Browsing category

Interviews

Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

From Somewhere, To Elsewhere, by Yota Yoshida. Street Photographers from Japan

About

I have not any educational background about photography. I’m not conscious of whether something has evolving to myself or not. However, I always want change. It’s not a style, it’s more deeply meaningful things.

Statement and Info

Yota Yoshida (1981) is a street photographer. He grew up in a small town in north Kumamoto Japan and currently resides in Tokyo. He has no formal education in photography but is inspired by everything in each day-to-day experience.

His work primarily deals with people and happenings in public spaces.

And Yota is particularly interested in the invisible emotional and poetic impressions that surround us on an ordinary day.

But he insists his photographs are not exceptional, that anyone could have taken the same pictures if they were in the same place at the same time. He believes the act of taking un-posed photographs is not an act of production, but rather of feeling, and capturing what is already being expressed.

Recent awards include Honorable Mention Award at Brussels Street Photography Festival 2016, and Award Finalist of Miami Street Photography Festival 2015.

His works have been featured in numerous medium including Creators Project by Vice, Sueddeutsche Zeitung, Juxtapoz Magazine, Fubiz Media, iGNANT, It’s Nice That, Lomography and others.

Project statement

Statement of “From Somewhere, To Elsewhere”

As the title indicates, this story takes the simple format of coming from somewhere and heading away elsewhere. As with numerous stories, the beginning and ending are slightly similar.

This structure is primarily influenced by the novel authored by Jorge Luis Borges as well as “Where Do We Come From? What Are We? Where Are We Going?” by Paul Gauguin, which focus on the topics of circularity and the view of life and death in Buddhism.

They pictured in these photos, me as I write this, and you who are looking at the photographs, all exist right now in our own respective times.

To me, “you” are the future, the presence of which I can only imagine. You the observers probably sense “them and me” living in different times.

This is also a letter from myself and them to you, who are in “elsewhere” of this story. I am confident that the emotions triggered in those of you who are receiving this will lead to something yet different.

Influences

I actually have a lot. In movies, I love the stuff directed by John Ford, Clint Eastwood, John Cassavetes, Robert Aldrich, Sam Peckinpah, Theo Angelopoulos, Yasujiro Ozu, Sadao Nakajima, Kiyoshi Kurosawa.. etc.

Literature also plays a huge role in motivating me. I like works coming from literary modernism, such as the writing of James Joyce, Proust, Woolf.

I admire Latin American literature as well. Jorge Luis Borges, García Marquez, and Maria Vargas Llosa, to name a few.

Or I often read modern American literature such as Vonnegut and Pynchon. Apart from those, music, TV dramas, theater, poetry, paintings, the humanities, sociology, etc… everything highly influences to me.

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Yota Yoshida

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

A Moment of Solitary, by Edas Wong. Street Photographers from Hongkong

A Moment of Solitary, by Edas Wong

About

My name is Edas Wong from Hong Kong. I graduated from UMIST’s (Manchester, England). In “Year 2000 to 2002” and “Year 2005 to 2013”, I lived in Stockholm, Sweden and worked as an engineer in the R&D department of a leading mobile network vendor.

From 2014 onward, I and my wife had then subsequently moved back to Hong Kong where I currently reside and work till now.

I bought my first camera in Year 2002. Since then, I started to seriously take photos, but concentrating on landscape photography. In 2011, after seeing Henri Cartier-Bresson’s “Valencia, Spain 1933,”, I then immediately fell in love with street photography.

From that point on I developed an instant and abiding passion for street photography.

I love imagination and street photography is an excellent media to express my crotchets. Normally, you don’t need to prepare for street photography and just “go outside”, “stop playing smartphone”, observe” and then “click”. It is rather simple, unlike drawing, writing, etc.

Regarding method, it is rather simple. I just try to relax and enjoy observation and imagination. I believe when mind is empty, creativity will then be infinity.

Our imagination is confined by what we learnt, knowledge, experience, common sense, culture, moral, etc. To “make” a creative photo, all these burdens should be thrown away so as to reform the world on your own way.

