapi untuk mencetak karya anda dengan cara ini ada regulasi minimum order yang mengharuskan anda untuk menyiapkan modal yang cukup besar untuk pencetakan karya anda.

Belum lagi apabila membahas mengenai effort yang cukup rumit dan beberapa riset terkait karakteristik material cetakan dan detail produksi lainya yang harus anda lakukan apabila mencetak dengan cara ini).

Sebagai kesimpulan, pilihan untuk mempublikasi karya anda dengan cara independent/self-published ataupun bergantung ke publisher major, sangat tergantung dari tujuan dari karya itu sendiri. Dalam kasus saya, kebutuhan untuk mempublikasi karya saya sendiri hanya bermula dari tujuan aktualisasi diri personal untuk membentuk karya saya ke dalam bentuk artefak fisik.

Kemudian tujuan ini berkembang lebih jauh menjadi demi penyebarluasan karya saya ke market yang sesuai tanpa ada ekspektasi lebih (finansial ataupun hal lainya). Pada zaman sekarang, juga ada pilihan untuk mempublish karya anda melalui media digital.

Akan tetapi seperti testimoni dari beberapa pihak, suatu karya belum terasa nyata sampai anda menyelesaikan karya tersebut kedalam bentuk fisik. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, itu semua tergantung dari tujuan karya anda, Dan tulisan inipun cuma sebatas opini. Cheers

 

SELF PUBLISH

Agan Dayat

  1. PERSIAPAN PROJECT

Dalam pengerjaan sebuah project biasanya terdiri dari beberapa tema yang dikerjakan secara bersamaan (on going), pergerjaan sebuah project pun bisa memakan waktu enam bulan sampai satu tahun bahkan bisa lebih, tergantung persiapan dan pengerjaannya. Setelah itu masuk ke tahapan produksi.

  1. TAHAPAN PRODUKSI

Setelah project selesai dikerjakan dalam hal ini pengumpulan materi, narasi, layout dan editing hal berikut yang dilakukan adalah mencari tempat produksi atau publisher. Ini adalah salah satu kendala yang terbesar bagi saya dalam penentuan tempat publisher berhubung saya tinggal di daerah yang bisa dikatakan belum terbiasa dengan percetakan sebuah buku foto, Biasanya saya sering berdiskusi terlebih dahulu dengan beberapa teman yang juga dilakukan sebatas chatting atau media sosial digunakan untuk berkomunikasi.

Setelah mendapat tempat produksi yang akan saya gunakan untuk menjadi tempat produksi disini juga menjadi kendala, karena saya tidak langsung bertemu atau berkomunikasi secara langsung dengan pihak produksi dan hanya berkomunikasi via media sosial bahkan terkadang melalui e-mail. Alangkah baiknya dilakukan test print sebelum mencetak dumi untuk buku foto agar kita dapat melihat bagaimana cetakan tersebut lebih kepada teknisnya.

Dan hal ini jarang sekali saya lakukan, dikarenakan jarak yang jauh sehingga memakan cost yang lumayan untuk proses pengiriman. Inilah beberapa kesulitan yang saya sering hadapi pada saat membuat sebuah project atau buku foto. Jarak, waktu, komunikasi serta biaya yang semuanya serba penuh dengan keterbatasan.

Tetapi semua keterbatasan ini tidak menjadi sebuah penghalang bagi saya untuk tetap membuat atau menghasilkan sebuah buku foto, justru bagi saya ini adalah sebuah proses dalam penciptaan sebuah karya dan bagaimana setiap proses ini menjadi sebuah kenikmatan dan tantangan untuk berkarya.

  1. PUBLIKASI DISTRIBUSI

Media sosial masih merupakan medium yang cukup baik dan cukup memberi dampak untuk alat promosi maupun publikasi. Beberapa hal yang lain meminta teman untuk membantu mempublikasikan karya kita di akun-akun media sosial mereka. Submissions project ke berbagai media juga merupakan tahapan publikasi yang baik menurut saya.

Tidak hanya sampai kepada publikasi tetapi saya mengambil inisiatif untuk pendistribusian ke tempat-tempat yang memberikan jasa untuk menjual buku foto, terkadang saya hanya memberikan secara gratis ke beberapa tempat seperti perpustakaan keliling dan beberapa yang lain sebagai bentuk distribusi.

Simak juga

 

 

 

 

Blog, Interviews,

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Q & A Hipercatlab

Bagaimana awal mulanya Hipercatlab mulai melayani jasa develop film hitam putih?

Sebelum punya nama hipercatlab, tahun 2009-2010 saya aktif di sebuah forum online yang salah satu thread-nya membahas tentang proses film. Dari forum tersebut saya mempelajari ilmu proses film BW secara otodidak, sampai suatu ketika beberapa teman di forum tersebut meminta untuk memproses film BW mereka.

Dari situ muncul ide untuk membuka jasa proses film BW. Baru di tahun 2014 usaha saya ini diberi nama Hipercatlab, tujuannya agar lebih mudah diingat dan gampang untuk dikomersilkan.

Adakah strategi khusus untuk mendapatkan customer pada awal merintis Hipercatlab?

Pelanggan di awal-awal saya membuka jasa proses film hampir semua adalah teman dan kenalan dari internet. Kalau strategi khusus sih tidak ada, yang saya lakukan adalah promosi lewat media sosial yang menurut saya sangat efektif.

Berapa roll film hitam putih yang bisa diselesaikan dalam satu hari?

Dalam 1 hari kami mengerjakan proses BW 10-14 roll.

