Browsing category

Photography

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas
Blog, Interviews, Photography,

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Q & A Arbain Rambey

Setelah sebelumnya Q & A bersama Homer Harianja, maka pada kesempatan kali ini giliran Arbain Rambey yang akan saya wawancara.

Fotografer senior Kompas ini tentunya sudah tidak asing bagi Anda. Aktif di media sosial dan sering kali masih menjadi pembicara di seluruh penjuru tanah air.

Pertama kali bertemu dengan beliau ketika kami sama-sama diberikan kesempatan menjadi pembicara pada seminar fotografi di FISIP UNPAS Bandung, kesan pertama tentunya saya ingin bertanya akan banyak hal kepada sosok yang rendah hati ini.

Mari disimak:

Bagaimana awal mula Anda bisa terjun dalam dunia fotografi?

Tahun 1988 selulus kuliah dari teknik Sipil ITB, saya bekerja di Papua ikut merancang sebuah bangunan sekolah untuk masyarakat Asmat. Diliput KOMPAS. Lalu saya tertarik melamar ke KOMPAS dan diterima Mei 1990. Selama 6 tahun pertama saya jadi wartawan tulis, dan tiba-tiba saya diangkat sebagai redaktur fotografi pada 1996. Sejak 1996 saya jadi fotografer.

Pernahkah dimasa kecil memiliki cita-cita menjadi jurnalis?

Tak pernah terpikir sebelumnya

Menulis atau memotret?

Memotret adalah hobi sejak SMA, sementara menulis dilakukan saat kuliah (1980-1988) untuk mencari uang tambahan, di majalah Mutiara dan majalah Zaman.

Apa kenangan paling menyenangkan ketika pertama kali mengenal fotografi?

Pada 1974 (kelas 1 SMP), pertama kali belajar cuci cetak foto, senang sekali merasakan sensasi kamar gelap.

Bagaimana cara Anda mendapat ide sebelum pengambilan foto?

Hampir semua foto saya adalah hasil merancang. Ide-ide didapat dari aneka contoh foto yang pernah saya lihat sebelumnya

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Tantangan paling berkesan yang pernah dialami selama masa peliputan

Sangat mengesankan kalau berhasil mendapatkan foto sesuai perencanaan, lalu diapresiasi pembaca

Hal apa yang harus dimiliki oleh seorang pewarta foto selain kemampuan mumpuni pada bidang fotografi?

Tahan stress… Kadang memotret pesta olahraga seperti Olimpiade atau Asian Games bisa sampai 2 minggu dan setiap hari sangat padat.

Tahan kecewa, misalnya memotret 1000 foto tapi tak satu pun dipilih redaktur.

Fotografer favorit Anda

Saya tidak punya manusia favorit, tetapi beberapa fotografer saya kagumi karena kemauannya selalu berbagi ilmu, yaitu Darwis Triadi dan Roy Genggam

Inspirasi Anda dalam kehidupan

Kalau bisa dibuat mudah, buatlah mudah

Hobi lain di luar fotografi

Musik: memainkan alat musik berdawai seperti gitar, mandolin, kecapi, sasando

Melukis

Banyak media besar saat ini perlahan bertumbangan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Itu adalah realitas zaman yang tidak bisa dihindari

Anda sering sekali terlihat memberikan dukungan besar terhadap kemajuan teknologi kamera digital berjenis mirorless, apakah ada alasan khusus?

Tidak ada alasan khusus. Saya melakukannya karena senang

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Apa perbedaan besar yang Anda rasakan antara media cetak dan media online?

Media online sangat praktis, bisa diakses kapan pun di mana pun, sebanyak mungkin tanpa beban berat.

Menurut pengamatan Anda apakah media cetak akan bertahan untuk 20 tahun ke depan?

Rasanya paling lama 5 tahun ke depan

Adakah keinginan Anda untuk merilis buku foto sendiri? Seperti Split Second Split Moment kumpulan karya dari Julian Sihombing

Belum tertarik karena biayanya sangat mahal. Saya malah terpikir membuat buku online

Jika tidak mengenal dunia jurnalistik apa profesi yang saat ini bakal Anda tekuni?

Pelukis

Anda ingin dikenal sebagai sosok seperti apa nantinya dikemudian hari?

