Author

Tomi Saputra Ghazali

writer

Tomi Saputra is a Freelance Photographer, Graphic Designer, Digital Marketing, and social media management practitioner. Based in Bandung, Indonesia. Is very interested in learning about many things while having conversations over black coffee. He is also actively writing for Maklum Foto. Tomi co-founded MaklumFoto, Founder Fnd It Magazine. Follow on Twitter at @udatommo

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi
Blog, Interviews, Photography, Uncategorized,

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Apa yang membuat Anda begitu mencintai fotografi analog, sedangkan pada jaman sekarang teknologi fotografi digital makin maju dan semakin efisien?

Menurut saya saat ini fotografi analog sudah menjadi genre yang terpisah dari dunia fotografi secara holistik sehingga akan sulit untuk kita samakan dengan fotografi digital.

Saya sendiri bukan orang yang anti fotografi digital, bahkan sampai saat ini saya masih memotret dengan kamera digital, tetapi untuk kebutuhan tertentu, sayajuga menggunakan kamera analog.

Bagi saya, dalam fotografi analog terdapat 4 hal utama yang menjadi alasan saya pribadi untuk tetap menggunakan kamera film:

1. Segudang pilihan untuk kamera, format dan film dalam dunia fotografi
analog yang dapat kita coba (dengan range harga yang relatif terjangkau).

Aktivitas penggunaan kamera analog lebih dititik-beratkan pada proses di mana kita sebagai pengguna kamera analog akan dihadapkan dengan opsi yang cukup banyak sebelum memulainya; seperti pilihan gear dan format filmnya (SLR, rangefinder, TLR, point and shoot, pinhole, toycam, medium format SLR, medium format TLR, medium format rangefinder, large format camera dsb.)

Dan film apa yang akan digunakan (black and white, negative color, color slide dsb.)

Serta semua hal tersebut memberikan pengalaman pengguna yang berbeda-beda antara satu gear dengan gear lain.

Sedangkan pada fotografi digital daya tarik bagi penggunanya (pendapat pribadi) dititik beratkan pada spek kamera itu sendiri (berapa megapixel resolusinya, berapa banyak titik autofokusnya, seberapa responsif fps dan AF nya, seberapa hebat kemampuan shooting videonya dsb.)

Yang secara umum pengalaman penggunanya kurang lebih akan serupa antara satu kamera dengan kamera lain.

2. Keterbatasan dalam merekam gambar.

Kamera film mengajarkan kita untuk berfikir lebih matang dalam mengambil  keputusan saat menekan tombol shutter dan juga menghargai setiap jepretannya.

Hal ini terjadi karena adanya limitasi pada jumlah frame dalam satu roll filmnya (36 dan 24 frame saja).

Selain itu, satu roll film hanya memiliki satu jenis karakter warna (tanpa adanya auto whitebalance) dan satu jenis ISO / ASA sehingga kita dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut dalam mengambil gambar.

Sedangkan fotografi digital (pendapat pribadi) lebih menitik-beratkan pada hasil dimana kita memiliki ‘infinte amount of shot’ dalam konteks pengambilan gambar tergantung berapa kapasitas kartu memori dan bebas mengatur ISO pada kamera sehingga dapat mengambil gambar dalam kondisi apapun (terang maupun gelap).

Kamera digital memiliki keunggulan lain seperti instant preview setiap kali kita mengambil gambar, terkadang pada akhirnya kita malah lebih sering melihat hasil dari setiap jepretannya daripada fokus pada subjek yang akan kita foto.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Rolleiflex 2.8F 80mm f2.8 + Kodak Portra 400 (overexposed 2 stop)

3. Elemen kejutan dalam setiap roll-nya.

Dengan tidak adanya fitur instant preview saat pengambilan gambar pada kamera analog, kita bisa tetap fokus pada konten yang akan difoto.

Selain itu, memotret dengan film memiliki kejutan tersendiri dari hasil yang telah di develop seperti kesesuaian hasil dengan gambaran saat kita memotret, adanya kepuasan pada warna / tone yang dihasilkan dan yang membuat saya ingin mencoba terus dan ber-eksperimen dengan film yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang berbeda pula sehingga dapat dikatakan menggunakan kamera analog merupakan wujud usaha untuk saling mengerti antara kita dengan medium film tersebut.

4. Semua tentang Proses

Menariknya dari fotografi analog adalah sejatinya merupakan sebuah prosesyang harus kita lalui dari awal hingga akhir agar mendapatkan hasil yang sesuaidengan harapan.

