Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

Perbincangan Photozine & Photobook

Penyebaran karya melalui media sosial semakin mudah? Kenapa Anda malah tertarik untuk publikasi karya melalui medium cetak?

Arya:
Betul, awal saya memotret sampai sekarang saya masih dalam bentuk media sosial.

Namun ada teman saya yang berpengaruh terhadap karya saya, dia menyarankan untuk mencoba membuat dalam medium cetak. Lalu saya mencoba untuk membuat karya dalam medium cetak.

Selain untuk mencoba hal baru, medium cetak juga sebagai portfolio dan bukti fisik atas karya saya.

Baskara:
Foto tercipta untuk di cetak, setidaknya itu yang saya percayai saat memulai fotografi sebagai hobi, hingga menjadi pekerjaan, dan hingga menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan banyak hal didalam hidup.

Foto dalam bentuk cetak selalu menampilkan sisi-sisi lain yang tidak bisa didapat oleh bentuk digital. Kita bisa menyentuhnya, ada indra lain yang ikut berpartisipasi dalam menyelami karya yang dicetak.

Ada tekstur dari kertas foto yang berbeda-beda, ada kedalaman dan kepekatan tinta, ada pengalaman-pengalaman baru yang akan menyita banyak waktu kita dalam urusan cetak-mencetak sehingga kita menjadi lebih terjun kedalam karya kita sendiri.

Muhammad Hidayat:
Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

 


Boleh diceritakan proses kreatif Anda berkarya pada medium cetak?

Arya:
Saya sering ikut berkumpul bersama penggiat fotografi di Bandung, dan disana saya merasa terbakar saat membicarakan berkarya dalam medium cetak.

Apalagi ketika saya ditanya “kamu kapan bikin?” . Seperti dilumuri minyak dan dibakar.

Hal itu yang terus memotivasi saya untuk mencoba berkarya dalam medium cetak. dari saat itu saya mencoba mengumpulkan bahan dan cerita.

Hingga pada akhirnya 10:30 tercipta, karena motivasi dan saran dari teman saya saat melihat hasil foto saat saya bersama teman liburan.

Baskara:
Proses kreatif dalam medium cetak bagi saya yang paling pertama adalah menentukan ide dasar dari apa yang akan kita cetak tersebut.

Apa kita akan bermain dengan single photo atau akan bermain dengan balutan cerita dalam photo story.

Langkah berikutnya adalah pemilihan foto yang akan dipakai dalam project tersebut, berlanjut pada tahapan selanjutnya mau diapakan foto tersebut? Akan dipamerkan? Akan dibikin dalam bentuk buku? Semua kembali sesuai kebutuhan, pantas dibuat apakah project tersebut.

Muhammad Hidayat:
Memindahkan setiap file-file foto pada medium cetak atau bisa dikatakan membuat sebuah zine ataupun photobook merupakan sebuah tantangan, apalagi karya foto yang sudah dicetak itu dipublikasikan, ini adalah hal yang menarik buat saya.

Saya harus melakukan proses editing yang bisa saya katakan lebih sulit dari pada mengedit sebuah foto menggunakan software editing picture, proses editing disini adalah sequencing atau pemilihan terhadap foto-foto yang akan di rangkum kedalam sebuah zine ataupun photobook dan setelah itu bagaimana dengan cara yang kreatif menyusun dan mendesain sedemikian rupa agar terlihat menarik nantinya.

Apa sajakah kendala pada distribusi? Adakah strategi khusus untuk untuk mendukung pendistribusian menjadi lebih masif?

Arya:
Kendala menurut saya adalah saat saya berusaha memperkenalkan diri kepada dunia luar, bahwasanya saya adalah seorang yang baru saja membuat karya.

Hahaha… Orang mungkin akan berkata “siapa lu?” tapi ya itu adalah bagian dari memperkenalkan saya kepada dunia luar.

Strategi yang saya lakukan adalah promosi melalui media sosial teman-teman saya. Baik penggiat fotografi maupun teman kampus.

Baskara:
Distribusi selalu menjadi masalah apabila kita tidak punya jalan dalam melemparkan karya kita. Tidak melulu dalam hal cetak, bermain di media sosial tanpa penikmat pun tetap karya tidak akan terdistribusi dengan baik.

Yang paling utama bagi saya adalah percaya bahwa akan ada yang menikmati karya kita, minimal percaya bahwa kita tidak sendiri.