Kendala apa yang dihadapi saat ini untuk melayani jasa developing film?

Kendala utama adalah pasokan chemical yang sering terlambat karena shipping dan bea cukai. Jadi pernah kejadian dalam beberapa hari kami tidak memproses film karena stok chemical habis.

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Kodak Portra 160 Scan & Developing Hipercatlab

Bagaimana pendapat Anda melihat perkembangan fotografi analog yang begitu mewabah pada beberapa tahun terakhir ini?

Sebagai pribadi yang menggunakan film, meningkatnya minat akan fotografi analog beberapa tahun belakangan tentu menggembirakan. Hal ini tidak lepas dari pengaruh media sosial dan menurut saya karena boomingnya Street Photography.

Para master Street Photography kebanyakan adalah pengguna film dan pelarian “hunting” yang mudah dan murah bagi pengguna kamera analog adalah jalanan. Jadi saya melihat ada keterkaitan antara peningkatan pengguna kamera analog dan Street Photography belakangan ini.

 

Dari Hipercatlab sering kali memberikan edukasi developing film hitam putih, apakah tidak merasa khawatir akan bermunculannya kompetitor?

Saya rasa tidak, dalam merintis dan mengelola jasa proses film dibutuhkan tenaga dan waktu yang cukup banyak terkuras, bisa dibilang usaha ini bukan pekerjaan sambilan. Dan kebanyakan peserta workshop adalah mahasiswa/pelajar bukan kalangan profesional.

Value apa yang ditawarkan Hipercatlab sehingga masih begitu banyak customer yang baru dan loyal masih bertahan sampai sekarang?

Mungkin karena kami sudah cukup lama di jasa ini, bahkan bisa dibilang yang pertama mengawali tren lab online, pelanggan menilai kami sebagai lab yang terpercaya. Hal lain yang membuat customer datang dan bertahan adalah harga kami lebih bersahabat dibanding kompetitor dengan kualitas yang setara.

Kompetitor semakin banyak untuk menyediakan jasa serupa. Apakah Hipercatlab tidak merasa khawatir akan hal ini?

Malah kami merasa dengan banyaknya kompetitor berarti fotografi analog di Indonesia sudah makin maju. Dengan adanya kompetitor juga kami bisa mengevaluasi servis yang kami berikan ke customer.

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Ilford delta 100 Develop & Scan Hipercatlab

Apa momen yang tidak terlupakan sejauh ini semenjak pertama kali Hipertcatlab go public?

Momen yang tidak terlupakan salah satunya di awal hipercat buka adalah salah proses orderan customer. Karena terlalu capek jadinya kurang konsentrasi pas develop film, alhasil film tersebut blank, hehe..

Dari situ saya lebih hati-hati, kalau capek mending istirahat dari pada memaksakan proses film. Momen lain yang berkesan adalah saat pertama kali buka dropbox film di bazzar, tidak menyangka banyak sekali yang titip proses film sampai kontainer kami tidak cukup.

Jika tidak menyediakan jasa developing film, kira-kira apa bisnis yang akan digeluti?

Tempat ngopi atau bengkel sepeda.

Menurut pandangan Anda bagaimana prediksi masa depan fotografi analog, apakah akan senantiasa bertahan berdampingan dengan era fotografi digital?

Saat ini fotografi secara umum makin diterima oleh semua kalangan, pengaplikasian fotografi juga makin luas dan beragam. Pilihan alat dan bahan fotografi makin banyak dan mudah untuk diakses.

Dari pihak produsen film, misalnya Kodak, sangat mendukung terjaganya fotografi analog, contohnya mereka akan memnproduksi kembali film slide Ektachrome. Jadi sejauh ini prediksi saya fotografi film akan bertahan lama.

Biodata:

Hipercat Lab

Usaha kami:

Jasa proses dan scan film (BW, color negative, slide)

Menyediakan kebutuhan fotografi film (kamera, film, aksesoris, merchandise)

Alamat:

Jl. Jenderal Sudirman Gang Madniah 12A/75, Kecamatan Andir, Kota Bandung – JAWA BARAT 40184

No. telp/WA : 081222459304

Email: hipercatlab@gmail.com

 

Facebook

Instagram

Tokopedia

Twitter

Website 

 

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas
Blog, Interviews, Photography,

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Q & A Arbain Rambey

Setelah sebelumnya Q & A bersama Homer Harianja, maka pada kesempatan kali ini giliran Arbain Rambey yang akan saya wawancara.

Fotografer senior Kompas ini tentunya sudah tidak asing bagi Anda. Aktif di media sosial dan sering kali masih menjadi pembicara di seluruh penjuru tanah air.

Pertama kali bertemu dengan beliau ketika kami sama-sama diberikan kesempatan menjadi pembicara pada seminar fotografi di FISIP UNPAS Bandung, kesan pertama tentunya saya ingin bertanya akan banyak hal kepada sosok yang rendah hati ini.

Mari disimak:

Bagaimana awal mula Anda bisa terjun dalam dunia fotografi?

Tahun 1988 selulus kuliah dari teknik Sipil ITB, saya bekerja di Papua ikut merancang sebuah bangunan sekolah untuk masyarakat Asmat. Diliput KOMPAS. Lalu saya tertarik melamar ke KOMPAS dan diterima Mei 1990. Selama 6 tahun pertama saya jadi wartawan tulis, dan tiba-tiba saya diangkat sebagai redaktur fotografi pada 1996. Sejak 1996 saya jadi fotografer.

