Browsing category

Interviews

Blog, Interviews,

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Q & A Hipercatlab

Bagaimana awal mulanya Hipercatlab mulai melayani jasa develop film hitam putih?

Sebelum punya nama hipercatlab, tahun 2009-2010 saya aktif di sebuah forum online yang salah satu thread-nya membahas tentang proses film. Dari forum tersebut saya mempelajari ilmu proses film BW secara otodidak, sampai suatu ketika beberapa teman di forum tersebut meminta untuk memproses film BW mereka.

Dari situ muncul ide untuk membuka jasa proses film BW. Baru di tahun 2014 usaha saya ini diberi nama Hipercatlab, tujuannya agar lebih mudah diingat dan gampang untuk dikomersilkan.

Adakah strategi khusus untuk mendapatkan customer pada awal merintis Hipercatlab?

Pelanggan di awal-awal saya membuka jasa proses film hampir semua adalah teman dan kenalan dari internet. Kalau strategi khusus sih tidak ada, yang saya lakukan adalah promosi lewat media sosial yang menurut saya sangat efektif.

Berapa roll film hitam putih yang bisa diselesaikan dalam satu hari?

Dalam 1 hari kami mengerjakan proses BW 10-14 roll.

Kendala apa yang dihadapi saat ini untuk melayani jasa developing film?

Kendala utama adalah pasokan chemical yang sering terlambat karena shipping dan bea cukai. Jadi pernah kejadian dalam beberapa hari kami tidak memproses film karena stok chemical habis.

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Kodak Portra 160 Scan & Developing Hipercatlab

Bagaimana pendapat Anda melihat perkembangan fotografi analog yang begitu mewabah pada beberapa tahun terakhir ini?

Sebagai pribadi yang menggunakan film, meningkatnya minat akan fotografi analog beberapa tahun belakangan tentu menggembirakan. Hal ini tidak lepas dari pengaruh media sosial dan menurut saya karena boomingnya Street Photography.

Para master Street Photography kebanyakan adalah pengguna film dan pelarian “hunting” yang mudah dan murah bagi pengguna kamera analog adalah jalanan. Jadi saya melihat ada keterkaitan antara peningkatan pengguna kamera analog dan Street Photography belakangan ini.

 

Dari Hipercatlab sering kali memberikan edukasi developing film hitam putih, apakah tidak merasa khawatir akan bermunculannya kompetitor?

Saya rasa tidak, dalam merintis dan mengelola jasa proses film dibutuhkan tenaga dan waktu yang cukup banyak terkuras, bisa dibilang usaha ini bukan pekerjaan sambilan. Dan kebanyakan peserta workshop adalah mahasiswa/pelajar bukan kalangan profesional.

Value apa yang ditawarkan Hipercatlab sehingga masih begitu banyak customer yang baru dan loyal masih bertahan sampai sekarang?

Mungkin karena kami sudah cukup lama di jasa ini, bahkan bisa dibilang yang pertama mengawali tren lab online, pelanggan menilai kami sebagai lab yang terpercaya. Hal lain yang membuat customer datang dan bertahan adalah harga kami lebih bersahabat dibanding kompetitor dengan kualitas yang setara.

Kompetitor semakin banyak untuk menyediakan jasa serupa. Apakah Hipercatlab tidak merasa khawatir akan hal ini?

Malah kami merasa dengan banyaknya kompetitor berarti fotografi analog di Indonesia sudah makin maju. Dengan adanya kompetitor juga kami bisa mengevaluasi servis yang kami berikan ke customer.

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Ilford delta 100 Develop & Scan Hipercatlab

Apa momen yang tidak terlupakan sejauh ini semenjak pertama kali Hipertcatlab go public?

Momen yang tidak terlupakan salah satunya di awal hipercat buka adalah salah proses orderan customer. Karena terlalu capek jadinya kurang konsentrasi pas develop film, alhasil film tersebut blank, hehe..

Dari situ saya lebih hati-hati, kalau capek mending istirahat dari pada memaksakan proses film. Momen lain yang berkesan adalah saat pertama kali buka dropbox film di bazzar, tidak menyangka banyak sekali yang titip proses film sampai kontainer kami tidak cukup.

Jika tidak menyediakan jasa developing film, kira-kira apa bisnis yang akan digeluti?

Tempat ngopi atau bengkel sepeda.

Menurut pandangan Anda bagaimana prediksi masa depan fotografi analog, apakah akan senantiasa bertahan berdampingan dengan era fotografi digital?

Saat ini fotografi secara umum makin diterima oleh semua kalangan, pengaplikasian fotografi juga makin luas dan beragam. Pilihan alat dan bahan fotografi makin banyak dan mudah untuk diakses.

Dari pihak produsen film, misalnya Kodak, sangat mendukung terjaganya fotografi analog, contohnya mereka akan memnproduksi kembali film slide Ektachrome. Jadi sejauh ini prediksi saya fotografi film akan bertahan lama.

Biodata:

Hipercat Lab

Usaha kami:

Jasa proses dan scan film (BW, color negative, slide)

Menyediakan kebutuhan fotografi film (kamera, film, aksesoris, merchandise)

Alamat:

Jl. Jenderal Sudirman Gang Madniah 12A/75, Kecamatan Andir, Kota Bandung – JAWA BARAT 40184

No. telp/WA : 081222459304

Email: hipercatlab@gmail.com

 

Facebook

Instagram

Tokopedia

Twitter

Website 

 

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas
Blog, Interviews, Photography,

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Q & A Arbain Rambey

Setelah sebelumnya Q & A bersama Homer Harianja, maka pada kesempatan kali ini giliran Arbain Rambey yang akan saya wawancara.

Fotografer senior Kompas ini tentunya sudah tidak asing bagi Anda. Aktif di media sosial dan sering kali masih menjadi pembicara di seluruh penjuru tanah air.