Ide yang kita angkat dalam karya kita mungkin orisinil, namun jutaan manusia di planet ini setidaknya akan ada yang memiliki ide yang mirip dengan kita, dan merekalah yang kemungkinan besar akan meng-apresiasi karya kita.

Medium cetak tentunya memerlukan jalan yang terang benderang untuk distribusi nya, bisa dimulai dengan promosi di media sosial, setidaknya itulah kekuatan yang penting di era digital ini.

Kerjasama dengan berbagai komunitas, kerjasama dengan berbagai orang yang membantu terciptanya karya, dan bekerjasama dengan publisher bisa menjadi jalan yang memuluskan niatan kita.

Muhammad Hidayat:
Bisa saya katakan kendala dalam pendistribusian sebenarnya adalah masalah finansial.

Karena promosi itu selalu berhubungan dengan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu untuk saat ini hal yang mudah untuk melakukan pendistribusian masih seputar media sosial atau menggunakan jasa teman-teman untuk ikut membantu mempublikasikan karya-karya foto yang kita miliki, dalam hal ini berupa review atau sekedar melakukan postingan kedalam akun media sosial mereka.

Motivasi terbesar Anda berkarya?

Arya:
Diremehkan, saya lahir dan besar disebuah kota kecil, dimana saat saya berkarya ada beberapa orang yang bisa dikatakan meremehkan saya bukan memotivasi ataupun membantu saya.

Hal itu yang membuat saya ingin terus berkarya. Selain itu, saya juga ingin menciptakan sesuatu yang baru untuk kota saya dan intinya saya ingin membuat orang tua saya bangga, bahwa anaknya telah menciptakan sebuah karya.

Baskara:
Motivasi dalam berkarya bagi saya bisa bermacam-macam, namun kebanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di dalam hidup saya.

Mempertanyakan diri sendiri adalah hal yang cukup saya senangi, karena saya selalu berpegang teguh pada “Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhan-nya”, maka setidaknya inilah salah satu alasan saya berkarya, untuk mengenal dan bertemu Aku yang sejati.

Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto. Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Motivasi dalam berkarya? Balik lagi kepada tujuan awal dalam fotografi itu sendiri, seperti yang pernah saya katakan bahwa fotografi merupakan media untuk mengekspresikan diri dan fotografi merupakan hal yang terindah yang saya miliki saat ini oleh karena itu fotografi tidak pernah padam.

Selagi saya masih bisa melihat dan masih bisa menekan tombol shutter pada kamera maka saya akan terus berkarya.

Project terbaru?

Arya:
Project terbaru dan perdana saya adalah zine 10:30 , dan akan membuat zine lainnya, dan tentunya photobook suatu hari nanti.

Baskara:
Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto.

Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Project terbaru: saat ini saya sedang mengerjakan beberapa series foto dan satu project yang sementara berjalan menggunakan kamera analog dan film 35mm pada project tersebut.

Saran untuk rekan-rekan yang ingin mengikuti jejak Anda untuk mencetak karya serta mempublikasikannya?

Arya:
Jangan takut untuk mengambil resiko, jangan pernah takut karyamu dianggap jelek, karena tidak ada karya yang jelek, percaya diri intinya dan mau.

Kalian harus mencoba sensasi melihat karya pertama keluar dari mesin cetakan dan kamu merasakan karya kamu secara fisik, bukan di media sosial. Rasanya itu uhhhhhh…..

Baskara:
Teruslah memotret, jangan ragu untuk berkarya, tidak ada yang salah dalam berkarya. Bisa dimulai dari hal kecil didalam hidup kita, karena hal kecil bisa menjadi besar.

Muhammad Hidayat:
Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret (dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Agan Dayat 
Facebook
Flickr
Instagram
Website

Arya Tri Prasakti
Instagram

Baskara Puraga Somantri
Facebook
Instagram
Website

September 22, 2017
by Tomi Saputra Ghazali
Kampung Aquarium Kini, by Ade Andryani
Kampung Aquarium Kini, by Ade Andryani

Kampung Aquarium Kini, Photo Series by Ade Andryani

Project Desription

Project ini merupakan kumpulan serangkaian foto yang saya ambil di kawasan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Kawasan yang biasa disebut dengan Kampung Aquarium ini begitu menyedot perhatian saya yang baru pertama kali datang ke tempat tersebut. Kawasan yang setahun lalu terkena penggusuran ini (April 2016), kini kembali ditinggali oleh beberapa warga dengan membangun tenda darurat, rumah semi permanen, WC umum, hingga rumah ibadah seperti Masjid.