Pernahkah dimasa kecil memiliki cita-cita menjadi jurnalis?

Tak pernah terpikir sebelumnya

Menulis atau memotret?

Memotret adalah hobi sejak SMA, sementara menulis dilakukan saat kuliah (1980-1988) untuk mencari uang tambahan, di majalah Mutiara dan majalah Zaman.

Apa kenangan paling menyenangkan ketika pertama kali mengenal fotografi?

Pada 1974 (kelas 1 SMP), pertama kali belajar cuci cetak foto, senang sekali merasakan sensasi kamar gelap.

Bagaimana cara Anda mendapat ide sebelum pengambilan foto?

Hampir semua foto saya adalah hasil merancang. Ide-ide didapat dari aneka contoh foto yang pernah saya lihat sebelumnya

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Tantangan paling berkesan yang pernah dialami selama masa peliputan

Sangat mengesankan kalau berhasil mendapatkan foto sesuai perencanaan, lalu diapresiasi pembaca

Hal apa yang harus dimiliki oleh seorang pewarta foto selain kemampuan mumpuni pada bidang fotografi?

Tahan stress… Kadang memotret pesta olahraga seperti Olimpiade atau Asian Games bisa sampai 2 minggu dan setiap hari sangat padat.

Tahan kecewa, misalnya memotret 1000 foto tapi tak satu pun dipilih redaktur.

Fotografer favorit Anda

Saya tidak punya manusia favorit, tetapi beberapa fotografer saya kagumi karena kemauannya selalu berbagi ilmu, yaitu Darwis Triadi dan Roy Genggam

Inspirasi Anda dalam kehidupan

Kalau bisa dibuat mudah, buatlah mudah

Hobi lain di luar fotografi

Musik: memainkan alat musik berdawai seperti gitar, mandolin, kecapi, sasando

Melukis

Banyak media besar saat ini perlahan bertumbangan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Itu adalah realitas zaman yang tidak bisa dihindari

Anda sering sekali terlihat memberikan dukungan besar terhadap kemajuan teknologi kamera digital berjenis mirorless, apakah ada alasan khusus?

Tidak ada alasan khusus. Saya melakukannya karena senang

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Apa perbedaan besar yang Anda rasakan antara media cetak dan media online?

Media online sangat praktis, bisa diakses kapan pun di mana pun, sebanyak mungkin tanpa beban berat.

Menurut pengamatan Anda apakah media cetak akan bertahan untuk 20 tahun ke depan?

Rasanya paling lama 5 tahun ke depan

Adakah keinginan Anda untuk merilis buku foto sendiri? Seperti Split Second Split Moment kumpulan karya dari Julian Sihombing

Belum tertarik karena biayanya sangat mahal. Saya malah terpikir membuat buku online

Jika tidak mengenal dunia jurnalistik apa profesi yang saat ini bakal Anda tekuni?

Pelukis

Anda ingin dikenal sebagai sosok seperti apa nantinya dikemudian hari?

Saya ingin dikenal sebagai orang yang pernah berguna bagi banyak orang lain

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Bio

Nama : Arbain Rambey
Tempat/tanggal lahir : Semarang, 2 Juli 1961
Alamat : Cempaka Baru I/9 Jakarta Pusat
Telepon: 0811-196027

Email: arbainrambey@yahoo.com
Twitter: @arbainrambey
Pekerjaan saat ini: Fotografer Harian Kompas dan pengasuh rubrik Klinik Fotografi Kompas setiap hari Selasa

Pendidikan formal terakhir:

Jurusan Teknik Sipil ITB, selesai 1988

Pengalaman Kerja Jurnalistik dan Fotografi:

-Fotografer Yayasan Asmat, 1988-1999
-Wartawan Olahraga Harian Kompas 1990-1996
-Redaktur Fotografi Kompas 1996-2000
-Koordinator Harian Kompas untuk Sumbagut 2000-2003
-Redaktur Fotografi Harian Kompas 2003-2006
-Dosen tidak tetap Fotografi di Universitas Sumatera Utara, Medan 2002-2003
-Mengajar Fotografi di Darwis School of Photography 2003-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, 2004-2009
-Dosen Fotografi di Universitas Multimedia Nisantara, Serpong, Tangerang 2008-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Indonesia, FISIP mulai September 2011

Organisasi:

Ketua Pewarta Foto Indonesia 1998-2001

Buku fotografi karya Arbain Rambey terbit di London, Inggris Desember 2005 dengan judul “Mist of Time”, diterbitkan Waterous and Co

Beberapa lomba foto yang dimenangkan :

Juara I Lomba Foto Fashion Nasional 1993
Juara Tunggal Lomba Foto International Art Summit 1999
Juara II Lomba Foto Honda Stream 2004
Juara I Lomba Foto MURI 2008

Pameran Foto:

Ekspresi (tunggal), Medan 2002
Kecil (bersama), Medan 2002
Mandailing (tunggal), Medan 2002
Senyap (tunggal), Bentara Budaya, Jakarta, 2004
Crossing Bridges (bersama), Singapura, 2004
Colour of Indonesia (tunggal), Galeri Cahya, Jakarta, 2004
Persatoean (bersama), Jakarta, 2005
Persatoean (bersama), Melbourne, Australia, 2005
Nusantara (berdua dengan Makarios Soekojo), Hotel Aston Jakarta, 2006
Olympic in China (bersama) Plaza Indonesia 2007
Romance in China (bersama) Senayan City 2008
Bromo (bersama) di Bromo (2008)
Indonesia in 50 Pictures (tunggal), Kuwait City, Kuwait, 2009