Pertama kali bertemu dengan beliau ketika kami sama-sama diberikan kesempatan menjadi pembicara pada seminar fotografi di FISIP UNPAS Bandung, kesan pertama tentunya saya ingin bertanya akan banyak hal kepada sosok yang rendah hati ini.

Mari disimak:

Bagaimana awal mula Anda bisa terjun dalam dunia fotografi?

Tahun 1988 selulus kuliah dari teknik Sipil ITB, saya bekerja di Papua ikut merancang sebuah bangunan sekolah untuk masyarakat Asmat. Diliput KOMPAS. Lalu saya tertarik melamar ke KOMPAS dan diterima Mei 1990. Selama 6 tahun pertama saya jadi wartawan tulis, dan tiba-tiba saya diangkat sebagai redaktur fotografi pada 1996. Sejak 1996 saya jadi fotografer.

Pernahkah dimasa kecil memiliki cita-cita menjadi jurnalis?

Tak pernah terpikir sebelumnya

Menulis atau memotret?

Memotret adalah hobi sejak SMA, sementara menulis dilakukan saat kuliah (1980-1988) untuk mencari uang tambahan, di majalah Mutiara dan majalah Zaman.

Apa kenangan paling menyenangkan ketika pertama kali mengenal fotografi?

Pada 1974 (kelas 1 SMP), pertama kali belajar cuci cetak foto, senang sekali merasakan sensasi kamar gelap.

Bagaimana cara Anda mendapat ide sebelum pengambilan foto?

Hampir semua foto saya adalah hasil merancang. Ide-ide didapat dari aneka contoh foto yang pernah saya lihat sebelumnya

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Tantangan paling berkesan yang pernah dialami selama masa peliputan

Sangat mengesankan kalau berhasil mendapatkan foto sesuai perencanaan, lalu diapresiasi pembaca

Hal apa yang harus dimiliki oleh seorang pewarta foto selain kemampuan mumpuni pada bidang fotografi?

Tahan stress… Kadang memotret pesta olahraga seperti Olimpiade atau Asian Games bisa sampai 2 minggu dan setiap hari sangat padat.

Tahan kecewa, misalnya memotret 1000 foto tapi tak satu pun dipilih redaktur.

Fotografer favorit Anda

Saya tidak punya manusia favorit, tetapi beberapa fotografer saya kagumi karena kemauannya selalu berbagi ilmu, yaitu Darwis Triadi dan Roy Genggam

Inspirasi Anda dalam kehidupan

Kalau bisa dibuat mudah, buatlah mudah

Hobi lain di luar fotografi

Musik: memainkan alat musik berdawai seperti gitar, mandolin, kecapi, sasando

Melukis

Banyak media besar saat ini perlahan bertumbangan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Itu adalah realitas zaman yang tidak bisa dihindari

Anda sering sekali terlihat memberikan dukungan besar terhadap kemajuan teknologi kamera digital berjenis mirorless, apakah ada alasan khusus?

Tidak ada alasan khusus. Saya melakukannya karena senang

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Apa perbedaan besar yang Anda rasakan antara media cetak dan media online?

Media online sangat praktis, bisa diakses kapan pun di mana pun, sebanyak mungkin tanpa beban berat.

Menurut pengamatan Anda apakah media cetak akan bertahan untuk 20 tahun ke depan?

Rasanya paling lama 5 tahun ke depan

Adakah keinginan Anda untuk merilis buku foto sendiri? Seperti Split Second Split Moment kumpulan karya dari Julian Sihombing

Belum tertarik karena biayanya sangat mahal. Saya malah terpikir membuat buku online

Jika tidak mengenal dunia jurnalistik apa profesi yang saat ini bakal Anda tekuni?

Pelukis

Anda ingin dikenal sebagai sosok seperti apa nantinya dikemudian hari?

Saya ingin dikenal sebagai orang yang pernah berguna bagi banyak orang lain

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Bio

Nama : Arbain Rambey
Tempat/tanggal lahir : Semarang, 2 Juli 1961
Alamat : Cempaka Baru I/9 Jakarta Pusat
Telepon: 0811-196027

Email: arbainrambey@yahoo.com
Twitter: @arbainrambey
Pekerjaan saat ini: Fotografer Harian Kompas dan pengasuh rubrik Klinik Fotografi Kompas setiap hari Selasa

Pendidikan formal terakhir:

Jurusan Teknik Sipil ITB, selesai 1988

Pengalaman Kerja Jurnalistik dan Fotografi:

-Fotografer Yayasan Asmat, 1988-1999
-Wartawan Olahraga Harian Kompas 1990-1996
-Redaktur Fotografi Kompas 1996-2000
-Koordinator Harian Kompas untuk Sumbagut 2000-2003
-Redaktur Fotografi Harian Kompas 2003-2006
-Dosen tidak tetap Fotografi di Universitas Sumatera Utara, Medan 2002-2003
-Mengajar Fotografi di Darwis School of Photography 2003-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, 2004-2009
-Dosen Fotografi di Universitas Multimedia Nisantara, Serpong, Tangerang 2008-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Indonesia, FISIP mulai September 2011

Organisasi:

Ketua Pewarta Foto Indonesia 1998-2001

Buku fotografi karya Arbain Rambey terbit di London, Inggris Desember 2005 dengan judul “Mist of Time”, diterbitkan Waterous and Co

Beberapa lomba foto yang dimenangkan :

Juara I Lomba Foto Fashion Nasional 1993
Juara Tunggal Lomba Foto International Art Summit 1999
Juara II Lomba Foto Honda Stream 2004
Juara I Lomba Foto MURI 2008

Pameran Foto:

Ekspresi (tunggal), Medan 2002
Kecil (bersama), Medan 2002
Mandailing (tunggal), Medan 2002
Senyap (tunggal), Bentara Budaya, Jakarta, 2004
Crossing Bridges (bersama), Singapura, 2004
Colour of Indonesia (tunggal), Galeri Cahya, Jakarta, 2004
Persatoean (bersama), Jakarta, 2005
Persatoean (bersama), Melbourne, Australia, 2005
Nusantara (berdua dengan Makarios Soekojo), Hotel Aston Jakarta, 2006
Olympic in China (bersama) Plaza Indonesia 2007
Romance in China (bersama) Senayan City 2008
Bromo (bersama) di Bromo (2008)
Indonesia in 50 Pictures (tunggal), Kuwait City, Kuwait, 2009

Liputan Jurnalistik:

-Davis Cup Indonesia-India, Jaipur, India 1991
-Tenis Piala Asia, Hongkong 1991
-SEA Games Manila, Filipina 1991
-Tenis Pre Olimpic, Osaka, Jepang 1992
-Tenis Wimbledon, London, Inggris 1992
-World Youth Cup, Barcelona, Spanyol 1992
-Camp Tenis Sparta, Ceko-Slowakia 1992
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1993
-Tenis Pattaya Open, Thailand 1993
-Fed Cup, Colombo, Sri Lanka 1993
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1994
-Tenis US Open, New York, USA 1994
-Asian Games, Hiroshima, Jepang 1994
-All Star Game NBA, Phoenix, USA 1995
-Tenis French Open, Paris, Perancis 1995
-Tenis Piala Asia, Manila, FIlipina 1995
-SEA Games Chiang Mai, Thailand 1995
-Olimpiade Atlanta, USA 1996
-Liputan TKW, Arab Saudi 1997
-Liputan Timur Tengah, Israel, Mesir, Yordania 1997
-SEA Games Brunei Darussalam, Brunei 1999
-Liputan Pengurukan Singapura dengan Pasir Riau, Singapura 2000
-Liputan TKW, Penang, Malaysia 2001
-Liputan Ekonomi Cina, RRC, Hongkong, Makau 2002
-Liputan Teknologi, Denmark 2003
-Liputan gempa bumi Iran di Bam, 2004
-Olimpiade Athena, 2004
-Liputan gempa bumi Pakistan, 2005
-Liputan Teknologi Sydney, Australia, 2006
-Liputan Teknologi Hongkong, 2006
-Liputan Teknologi, Fukushima, Jepang, 2006
-Liputan Budaya, Sappa, Vietnam, 2006
-Liputan Teknologi, Beijing, RRC, 2007
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2007
-Liputan Teknologi, London, 2008
-Liputan Teknologi, Denmark, 2008
-Liputan London Fashion Week, Inggris 2009
-Liputan Teknologi, Hongkong, 2009
-Liputan Teknologi, Melbourne, Australia 2010
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Sapporo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Queenstown, Selandia baru, 2011
-Liputan Teknologi, Goslar, Munster, Frankfurt, Iserlohn (Jerman) 2011
-Liputan Wisata, Turki, 2011
-Liputan Budaya, Myanmar 2011
-Liputan Teknologi, Headquarter Canon, Tokyo, Jepang 2012
-Liputan Teknologi, Queensland, Australia 2012
-Liputan Wisata, Makau, 2013
-Liputan Wisata, Uni Emirat Arab, 2013
-Liputan Wisata, Makau 2014
-Liputan Wisata, Malaysia 2014
-LiputanTeknologi, New York, AS, 2014
-Liputan Teknologi, Kamboja, 2014
-Liputan Wisata, New South Wales, Australia 2014
-Liputan Wisata, Mesir, Yordania 2014
-Liputan Teknologi, Barcelona, Spanyol 2015
-Liputan Wisata, Myanmar, 2015
-Liputan Wisata, India, 2016
-Liputan Fashion, Dubai, Uni Emirat Arab, 2017
-Liputan Wisata, Ethiopia dan Kenya, 2017
-Liputan Wisata, Iran, 2018
-Liputan Teknologi, Cologne, Jerman, 2018

­­­­­­

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja
Interviews, Photography, Street Photography, Uncategorized,

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

Silahkan perkenalkan diri Anda

Nama Homer Harianja dan saya street photographer

Kenangan apa yang Anda ingat ketika awal mula mengenal fotografi?

Foto Bapak yang memeluk saya di Pantai Ancol. Saya ingin anak saya mengingat seperti saya mengenang Bapak melalui foto.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Street photography sepertinya saat ini menjadi pilihan utama yang Anda pilih pada jalur fotografi, kenapa?

Saya seorang pejalan. Sejak kecil saya sudah memilih berjalan ketimbang bersepeda. Setelah smp saya sering berlama-lama di halte dengan membiarkan angkutan yang saya tunggu berlalu demi menyaksikan kehidupan yang lalu-lalang dan terkadang apa yang disaksikan tadi dengan genit akan saya tulis di buku harian.

Saya baru tahu kemudian bahwa apa yang saya lakukan ini adalah aktivitas flaneur di Paris di pertengahan abad 19. Jika flaneur merekam lewat kata, street photographer melanjutkan tradisi itu.

Sensasi apa yang Anda rasakan ketika pertama kali mendapatkan notifikasi menjadi finalist London Street Photography Festival?

Awalnya senang tapi sekarang biasa saja. Saya sebenarnya ingin menghancurkan mitos bahwa menang di lomba internasyenel itu prestasi besar.

Jangan itu dijadikan standar hebat atau tidaknya seseorang. Saya mencurigai ini penyebab matinya kritik.

Trendnya sekarang orang menaikkan mutu dengan meminjam institusi bukan karya itu sendiri.

Postingan status Facebook Anda sering kali menjadi kontroversi, keresahan apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada publik?

Saya tidak resah. Saya menawarkan gagasan. Kalau tidak sesuai dibantah saja.