Preferences, preparations, photography equipment

My camera is SONY RX1.

Year 2013, one week before Christmas, I only took few seconds to decide moving whole family back to Hong Kong from a place where I and my wife had lived almost 10 years, Stockholm, due to family matter.

Then next day, we had already arrived Hong Kong with two pieces of suitcases plus a tone of ignorantness but no regret.

Project statement

Artist Statement: A Moment of Solitary

Hong Kong, the city I was born and grew up. I really love it; however, I had had no alternative but to escape from it due to extreme high work pressure. It led me to have high blood pressure, headache, stomach-ache, etc…

When I decided to return Hong Kong, I had already foreseen I would face not only the previous pressure again but also new pressure caused by new family matter.

“Sigh! I haven’t died yet!” It is often the first thought while I wake up since I had returned to Hong Kong half year. I realize my “old friend” now attacks me again. To rescue myself, I take a direct and simple method: short break at a silent place, e.g. terrace, overpass bottom, quiet park, lane, etc., to exhaust the pressures being underneath the heart.

This series is to record how Hong Kongese struggle with pressures at “A Moment Of Solitary”, like me.

Recently, my flavour book is about “ZEN” philosophy. It also influences my style of photography.

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Edas Wong

Interviews, Photo Stories, Photography, Street Photography,

Interviews Yustin Geilardi Zakharias (Bang Onit)

Q & A Bersama bang Onit

Pada tahun 2013 saya hanya bisa memantau dari kejauhan, melalui jejaring media sosial Facebook. Karya-karya Yustin Geilardi Zakharias atau biasa dipanggil bang Onit berseliweran di grup-grup sharing karya foto ketika itu.

Ingin bertanya dan belajar langsung, tapi tak kunjung jua saya berani, meski haya sekedar mengirim pesan berkenalan hahaha

Dan beberapa bulan yang lalu, akhirnya ada kesempatan untuk langsung berjabat tangan, namun masih tidak bisa berdialog lama, karena situasi dan kondisi ketika itu.

Akhirnya saya ajukan wawancara ekslusif kepada bang Onit, tapi ternyata jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan membuat hati semakin ingin menikmati secangkir kopi tentunya membahas fotografi.

Pada project Series Photo A Wife – The Waves, ada cinta yang amat besar saya rasakan. Suatu bentuk terima kasih kepada istri yang selalu menemani, dan secercah rasa haru yang sangat mendalam. Tidak menarik jika saya uraikan lebih rinci lagi. Silahkan disimak! 

 

Silahkan perkenalkan diri anda?

Saya Yustin Geilardi Zakharias, kawan – kawan saya biasa memanggil dengan Onito. Terlahir di Denpasar – Bali, kemudian kuliah di Jakarta dan saat ini menjadi warga Yogyakarta.
Kenapa anda begitu mencintai fotografi?

Saya kuliah di sekolah seni, dimana saya mendapatkan kesempatan waktu yang banyak dalam mengenal dan mencoba berbagai medium untuk berekspresi.

Mungkin sebuah momentum juga ketika saat itu adalah masa reformasi (1996), informasi yang kita terima sangat banyak dan cepat silih berganti sehingga kebutuhan untuk berkespresi dalam hal merespon situasi sosial dengan medium lain terasa kurang cepat dan tepat pula.

Pilihannya adalah medium fotografi, awalnya aktifitas mendokumentasi sebelum masa itu hanya memiliki eforia sesaat, senang-senang saja, tapi ketika saya mencoba lebih dekat dengan apa yang saya foto saat itu terasa semua organ tubuh ikut bekerjasama dalam hal mencipta.

Bagaimana kita dapat menentukan hal – hal teknis manual pada kamera analog dengan tepat cepat dan disaat bersamaan kita juga harus menghindari pentungan dan lemparan – lemparan batu dari aparat dan massa.

Nah, beranjak dari masa itu fotografi menjadi sebuah medium ekspresi yang memabukkan.

Yang menginspirasi anda dalam berkarya?