Saya ingin dikenal sebagai orang yang pernah berguna bagi banyak orang lain

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Bio

Nama : Arbain Rambey
Tempat/tanggal lahir : Semarang, 2 Juli 1961
Alamat : Cempaka Baru I/9 Jakarta Pusat
Telepon: 0811-196027

Email: arbainrambey@yahoo.com
Twitter: @arbainrambey
Pekerjaan saat ini: Fotografer Harian Kompas dan pengasuh rubrik Klinik Fotografi Kompas setiap hari Selasa

Pendidikan formal terakhir:

Jurusan Teknik Sipil ITB, selesai 1988

Pengalaman Kerja Jurnalistik dan Fotografi:

-Fotografer Yayasan Asmat, 1988-1999
-Wartawan Olahraga Harian Kompas 1990-1996
-Redaktur Fotografi Kompas 1996-2000
-Koordinator Harian Kompas untuk Sumbagut 2000-2003
-Redaktur Fotografi Harian Kompas 2003-2006
-Dosen tidak tetap Fotografi di Universitas Sumatera Utara, Medan 2002-2003
-Mengajar Fotografi di Darwis School of Photography 2003-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, 2004-2009
-Dosen Fotografi di Universitas Multimedia Nisantara, Serpong, Tangerang 2008-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Indonesia, FISIP mulai September 2011

Organisasi:

Ketua Pewarta Foto Indonesia 1998-2001

Buku fotografi karya Arbain Rambey terbit di London, Inggris Desember 2005 dengan judul “Mist of Time”, diterbitkan Waterous and Co

Beberapa lomba foto yang dimenangkan :

Juara I Lomba Foto Fashion Nasional 1993
Juara Tunggal Lomba Foto International Art Summit 1999
Juara II Lomba Foto Honda Stream 2004
Juara I Lomba Foto MURI 2008

Pameran Foto:

Ekspresi (tunggal), Medan 2002
Kecil (bersama), Medan 2002
Mandailing (tunggal), Medan 2002
Senyap (tunggal), Bentara Budaya, Jakarta, 2004
Crossing Bridges (bersama), Singapura, 2004
Colour of Indonesia (tunggal), Galeri Cahya, Jakarta, 2004
Persatoean (bersama), Jakarta, 2005
Persatoean (bersama), Melbourne, Australia, 2005
Nusantara (berdua dengan Makarios Soekojo), Hotel Aston Jakarta, 2006
Olympic in China (bersama) Plaza Indonesia 2007
Romance in China (bersama) Senayan City 2008
Bromo (bersama) di Bromo (2008)
Indonesia in 50 Pictures (tunggal), Kuwait City, Kuwait, 2009

Liputan Jurnalistik:

-Davis Cup Indonesia-India, Jaipur, India 1991
-Tenis Piala Asia, Hongkong 1991
-SEA Games Manila, Filipina 1991
-Tenis Pre Olimpic, Osaka, Jepang 1992
-Tenis Wimbledon, London, Inggris 1992
-World Youth Cup, Barcelona, Spanyol 1992
-Camp Tenis Sparta, Ceko-Slowakia 1992
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1993
-Tenis Pattaya Open, Thailand 1993
-Fed Cup, Colombo, Sri Lanka 1993
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1994
-Tenis US Open, New York, USA 1994
-Asian Games, Hiroshima, Jepang 1994
-All Star Game NBA, Phoenix, USA 1995
-Tenis French Open, Paris, Perancis 1995
-Tenis Piala Asia, Manila, FIlipina 1995
-SEA Games Chiang Mai, Thailand 1995
-Olimpiade Atlanta, USA 1996
-Liputan TKW, Arab Saudi 1997
-Liputan Timur Tengah, Israel, Mesir, Yordania 1997
-SEA Games Brunei Darussalam, Brunei 1999
-Liputan Pengurukan Singapura dengan Pasir Riau, Singapura 2000
-Liputan TKW, Penang, Malaysia 2001
-Liputan Ekonomi Cina, RRC, Hongkong, Makau 2002
-Liputan Teknologi, Denmark 2003
-Liputan gempa bumi Iran di Bam, 2004
-Olimpiade Athena, 2004
-Liputan gempa bumi Pakistan, 2005
-Liputan Teknologi Sydney, Australia, 2006
-Liputan Teknologi Hongkong, 2006
-Liputan Teknologi, Fukushima, Jepang, 2006
-Liputan Budaya, Sappa, Vietnam, 2006
-Liputan Teknologi, Beijing, RRC, 2007
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2007
-Liputan Teknologi, London, 2008
-Liputan Teknologi, Denmark, 2008
-Liputan London Fashion Week, Inggris 2009
-Liputan Teknologi, Hongkong, 2009
-Liputan Teknologi, Melbourne, Australia 2010
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Sapporo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Queenstown, Selandia baru, 2011
-Liputan Teknologi, Goslar, Munster, Frankfurt, Iserlohn (Jerman) 2011
-Liputan Wisata, Turki, 2011
-Liputan Budaya, Myanmar 2011
-Liputan Teknologi, Headquarter Canon, Tokyo, Jepang 2012
-Liputan Teknologi, Queensland, Australia 2012
-Liputan Wisata, Makau, 2013
-Liputan Wisata, Uni Emirat Arab, 2013
-Liputan Wisata, Makau 2014
-Liputan Wisata, Malaysia 2014
-LiputanTeknologi, New York, AS, 2014
-Liputan Teknologi, Kamboja, 2014
-Liputan Wisata, New South Wales, Australia 2014
-Liputan Wisata, Mesir, Yordania 2014
-Liputan Teknologi, Barcelona, Spanyol 2015
-Liputan Wisata, Myanmar, 2015
-Liputan Wisata, India, 2016
-Liputan Fashion, Dubai, Uni Emirat Arab, 2017
-Liputan Wisata, Ethiopia dan Kenya, 2017
-Liputan Wisata, Iran, 2018
-Liputan Teknologi, Cologne, Jerman, 2018