Liputan Jurnalistik:

-Davis Cup Indonesia-India, Jaipur, India 1991
-Tenis Piala Asia, Hongkong 1991
-SEA Games Manila, Filipina 1991
-Tenis Pre Olimpic, Osaka, Jepang 1992
-Tenis Wimbledon, London, Inggris 1992
-World Youth Cup, Barcelona, Spanyol 1992
-Camp Tenis Sparta, Ceko-Slowakia 1992
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1993
-Tenis Pattaya Open, Thailand 1993
-Fed Cup, Colombo, Sri Lanka 1993
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1994
-Tenis US Open, New York, USA 1994
-Asian Games, Hiroshima, Jepang 1994
-All Star Game NBA, Phoenix, USA 1995
-Tenis French Open, Paris, Perancis 1995
-Tenis Piala Asia, Manila, FIlipina 1995
-SEA Games Chiang Mai, Thailand 1995
-Olimpiade Atlanta, USA 1996
-Liputan TKW, Arab Saudi 1997
-Liputan Timur Tengah, Israel, Mesir, Yordania 1997
-SEA Games Brunei Darussalam, Brunei 1999
-Liputan Pengurukan Singapura dengan Pasir Riau, Singapura 2000
-Liputan TKW, Penang, Malaysia 2001
-Liputan Ekonomi Cina, RRC, Hongkong, Makau 2002
-Liputan Teknologi, Denmark 2003
-Liputan gempa bumi Iran di Bam, 2004
-Olimpiade Athena, 2004
-Liputan gempa bumi Pakistan, 2005
-Liputan Teknologi Sydney, Australia, 2006
-Liputan Teknologi Hongkong, 2006
-Liputan Teknologi, Fukushima, Jepang, 2006
-Liputan Budaya, Sappa, Vietnam, 2006
-Liputan Teknologi, Beijing, RRC, 2007
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2007
-Liputan Teknologi, London, 2008
-Liputan Teknologi, Denmark, 2008
-Liputan London Fashion Week, Inggris 2009
-Liputan Teknologi, Hongkong, 2009
-Liputan Teknologi, Melbourne, Australia 2010
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Sapporo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Queenstown, Selandia baru, 2011
-Liputan Teknologi, Goslar, Munster, Frankfurt, Iserlohn (Jerman) 2011
-Liputan Wisata, Turki, 2011
-Liputan Budaya, Myanmar 2011
-Liputan Teknologi, Headquarter Canon, Tokyo, Jepang 2012
-Liputan Teknologi, Queensland, Australia 2012
-Liputan Wisata, Makau, 2013
-Liputan Wisata, Uni Emirat Arab, 2013
-Liputan Wisata, Makau 2014
-Liputan Wisata, Malaysia 2014
-LiputanTeknologi, New York, AS, 2014
-Liputan Teknologi, Kamboja, 2014
-Liputan Wisata, New South Wales, Australia 2014
-Liputan Wisata, Mesir, Yordania 2014
-Liputan Teknologi, Barcelona, Spanyol 2015
-Liputan Wisata, Myanmar, 2015
-Liputan Wisata, India, 2016
-Liputan Fashion, Dubai, Uni Emirat Arab, 2017
-Liputan Wisata, Ethiopia dan Kenya, 2017
-Liputan Wisata, Iran, 2018
-Liputan Teknologi, Cologne, Jerman, 2018

­­­­­­

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal
Blog, Photography, Reviews, Uncategorized,

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Kodachrome Movies

Jika Anda berharap menyaksikan kisah para fotografer dengan aksinya di lapangan pada proses pengambilan gambar seperti pada Bang Bang Club maka di Kodachrome tidak akan banyak ditemukan. Kecenderungan lebih mirip film drama The Secret Life of Walter Mitty. Dan berfokus hubungan antara ayah dan anak yang tidak begitu harmonis.

IMDb memberikan rating 6.8/10 dan skor 71% pada Rotten Tomatoes tentunya sudah cukup layak dipertimbangkan untuk ditonton.

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar nama Kodachrome?

Kodachrome  adalah salah satu color slide film dengan ASA 64 turut menghiasi jajaran produk Eastman Kodak yang diperkenalkan pada tahun 1935, meskipun banyak diminati namun sepertinya bukan menjadi pertimbangan dari pihak Kodak untuk tetap memasarkan. Sehingga pada tahun 2009 slide film ini akhirnya discontinued.

Kodachrome juga menjadi pilihan favorit bagi beberapa fotografer ternama seperti Steve McCurry & Joel Meyerowitz.

Pada film ini dikisahkan Benjamin Ryder (Ed Harris) seorang fotografer profesional yang semua karya menggunakan Kodachrome ingin memproses 4 rol dari awal karyanya ke Kansas, karena hanya di kota ini lah tersisa satu lab terakhir di dunia yang melayani proses development roll film ini yaitu Dwayne’s photo.

Dalam perjalanan ke Kansas Ben ingin ditemani oleh putranya Matt Ryder (Jason Sudeikis), yang bekerja di label musik rekaman dengan karir tidak begitu menggembirakan. Hal ini terlihat pada adegan pembuka ketika perseteruan terjadi dengan atasannya, karena Ia tidak menunjukkan hasil bagus dalam hal pencarian artis berbakat untuk direkrut rekaman.