Bangunan-bangunan tersebut terlihat semakin semrawut karena didirikan diatas puing-puing bangunan yang sebelumnya telah rata dengan tanah, bahkan ada pula yang mendirikan di atas laut dengan beralaskan papan kayu.

Meski hanya beratapkan papan triplex yang rentan bocor bahkan rubuh dikala hujan, ditambah dengan susahnya mendapatkan air bersih, mereka terus berjuang setiap harinya agar dapat bertahan hidup. Terlihat aktivitas warga tetap berjalan seperti biasanya dan anak-anak pun bermain dengan ceria.

Walaupun demikian, saya tetap berharap agar warga kampung tersebut mendapatkan bantuan dan perhatian khusus terutama dari pemerintah, sehingga mereka mendapatkan hidup yang lebih layak.

Bio

Nama saya Ade Andryani, lahir dan besar di Jakarta. Bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta karena berlatar pendidikan Farmasi. Memiliki ketertarikan pada fotografi semenjak 2012, namun serius menekuni pada tahun 2016, khususnya streetphotography. Menyukai membaca, menggambar dan typography.

Facebook
Flickr
Instagram
Twitter

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Ade Andryani

September 18, 2017
by Tomi Saputra Ghazali
MANIFESTASI PERSEPSI.

MANIFESTASI PERSEPSI.

Essay: Arifan Sudaryanto


Perbedaan adalah hal yang tabu di negeri ini. Sesuatu hal yang dianggap “salah” atau “berbeda” dijadikan senjata oleh para “Pembela kebenaran” untuk melancarkan manufer penyerangan yang secara massif dan terorganisir terhadap pihak yang dituduh “bersalah”. Ragamnya penyeragaman polapikir, dengan cara sehalus apapun merupakan bentuk pemerkosaan terhadap jiwa dan fikiran korban penyeragaman.

Pemadaman gagasan oleh mereka para intelek mainstream, mencuatkan pertanyaan mendasar padaku; bukankah setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing? Sepertinya pertanyaan tersebut terlalu bias bagi mayoritas dengan kepintaran diatas rata-rata (yang mungkin) terlalu bodoh untuk dipertanyakan, dan menuhankan persepsi kebenarannya secara absolut. Kebenaran yang seharusnya menjadi persepsi pribadi, dipaksakan kebenarannya pada oranglain yang tentunya memiliki persepsinya tersendiri akan kebenaran. Bukankah itu sama saja dengan penindasan?

Bagi mereka yang tak sanggup bertahan pada persepsi kebenarannya, sama saja mereka telah diperkosa secara keji dan tak melakukan perlawanan apapun. Dan sebaliknya, untuk mereka yg bertahan pada persepsi kebenaran tak kenal takut meskipun dihadapkan pada selongsong senapan, merekalah yg sanggup berdiri mereduksi cacian halus dengan segenap tau bahwa menghargai adalah kebenaran sejati.

Hendaknya manusia sebagai makhluk yang memiliki fikiran sejati, menghargai setiap perbedaan sekecil apapun dalam berfikir, dan mereduksi ego masing-masing yg hendak mengebiri gagasan yang tak sejalan. Setiap gagasan baru adalah hutan belantara yang belum tersentuh polutan. Atau, jika kamu bersikukuh bahwa kamu paling benar, apakah kamu Tuhan?

Photo & text:
Arifan Sudaryanto
September 17, 2017
by Tomi Saputra Ghazali
Ketika Kebosanan Bermedia Sosial Melanda, Maka Kami Mencetak Karya

Udah siap? #diskusiemperan #fotoemperan #ngopret

A post shared by Foto Emperan (@fotoemperan) on

 

Awal Mula Mulai Berkarya Pada Medium Cetak

Perlahan kejenuhan posting foto dimedia sosial itu pasti akan muncul dengan sendirinya, pada awalnya bisa saja like pada foto yang diposting bisa memicu semangat, atau ketika karya anda difitur oleh akun fituran membuat anda merasa begitu bangganya.

Hal semacam itu hanya akan memberikan kepuasaan sesaat, karena memang bergelut di dunia maya seakan semua kesenangan tersebut bertahan sepintas, bagaikan angin yang mudah berlalu tanpa basa basi.

September 2016 terlintas ide untuk mencetak karya dalam bentuk photo series bersama rekan-rekan dari Fotoemperan, diantaranya ada Arifan Sudaryanto dan Baskara Puraga Somantri serta ada M Izzun Ni’am dari Street Malang yang sedang melanjutkan kuliah di Bandung.