­­­­­­

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal
Blog, Photography, Reviews, Uncategorized,

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Kodachrome Movies

Jika Anda berharap menyaksikan kisah para fotografer dengan aksinya di lapangan pada proses pengambilan gambar seperti pada Bang Bang Club maka di Kodachrome tidak akan banyak ditemukan. Kecenderungan lebih mirip film drama The Secret Life of Walter Mitty. Dan berfokus hubungan antara ayah dan anak yang tidak begitu harmonis.

IMDb memberikan rating 6.8/10 dan skor 71% pada Rotten Tomatoes tentunya sudah cukup layak dipertimbangkan untuk ditonton.

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar nama Kodachrome?

Kodachrome  adalah salah satu color slide film dengan ASA 64 turut menghiasi jajaran produk Eastman Kodak yang diperkenalkan pada tahun 1935, meskipun banyak diminati namun sepertinya bukan menjadi pertimbangan dari pihak Kodak untuk tetap memasarkan. Sehingga pada tahun 2009 slide film ini akhirnya discontinued.

Kodachrome juga menjadi pilihan favorit bagi beberapa fotografer ternama seperti Steve McCurry & Joel Meyerowitz.

Pada film ini dikisahkan Benjamin Ryder (Ed Harris) seorang fotografer profesional yang semua karya menggunakan Kodachrome ingin memproses 4 rol dari awal karyanya ke Kansas, karena hanya di kota ini lah tersisa satu lab terakhir di dunia yang melayani proses development roll film ini yaitu Dwayne’s photo.

Dalam perjalanan ke Kansas Ben ingin ditemani oleh putranya Matt Ryder (Jason Sudeikis), yang bekerja di label musik rekaman dengan karir tidak begitu menggembirakan. Hal ini terlihat pada adegan pembuka ketika perseteruan terjadi dengan atasannya, karena Ia tidak menunjukkan hasil bagus dalam hal pencarian artis berbakat untuk direkrut rekaman.

Yang menarik dari Kodachrome adalah konflik sudah bermula dari awal film ini berjalan. Matt sudah mendapatkan banyak masalah karena gagalnya melakukan perekrutan artis, dan nasibnya di ujung tanduk. Cuma punya waktu 2 minggu untuk mendapatkan band Spare Sevens yang kala itu sedang naik daun.

Ketika kembali pada ruang kerjanya Matt mendapati Zoe Kern (Elizabeth Olsen) yang mengaku sebagai suster pribadi Ben, tujuannya adalah memberikan informasi kalau ayahnya sedang sekarat karena kanker hati, dan sisa umur berdasarkan prediksi dokter cuma sebatas 3-4 bulan. Zoe juga meminta kepada Matt untuk turut serta dalam perjalanan ke Kansas. Sudah bisa ditebak bahwa Zoe ini wanita yang cantik.

Wajah Elizabeth Olsen membuat saya penasaran, karena seakan tidak asing. Ternyata jika mengikuti Avengers  dari seri Age of Ultron sudah hafal tentunya dengan Wanda Maximoff / Scarlet Witch.