Jika pada suatu ketika ada orang yang lebih muda dari Anda memberikan kritik pada status anda di Facebook dengan komentar tidak menyenangkan, apa yang anda lakukan?

Komentar yang tidak menyenangkan itu adalah komentar yang menyerang pribadi.
Tetapi kalau komentarnya mengandung argumentasi, saya akan perhatikan. Sesuai atau tidak.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Bagaimana Anda melihat street photography Indonesia saat ini?

Seperti balita yang sedang belajar berjalan dan di saat ulang tahunnya yang ke-5 orang-orang menghadiahkannya sebuah mobil karena orang-orang itu tidak bisa membedakan antara mobil dengan mobil-mobilan.

Kata street kekinian juga beberapa kali Anda gunakan pada caption foto untuk postingan di media sosial, apa deskripsi street kekinian ini menurut anda?

Street yang berbicara kepada fotografer bukan kepada khayalak. Street yang diapresiasi oleh fotografer karena nilai fotografisnya bukan isinya.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pernah membayangkan menjadi Bruce Gilden di jalan Malioboro?

Tidak. Saya pemalu.

Forum diskusi online atau offline, kenapa?

Saya bukan pembicara publik yang baik. Saya suka melakukannya dalam situasi informal, sambil nyoto misalnya.

Tokoh antagonis street photography Indonesia, dari mana panggilan ini berasal? Dan bagaimana tanggapan Anda terhadap panggilan yang disematkan tersebut, sedangkan bagi sebagian orang ini bisa berkonotasi negatif?

Tokoh antagonis di atas maksudnya bukan seperti penyebutan tokoh masyarakat tetapi penokohan seperti pada karya fiksi, antagonis dan protagonis.

Saya melabeli diri saya sendiri seperti itu supaya seimbang. Yin dan Yang. Gak seru kalau semuanya “LIKERS”

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Meninjau kembali kepada kejadian beberapa minggu ini mengenai ajang kompetisi street photography pada Salon Foto Indonesia, apa yang membuat Anda begitu termotivasi untuk mengkritisi juri dengan lantangnya?

Saya melihat banyak permasalahan dalam penjurian foto. Mereka seperti ruang gelap yang tidak tembus cahaya dengan berlindung dari kalimat tidak dapat diganggu gugat.

Yang saya lakukan cuma pembacaan tandingan pada sebuah karya. Biasa bangetkan? Apa Anda tidak punya pengalaman dalam suatu lomba mendengar keluhan dari peserta yang mencibir, ah jurinya payah? Itu menunjukkan sesuatu kan.

Berbeda misalnya kalau juri membuat pertanggungjawaban publik. Nah itu baru keren.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Mimpi terbesar Anda untuk street photography Indonesia?

20 tahun ke depan saya ingin melihat foto-foto jalanan hari ini. Semoga saat membeli bukufoto atau main ke galeri yang saya lihat bukan cuma decisive moment.

Lihat itu, penggagasnya saja bosen dan kembali melukis. Saya ingin lihat Jogja, saya ingin lihat Kediri, saya ingin lihat Padang, saya ingin lihat Selat Panjang, saya ingin lihat Makassar dan kota-kota lainnya.

Anda cukup berani untuk mengkritisi berbagai hal difotografi tanah air, dan jarang yang berani bersuara seperti Anda. Apakah tidak ada rasa khawatir jika nantinya mempunyai banyak musuh?

Saya sedang menjadi kawan yang baik dengan berkata jujur pada sebuah karya. saya tidak menyerang orangnya. Saya pernah mengkritik foto-foto street dengan low angle tanpa motif dan menyebutnya sebagai foto kodok.

Foto-foto yang hanya gaya semata. Ada teman yang kemudian mengasosiasikannya dengan seseorang. Dipikirnya saya menyerang dia padahal waktu ketemu ngopi bareng.

Bagaimana Anda menilai pendapat orang lain terhadap karya anda?

Saya biasanya mendengarkan saja. Pengarang sudah mati.
Saya akan terlibat jika argumentasinya memang menarik untuk ditanggapi tapi bukan dalam pemaknaan karyanya.

Jika suatu malam Anda terbangun dari tidur, siapa fotografer yang ingin anda temui?

Tony Ray-Jones.

Henri Cartier-Bresson, Joel Meyerowitz, Vivian Maier, Richard Kavlar, Martin Parr. Bagaimana pandangan Anda terhadap para tokoh yang saya sebutkan ini?

HCB meletakkan pondasi Street Photography modern dan sialnya sering disalah pahami.

Joel Meyerowitz, Street Photographer yang beralih ke Landscape lalu membuat bukufoto Landscape dan best seller.

Vivian Maier, Fotografer jenius (flaneur sejati) yang menghidupi dirinya dengan menjadi pengasuh anak.

Richard Kalvar, Street Photographer sepuh yang masih nyetrit sampai hari ini. Long Live, Sir.

Martin Parr, King of Kitsch.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pilih Honda Jazz atau Leica M10?

Ini beneran mau dikasih?

Impian yang belum terwujud dalam menekuni fotografi?

Menghasilkan 1 foto street yang bisa saya banggakan.

Buku foto favorit?

Pictures From Home – Larry Sultan

Project terbaru dan jangka panjang?

Projet terbaru memotret jalanan di Sulawesi
Jangka panjang, memotret Malioboro

Satu kata untuk street photography

Jalanan

Facebook
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Homer Harianja

 

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi
Blog, Interviews, Photography, Uncategorized,

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Apa yang membuat Anda begitu mencintai fotografi analog, sedangkan pada jaman sekarang teknologi fotografi digital makin maju dan semakin efisien?

Menurut saya saat ini fotografi analog sudah menjadi genre yang terpisah dari dunia fotografi secara holistik sehingga akan sulit untuk kita samakan dengan fotografi digital.