Banyak hal yang dapat menginspirasi saya dalam berkarya, mulai dari menyimak apapun melalui media apa saja, sampai dengan berlaku lebih sensitif terhadap lingkungan disekitar saya.

Motivasi terbesar dalam berkarya khususnya pada bidang fotografi?

Pencatatan waktu kejadian.

Belum lama ini salah satu karya anda lolos seleksi dan ditampilkan pada 2 negara sekaligus, yaitu di Vietnam dan Indonesia. Bagaimana perasaan anda terhadap pencapaian ini?

Tentu senang, ternyata karya tersebut dapat menarik hati yang liat, lah.. ketika buat karya itu sebetulnya hanya untuk istri saya saja kok hahaha..

Boleh ceritakan tentang series photo A Wife – The Waves?

Foto seri tersebut sebenarnya sangat personal, itu bentuk perenungan dan penghargaan terhadap istri saya selama ini, terutama pada masa – masa saya sakit parah.

Semua frame yang terdapat pada foto seri tersebut diambil di lingkungan rumah pada waktu yang berbeda – beda.

Bahwa komitmen itu nyata, bukan dari kata – kata yang merangkai kalimat, tetapi dari sikap dan tindakan yang telah diberikannya.

Bagaimana langkah anda dalam pengerjaan series photo?

Prosesnya mulai dari mencari ide – membuat cerita – mencari foto – menyusun foto – publikasi. Biasanya pada tahap mencari dan menyusun foto itu lumayan panjang karena ditengah pengerjaannya ada saja penambahan ataupun pengurangan foto yang disesuaikan terhadap apa yang akan saya sampaikan.

Terutama untuk hal – hal yang bersifat simbolis. Kita juga harus memikirkan apakah masudnya nanti akan tersampaikan dengan tepat atau tidak.

Fotografi semakin banyak diminati, namun sayangnya semua lebih suka menjadi instan, dan selalu mengandalkan kemudahan teknologi, serta mengejar like dan follower pada media sosial. Bagaimana tanggapan anda?

Jaman semakin maju, informasi semakin mudah didapat dengan cepat, tapi sayangnya banyak orang terkadang melupakan prosesnya. Kalau saya percaya dengan ini; mencari dan belajar – meniru – mencipta.

Dimana sebaiknya kita harus tau mengenai dasarnya dulu, bagaimana sejarah fotografinya kemudian mempelajari bagaimana memotret dengan benar secara manual dulu tentunya, belajar metering ini wajib, kemudian mempelajari berbagai teknik komposisi dan sebagainya, kemudian dipraktekkan.

Biasanya setelah “merasa” atau “menguasai” kamera yang terjadi masuk pada fase meniru/ duplikasi, memiripkan karya kepada para idolanya, ini fase yang terlama dan tersulit, karena biasanya masing – masing yang menjalani tidak akan sadar dengan apa yang sedang dilakukannya dan menjadi terkaget – kaget karena terpesona dengan kawannya setelah menampilkan hal lain dari biasanya.

Mengejar “like” dan “follower” sah – sah saja, namun yang perlu disadari, siapa mereka yang memberikan hal tersebut, apakah memberikan kontribusi yang baik unuk perkembangan fotografi kita atau malah membuat kita terlena dan malah lupa belajar.

Buku foto favorit anda?

Tidak ada yang menjadi favorit. Tetapi saya suka dengan karya – karya Saul Leiter.

Sebagai penikmat buku foto, apa yang membuat anda begitu menikmati karya tersebut?

Selain dari konten buku tersebut, mungkin karena saya punya dasar pendidikan desain grafis, jadi saya juga memperhatikan penyajian serta finishing buku tersebut.

Apa kertas yang digunakan, bagaimana dengan kualitas cetak sampai dengan sebarapa presisi potongan kertas, lem, dan lainnya. Semuanya deh..