Mungkin karena momen tidak begitu pas, baru saja pusing dengan tekanan kerja Matt terlihat agak emosional ketika menerima kabar ingin diajak kembali bertemu dengan Ben. Dalam percakapannya bersama Zoe diketahui lah bahwa anak dan ayah ini sudah tidak bertemu selama kurun waktu 10 tahun. Wow, sungguh hubungan rumit yang tidak bisa saya bayangkan.

Zoe sepertinya bukan wanita yang tidak begitu mudah menyerah, hal ini terbukti karena terus berupaya membujuk Matt setidaknya untuk menghadiri makan malam di rumah Ben. Rasa sayang kepada ayah dalam hati paling terdalam membuat Matt sepertinya menyempatkan hadir.

Pertemuan di rumah Ben membuat saya cukup kagum, bukan karena mewahnya rumah dan segala pernak-perniknya. Namun kemunculan sosok Larry Holdt (Dennis Haysbert) yang menjabat sebagai manajer pribadi Ben. Tentunya Ben bukan fotografer sembarangan, sehingga butuh seseorang untuk mengatur segala sesuatu tentang dirinya.

Sebagai seorang fotografer tentunya menjadi hal lumrah jika dinding rumah dihiasi dengan foto yang dipajang dengan ukuran besar. Entah kenapa melihat karya-karya di sini saya langsung teringat dengan Steve McCurry. Layout tertata rapi layaknya pameran tunggal.

Kesan pertama ketika karakter Ben ditampilkan sebagai sosok yang terlihat bugar, karena dengan penuh enerjik menabuh drum. Sempat terlintas dugaan saya kalau ini hanya suatu trik supaya Matt mau mengunjunginya. Dan ternyata saya berburuk sangka hahaha.

Ben digambarkan sebagai seorang pria dengan umur 60-70an, cenderung sarkas dalam setiap kata yang terlontar. Tentunya suasana makan malam tidak menjadi begitu bersahabat, yang ada malah sikap Ben memicu pertengkaran dengan Matt, kemudian ditonton oleh Zoe dan Larry. Matt juga tidak ketinggalan berbicara lantang menanggapi apa yang dibicarakan Ben.

Dan begitulah makan malam yang bertujuan untuk membicarakan rencana perjalanan ke Kansas menjadi gagal, karena Matt memutuskan meninggalkan rumah Ben dengan amarah.

Setelah pertemuan ini Larry mengambil peran penting untuk membujuk Matt, Ia menawarkan bisa mengatur pertemuan dengan Spare Sevens sembari berkunjung ke Kansas. Karena band ini akan mengadakan konser di Chicago sebagai bagian dari tur musik mereka. Dengan alasan membutuhkan Spare Sevens akhirnya Matt memutuskan mengikuti perjalanan ini.

Perjalanan ke Kansas memakan waktu selama seminggu, berangkat dalam mobil kap terbuka dengan isi penumpang Matt, Ben dan Zoe. Sudah bisa dibayangkan jika konflik kembali terjadi Zoe menjadi penengah 2 orang pria ini. Sepintas saya jadi teringat film 3 Hari untuk Selamanya ketika menyaksikan alur ini. Berbeda memang secara keseluruhan.

Awal mobil mulai melaju konflik kembali terjadi, Ben menjadi risih karena suara operator penunjuk GPS dari smartphone Matt, tanpa basa basi benda itu dibuang ke jalan dengan alasan dimobil ini khusus hanya untuk analog.  Anda bisa bayangkan ekspresi Matt seperti apa, karena awal film diperlihatkan Ia tidak bisa lepas dari smartphone.

Tindakan ini berbalas ketika Ben sedang asyik mendengarkan musik, Matt mengambil dan membuang kaset dari tape yang sedang digunakan, persis sama seperti apa yang dilakukan Ben. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan ini, terlihat childish dan lucu hahah.

Jika menyaksikan suguhan pemandangan di sepanjang perjalanan saya berasa ingin turut serta pada mobil itu, sungguh menarik sepertinya bisa melirik kiri dan kanan begitu menyaksikan hal menakjubkan. Apa lagi oleh mata yang tidak begitu terbiasa melihat landscape Amerika.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konflik sepertinya menjadi bagian dari kehidupan Ben, karena dengan sikap sarkasnya selalu menjadi pemicu timbulnya masalah. Hal ini kembali terjadi ketika di tengah perjalanan mereka memutuskan berkunjung dan bermalam di rumah Dean yaitu adik Ben sendiri.