Yang menarik dari Kodachrome adalah konflik sudah bermula dari awal film ini berjalan. Matt sudah mendapatkan banyak masalah karena gagalnya melakukan perekrutan artis, dan nasibnya di ujung tanduk. Cuma punya waktu 2 minggu untuk mendapatkan band Spare Sevens yang kala itu sedang naik daun.

Ketika kembali pada ruang kerjanya Matt mendapati Zoe Kern (Elizabeth Olsen) yang mengaku sebagai suster pribadi Ben, tujuannya adalah memberikan informasi kalau ayahnya sedang sekarat karena kanker hati, dan sisa umur berdasarkan prediksi dokter cuma sebatas 3-4 bulan. Zoe juga meminta kepada Matt untuk turut serta dalam perjalanan ke Kansas. Sudah bisa ditebak bahwa Zoe ini wanita yang cantik.

Wajah Elizabeth Olsen membuat saya penasaran, karena seakan tidak asing. Ternyata jika mengikuti Avengers  dari seri Age of Ultron sudah hafal tentunya dengan Wanda Maximoff / Scarlet Witch.

Mungkin karena momen tidak begitu pas, baru saja pusing dengan tekanan kerja Matt terlihat agak emosional ketika menerima kabar ingin diajak kembali bertemu dengan Ben. Dalam percakapannya bersama Zoe diketahui lah bahwa anak dan ayah ini sudah tidak bertemu selama kurun waktu 10 tahun. Wow, sungguh hubungan rumit yang tidak bisa saya bayangkan.

Zoe sepertinya bukan wanita yang tidak begitu mudah menyerah, hal ini terbukti karena terus berupaya membujuk Matt setidaknya untuk menghadiri makan malam di rumah Ben. Rasa sayang kepada ayah dalam hati paling terdalam membuat Matt sepertinya menyempatkan hadir.

Pertemuan di rumah Ben membuat saya cukup kagum, bukan karena mewahnya rumah dan segala pernak-perniknya. Namun kemunculan sosok Larry Holdt (Dennis Haysbert) yang menjabat sebagai manajer pribadi Ben. Tentunya Ben bukan fotografer sembarangan, sehingga butuh seseorang untuk mengatur segala sesuatu tentang dirinya.

Sebagai seorang fotografer tentunya menjadi hal lumrah jika dinding rumah dihiasi dengan foto yang dipajang dengan ukuran besar. Entah kenapa melihat karya-karya di sini saya langsung teringat dengan Steve McCurry. Layout tertata rapi layaknya pameran tunggal.

Kesan pertama ketika karakter Ben ditampilkan sebagai sosok yang terlihat bugar, karena dengan penuh enerjik menabuh drum. Sempat terlintas dugaan saya kalau ini hanya suatu trik supaya Matt mau mengunjunginya. Dan ternyata saya berburuk sangka hahaha.

Ben digambarkan sebagai seorang pria dengan umur 60-70an, cenderung sarkas dalam setiap kata yang terlontar. Tentunya suasana makan malam tidak menjadi begitu bersahabat, yang ada malah sikap Ben memicu pertengkaran dengan Matt, kemudian ditonton oleh Zoe dan Larry. Matt juga tidak ketinggalan berbicara lantang menanggapi apa yang dibicarakan Ben.

Dan begitulah makan malam yang bertujuan untuk membicarakan rencana perjalanan ke Kansas menjadi gagal, karena Matt memutuskan meninggalkan rumah Ben dengan amarah.

Setelah pertemuan ini Larry mengambil peran penting untuk membujuk Matt, Ia menawarkan bisa mengatur pertemuan dengan Spare Sevens sembari berkunjung ke Kansas. Karena band ini akan mengadakan konser di Chicago sebagai bagian dari tur musik mereka. Dengan alasan membutuhkan Spare Sevens akhirnya Matt memutuskan mengikuti perjalanan ini.

Perjalanan ke Kansas memakan waktu selama seminggu, berangkat dalam mobil kap terbuka dengan isi penumpang Matt, Ben dan Zoe. Sudah bisa dibayangkan jika konflik kembali terjadi Zoe menjadi penengah 2 orang pria ini. Sepintas saya jadi teringat film 3 Hari untuk Selamanya ketika menyaksikan alur ini. Berbeda memang secara keseluruhan.

Awal mobil mulai melaju konflik kembali terjadi, Ben menjadi risih karena suara operator penunjuk GPS dari smartphone Matt, tanpa basa basi benda itu dibuang ke jalan dengan alasan dimobil ini khusus hanya untuk analog.  Anda bisa bayangkan ekspresi Matt seperti apa, karena awal film diperlihatkan Ia tidak bisa lepas dari smartphone.

Tindakan ini berbalas ketika Ben sedang asyik mendengarkan musik, Matt mengambil dan membuang kaset dari tape yang sedang digunakan, persis sama seperti apa yang dilakukan Ben. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan ini, terlihat childish dan lucu hahah.

Jika menyaksikan suguhan pemandangan di sepanjang perjalanan saya berasa ingin turut serta pada mobil itu, sungguh menarik sepertinya bisa melirik kiri dan kanan begitu menyaksikan hal menakjubkan. Apa lagi oleh mata yang tidak begitu terbiasa melihat landscape Amerika.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konflik sepertinya menjadi bagian dari kehidupan Ben, karena dengan sikap sarkasnya selalu menjadi pemicu timbulnya masalah. Hal ini kembali terjadi ketika di tengah perjalanan mereka memutuskan berkunjung dan bermalam di rumah Dean yaitu adik Ben sendiri.