Walaupun sudah banyak filter yang beredar untuk foto digitalagar terlihat seperti tone pada film, akan tetapi proses yang dijalani oleh fotografer dengan kamera analog itu sendiri akan berbeda.

Seperti proses menentukan kamera apa yang cocok untuk kita/jenis foto kita, pemilihan film apa yang akan digunakan, bagaimana kita mengekspos film yang kita pakai (underexpose, over expose, push, pull, double exposure, experimental dll) dan proses developing film (color maupun black and white) serta scanning / printing.

Hasil printing dan film negativenya (klise) merupakan reward dan record yang kita
terima dari proses itu sendiri.

5. Foto yang benar-benar bisa kita pegang

Dengan adanya digitalisasi dari segala hal termasuk pada medium foto, semakin jarang kita mencetak foto yang kita ambil dan dapat kita pegang secara fisik.

Memotret dengan roll film pada kamera analog membuat setiap jepretan kita memiliki rekam jejak dalam bentuk fisik (negative film) yang dapat kita pegang dan memiliki value berbeda dengan melihat foto dibalik layar digital.

Dan tentu saja masih banyak opini dari para pengguna lain yang mungkin berbeda tentang fotografi analog saat ini.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Rolleiflex 2.8F 80mm f2.8 + Kodak Portra 400 (overexposed 2 stop)


Adakah yang menginspirasi Anda untuk tetap berkarya pada fotografi analog?

Saya merasa setiap momen yang ada di sekitar saya dan menurut saya menarik perlu di abadikan sebagai ‘memento’ atau rekam jejak saya pribadi.

Dan saya memutuskan untuk menggunakan medium film hanya karena value yang terkandung dalam medium film tersebut lebih baik menurut saya.

Mungkin dari pernyataan saya tersebut yang akhirnya menginspirasi saya untuk terus
menggunakan kamera analog.

Bagaimana Anda melihat perkembangan fotografi analog pada generasi milenial saat ini?

Fenomena populernya kembali fotografi analog dikalangan milenial akan berakibat semakin banyak pula stakeholder yang akan men-support dan itu menurut saya hal yang positif dan menguntungkan bagi pecinta fotografi analog yang lain.

Dampak buruknya pun harus siap kita hadapi seperti naiknya harga-harga kamera analog, roll film, ongkos develop dan hal yang berkaitan dengan fotografi analog.

Silahkan cek juga photo series Absurdity, by Slamet Riyadi

Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memaksimalkan tone film, sedangkan Anda menurut saya cukup bisa mengatasi hal ini, silahkan berbagi tipsnya.

Tone atau karakter pada film merupakan salah satu daya tarik dari fotografi analog itu sendiri dan menurut saya soal tone pada film merupakan hal yang personal dan selera dari masing-masing individu.

Saya sendiri masih menganggap bahwa film yang saya selalu pakai belum sepenuhnya dimengerti sehingga masih ada ruang untuk mempelajari karakter dari film tersebut.

Mungkin kuncinya adalah KONSISTENSI (yang bagi saya pun sulit untuk diterapkan).

Dengan memahami bagaimana film yang kita pakai tersebut bereaksi dengan cahaya ketika di overexposed atau di underexposed, sehingga kita tahu bagaimana kita mensetting kamera kita (konteks kamera analog manual / kamera non point-and-shoot).

Tetap terbuka akan kemungkinan dan ide baru saat mengekspose film pun menjadi salah satu kunci (at least bagi
saya) agar mengetahui bagaimana hasilnya, meskipun ada harga yang harus dibayar yakni menghabiskan beberapa roll film untuk belajar memahami film tersebut.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Leica M6 + Leica Summicron-M 50mm f2 + Fujicolor Industrial 100 (overexposed 1.5 stop)


Apa yang mesti diperhatikan ketika ingin membeli peralatan fotografi analog? Notabene 
gear yang ditawarkan tergolong sudah cukup tua, bahkan ada yang sudah berumur puluhan tahun.

IMHO faktor yang paling mempengaruhi dalam fotografi analog adalah kualitas lensa, karena lensa yang memiliki kontak langsung dengan film saat memproyeksikan gambar yang kita bidik.

Lensa yang sehat (bebas dari jamur, fog dll karena usia) menjadi hal yang mutlak menjadi concern utama sebelum
memutuskan kamera / lensa merk apa yang akan dibeli.