Yang menariknya adalah kami tidak begitu paham bagaimana menyusun sebuah buku foto, M Izzun Ni’am cukup mengerti karena pernah berkesempatan mendapatkan pembekalan di Malang dari hasil sharing dengan fotografer yang lebih berpengalaman. Sisanya kami masih sangat awam.

Masih dalam kegamangan dan pasang surutnya semangat, akhirnya ketika menghadiri Bandung Zine Festival 2016 pertemuan bersama mas Kurniadi Widodo dari Flock Project seakan memberikan pencerahan yang tidak akan terlupakan. Lebih akrab dengan panggilan mas Wiwid, mas satu ini sharing panjang lebar tentang wawasan pembuatan photozine, dijelaskan dari A-Z.

Sungguh momen ini memantik kembali keinginan untuk mencetak karya dalam bentuk photozine.

Permasalahan tidak berhenti sampai disitu, ternyata untuk membukukan kumpulan foto tidak semudah yang diduga. Butuh tahap seleksi foto, sequencing, layout sampai pada tahap pembuatan dummy.
Dan tentunya kami tidak berpengalaman dalam hal ini.

Nekat, dan kemauan untuk berkarya ini alasan utama saya untuk tetap mencoba. Minimnya pengetahuan membuat saya belajar lagi menggunakan InDesign, browsing kembali tentang buku foto. Meskipun dengan beragam kekurangan tersebut akhirnya photozine perdana saya The END Room selesai pada tahap photo editing dan layout.

Berbekal dengan ilmu dari internet, sharing sambil ngopi, serta beberapa kali menikmati buku foto membuat saya tidak terlalu ragu untuk menyusun karya.

Meskipun paham bahwa hasilnya tidak akan terlalu bagus, yang menjadi pegangan adalah “ini karya saya, setidaknya saya telah mencoba, bagus dan tidak bagus bukan dari output yang ditampilkan tapi dari proses yang dijalani, gagal adalah proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi”

© Tomi Saputra, from photozine The Audiences, 2017

 

© Tomi Saputra, from photozine A-Z, 2016

Prosesnya belum usai sampai disitu saja, ketika masuk pada tahap cetak permasalahan kembali datang, saya keliling mencari percetakan untuk menemukan hasil cetak yang sesuai dengan keinginan. Setelah mencoba beberapa percetakan akhirnya baru mendapatkan satu percetakan yang memberikan hasil BW nan hitam pekat sesuai dengan karakter BW saya.

Berharap permasalahan usai, namun ternyata ada masalah baru. Ketika anda mencetak foto dengan format booklet ada tantangan tersendiri untuk mesin digital printing, karena pada full spreads ada kemungkinan foto yang dibagi pada 2 halaman tersebut tidak presisi satu sama lain.

Coba bayangkan, anda sudah cukup berusaha dari awal eksekusi ide cerita ketika foto diambil, kemudian proses sampai pada produksi hasilnya malah masih belum memuaskan.

Terlepas dari itu, ada kebanggan dan kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan, selama ini saya hanya bisa menikmati karya hanya dengan layar smartphone atau monitor personal computer (PC) anda, ternyata sensasi berbeda jika dinikmati langsung dalam bentuk fisik seperti format zine ini.

Tidak percaya? Silahkan cetak karya anda.

Dengan perasaan bercampuk aduk antara suka duka karena hasil cetak belum begitu memuaskan saya bersemangat untuk pamerkan kepada rekan-rekan lain di kopi darat mingguan Geonusantara Jawa Barat (GeoJabar).

Buat saya feedback dari orang terdekat itu penting, karena ini bisa menjadi koreksi berkarya untuk pengembangan selanjutnya.

Setelah dummy selesai masuk pada tahap publikasi dengan tujuan pendistribusian photozine. Diproses ini mulai muncul tidak percaya diri, alasannya sederhana karena sejauh ini belum ada pengalaman sama sekali menjual karya, hanya posting dimedia sosial dan kenal teman-teman dari Instagram, ada kegamangan juga apakah nantinya karya bisa diterima dengan baik.

Hal ini berubah ketika saya bertemu dengan mas Wahyu dari Perpustakaan Fotografi Keliling, satu ungkapan yang tidak terlupakan dari mas Wahyu adalah “sebelum karya itu dilahirkan/publikasikan orang yang akan mengkritik sudah ada, pertanyaan adalah apakah berani untuk tampil atau tidak?”