Saya sendiri bukan orang yang anti fotografi digital, bahkan sampai saat ini saya masih memotret dengan kamera digital, tetapi untuk kebutuhan tertentu, sayajuga menggunakan kamera analog.

Bagi saya, dalam fotografi analog terdapat 4 hal utama yang menjadi alasan saya pribadi untuk tetap menggunakan kamera film:

1. Segudang pilihan untuk kamera, format dan film dalam dunia fotografi
analog yang dapat kita coba (dengan range harga yang relatif terjangkau).

Aktivitas penggunaan kamera analog lebih dititik-beratkan pada proses di mana kita sebagai pengguna kamera analog akan dihadapkan dengan opsi yang cukup banyak sebelum memulainya; seperti pilihan gear dan format filmnya (SLR, rangefinder, TLR, point and shoot, pinhole, toycam, medium format SLR, medium format TLR, medium format rangefinder, large format camera dsb.)

Dan film apa yang akan digunakan (black and white, negative color, color slide dsb.)

Serta semua hal tersebut memberikan pengalaman pengguna yang berbeda-beda antara satu gear dengan gear lain.

Sedangkan pada fotografi digital daya tarik bagi penggunanya (pendapat pribadi) dititik beratkan pada spek kamera itu sendiri (berapa megapixel resolusinya, berapa banyak titik autofokusnya, seberapa responsif fps dan AF nya, seberapa hebat kemampuan shooting videonya dsb.)

Yang secara umum pengalaman penggunanya kurang lebih akan serupa antara satu kamera dengan kamera lain.

2. Keterbatasan dalam merekam gambar.

Kamera film mengajarkan kita untuk berfikir lebih matang dalam mengambil  keputusan saat menekan tombol shutter dan juga menghargai setiap jepretannya.

Hal ini terjadi karena adanya limitasi pada jumlah frame dalam satu roll filmnya (36 dan 24 frame saja).

Selain itu, satu roll film hanya memiliki satu jenis karakter warna (tanpa adanya auto whitebalance) dan satu jenis ISO / ASA sehingga kita dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut dalam mengambil gambar.

Sedangkan fotografi digital (pendapat pribadi) lebih menitik-beratkan pada hasil dimana kita memiliki ‘infinte amount of shot’ dalam konteks pengambilan gambar tergantung berapa kapasitas kartu memori dan bebas mengatur ISO pada kamera sehingga dapat mengambil gambar dalam kondisi apapun (terang maupun gelap).

Kamera digital memiliki keunggulan lain seperti instant preview setiap kali kita mengambil gambar, terkadang pada akhirnya kita malah lebih sering melihat hasil dari setiap jepretannya daripada fokus pada subjek yang akan kita foto.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Rolleiflex 2.8F 80mm f2.8 + Kodak Portra 400 (overexposed 2 stop)

3. Elemen kejutan dalam setiap roll-nya.

Dengan tidak adanya fitur instant preview saat pengambilan gambar pada kamera analog, kita bisa tetap fokus pada konten yang akan difoto.

Selain itu, memotret dengan film memiliki kejutan tersendiri dari hasil yang telah di develop seperti kesesuaian hasil dengan gambaran saat kita memotret, adanya kepuasan pada warna / tone yang dihasilkan dan yang membuat saya ingin mencoba terus dan ber-eksperimen dengan film yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang berbeda pula sehingga dapat dikatakan menggunakan kamera analog merupakan wujud usaha untuk saling mengerti antara kita dengan medium film tersebut.

4. Semua tentang Proses

Menariknya dari fotografi analog adalah sejatinya merupakan sebuah prosesyang harus kita lalui dari awal hingga akhir agar mendapatkan hasil yang sesuaidengan harapan.

Walaupun sudah banyak filter yang beredar untuk foto digitalagar terlihat seperti tone pada film, akan tetapi proses yang dijalani oleh fotografer dengan kamera analog itu sendiri akan berbeda.

Seperti proses menentukan kamera apa yang cocok untuk kita/jenis foto kita, pemilihan film apa yang akan digunakan, bagaimana kita mengekspos film yang kita pakai (underexpose, over expose, push, pull, double exposure, experimental dll) dan proses developing film (color maupun black and white) serta scanning / printing.

Hasil printing dan film negativenya (klise) merupakan reward dan record yang kita
terima dari proses itu sendiri.

5. Foto yang benar-benar bisa kita pegang

Dengan adanya digitalisasi dari segala hal termasuk pada medium foto, semakin jarang kita mencetak foto yang kita ambil dan dapat kita pegang secara fisik.

Memotret dengan roll film pada kamera analog membuat setiap jepretan kita memiliki rekam jejak dalam bentuk fisik (negative film) yang dapat kita pegang dan memiliki value berbeda dengan melihat foto dibalik layar digital.

Dan tentu saja masih banyak opini dari para pengguna lain yang mungkin berbeda tentang fotografi analog saat ini.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Rolleiflex 2.8F 80mm f2.8 + Kodak Portra 400 (overexposed 2 stop)


Adakah yang menginspirasi Anda untuk tetap berkarya pada fotografi analog?

Saya merasa setiap momen yang ada di sekitar saya dan menurut saya menarik perlu di abadikan sebagai ‘memento’ atau rekam jejak saya pribadi.

Dan saya memutuskan untuk menggunakan medium film hanya karena value yang terkandung dalam medium film tersebut lebih baik menurut saya.

Mungkin dari pernyataan saya tersebut yang akhirnya menginspirasi saya untuk terus
menggunakan kamera analog.

Bagaimana Anda melihat perkembangan fotografi analog pada generasi milenial saat ini?

Fenomena populernya kembali fotografi analog dikalangan milenial akan berakibat semakin banyak pula stakeholder yang akan men-support dan itu menurut saya hal yang positif dan menguntungkan bagi pecinta fotografi analog yang lain.