Tidak lengkap, tapi lumayan banyak juga saya mengumpulkan buku foto dan zine yang diterbitkan fotografer atau komunitas di Indonesia, sayangnya kebanyakan masih seperti sekedarnya saja, padahal sayang banget karyanya menarik namun karena dikerjakan kurang total akhirnya tidak sempurna dan awet, misalnya seiring waktu kualitas cetak berkurang dan halaman – halaman menjadi lengket.

Saat ini perkembangan dan geliat fotografi dalam medium cetak kembali menjadi tren, bagaimana anda melihat fenomena ini? Sedangkan fotografi dengan teknologi dengan digital makin berkembang?

Jika yang dimaksud adalah tahap presentasinya (publikasi); menurut saya karya fotografi sebaiknya dicetak karena secara lahiriah seperti itu, bisa saja hanya berupa cetak dan atau dipublikasikan didalam sebuah pameran, buku ataupun zine kemudian informasinya dapat disebarkan secara online memanfaatkan media sosial.

Namun jika kehendak si fotografer maunya hanya berupa karya dijital ya juga gak ada masalah juga hahaha..

Itu semua hanya merupakan media untuk mempresentasikan karya saja.

Tapi juga perlu diingat bahwa tidak semua penikmat foto sudah senang atau terpuaskan hanya dengan melihat karya secara online saja, banyak penikmat termasuk saya juga ingin datang langsung melihat ke pameran foto melihat bentuk cetak karya foto itu sambil berbincang dengan fotografernya, atau memiliki buku atau zine sebagai koleksi.

Jika ada kesempatan berkolaborasi dengan fotografer baik itu dari luar maupun Indonesia, dengan siapa anda bekerja sama? Mengapa?

Pada dasarnya bebas aja, sama siapa saja sih bisa saja, karena setiap personal pasti punya karakteristik ide dan karyanya sendiri – sendiri.

Anda punya cara tersendiri untuk mempertahankan konsistensi dalam berkarya? Silahkan ceritakan

Dalam berkarya mempertahankan konsistensi itu susah, jenuh pasti ada, karena saya sendiri pernah sempat tidak membuat karya beberapa tahun.

Kalau bicara niat pasti klise ya, hahaha. Tapi yang saya lakukan paling tidak dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini selain menambah informasi melalui buku, web termasuk media sosial dan ngobrol dengan sasama adalah dengan tidak hanya melulu memotret dengan ide maupun cara yang sama, jangan monoton, perlu alternatif proses kreatif.

Jika tertarik memotret dijalanan, kenapa tidak buat proyek pribadi salah satunya berupa foto seri. Bisa tentang apa saja, mulai dari dasar – dasar komposisi sampai dengan hal – hal yang lebih spesifik, misalnya pada tubuh manusia ada gestur, mimik dan lainnya.

Atau bisa saja mulai memikirkan bagaimana cara mempresentasikan karya – karya tersebut lebih lanjut. Ada banyak cara, buat website, buku, zine, pameran foto dan lainnya.

Series Photo A Wife – The Waves:

Bio

Yustin Geilardi Zakharias (Onito), lahir di Denpasar – Bali tahun 1974, kuliah di Institut Kesenian Jakarta jurusan Desain Grafis dan saat ini berdomisili di kota Yogyakarta.

Selain memiliki usaha desain dan produksi kaos bertema fotografi dan budaya Indonesia (kaossaguonito) juga bekerja lepas sebagai fotografer, desainer grafis dan website.

Aktifitas

2015 / Pameran tunggal fotografi – Dream On It / Galeri Paviliun 28 – Jakarta
2002 / Pameran tunggal fotografi / Open House – Bali
1999 / Pameran bersama fotografi / Kedai Kebun – Jogja
1999 / Pameran bersama fotografi 6 hari di ruang publik / Bundaran HI – Stasiun Kota – Kali Malang – Pasar Baru – Taman Danau Situ Lembang – Taman Gelora Bung Karno
1998 / Pameran bersama dokumentasi 97-98 / Galeri TIM – Jakarta
1994 – 1996 / Aktif berpameran tunggal / bersama seni rupa / Jakarta – Jogja – Bandung – Bali

Publikasi

As participant on Frame Zero Media program – The Reel Series: Indonesia & Vietnam Edition (2017)
Margizine #001 / Majalah (Zine) Street Photography / Solo
Black and White Street / Street Photography Online Gallery
Street In Color / Street Photography Online Gallery.