Suatu cambukan yang langsung kena pada lubuk hati, sehingga dengan memberanikan diri photozine perdana The END Room dipublikasikan. Beruntung karena dibantu juga oleh kawan-kawan dimedia sosial untuk upload flyer open pre-order. Dan ternyata cukup banyak peminat, ya mungkin karena hanya sebatas penasaran eheheheh.

Terima sekali buat kawan-kawan yang telah memberikan support dan mengapresiasi.

Karya dengan foto yang tidak begitu jelas, tidak begitu enak dilihat secara teknis, horor bagi sebagian orang. Photozine perdana The END Room terjual kurang lebih 60 pcs bagi saya itu menjadi suatu hal yang tidak bisa dilupakan dengan mudah. Bagaimana tidak, dengan photozine ini saya dan rekan lainnya berkesempatan untuk memamerkan karya dibeberapa kota.

Seperti di Padang dan di Bandung. Pada event Jambore Street Photography Indonesia dan Bandung Photography Month pada tahun 2016. Dengan segala kekurangannya kami dari Fotoemperan juga berkesempatan presentasi di salah satu sesi diskusi Jambore Street Photography Indonesia. Mendapatkan masukan yang sangat bagus dari Ng Swan Ti, Eddy Purnomo, Sari Asih dan para senior lainnya. Suatu kesempatan berharga dalam pembelajaran berkarya.

Konklusi

Saya sangat yakin sekali banyak diantara anda yang ingin mencetak karya foto dalam bentuk buku, menyusun alurnya sedemikian rupa. Tapi ada keraguan bagaimana memulai, bukankah ketika terlintas keinginan untuk membubukan itu adalah awal anda ingin memulai?

Sebagian orang terlalu banyak berfikir, sehingga akhirnya karyanya tidak jadi, kenapa tidak mencoba dulu kemudian produksi. Ketika melihat karya anda dalam bentuk cetak akan ada pemicu untuk mengembangkan dan kembali mencoba mencetak karya.

Jangan takut karya tidak diterima oleh orang lain, tapi takutlah jika anda tidak pernah mencoba!

Simak juga berikut video hasil dokumentasi Diskusi Emperan Vol.1 

 

September 15, 2017
by Tomi Saputra Ghazali
Out Of Control, by Kevin Andrean

Out Of Control, Photo Essay by Kevin Andrean

About

Saya Kevin Andrean, lahir dan besar di kota kecil Sukabumi, Jawa Barat. Mulai menempuh pendidikan sekolah
menengah atas di kota kecil Muntilan, Jawa Tengah dan melanjutkan kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pekerjaan pada saat ini menjadi Gardener di salah satu kedai kopi (Dongeng Kopi) di Yogyakarta.

Rutinitas sehari-hari tentu masih berjuang dalam menyusun tugas akhir di bangku kuliah sembari berkebun di kedai kopi, minum kopi adalah kegiatan sehari-hari yang tidak lepas dari rutinitas keseharian.

Selain menikmati jelangga hitam, kadang asik mengobrol dengan rekan sejawat. Sesekali menukang menjadi
gelandangan foto. Kadang kala berhuma di kamar, menulis dan menyusun kata-kata yang menjadi curahan hati.

Mengenal fotografi dimulai pada saat duduk di bangku SMA, ketertarikan tersebut karena intensitas yang sering melihat ensikopedia dan majalah national geographic. Kekaguman yangmuncul melihat karya-karya yang sungguh luar biasa.

Mendalami fotografi dimulai saat tahun 2016, tentunya pada saat saya memiliki kamera untuk pertama kalinya.
saya terus belajar dan belajar berbagai “genre” yang ada. Merasa kurang puas dengan belajar secara otodidak akhirnya saya memutuskan untuk masuk salah satu komunitas fotografi (Geonusantara). Sebuah jalan terbuka karena saya dapat belajar dengan orang-orang yang tentu sudah banyak pengalaman dalam dunia fotografi.

Sebuah sisi buruk muncul dalam diri saya, semakin bernafsu saya belajar dan mencari tahu, justru membuat saya semakin cepat merasa puas.

Dan satu titik saya merasa bosan dengan semuanya. Bermulaan dengan sharing dan menjalajah antar kota ke kota, akhirnya saya bisa menikmati sebuah fotografi yang berawal dari kebosanan tersebut.