Dampak buruknya pun harus siap kita hadapi seperti naiknya harga-harga kamera analog, roll film, ongkos develop dan hal yang berkaitan dengan fotografi analog.

Silahkan cek juga photo series Absurdity, by Slamet Riyadi

Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memaksimalkan tone film, sedangkan Anda menurut saya cukup bisa mengatasi hal ini, silahkan berbagi tipsnya.

Tone atau karakter pada film merupakan salah satu daya tarik dari fotografi analog itu sendiri dan menurut saya soal tone pada film merupakan hal yang personal dan selera dari masing-masing individu.

Saya sendiri masih menganggap bahwa film yang saya selalu pakai belum sepenuhnya dimengerti sehingga masih ada ruang untuk mempelajari karakter dari film tersebut.

Mungkin kuncinya adalah KONSISTENSI (yang bagi saya pun sulit untuk diterapkan).

Dengan memahami bagaimana film yang kita pakai tersebut bereaksi dengan cahaya ketika di overexposed atau di underexposed, sehingga kita tahu bagaimana kita mensetting kamera kita (konteks kamera analog manual / kamera non point-and-shoot).

Tetap terbuka akan kemungkinan dan ide baru saat mengekspose film pun menjadi salah satu kunci (at least bagi
saya) agar mengetahui bagaimana hasilnya, meskipun ada harga yang harus dibayar yakni menghabiskan beberapa roll film untuk belajar memahami film tersebut.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Leica M6 + Leica Summicron-M 50mm f2 + Fujicolor Industrial 100 (overexposed 1.5 stop)


Apa yang mesti diperhatikan ketika ingin membeli peralatan fotografi analog? Notabene 
gear yang ditawarkan tergolong sudah cukup tua, bahkan ada yang sudah berumur puluhan tahun.

IMHO faktor yang paling mempengaruhi dalam fotografi analog adalah kualitas lensa, karena lensa yang memiliki kontak langsung dengan film saat memproyeksikan gambar yang kita bidik.

Lensa yang sehat (bebas dari jamur, fog dll karena usia) menjadi hal yang mutlak menjadi concern utama sebelum
memutuskan kamera / lensa merk apa yang akan dibeli.

Kamera/bodi kamera dengan jenis tertentu (SLR, rangefinder, TLR, point and shoot, toycam dll) yang sehat secara umum hanya akan mempengaruhi tingkat kenyamanan saat kita pakai karena masing-masing jenis kamera memiliki
keunggulan masing-masing dan disesuaikan dengan genre fotografi kita sendiri.

Dan bagaimana ketika memilih serta menggunakan roll expired, apakah ada cara
khusus?

Berbeda dengan fotografi digital, dalam dunia fotografi analog, medium film merupakan medium yang bersifat kimiawi yang memiliki batas usia tertentu dan memiliki tingkat kepekaan terhadap cahaya yang berbeda tergantung pada treatment kita saat menyimpan medium tersebut.

Film expired biasanya memiliki tingkat kepekaan terhadap cahaya yang sudah menurun dan terjadi pergeseran warna dari aslinya.

Sehingga penggunaannya dalam kamera analog adalah dengan cara mengatur intensitas ISO/ASA nya lebih rendah dari aslinya dengan tujuan agar tingkat kepekaan terhadap cahaya dari film tersebut tetap cukup saat digunakan.

Selain itu, karena faktor menurunnya tingkat kepekaan terhadap cahaya dari satu film bukan hanya disebabkan oleh faktor tanggal kadaluarsanya, tetapi juga dapat disebabkan oleh kesalahan saat penyimpanan film itu sendiri, maka tanggal kadaluarsa pada film tidak menjadi patokan berapa banyak stop yang harus diturunkan dalam ISO / ASA dari film tersebut saat digunakan dalam kamera analog.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Leica M3 + Leica Summicron-M 50mm f2 + Fujicolor Industrial 100 (overexposed 1.5 stop)


Mengenai pemeliharaan gear apa saja yang biasa Anda lakukan agar tetap menjaga 
kondisi menjadi apik dan keliatan masih kinclong?

Perawatan benda tua pada umumnya sama saja termasuk kamera analog.

Hindari tempat lembab, usahakan memiliki dry cabinet dan rajin-rajinlah membersihkan kamera setiap kali akan disimpan terutama jika kamera tidak digunakan dalam waktu lama.

Kamera analog yang berbasis mekanikal hanya membutuhkan pemakaian rutin agar mekaniknya tetap berjalan dan tidak terjadi karat dan korosi.

Kalaupun terjadi kerusakan ringan seperti tidak akuratnya shutter speed, aperture yang macet / stuck, dll, kamera mekaikal hanya butuh di CLA (clean, lubricate and adjust) oleh ahlinya dan untuk kamera dengan daya baterai, dianjurkan untuk selalu lepas dan bersihkan jika akan disimpan dalam waktu yang lama agar elektronik pada kamera tetap awet.

Roll film favorit Anda, kenapa?

Fujicolor Industrial 100 & 400, Kodak Portra 400, Kodak Ektar, Fuji Pro 400H, sebenarnya semua film negative dengan tone yang soft buat saya adalah favorit.

Karena film-film tersebut masih mudah ditemukan, menarik untuk dipelajari dan memiliki hasil yang memuaskan bagi saya pribadi.

Apakah menurut Anda fotografi analog akan tetap berkembang sampai 20 tahun ke depan?

Fotografi analog sebagai aktivitas, experience dan hobi mungkin saja akan tetap eksis untuk beberapa tahun kedepan selama semua stakeholder yang terkait fotografi analog masih saling support (produsen roll film,produsen chemical developer, lab fotografi, komunitas dan produsen kamera masih tetap eksis).