 

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Yustin Geilardi Zakharias

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Agan Dayat, Photozine Muse dan Personal Project Photography

Photozine Muse dan Personal Project Photography

Silahkan perkenalkan diri anda?

Hai.. nama saya Muhammad Hidayat, tetapi teman teman lebih sering memanggil Agan Dayat, Saya lahir di Manado tetapi dibesarkan di Jakarta dan sekarang berdomisili di Banda Aceh.

Kenapa anda tertarik pada fotografi?

Buat saya fotografi merupakan sebuah alat atau media untuk pelampiasan emosi karena melibatkan semua perasaan seperti kesal, sedih bahkan gembira dan semua itu dapat saya tuangkan kedalam sebuah foto, dan hal itu menjadikan fotografi merupakan bagian dalam hidup saya saat ini.

Pada project Muse, apakah yang motivasi terbesar anda sehingga akhirnya muncul project ini?

Project ini saya kerjakan pada tahun 2016. Awalnya karena melihat berbagai hal yang terjadi seperti bencana alam, berbagai kejahatan dan semua kekacauan yang terjadi di negeri ini, dimana nyawa tidaklah begitu berarti beberapa orang memiliki pikiran yang sangat sempit dan dengan mudah untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga pada suatu waktu timbul seperti adanya rasa takut dalam hidup yang saya jalani, mungkin semua hal itu menimpa orang lain tetapi tidak bisa dipungkiri suatu saat akan menimpa saya.

Saat itu saya benar-benar mengalami sebuah ketakutan dan kekuatiran, sehingga hampir beberapa hari saya mengambil waktu untuk merenungkan tentang kehidupan yang saya jalani.

Akhirnya saya mendapat sebuah jawaban dari semua perasaan takut yang dialami.

Bersyukur, ya kalimat ini yang muncul dalam hati kecil saya sehingga saya seharusnya merasa bersyukur karena masih bisa tetap bernafas dan tetap dalam keadaan yang sehat hingga saat ini dan bukannya merasa takut dan kuatir.

Bagaimana dengan mereka yang hidupnya begitu mengharukan, bagaimana dengan mereka yang tetap berjuang untuk bertahan hidup dalam kesakitan dan kelaparan.

Semua perasaan dan pemikiran ini yang mendasari dalam pembuatan project Muse.

Secara visual menurut saya, karya pada Muse ini mengingatkan kepada foto-foto Jacob Aue Sobol, apakah ini suatu indikasi bawah Jacob Aue Sobol sangat menginspirasi anda?

Saya mengenal fotografi dan baru bener-bener mendalaminya sekitar pertengahan tahun 2015, sehingga masih sangat minim dengan berbagai referensi Fotografer.

Hal yang sangat menarik buat saya, saya sudah mengambil beberapa foto untuk mengerjakan project Muse dan saya mencoba share dengan beberapa teman yang tergabung dalam salah satu komunitas fotografi yang berbasis media sosial atau group LINE dan pada saat itu salah satu temen mengatakan foto saya mirip dengan karya-karya dari Jacob Aue Sobol, saat itulah saya baru tau dengan nama Jacob Aue Sobol yang sebelumnya saya tidak pernah mengetahuinya.

Saat itu juga saya mulai googling untuk melihat karya karya Jacob, membaca beberapa tulisannya dan akhirnya beliau merupakan salah satu fotografer yang begitu menginspirasi dalam melihat sebuah karya foto.

Maukah anda menceritakan proses dibalik pengerjaan project Muse ini?

Semua foto dalam Muse pengambilannya menggunakan kamera dari telepon seluler. Orang-orang yang ada didalamnya sebagian merupakan teman-teman kantor saya.

Hal yang menarik pengambilan frame demi frame dengan cara candid.