Project Description

Out Of Control adalah sebuah project singkat yang berawal dari niat mendokumentasikan
salah satu kegiatan kesenian budaya Jawa yakni “Jathilan” di sebuah dusun Semagung, Yogyakarta.

Hasil kumpulan dokumentasi ini saya angkat menjadi project karena berawal dari dorongan hati untuk mengenalkan kepada publik tentang salah satu kesenian yang ternyata (setelah saya mendalami) memiliki nilai-nilai
kehidupan sejati.

Selain untuk melestarikan bentuk kebudayaan sendiri, motivasi lain untuk memberanikan diri membuat project ini untuk di cetak adalah secara tidak langsung untuk memberikan semangat kepada kawan-kawan lain penggiat fotografi untuk terus berkarya dalam bentuk dan media apapun.

Pesan dari “Out Of Control” sendiri adalah sekiranya kita sebagai manusia yang sejati, hidup dalam sosial yang seutuhnya. Jangan sampai menjadi mahluk sosial tanpa sosial yang acuh dengan sekitar malah
asik dengan tembok yang di bangun sendiri.

Tolong menolong antar sesama adalah pesan visual dari kesenian Jathilan.

Cintai lah sesama kita tanpa di minta.

Influences

Saya sangat menikmati dan mendalami “pepeleng” (Nasihat) dari para Puun (orang yang lebih tua) baik dari segi agama maupun ajarannya, budaya, alam, semesta.

Hal tersebut membuat saya terbentur dalam sebuah dimensi baru yang ada di khayalan tentang pemahaman dan pemaknaan kehidupan.

Facebook
Instagram
Website :  Onprogress

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Clement Kevin Andrean

September 11, 2017
by Tomi Saputra Ghazali
Terjebak, by Yoga Liberiawan Ganis Yazid

About

Hai, nama saya Yoga Liberiawan Ganis Yazid, panggil aja Yoga. Saya masih terdaftar sebagai mahasiswa Sosiologi UGM dan sekarang saya lagi sibuk ngerjain skripsi (jadi tahulah, saya semester berapa). Makanya sehari-hari saya terjebak di kosan buat ngerjain skripsi (tapi masih bisa kopdar).
Kenal fotografi udah cukup lama sih, dari saya SMA sudah mulai asik motret. Walaupun masih pake kamera teman. Mulai mau mengenal fotografi saat kuliah, di perkuliahan saya baru mulai tuh belajar teknik, komposisi, pendekatan-pendekatan di fotografi. Sampai akhirnya, saya kenal streetfotografi, fineart, dan expressionism. Termasuk di project “TERJEBAK” ini, mungkin lebih ke expressionism.

Project description

Project “Terjebak” ini sendiri, saya mulai karena ngerjain skripsi di kosan. Waktu pembuatannya, saya lagi sendirian di kosan dan mau keluar buat refresh otak pun gak bisa, bingung mau kemana. Akhirnya saya motret suasana kosan aja, padahal waktu saya janji buat gak motret dulu, fokus ngerjain skripsi. Tapi, butuh refreshing dan kayaknya saya ngerasa sakaw karena udah lama gak motret. Alhasil saya motret aja.

Sewaktu proses motret, saya melihat refleksi saya di kaca kamer kos dan ada gorden yang jadi latarnya. Seakan-akan saya terjebak didalam sebuah penjara dan sendirian, ditambah lagi waktu pengerjaan project ini lagi dengerin lagu danilla yang judulnya “penutupan”, yang liriknya “Terjebak dilintasan waktu, terbujur aku dan membatu”, dan begitulah ide project ini lahir. Besoknya dari pagi sampai malam, saya motret setiap kaca kamer yang ada di kosan saya.

Pesan yang saya ingin sampaikan, dalam project ini saya lupa pada diri saya sendiri, lupa bahwa saya sendiri manusia yang punya batas/limit dalam mengerjakan sesuatu. Butuh waktu untuk rehat hati dan pikiran. Kalo kita udah bingung, rehat dulu aja. Motret jadi opsi buat rehat, walaupun waktu itu jadi bingung sih.

Influences

Ada satu kalimat yang selalu saya ingat ketika perkuliahan yaitu “memanusiakan manusia”. Kalimat tersebut yang saya pakai sampai sekarang ketika melakukan sesuatu hal baik ketika bergelut dengan fotografi dan non-fotografi. Karena ketika kita sudah mampu menjadi manusia, kita bisa memanusiakan orang lain di sekitar kita.

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Yoga Liberiawan

September 8, 2017
by Tomi Saputra Ghazali