Karena walau bagaimana-pun fotografi analog merupakan basic dari aktivitas fotografi yang akan selalu menarik untuk dikenalkan bagi generasi muda yang belum sempat mengalami jamannya.

Akan tetapi, jika fotografi analog dilihat sebagai profesi dalam konteks umum, mungkin saja akan semakin sulit bertahan karena semakin kesini, setiap orang merupakan fotografer (termasuk pengguna fotografi dengan smartphone) dan proses dalam fotografi analog yang semakin tidak relevan untuk kebutuhan saat ini dan yang akan datang di mana efisiensi proses, efektivitas medium dan lowcost menjadi tuntutan dalam dunia fotografi saat ini.

Pesan untuk rekan-rekan yang sedang mengandrungi fotografi analog, atau baru ingin mencoba fotografi analog.

Jangan ragu untuk mencoba hal baru yang positif termasuk dunia fotografi analog, karena selain cakupannya yang luas,akan selalu ada kejutan dan kebaruan dalam dunia fotografi analog meskipun kita sudah lama mengenal dunia fotografi analog tersebut.

Viva la Film!

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Slamet Riyadi

Blog, Interviews, Photography, Project, Uncategorized,

Morning After Noon, By Susan Leonmarth Van Litaay

Project Description

Morning After Noon

Diawali dari kisah sesosok murid yang diasingkan oleh gurunya; sang hidup, ke Mars karena murid tidak pernah mensyukuri hidupnya di bumi.

Sang murid panik mengalami kehidupan di mars, ketika pagi muncul tepat selepas siang, sehingga tak ada malam. Dia tak perlu takut akan gelapnya malam, namun ternyata phobia lain merongrongnya bahkan dia sendiri takut terhadap dirinya.

1. Astrapophobia : Fear of lightning

2. Claustrophobia : Fear of closed-in spaces

3. Pathophobia : Fear of disease

4. Ailurophobia : Fear of cats

5. Amnesiphobia : Fear of amnesia

6. Athazagoraphobia : Fear of ignoring

7. Genophobia : Fear of sex

8. Ochlophobia : Fear of crowds

9. Amathophobia : Fear of dust

10. Emetophobia : Fear of blushing

11. Agoraphobia : Fear of public space

12. Decidophobia : Fear of making decision

13. Mysophobia : Fear of dirt

14. Phirophobia : Fear of fire

15. ( Last ) Hai bumi, bagaimana kabar langitmu di sana?

(Fear of him self) : Psychophobia

*( Urutan nama file foto sesuai urutan phobia di deskripsi di atas)

Motivasi sekaligus pesan yang ingin disampaikan lewat MORNING AFTER NOON adalah : Jaman milenial membuat sebagian makhluk takut untuk tersisihkan, takut untuk tak diakui dan takut untuk disingkirkan.

Phobia yang selalu mendominasi saya, kamu dan mereka. Bahkan cenderung kita lebih suka takut menjadi gagal ketimbang berani sukses.

***
Influences 

Jangan merasa telah menjadi pemuka fotografi, karena kita tak memiliki umat bahkan kiblat.

***

Bio

During the eight years of teaching at the university but since 2016 but is no longer
System Analyst and Entrepreneur, born 1983 at May.

I like to write a few articles and manage own website that discusses photography. Start involved street photographysince 2014 using a digital camera. I am interested in making a photograph, especially about human social activity. Now i’ll try to collecting some series and photo story for my own collection and sometimes share with friends, not only in Indonesia.

My mirror and my camera have a completely different idea of what I look like. ??

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Susan Leonmarth Van Litaay

Articles, Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

Perbincangan Photozine & Photobook

Penyebaran karya melalui media sosial semakin mudah? Kenapa Anda malah tertarik untuk publikasi karya melalui medium cetak?

Arya:
Betul, awal saya memotret sampai sekarang saya masih dalam bentuk media sosial.

Namun ada teman saya yang berpengaruh terhadap karya saya, dia menyarankan untuk mencoba membuat dalam medium cetak. Lalu saya mencoba untuk membuat karya dalam medium cetak.

Selain untuk mencoba hal baru, medium cetak juga sebagai portfolio dan bukti fisik atas karya saya.

Baskara:
Foto tercipta untuk di cetak, setidaknya itu yang saya percayai saat memulai fotografi sebagai hobi, hingga menjadi pekerjaan, dan hingga menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan banyak hal didalam hidup.

Foto dalam bentuk cetak selalu menampilkan sisi-sisi lain yang tidak bisa didapat oleh bentuk digital. Kita bisa menyentuhnya, ada indra lain yang ikut berpartisipasi dalam menyelami karya yang dicetak.

Ada tekstur dari kertas foto yang berbeda-beda, ada kedalaman dan kepekatan tinta, ada pengalaman-pengalaman baru yang akan menyita banyak waktu kita dalam urusan cetak-mencetak sehingga kita menjadi lebih terjun kedalam karya kita sendiri.

Muhammad Hidayat:
Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

 


Boleh diceritakan proses kreatif Anda berkarya pada medium cetak?

Arya:
Saya sering ikut berkumpul bersama penggiat fotografi di Bandung, dan disana saya merasa terbakar saat membicarakan berkarya dalam medium cetak.

Apalagi ketika saya ditanya “kamu kapan bikin?” . Seperti dilumuri minyak dan dibakar.

Hal itu yang terus memotivasi saya untuk mencoba berkarya dalam medium cetak. dari saat itu saya mencoba mengumpulkan bahan dan cerita.

Hingga pada akhirnya 10:30 tercipta, karena motivasi dan saran dari teman saya saat melihat hasil foto saat saya bersama teman liburan.

Baskara:
Proses kreatif dalam medium cetak bagi saya yang paling pertama adalah menentukan ide dasar dari apa yang akan kita cetak tersebut.

Apa kita akan bermain dengan single photo atau akan bermain dengan balutan cerita dalam photo story.