Kamera/bodi kamera dengan jenis tertentu (SLR, rangefinder, TLR, point and shoot, toycam dll) yang sehat secara umum hanya akan mempengaruhi tingkat kenyamanan saat kita pakai karena masing-masing jenis kamera memiliki
keunggulan masing-masing dan disesuaikan dengan genre fotografi kita sendiri.

Dan bagaimana ketika memilih serta menggunakan roll expired, apakah ada cara
khusus?

Berbeda dengan fotografi digital, dalam dunia fotografi analog, medium film merupakan medium yang bersifat kimiawi yang memiliki batas usia tertentu dan memiliki tingkat kepekaan terhadap cahaya yang berbeda tergantung pada treatment kita saat menyimpan medium tersebut.

Film expired biasanya memiliki tingkat kepekaan terhadap cahaya yang sudah menurun dan terjadi pergeseran warna dari aslinya.

Sehingga penggunaannya dalam kamera analog adalah dengan cara mengatur intensitas ISO/ASA nya lebih rendah dari aslinya dengan tujuan agar tingkat kepekaan terhadap cahaya dari film tersebut tetap cukup saat digunakan.

Selain itu, karena faktor menurunnya tingkat kepekaan terhadap cahaya dari satu film bukan hanya disebabkan oleh faktor tanggal kadaluarsanya, tetapi juga dapat disebabkan oleh kesalahan saat penyimpanan film itu sendiri, maka tanggal kadaluarsa pada film tidak menjadi patokan berapa banyak stop yang harus diturunkan dalam ISO / ASA dari film tersebut saat digunakan dalam kamera analog.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Leica M3 + Leica Summicron-M 50mm f2 + Fujicolor Industrial 100 (overexposed 1.5 stop)


Mengenai pemeliharaan gear apa saja yang biasa Anda lakukan agar tetap menjaga 
kondisi menjadi apik dan keliatan masih kinclong?

Perawatan benda tua pada umumnya sama saja termasuk kamera analog.

Hindari tempat lembab, usahakan memiliki dry cabinet dan rajin-rajinlah membersihkan kamera setiap kali akan disimpan terutama jika kamera tidak digunakan dalam waktu lama.

Kamera analog yang berbasis mekanikal hanya membutuhkan pemakaian rutin agar mekaniknya tetap berjalan dan tidak terjadi karat dan korosi.

Kalaupun terjadi kerusakan ringan seperti tidak akuratnya shutter speed, aperture yang macet / stuck, dll, kamera mekaikal hanya butuh di CLA (clean, lubricate and adjust) oleh ahlinya dan untuk kamera dengan daya baterai, dianjurkan untuk selalu lepas dan bersihkan jika akan disimpan dalam waktu yang lama agar elektronik pada kamera tetap awet.

Roll film favorit Anda, kenapa?

Fujicolor Industrial 100 & 400, Kodak Portra 400, Kodak Ektar, Fuji Pro 400H, sebenarnya semua film negative dengan tone yang soft buat saya adalah favorit.

Karena film-film tersebut masih mudah ditemukan, menarik untuk dipelajari dan memiliki hasil yang memuaskan bagi saya pribadi.

Apakah menurut Anda fotografi analog akan tetap berkembang sampai 20 tahun ke depan?

Fotografi analog sebagai aktivitas, experience dan hobi mungkin saja akan tetap eksis untuk beberapa tahun kedepan selama semua stakeholder yang terkait fotografi analog masih saling support (produsen roll film,produsen chemical developer, lab fotografi, komunitas dan produsen kamera masih tetap eksis).

Karena walau bagaimana-pun fotografi analog merupakan basic dari aktivitas fotografi yang akan selalu menarik untuk dikenalkan bagi generasi muda yang belum sempat mengalami jamannya.

Akan tetapi, jika fotografi analog dilihat sebagai profesi dalam konteks umum, mungkin saja akan semakin sulit bertahan karena semakin kesini, setiap orang merupakan fotografer (termasuk pengguna fotografi dengan smartphone) dan proses dalam fotografi analog yang semakin tidak relevan untuk kebutuhan saat ini dan yang akan datang di mana efisiensi proses, efektivitas medium dan lowcost menjadi tuntutan dalam dunia fotografi saat ini.

Pesan untuk rekan-rekan yang sedang mengandrungi fotografi analog, atau baru ingin mencoba fotografi analog.

Jangan ragu untuk mencoba hal baru yang positif termasuk dunia fotografi analog, karena selain cakupannya yang luas,akan selalu ada kejutan dan kebaruan dalam dunia fotografi analog meskipun kita sudah lama mengenal dunia fotografi analog tersebut.