Di sini terlihat keluarga terdekat Ben sudah maklum dengan sikapnya, dan di sini baru terungkap fakta bahwa Matt lebih banyak menghabiskan waktu bersama paman dan istrinya karena pernah tinggal di sini sampai lepas remaja. Pada suatu acara malam saya sempat terkagum dengan Ben.

Dean: “Apa yang begitu istimewa pada foto-foto ini hingga kau menempuh perjalanan jauh untuk mencetaknya?”

Ben: “Ini semacam karya-karya awalku, foto-foto yang aku ambil sangat lama”

Matt: “Bagaimana jika saat kau mendapatkan hasilnya dan itu sampah? Bagaimana kau tahu apa saja isi di dalam rol film itu?”

Ben: “Aku ingat setiap foto yang pernah aku ambil”

Terdengar seperti percakapan yang akrab, namun tetap saja tidak berakhir demikian. Karena Matt kembali kesal ketika ditanyakan kepada Ben kapan tanggal ulang tahunnya Ben kebingungan menjawab, bahkan jawabannya dibantu oleh Dean.

Meskipun perseteruan selalu berulang, perjalanan tidak batal di tengah jalan. Mungkin karena faktor kebutuhan akan Spare Sevens oleh Matt dan patuhnya seorang Zoe sebagai perawat pribadi. Sembari meneruskan perjalanan Ben seperti tidak ada belas kasih karena mempertanyakan kenapa Matt dan Zoe tidak bercinta padahal mereka telah sekamar dan sama-sama dalam desakan biologis, notabene keduanya telah sama-sama gagal dalam pernikahan.

Tentunya hal ini membuat Matt yang menjadi memanas, meski Zoe terlihat masih sabar. Meski matanya mulai sembab dan suasana melanjutkan perjalanan mulai canggung dan berkaca-kaca. Seperti sebuah adegan jelas seseorang ingin menumpahkan air matanya.

“Apakah kau pernah bahagia Ben” Matt melontarkan pertanyaan demikian ketika Ben masih memancing konflik.

“Biar aku beritahu padamu. Kebahagiaan itu omong kosong. Itu hanya mitos besar dari abad ke-20. Kau pikir Picasso bahagia? Kau pikir Hemingway juga bahagia? Hendrix? Mereka semua menyedihkan, takkan ada seni bernilai besar tercipta dari kebahagiaan. Aku bisa beritahu itu padamu. Ambisi, seks, amarah. Itu adalah mesin yang menggerakkan seniman besar. Setiap orang-orang besar. Sebuah lubang yang takkan dipenuni. Itu sebabnya kita semua adalah bajingan yang sangat menyedihkan” Dengan gamblangnya Ben tentunya memberikan pernyataan ini.

Meskipun Ben digambarkan sebagai pria tua yang menyebalkan, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum jika sisi bijaksana muncul dan kata-katanya begitu menggugah.

Tak peduli betapa bagusnya sesuatu terlihat, kau tidak bisa mengalahkan yang nyata sebenarnya. Orang lebih banyak mengambil gambar saat ini melebihi sebelumnya. Miliaran foto, tapi tak ada klisenya. Tak ada cetakannya. Itu hanya data, debu-debu elektronik.

Bertahun-tahun dari sekarang saat mereka menggali kita, tak ada satupun foto yang ditemukan. Tak ada catatan tentang siapa kita, bagaimana kita hidup.

Saya menjadi begitu terperangah dan sempat mengulang kembali pada adegan ini, sepertinya inilah pilihan yang dilakukan oleh banyak rekan-rekan sesama pegiat fotografi yang masih saja bertahan dengan kamera analog. Dan Matt memicu pertanyaan kepada Ben, sehingga jawaban ini keluar seakan mewakili alasan kenapa fotografi analog masih eksis meskipun digempur oleh majunya teknologi kamera digital belakangan ini.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Baca juga: Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Sesampainya di Chicago pada malam harinya, adalah kesempatan Matt untuk negosiasi dengan Spare Sevens. Di sini mulai terjadi percakapan positif antara kedua anak, berkat tantangan Ben meminta Matt presentasi mengenai pertemuannya. Saran dari Ben akhirnya diterima Matt, meski setelah akhir pembicaraan salah satu personil band menertawakan Ben yang tidak bisa menahan diri untuk ngompol dalam celana.

Matt terlihat tidak nyaman, nurani seorang anak perlahan mulai diperlihatkan. Dengan pilihan sulit meninggalkan band yang selama ini diburunya begitu saja. Namun, apa yang terjadi? Ben tidak merasa bersalah dalam gagalnya negosiasi ini. Zoe ikut membela Matt dengan menjelaskan bahwa Ia membela Ben. Meski berujung perdebatan dengan bosnya kemudian berakhir dengan pemecatan. Konflik tetap terjadi berulang.

Bagaikan segala sesuatu terjadi dengan alasan, pagi keesokan harinya Matt menemukan Ben sedang tidak sadarkan diri di lantai kamarnya, hal ini membuat Ben harus diopname. Pada bagian ini Matt mulai terlihat begitu khawatir, dan pada suatu momen sang ayah dengan bercucuran air mata bercerita tentang kesalahan dimasa lalu dan meminta ma’af sambil bercucuran air mata. Sungguh adegan yang begitu menyentuh, Anda jangan sampai melewatkan adegan ini!

Keesokan harinya adalah batas terakhir proses Kodachrome, meski dalam kondisi semakin melemah Matt memaksa Ben untuk segera melanjutkan perjalanan ke Parsons, Kansas. Menempuh perjalanan sepanjang malam akhirnya sampai pada tujuan. Apakah berakhir begitu saja?