Beberapa dari mereka menertawakan saya karena baru menyadari saya mengambil foto kaki, tangan dan beberapa bagian tubuh mereka, bahkan ketika project Muse selesai beberapa dari mereka terkejut karena ada dalamnya.

Bagaimana anda membagi waktu antara kesibukan pekerjaan dengan pengerjaan sebuah project foto?

Sebenarnya memiliki waktu yang khusus untuk pengerjaan sebuah project foto bisa dikatakan tidak ada, biasanya saya mengambil beberapa waktu sekitar 1-2 jam pada saat weekend (itupun kalo memang bener-bener tidak sedang mengerjakan sesuatu).

Pertama kali saya melihat project Muse dalam bentuk medium cetak berupa photozine, kenapa lebih memilih menggunakan medium cetak sedangkan penyebaran secara digital lebih mudah diakses oleh banyak orang?

Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

Kenapa anda begitu tertarik dengan personal project?

Nah! Ini pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab, kembali dengan apa yang saya katakan sebelumnya bahwa fotografi itu merupakan sebuah pelampiasan emosi dan buat saya fotografi itu bagian dari hidup dan saat ini fotografi merupakan sesuatu yang sangat indah yang saya miliki saat ini. Kenapa dengan personal project ?

Disitulah saya bisa melampiaskan apa yang saya rasakan apa yang saya alami kedalam sebuah personal project, karena berbicara personal berarti sesuatu yang sangat pribadi dan sangat spesifik, saya baru menyadari bahwa personal project adalah jalan untuk melihat kembali kehidupan yang saya jalani mulai dari kecil hingga saat ini.

Apakah ada kendala tersendiri ketika proses pengerjaan personal project?

Kendalanya ya hanya satu tidak semua orang akan dapat dengan mudah untuk menerima foto dan karya yang kita tawarkan.

Adakah anda punya saran, jika nantinya ada rekan-rekan pembaca ingin memuluai sebuah project fotografi?

Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret ( dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret ) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Bio

Muhammad Hidayat (b.1982) Lahir di Sulawesi Utara dan saat ini berdomisili di Banda Aceh bekerja sebagai staf bagian anggaran pada salah satu instansi pemerintahan di Kota Banda Aceh.

Mengenal fotografi sejak pertengahan tahun 2015 dan mulai serius dan memfokuskan diri dengan fotografi, sangat tertarik pada fine art dan expressionism fotografi. Foto-foto dan karyanya sangat personal, mengambil pengalaman dari kehidupannya.

Baginya fotografi bukan sekedar menekan tombol shutter tetapi bagaimana mencurahkan segala perasaan didalamnya serta pelampiasan dari emosi.

Beberapa karya yang telah di published beberapa website Photography

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Agan Dayat

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Uncategorized,

Interview bersama Arif Sahroni, Mengenai Project Sluggish Zoo

Photo Essay Sluggish Zoo

Silahkan perkenalkan diri anda

Sampurasun nama saya Arif, lahir dan besar di kota Bandung

Apa membuat anda begitu tertarik dengan foto dokumenter?

Saya adalah orang yang menyukai sesuatu yg berbau mesin waktu, seperti film, kartun, dll.

Ketika menggeluti fotografi dokumenter saya menemukan mesin waktu versi saya sendiri yaitu sebuah foto, dengan sebuah foto kita bisa seolah-olah kembali ke masa di mana foto itu diambil, merasakan suasana ketika foto itu diambil.

Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi pada saat itu bisa menjadi sebuah kenangan tersendiri ketika di kemudian hari kita melihatnya, seperti “waktu itu lagi trend ini, waktu itu lagi ada kejadian ini”.

Pada project Sluggish Zoo ini apa yang menginspirasi anda? Dan apakah pesan yang ingin disampaikan pada project ini?

Kebun Binatang Bandung merupakan tempat yang sangat berkesan bagi saya, karena ketika kecil saya sering ke sana untuk bertamasya bahkan ketika saya beranjak dewasa tempat tersebut menjadi salah satu saksi kehidupan asmara saya, yang membuat saya tertarik dan terinspirasi membuat project ini adalah ketika melihat pemberitaan negatif terhadap kebun binatang ini soal hewan–hewan yang tak terurus, saya tertarik sekaligus ingin membuktikan apakah benar pemberitaan tersebut.