Viva la Film!

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Slamet Riyadi

Blog, Interviews, Photography, Project, Uncategorized,

Morning After Noon, By Susan Leonmarth Van Litaay

Project Description

Morning After Noon

Diawali dari kisah sesosok murid yang diasingkan oleh gurunya; sang hidup, ke Mars karena murid tidak pernah mensyukuri hidupnya di bumi.

Sang murid panik mengalami kehidupan di mars, ketika pagi muncul tepat selepas siang, sehingga tak ada malam. Dia tak perlu takut akan gelapnya malam, namun ternyata phobia lain merongrongnya bahkan dia sendiri takut terhadap dirinya.

1. Astrapophobia : Fear of lightning

2. Claustrophobia : Fear of closed-in spaces

3. Pathophobia : Fear of disease

4. Ailurophobia : Fear of cats

5. Amnesiphobia : Fear of amnesia

6. Athazagoraphobia : Fear of ignoring

7. Genophobia : Fear of sex

8. Ochlophobia : Fear of crowds

9. Amathophobia : Fear of dust

10. Emetophobia : Fear of blushing

11. Agoraphobia : Fear of public space

12. Decidophobia : Fear of making decision

13. Mysophobia : Fear of dirt

14. Phirophobia : Fear of fire

15. ( Last ) Hai bumi, bagaimana kabar langitmu di sana?

(Fear of him self) : Psychophobia

*( Urutan nama file foto sesuai urutan phobia di deskripsi di atas)

Motivasi sekaligus pesan yang ingin disampaikan lewat MORNING AFTER NOON adalah : Jaman milenial membuat sebagian makhluk takut untuk tersisihkan, takut untuk tak diakui dan takut untuk disingkirkan.

Phobia yang selalu mendominasi saya, kamu dan mereka. Bahkan cenderung kita lebih suka takut menjadi gagal ketimbang berani sukses.

***
Influences 

Jangan merasa telah menjadi pemuka fotografi, karena kita tak memiliki umat bahkan kiblat.

***

Bio

During the eight years of teaching at the university but since 2016 but is no longer
System Analyst and Entrepreneur, born 1983 at May.

I like to write a few articles and manage own website that discusses photography. Start involved street photographysince 2014 using a digital camera. I am interested in making a photograph, especially about human social activity. Now i’ll try to collecting some series and photo story for my own collection and sometimes share with friends, not only in Indonesia.

My mirror and my camera have a completely different idea of what I look like. ??

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Susan Leonmarth Van Litaay

Articles, Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

Perbincangan Photozine & Photobook

Penyebaran karya melalui media sosial semakin mudah? Kenapa Anda malah tertarik untuk publikasi karya melalui medium cetak?

Arya:
Betul, awal saya memotret sampai sekarang saya masih dalam bentuk media sosial.

Namun ada teman saya yang berpengaruh terhadap karya saya, dia menyarankan untuk mencoba membuat dalam medium cetak. Lalu saya mencoba untuk membuat karya dalam medium cetak.

Selain untuk mencoba hal baru, medium cetak juga sebagai portfolio dan bukti fisik atas karya saya.

Baskara:
Foto tercipta untuk di cetak, setidaknya itu yang saya percayai saat memulai fotografi sebagai hobi, hingga menjadi pekerjaan, dan hingga menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan banyak hal didalam hidup.

Foto dalam bentuk cetak selalu menampilkan sisi-sisi lain yang tidak bisa didapat oleh bentuk digital. Kita bisa menyentuhnya, ada indra lain yang ikut berpartisipasi dalam menyelami karya yang dicetak.

Ada tekstur dari kertas foto yang berbeda-beda, ada kedalaman dan kepekatan tinta, ada pengalaman-pengalaman baru yang akan menyita banyak waktu kita dalam urusan cetak-mencetak sehingga kita menjadi lebih terjun kedalam karya kita sendiri.

Muhammad Hidayat:
Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

 


Boleh diceritakan proses kreatif Anda berkarya pada medium cetak?

Arya:
Saya sering ikut berkumpul bersama penggiat fotografi di Bandung, dan disana saya merasa terbakar saat membicarakan berkarya dalam medium cetak.

Apalagi ketika saya ditanya “kamu kapan bikin?” . Seperti dilumuri minyak dan dibakar.

Hal itu yang terus memotivasi saya untuk mencoba berkarya dalam medium cetak. dari saat itu saya mencoba mengumpulkan bahan dan cerita.