Saya cukup tercengang ketika menyaksikan banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk tujuan sama. Bahkan ada yang memasang tenda di parkiran. Sungguh menakjubkan.

Sesampainya di Dwayne’s photo cukup membuat jantung berdebar-debar, karena seorang wanita operator lab menyatakan bahwa proses development telah ditutup bahkan pada hari sebelumnya. Bayangkan saja sudah menempuh perjalananan jauh selama seminggu tapi tetap tidak bisa memproses rol film yang telah dipersiapkan.

Akhirnya Dwayne sendiri selaku pemilik lab muncul, ternyata sudah disiapkan jatah untuk Ben meski antrian penuh sekalipun. Terlihat di sini Matt mulai kagum pada ayahnya.

Tidak berhenti di situ saja, ketika mereka mencari cafe untuk beristirahat sejenak. Ada salah satu pengunjung yang menyapa Ben, dan dalam waktu sekejap dia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Semua orang mengenalinya dengan begitu hormat.

Kita semua ketakukan dengan waktu, dan bagaimana sesuatu menghilang. Itu sebabnya kita menjadi fotografer. Tugas kita adalah melestarikan.

Kita memotret untuk menghentikan waktu. Untuk mempertegas momen terhadap keabadian. Sifat manusia membuatnya nyata.

Sepenggal petuah yang begitu menginspirasi pada potongan terakhir pada kisah ini. Karena pada malam harinya Ben meninggal dunia dalam keadaan sedang membersihkan peralatan kameranya. Jika diperhatikan lebih seksama maka terlihat Ia hampir tiap saat ketika istirahat merawat kamera dengan begitu telaten.

4 rol yang diantarkan ke Kansas ternyata menjadi suatu bagian paling mengharukan menurut saya pada film ini, kenapa? Ini menjawab prasangka Matt yang menganggap ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya. Karena semua rol ini adalah momen Ben bersama istri, foto ketika Matt berulang tahun ke-4. Suatu foto-foto yang memperlihat Ben begitu menyayangi Matt.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konklusi 

Jika Anda begitu berharap bisa mendapatkan begitu banyak pembahasan mengenai seputar fotografi, atau profil seorang fotografer besar. Maka film ini akan membuat kecewa.

Karena lebih banyak menceritakan mengenai konflik ayah dan anak. Dan tentunya dimbubui oleh kisah romansa oleh Matt dan Zoe. Perjalanan seminggu ke Kansas bisa menceritakan dengan jelas latar belakang konflik yang terjadi pada masa saat ini dan bahkan hal terjadi pada gagalnya pernikahan setiap tokoh utama. Pada Ben penekanan kesalahan sikap dia yang menyebabkan Matt sulit untuk mema’afkan

Film ini syarat akan pesan moral, apakah itu dari bagian mengasihi orang tua dan anak. Serta hal-hal prinsip Ben sebagai seorang seniman besar yang memilih hidup pada jalur fotografi. Banyak kutipan menginspirasi yang layak disimpan.

Photo Stories, Photography,

Consciousness, Photo Series by Santosh Korthiwada

Consciousness

About 

Like most people, my relationship with photography started way before I held a camera in my hands for the first time. On our wall at home, there was a photograph of my grandparents from the 1940’s, probably taken a few years after their marriage. I remember asking them a thousand times, in utter disbelief, if they were the same two people in that photograph. My grandparents always said ‘yes’ and were amused at my question. I couldn’t believe them because the photograph was showing me something from the past, and the reality looked so very different. In another photograph of my aunt, uncle, and cousin; a very candid and lively moment captured and although it was made years ago, what was shown in the photograph seemed real in the present. The photograph told me the truth and it also lied to me, at the same time. It’s just that I’m now able to articulate it, and recollect the moments of absolute fascination with the photograph.

I grew up in a small village called Chegunta, in Telangana state, India. My life took many extreme twists and turns, and after four decades of craziness, I’m what I’m today. My wife Kavya and our son Ishaan have been my strength, and they have always been supportive of me.

I enjoyed drawing and painting more than regular studies, and my love affair with the arts started at a very young age.  Camera was introduced to me in my B.F.A, and I didn’t do much with it except for a few snapshots. It was only when I bought my first 35mm Film SLR camera, I took my hobby seriously. Thanks to photography, my travels became frequent and more interesting, made new friends, interacted with a lot of strangers, and I was exposed to random acts of kindness from totally unexpected situations.

Just like attempting to perseive architecture through music, music through mathematics, mathematics through sculpture, sculpture though language, language through painting, painting through dance, and so on, my work can be considered as an incomplete text because although each of these attempts are made to communicate successfully, the essential aspects are lost in translation. Each of these art forms are intrinsically different from each other and yet they are all devises to explore the inner self and for me it is photography. The more I photographed, the more I learned and the more I learned, the more I photographed. However imperfect, I love what I do and I do it sincerely.

Photography helped me see life with intensity, and depth that I otherwise would not have. It started as a hobby, became a serious passion, transformed into a profession, and now it is my way of life. People tell me that I chose the road less travelled, and with all due respect, I tell them that there is no road at al. First, I must pave it to walk on it.

Artist statement

My major project is titled ‘Consciousness’ and it probably took me at least five years to bring it to completion.