Langkah berikutnya adalah pemilihan foto yang akan dipakai dalam project tersebut, berlanjut pada tahapan selanjutnya mau diapakan foto tersebut? Akan dipamerkan? Akan dibikin dalam bentuk buku? Semua kembali sesuai kebutuhan, pantas dibuat apakah project tersebut.

Muhammad Hidayat:
Memindahkan setiap file-file foto pada medium cetak atau bisa dikatakan membuat sebuah zine ataupun photobook merupakan sebuah tantangan, apalagi karya foto yang sudah dicetak itu dipublikasikan, ini adalah hal yang menarik buat saya.

Saya harus melakukan proses editing yang bisa saya katakan lebih sulit dari pada mengedit sebuah foto menggunakan software editing picture, proses editing disini adalah sequencing atau pemilihan terhadap foto-foto yang akan di rangkum kedalam sebuah zine ataupun photobook dan setelah itu bagaimana dengan cara yang kreatif menyusun dan mendesain sedemikian rupa agar terlihat menarik nantinya.

Apa sajakah kendala pada distribusi? Adakah strategi khusus untuk untuk mendukung pendistribusian menjadi lebih masif?

Arya:
Kendala menurut saya adalah saat saya berusaha memperkenalkan diri kepada dunia luar, bahwasanya saya adalah seorang yang baru saja membuat karya.

Hahaha… Orang mungkin akan berkata “siapa lu?” tapi ya itu adalah bagian dari memperkenalkan saya kepada dunia luar.

Strategi yang saya lakukan adalah promosi melalui media sosial teman-teman saya. Baik penggiat fotografi maupun teman kampus.

Baskara:
Distribusi selalu menjadi masalah apabila kita tidak punya jalan dalam melemparkan karya kita. Tidak melulu dalam hal cetak, bermain di media sosial tanpa penikmat pun tetap karya tidak akan terdistribusi dengan baik.

Yang paling utama bagi saya adalah percaya bahwa akan ada yang menikmati karya kita, minimal percaya bahwa kita tidak sendiri.

Ide yang kita angkat dalam karya kita mungkin orisinil, namun jutaan manusia di planet ini setidaknya akan ada yang memiliki ide yang mirip dengan kita, dan merekalah yang kemungkinan besar akan meng-apresiasi karya kita.

Medium cetak tentunya memerlukan jalan yang terang benderang untuk distribusi nya, bisa dimulai dengan promosi di media sosial, setidaknya itulah kekuatan yang penting di era digital ini.

Kerjasama dengan berbagai komunitas, kerjasama dengan berbagai orang yang membantu terciptanya karya, dan bekerjasama dengan publisher bisa menjadi jalan yang memuluskan niatan kita.

Muhammad Hidayat:
Bisa saya katakan kendala dalam pendistribusian sebenarnya adalah masalah finansial.

Karena promosi itu selalu berhubungan dengan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu untuk saat ini hal yang mudah untuk melakukan pendistribusian masih seputar media sosial atau menggunakan jasa teman-teman untuk ikut membantu mempublikasikan karya-karya foto yang kita miliki, dalam hal ini berupa review atau sekedar melakukan postingan kedalam akun media sosial mereka.

Motivasi terbesar Anda berkarya?

Arya:
Diremehkan, saya lahir dan besar disebuah kota kecil, dimana saat saya berkarya ada beberapa orang yang bisa dikatakan meremehkan saya bukan memotivasi ataupun membantu saya.

Hal itu yang membuat saya ingin terus berkarya. Selain itu, saya juga ingin menciptakan sesuatu yang baru untuk kota saya dan intinya saya ingin membuat orang tua saya bangga, bahwa anaknya telah menciptakan sebuah karya.

Baskara:
Motivasi dalam berkarya bagi saya bisa bermacam-macam, namun kebanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di dalam hidup saya.

Mempertanyakan diri sendiri adalah hal yang cukup saya senangi, karena saya selalu berpegang teguh pada “Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhan-nya”, maka setidaknya inilah salah satu alasan saya berkarya, untuk mengenal dan bertemu Aku yang sejati.

Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto. Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Motivasi dalam berkarya? Balik lagi kepada tujuan awal dalam fotografi itu sendiri, seperti yang pernah saya katakan bahwa fotografi merupakan media untuk mengekspresikan diri dan fotografi merupakan hal yang terindah yang saya miliki saat ini oleh karena itu fotografi tidak pernah padam.

Selagi saya masih bisa melihat dan masih bisa menekan tombol shutter pada kamera maka saya akan terus berkarya.

Project terbaru?

Arya:
Project terbaru dan perdana saya adalah zine 10:30 , dan akan membuat zine lainnya, dan tentunya photobook suatu hari nanti.

Baskara:
Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto.

Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Project terbaru: saat ini saya sedang mengerjakan beberapa series foto dan satu project yang sementara berjalan menggunakan kamera analog dan film 35mm pada project tersebut.

Saran untuk rekan-rekan yang ingin mengikuti jejak Anda untuk mencetak karya serta mempublikasikannya?

Arya:
Jangan takut untuk mengambil resiko, jangan pernah takut karyamu dianggap jelek, karena tidak ada karya yang jelek, percaya diri intinya dan mau.

Kalian harus mencoba sensasi melihat karya pertama keluar dari mesin cetakan dan kamu merasakan karya kamu secara fisik, bukan di media sosial. Rasanya itu uhhhhhh…..

Baskara:
Teruslah memotret, jangan ragu untuk berkarya, tidak ada yang salah dalam berkarya. Bisa dimulai dari hal kecil didalam hidup kita, karena hal kecil bisa menjadi besar.

Muhammad Hidayat:
Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret (dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Agan Dayat 
Facebook
Flickr
Instagram
Website

Arya Tri Prasakti
Instagram

Baskara Puraga Somantri
Facebook
Instagram
Website