Hingga pada akhirnya 10:30 tercipta, karena motivasi dan saran dari teman saya saat melihat hasil foto saat saya bersama teman liburan.

Baskara:
Proses kreatif dalam medium cetak bagi saya yang paling pertama adalah menentukan ide dasar dari apa yang akan kita cetak tersebut.

Apa kita akan bermain dengan single photo atau akan bermain dengan balutan cerita dalam photo story.

Langkah berikutnya adalah pemilihan foto yang akan dipakai dalam project tersebut, berlanjut pada tahapan selanjutnya mau diapakan foto tersebut? Akan dipamerkan? Akan dibikin dalam bentuk buku? Semua kembali sesuai kebutuhan, pantas dibuat apakah project tersebut.

Muhammad Hidayat:
Memindahkan setiap file-file foto pada medium cetak atau bisa dikatakan membuat sebuah zine ataupun photobook merupakan sebuah tantangan, apalagi karya foto yang sudah dicetak itu dipublikasikan, ini adalah hal yang menarik buat saya.

Saya harus melakukan proses editing yang bisa saya katakan lebih sulit dari pada mengedit sebuah foto menggunakan software editing picture, proses editing disini adalah sequencing atau pemilihan terhadap foto-foto yang akan di rangkum kedalam sebuah zine ataupun photobook dan setelah itu bagaimana dengan cara yang kreatif menyusun dan mendesain sedemikian rupa agar terlihat menarik nantinya.

Apa sajakah kendala pada distribusi? Adakah strategi khusus untuk untuk mendukung pendistribusian menjadi lebih masif?

Arya:
Kendala menurut saya adalah saat saya berusaha memperkenalkan diri kepada dunia luar, bahwasanya saya adalah seorang yang baru saja membuat karya.

Hahaha… Orang mungkin akan berkata “siapa lu?” tapi ya itu adalah bagian dari memperkenalkan saya kepada dunia luar.

Strategi yang saya lakukan adalah promosi melalui media sosial teman-teman saya. Baik penggiat fotografi maupun teman kampus.

Baskara:
Distribusi selalu menjadi masalah apabila kita tidak punya jalan dalam melemparkan karya kita. Tidak melulu dalam hal cetak, bermain di media sosial tanpa penikmat pun tetap karya tidak akan terdistribusi dengan baik.

Yang paling utama bagi saya adalah percaya bahwa akan ada yang menikmati karya kita, minimal percaya bahwa kita tidak sendiri.

Ide yang kita angkat dalam karya kita mungkin orisinil, namun jutaan manusia di planet ini setidaknya akan ada yang memiliki ide yang mirip dengan kita, dan merekalah yang kemungkinan besar akan meng-apresiasi karya kita.

Medium cetak tentunya memerlukan jalan yang terang benderang untuk distribusi nya, bisa dimulai dengan promosi di media sosial, setidaknya itulah kekuatan yang penting di era digital ini.

Kerjasama dengan berbagai komunitas, kerjasama dengan berbagai orang yang membantu terciptanya karya, dan bekerjasama dengan publisher bisa menjadi jalan yang memuluskan niatan kita.

Muhammad Hidayat:
Bisa saya katakan kendala dalam pendistribusian sebenarnya adalah masalah finansial.

Karena promosi itu selalu berhubungan dengan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu untuk saat ini hal yang mudah untuk melakukan pendistribusian masih seputar media sosial atau menggunakan jasa teman-teman untuk ikut membantu mempublikasikan karya-karya foto yang kita miliki, dalam hal ini berupa review atau sekedar melakukan postingan kedalam akun media sosial mereka.

Motivasi terbesar Anda berkarya?

Arya:
Diremehkan, saya lahir dan besar disebuah kota kecil, dimana saat saya berkarya ada beberapa orang yang bisa dikatakan meremehkan saya bukan memotivasi ataupun membantu saya.

Hal itu yang membuat saya ingin terus berkarya. Selain itu, saya juga ingin menciptakan sesuatu yang baru untuk kota saya dan intinya saya ingin membuat orang tua saya bangga, bahwa anaknya telah menciptakan sebuah karya.

Baskara:
Motivasi dalam berkarya bagi saya bisa bermacam-macam, namun kebanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di dalam hidup saya.

Mempertanyakan diri sendiri adalah hal yang cukup saya senangi, karena saya selalu berpegang teguh pada “Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhan-nya”, maka setidaknya inilah salah satu alasan saya berkarya, untuk mengenal dan bertemu Aku yang sejati.

Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto. Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Motivasi dalam berkarya? Balik lagi kepada tujuan awal dalam fotografi itu sendiri, seperti yang pernah saya katakan bahwa fotografi merupakan media untuk mengekspresikan diri dan fotografi merupakan hal yang terindah yang saya miliki saat ini oleh karena itu fotografi tidak pernah padam.

Selagi saya masih bisa melihat dan masih bisa menekan tombol shutter pada kamera maka saya akan terus berkarya.

Project terbaru?

Arya:
Project terbaru dan perdana saya adalah zine 10:30 , dan akan membuat zine lainnya, dan tentunya photobook suatu hari nanti.

Baskara:
Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto.

Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Project terbaru: saat ini saya sedang mengerjakan beberapa series foto dan satu project yang sementara berjalan menggunakan kamera analog dan film 35mm pada project tersebut.

Saran untuk rekan-rekan yang ingin mengikuti jejak Anda untuk mencetak karya serta mempublikasikannya?

Arya:
Jangan takut untuk mengambil resiko, jangan pernah takut karyamu dianggap jelek, karena tidak ada karya yang jelek, percaya diri intinya dan mau.

Kalian harus mencoba sensasi melihat karya pertama keluar dari mesin cetakan dan kamu merasakan karya kamu secara fisik, bukan di media sosial. Rasanya itu uhhhhhh…..

Baskara:
Teruslah memotret, jangan ragu untuk berkarya, tidak ada yang salah dalam berkarya. Bisa dimulai dari hal kecil didalam hidup kita, karena hal kecil bisa menjadi besar.

Muhammad Hidayat:
Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret (dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Agan Dayat 
Facebook
Flickr
Instagram
Website

Arya Tri Prasakti
Instagram

Baskara Puraga Somantri
Facebook
Instagram
Website

Kampung Aquarium Kini, by Ade Andryani
Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Kampung Aquarium Kini, by Ade Andryani

Kampung Aquarium Kini, Photo Series by Ade Andryani

Project Desription

Project ini merupakan kumpulan serangkaian foto yang saya ambil di kawasan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Kawasan yang biasa disebut dengan Kampung Aquarium ini begitu menyedot perhatian saya yang baru pertama kali datang ke tempat tersebut. Kawasan yang setahun lalu terkena penggusuran ini (April 2016), kini kembali ditinggali oleh beberapa warga dengan membangun tenda darurat, rumah semi permanen, WC umum, hingga rumah ibadah seperti Masjid.

Bangunan-bangunan tersebut terlihat semakin semrawut karena didirikan diatas puing-puing bangunan yang sebelumnya telah rata dengan tanah, bahkan ada pula yang mendirikan di atas laut dengan beralaskan papan kayu.

Meski hanya beratapkan papan triplex yang rentan bocor bahkan rubuh dikala hujan, ditambah dengan susahnya mendapatkan air bersih, mereka terus berjuang setiap harinya agar dapat bertahan hidup. Terlihat aktivitas warga tetap berjalan seperti biasanya dan anak-anak pun bermain dengan ceria.

Walaupun demikian, saya tetap berharap agar warga kampung tersebut mendapatkan bantuan dan perhatian khusus terutama dari pemerintah, sehingga mereka mendapatkan hidup yang lebih layak.

Bio

Nama saya Ade Andryani, lahir dan besar di Jakarta. Bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta karena berlatar pendidikan Farmasi. Memiliki ketertarikan pada fotografi semenjak 2012, namun serius menekuni pada tahun 2016, khususnya streetphotography. Menyukai membaca, menggambar dan typography.

Facebook
Flickr
Instagram
Twitter

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Ade Andryani

Blog,

MANIFESTASI PERSEPSI.

MANIFESTASI PERSEPSI.

Essay: Arifan Sudaryanto


Perbedaan adalah hal yang tabu di negeri ini. Sesuatu hal yang dianggap “salah” atau “berbeda” dijadikan senjata oleh para “Pembela kebenaran” untuk melancarkan manufer penyerangan yang secara massif dan terorganisir terhadap pihak yang dituduh “bersalah”. Ragamnya penyeragaman polapikir, dengan cara sehalus apapun merupakan bentuk pemerkosaan terhadap jiwa dan fikiran korban penyeragaman.