Consciousness for me is an unending, ever-changing flow of imagination that never ceases to grow; with and without a singular answer. Contemplating, observing, reacting, and presenting everyday things and questioning my perceptions is what I am passionate about and that is what this project is about. What makes this project uniquely positioned is the choice of everyday subject matter juxtaposed as visual pairs. This decision is to stimulate curiosity and challenge conventional thinking. In the contemporary context, considering the time in which information bombardment and cognitive overload are the new normal, in the context of photography, we must question not only the topics it depicts, but also the role of photography, the photographer, and the photograph itself. Within the framework of conventional human progress, this might seem like an anti-development strategy, but I believe that it is not. We take too many things for granted too readily, and as a photographer, I attempt to slow down the pace through this body of work, Consciousness.

This project is a visual exploration through constructed narratives. It is a play on awareness, perception, and imagination as if one is trying to solve a riddle. Regarding aesthetics and personal style, my strategy is; to pull and push the viewer from the visuals for cognitive friction, to bring out surface textures for emotional intimacy. I predominantly use active framing and capture the images both on film and digital cameras.

I think a lot and sometimes a bit too much, and I read and write, and I walk a lot. Most of my thinking, and actually photographing happens during these walks. Along with the images, I diligently construct sentence fragments and extend the narrative for an additional layer of my own way of  storytelling.

For analog, I use Kodak Tri-X 400 ISO B&W 35mm format and push it to 1600 ISO. For digital, I use Canon Mark II camera, and all the images are converted to black and white using Silver FX plugin. I mostly work in black & white because I realized that color, in general, has rarely impacted me emotionally. I do not have any childhood memories that I associate with color and all I ever liked was white or black, and technically, those are not colors. Robert Frank once said “Black and white are the colors of photography. To me they symbolize the alternatives of hope and despair to which mankind is forever subjected.”

However, I do produce color work occasionally, and may be the color started impacting me at this juncture of my life. I’m yet to figure it out.

Interest and any future projects

I experienced and observed a strange but prevalent social conditioning to excel in everything one does, and we are made to believe that anything less than excellent would lead to an unhappy life. Once upon a time, we looked at the stars and drew constellations, then we looked at the valleys and constructed industries. Later, we looked at our empty homes and made televisions and now, we looked at our bare hands and made cell phones and yet, we search for that happy life. In the name of human progress, we built great civilizations in-excess of everything, and nothing could satisfy our thirst for greatness. We are plagued with violence through wars, poverty, hunger, disease, discrimination, and have accumulated an abundance of utterly futile fame. All this is because, I think, we as a society are afraid of being ordinary and average.

Initially, I used to take up a new project only when I finished with my current one. My inexperience didn’t allow me to deal with more than one idea or concept. As I got matured with photography, I now work on at least 9 to 10 projects simultaneously. I guess, my mind is engaged and fired-up this way as of now, and I don’t know how long it will go on like this. There is no right way or wrong way with this, but what’s important is not to get comfortable with your work.

I think, there is great beauty in the ordinary. There is a lot to learn from the ordinary. So, I decided to pursue this topic for the rest of my life. As of now, it is with photography. As of now, I’m focusing on two major ongoing projects called ‘Conversations’, and ‘Absence’. And by the way, ‘Absence’ is conceptually opposite to ‘Consciousness’.

Influences 

Don’t think I can list all of them here, so I will name a few.

Even though I do get inspired from photographic work (Minor White, Harry Callahan, Aaron Siskind, Josef Koudelka, Masahisa Fukase, Daido Moriyama), many of my influences come from non-photographic disciplines such as philosophy (Immanuel Kant, Jaques Derrida, Carl Jung), poetry (Adi Shankara, Jalaluddin Rumi, Annamacharya), cinema (Akira Kurosawa, Satyajit Ray, Guru Dutt, Narsing Rao, and literature (Sri Sri, Thapi Dharma Rao, Ayn Rand).

Some of my favorite books are ‘On Photography’ by Susan Sontag, ‘Camera Lucida’ by Ronald Barthes, ‘The Photographer’s Eye’ by John Szarkowski, ‘Photography Between Covers’ by Thomas Dugan, ‘Light Readings’ by A.D. Coleman, ‘Concerning the Spiritual In Art’ by Kandinsky, ‘Sapiens’ by Yuval Noah Harari, ‘Man’s Search For Meaning’ by Viktor E. Frankel, ‘An Autobiography of a Yogi’ by Paramhansa Yogananda.

Galleries and museums overwhelm me sometimes. So, I walk around quickly and settle down in front an art-object. I remember visiting SFMOMA and sitting in front of a photograph for almost four hours. It was an image of a makeshift chair by Mexican photographer named Anthony Hernandez, and the title is ‘Landscapes for the Homeless # 18, 1989.

Facebook

Instagram

Website

Photo Stories, Project,

Ordinary Days, Photo Series by Nobuyuki Taguchi

Ordinary Days

About

I born in Japan and I am a permanent resident in the U.K. since I came to study Fine Art in 1990.

Taking photos is something that I have always enjoyed, and I have re-discover the photography as new medium as the digital age came into the photography process.

I have published my digital photography to my old website (www.photo-visible.com) back in 2006 and stared receiving enquiries about my photography.

This lead me to work as a semi-professional photographer.

Artist Statement

For me the photography is a medium to express my ideas. The some of my personal photography works are based on a concept.

I quite often treat a group of photos as one single project work.

Ongoing Projects

I have been working on few my personal projects such as portrait photography using film camera, Street photography, and Architecture photography.

Influences 

I get lots of influences from works done by fashion and street photographers who are often worked on Black and White film photography.

Website