Saya merasakan kelesuan yang terjadi di kebun binatang itu, mulai dari kandang–kandang kosong, kotor, tak terurus, tidak ada lagi interaksi antara binatang dan pengunjung seperti atraksi mengelilingi kebun binatang menggunakan gajah atau sekedar berfoto dengan orang utan, lalu sepi nya pengunjung padahal ketika saya ke sana itu adalah hari minggu yang biasanya menjadi waktu favorit bagi masyarakat bertamasya.

Berapa lama proses dalam pengerjaannya?

Proses pengerjaannya tidak terlalu lama, kurang lebih 2 minggu

Pada umumnya photo story dikemas dengan hitam putih, kenapa anda lebih tertarik dengan pengemasan foto berwarna?

Saya pernah membuat photo story dalam hitam putih dan merasakan kekurang puasan karena tidak konsistennya hitam putih yang saya tampilkan, mungkin karena saya belum terlalu mengerti dengan foto hitam putih, jadi lebih baik saya menampilkannya dalam warna.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya saya menyukai sesuatu yang berbau mesin waktu, menurut saya warna juga bisa menjadi identitas sebuah era, baik itu warna pakaian, warna bangunan atau apapun itu

Apa saja tahapan yang anda lakukan dalam membuat sebuah project fotografi?

Mencari ide atau isu yang akan diangkat, mencari informasi singkat tentang isu tersebut, menemukan pesan yang akan disampaikan, lalu eksekusi foto sesuai dengan pesan, kesan, atau apapun yang akan disampaikan, editing foto (Sequences) biasanya saya dibantu oleh beberapa teman yang lebih berpengalaman dalam proses ini, tentunya tidak sampai merubah alur atau pesan yang saya ingin sampaikan.

Adakah anda punya saran, jika nantinya ada rekan-rekan pembaca ingin memuluai sebuah project fotografi seperti Sluggish Zoo ini?

Saran untuk memulai lebih baik untuk langsung dilakukan tidak hanya menjadi sebuah rencana atau wacana dalam diri saja, sebuah pesan yang pernah saya dengarkan dari standup comedian favorit saya yaitu Pandji Pragiwaksono dalam Juru Bicara world tour yaitu “Kunci dari berkarya adalah mulai dulu aja lalu bikin yang lebih baik, kunci dari berkarya adalah berproses”.

Saat ini referensi dan informasi sangat mudah didapatkan di internet, sehingga tidak menjadi hambatan ketika pengetahuan kita belum cukup untuk membuat suatu karya, publikasikan karya kita kepada orang–orang lalu minta mereka menilai atau mengkritik agar tahu di mana kurang nya, untuk bekal dalam meembuat project yang lain nantinya.

Nama lengkap Arif Sahroni sehari-hari dipanggil Arif, awal memulai terjun di dunia fotografi tahun 2015, belajar secara otodidak, latar belakang pendidikan Sarjana Teknik Sipil bekerja sebagai Tenaga Ahli Sipil bidang perencanaan pada konsultan in-house sebuah bank milik pemerintah, 1 tahun terakhir sedang menekuni street photography.

Pengalaman di bidang fotografi:

  • Pada tahun 2015 mendapatkan juara harapan lomba foto konstruksi nasional yang diselenggarakan LPJK,
  • Juara 1 lomba foto konstruksi yang diadakan oleh UNSERA (Universitas Serang Raya) tahun 2016,
  • 10 besar terbaik dan terfavorit di Lomba Photostory Budi Luhur Dalam Lensa Kamera 2016 tingkat Mahasiswa,
  • Mendapatkan special mention di lomba Black and white Photography – 109 yang diadakan oleh situs kujaja.com pada tahun 2016,
  • Finalis Bandung Hitam Putih pada tahun 2017, aktif di beberapa komunitas fotografi.

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Arif Sahroni