Pemadaman gagasan oleh mereka para intelek mainstream, mencuatkan pertanyaan mendasar padaku; bukankah setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing? Sepertinya pertanyaan tersebut terlalu bias bagi mayoritas dengan kepintaran diatas rata-rata (yang mungkin) terlalu bodoh untuk dipertanyakan, dan menuhankan persepsi kebenarannya secara absolut. Kebenaran yang seharusnya menjadi persepsi pribadi, dipaksakan kebenarannya pada oranglain yang tentunya memiliki persepsinya tersendiri akan kebenaran. Bukankah itu sama saja dengan penindasan?

Bagi mereka yang tak sanggup bertahan pada persepsi kebenarannya, sama saja mereka telah diperkosa secara keji dan tak melakukan perlawanan apapun. Dan sebaliknya, untuk mereka yg bertahan pada persepsi kebenaran tak kenal takut meskipun dihadapkan pada selongsong senapan, merekalah yg sanggup berdiri mereduksi cacian halus dengan segenap tau bahwa menghargai adalah kebenaran sejati.

Hendaknya manusia sebagai makhluk yang memiliki fikiran sejati, menghargai setiap perbedaan sekecil apapun dalam berfikir, dan mereduksi ego masing-masing yg hendak mengebiri gagasan yang tak sejalan. Setiap gagasan baru adalah hutan belantara yang belum tersentuh polutan. Atau, jika kamu bersikukuh bahwa kamu paling benar, apakah kamu Tuhan?

Photo & text:
Arifan Sudaryanto
Blog, Photography, Project, Uncategorized,

Ketika Kebosanan Bermedia Sosial Melanda, Maka Kami Mencetak Karya

View this post on Instagram

Udah siap? #diskusiemperan #fotoemperan #ngopret

A post shared by Foto Emperan (@fotoemperan) on

 

Awal Mula Mulai Berkarya Pada Medium Cetak

Perlahan kejenuhan posting foto dimedia sosial itu pasti akan muncul dengan sendirinya, pada awalnya bisa saja like pada foto yang diposting bisa memicu semangat, atau ketika karya anda difitur oleh akun fituran membuat anda merasa begitu bangganya.

Hal semacam itu hanya akan memberikan kepuasaan sesaat, karena memang bergelut di dunia maya seakan semua kesenangan tersebut bertahan sepintas, bagaikan angin yang mudah berlalu tanpa basa basi.

September 2016 terlintas ide untuk mencetak karya dalam bentuk photo series bersama rekan-rekan dari Fotoemperan, diantaranya ada Arifan Sudaryanto dan Baskara Puraga Somantri serta ada M Izzun Ni’am dari Street Malang yang sedang melanjutkan kuliah di Bandung.

Yang menariknya adalah kami tidak begitu paham bagaimana menyusun sebuah buku foto, M Izzun Ni’am cukup mengerti karena pernah berkesempatan mendapatkan pembekalan di Malang dari hasil sharing dengan fotografer yang lebih berpengalaman. Sisanya kami masih sangat awam.

Masih dalam kegamangan dan pasang surutnya semangat, akhirnya ketika menghadiri Bandung Zine Festival 2016 pertemuan bersama mas Kurniadi Widodo dari Flock Project seakan memberikan pencerahan yang tidak akan terlupakan. Lebih akrab dengan panggilan mas Wiwid, mas satu ini sharing panjang lebar tentang wawasan pembuatan photozine, dijelaskan dari A-Z.

Sungguh momen ini memantik kembali keinginan untuk mencetak karya dalam bentuk photozine.

Permasalahan tidak berhenti sampai disitu, ternyata untuk membukukan kumpulan foto tidak semudah yang diduga. Butuh tahap seleksi foto, sequencing, layout sampai pada tahap pembuatan dummy.
Dan tentunya kami tidak berpengalaman dalam hal ini.

Nekat, dan kemauan untuk berkarya ini alasan utama saya untuk tetap mencoba. Minimnya pengetahuan membuat saya belajar lagi menggunakan InDesign, browsing kembali tentang buku foto. Meskipun dengan beragam kekurangan tersebut akhirnya photozine perdana saya The END Room selesai pada tahap photo editing dan layout.

Berbekal dengan ilmu dari internet, sharing sambil ngopi, serta beberapa kali menikmati buku foto membuat saya tidak terlalu ragu untuk menyusun karya.

Meskipun paham bahwa hasilnya tidak akan terlalu bagus, yang menjadi pegangan adalah “ini karya saya, setidaknya saya telah mencoba, bagus dan tidak bagus bukan dari output yang ditampilkan tapi dari proses yang dijalani, gagal adalah proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi”

© Tomi Saputra, from photozine The Audiences, 2017

 

© Tomi Saputra, from photozine A-Z, 2016

Prosesnya belum usai sampai disitu saja, ketika masuk pada tahap cetak permasalahan kembali datang, saya keliling mencari percetakan untuk menemukan hasil cetak yang sesuai dengan keinginan. Setelah mencoba beberapa percetakan akhirnya baru mendapatkan satu percetakan yang memberikan hasil BW nan hitam pekat sesuai dengan karakter BW saya.

Berharap permasalahan usai, namun ternyata ada masalah baru. Ketika anda mencetak foto dengan format booklet ada tantangan tersendiri untuk mesin digital printing, karena pada full spreads ada kemungkinan foto yang dibagi pada 2 halaman tersebut tidak presisi satu sama lain.

Coba bayangkan, anda sudah cukup berusaha dari awal eksekusi ide cerita ketika foto diambil, kemudian proses sampai pada produksi hasilnya malah masih belum memuaskan.

Terlepas dari itu, ada kebanggan dan kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan, selama ini saya hanya bisa menikmati karya hanya dengan layar smartphone atau monitor personal computer (PC) anda, ternyata sensasi berbeda jika dinikmati langsung dalam bentuk fisik seperti format zine ini.

Tidak percaya? Silahkan cetak karya anda.

Dengan perasaan bercampuk aduk antara suka duka karena hasil cetak belum begitu memuaskan saya bersemangat untuk pamerkan kepada rekan-rekan lain di kopi darat mingguan Geonusantara Jawa Barat (GeoJabar).

Buat saya feedback dari orang terdekat itu penting, karena ini bisa menjadi koreksi berkarya untuk pengembangan selanjutnya.

Setelah dummy selesai masuk pada tahap publikasi dengan tujuan pendistribusian photozine. Diproses ini mulai muncul tidak percaya diri, alasannya sederhana karena sejauh ini belum ada pengalaman sama sekali menjual karya, hanya posting dimedia sosial dan kenal teman-teman dari Instagram, ada kegamangan juga apakah nantinya karya bisa diterima dengan baik.

Hal ini berubah ketika saya bertemu dengan mas Wahyu dari Perpustakaan Fotografi Keliling, satu ungkapan yang tidak terlupakan dari mas Wahyu adalah “sebelum karya itu dilahirkan/publikasikan orang yang akan mengkritik sudah ada, pertanyaan adalah apakah berani untuk tampil atau tidak?”

Suatu cambukan yang langsung kena pada lubuk hati, sehingga dengan memberanikan diri photozine perdana The END Room dipublikasikan. Beruntung karena dibantu juga oleh kawan-kawan dimedia sosial untuk upload flyer open pre-order. Dan ternyata cukup banyak peminat, ya mungkin karena hanya sebatas penasaran eheheheh.

Terima sekali buat kawan-kawan yang telah memberikan support dan mengapresiasi.

Karya dengan foto yang tidak begitu jelas, tidak begitu enak dilihat secara teknis, horor bagi sebagian orang. Photozine perdana The END Room terjual kurang lebih 60 pcs bagi saya itu menjadi suatu hal yang tidak bisa dilupakan dengan mudah. Bagaimana tidak, dengan photozine ini saya dan rekan lainnya berkesempatan untuk memamerkan karya dibeberapa kota.

Seperti di Padang dan di Bandung. Pada event Jambore Street Photography Indonesia dan Bandung Photography Month pada tahun 2016. Dengan segala kekurangannya kami dari Fotoemperan juga berkesempatan presentasi di salah satu sesi diskusi Jambore Street Photography Indonesia. Mendapatkan masukan yang sangat bagus dari Ng Swan Ti, Eddy Purnomo, Sari Asih dan para senior lainnya. Suatu kesempatan berharga dalam pembelajaran berkarya.

Konklusi

Saya sangat yakin sekali banyak diantara anda yang ingin mencetak karya foto dalam bentuk buku, menyusun alurnya sedemikian rupa. Tapi ada keraguan bagaimana memulai, bukankah ketika terlintas keinginan untuk membubukan itu adalah awal anda ingin memulai?

Sebagian orang terlalu banyak berfikir, sehingga akhirnya karyanya tidak jadi, kenapa tidak mencoba dulu kemudian produksi. Ketika melihat karya anda dalam bentuk cetak akan ada pemicu untuk mengembangkan dan kembali mencoba mencetak karya.

Jangan takut karya tidak diterima oleh orang lain, tapi takutlah jika anda tidak pernah mencoba!

Simak juga berikut video hasil dokumentasi Diskusi Emperan Vol.1