Di sini terlihat keluarga terdekat Ben sudah maklum dengan sikapnya, dan di sini baru terungkap fakta bahwa Matt lebih banyak menghabiskan waktu bersama paman dan istrinya karena pernah tinggal di sini sampai lepas remaja. Pada suatu acara malam saya sempat terkagum dengan Ben.

Dean: “Apa yang begitu istimewa pada foto-foto ini hingga kau menempuh perjalanan jauh untuk mencetaknya?”

Ben: “Ini semacam karya-karya awalku, foto-foto yang aku ambil sangat lama”

Matt: “Bagaimana jika saat kau mendapatkan hasilnya dan itu sampah? Bagaimana kau tahu apa saja isi di dalam rol film itu?”

Ben: “Aku ingat setiap foto yang pernah aku ambil”

Terdengar seperti percakapan yang akrab, namun tetap saja tidak berakhir demikian. Karena Matt kembali kesal ketika ditanyakan kepada Ben kapan tanggal ulang tahunnya Ben kebingungan menjawab, bahkan jawabannya dibantu oleh Dean.

Meskipun perseteruan selalu berulang, perjalanan tidak batal di tengah jalan. Mungkin karena faktor kebutuhan akan Spare Sevens oleh Matt dan patuhnya seorang Zoe sebagai perawat pribadi. Sembari meneruskan perjalanan Ben seperti tidak ada belas kasih karena mempertanyakan kenapa Matt dan Zoe tidak bercinta padahal mereka telah sekamar dan sama-sama dalam desakan biologis, notabene keduanya telah sama-sama gagal dalam pernikahan.

Tentunya hal ini membuat Matt yang menjadi memanas, meski Zoe terlihat masih sabar. Meski matanya mulai sembab dan suasana melanjutkan perjalanan mulai canggung dan berkaca-kaca. Seperti sebuah adegan jelas seseorang ingin menumpahkan air matanya.

“Apakah kau pernah bahagia Ben” Matt melontarkan pertanyaan demikian ketika Ben masih memancing konflik.

“Biar aku beritahu padamu. Kebahagiaan itu omong kosong. Itu hanya mitos besar dari abad ke-20. Kau pikir Picasso bahagia? Kau pikir Hemingway juga bahagia? Hendrix? Mereka semua menyedihkan, takkan ada seni bernilai besar tercipta dari kebahagiaan. Aku bisa beritahu itu padamu. Ambisi, seks, amarah. Itu adalah mesin yang menggerakkan seniman besar. Setiap orang-orang besar. Sebuah lubang yang takkan dipenuni. Itu sebabnya kita semua adalah bajingan yang sangat menyedihkan” Dengan gamblangnya Ben tentunya memberikan pernyataan ini.

Meskipun Ben digambarkan sebagai pria tua yang menyebalkan, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum jika sisi bijaksana muncul dan kata-katanya begitu menggugah.

Tak peduli betapa bagusnya sesuatu terlihat, kau tidak bisa mengalahkan yang nyata sebenarnya. Orang lebih banyak mengambil gambar saat ini melebihi sebelumnya. Miliaran foto, tapi tak ada klisenya. Tak ada cetakannya. Itu hanya data, debu-debu elektronik.

Bertahun-tahun dari sekarang saat mereka menggali kita, tak ada satupun foto yang ditemukan. Tak ada catatan tentang siapa kita, bagaimana kita hidup.

Saya menjadi begitu terperangah dan sempat mengulang kembali pada adegan ini, sepertinya inilah pilihan yang dilakukan oleh banyak rekan-rekan sesama pegiat fotografi yang masih saja bertahan dengan kamera analog. Dan Matt memicu pertanyaan kepada Ben, sehingga jawaban ini keluar seakan mewakili alasan kenapa fotografi analog masih eksis meskipun digempur oleh majunya teknologi kamera digital belakangan ini.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Baca juga: Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Sesampainya di Chicago pada malam harinya, adalah kesempatan Matt untuk negosiasi dengan Spare Sevens. Di sini mulai terjadi percakapan positif antara kedua anak, berkat tantangan Ben meminta Matt presentasi mengenai pertemuannya. Saran dari Ben akhirnya diterima Matt, meski setelah akhir pembicaraan salah satu personil band menertawakan Ben yang tidak bisa menahan diri untuk ngompol dalam celana.

Matt terlihat tidak nyaman, nurani seorang anak perlahan mulai diperlihatkan. Dengan pilihan sulit meninggalkan band yang selama ini diburunya begitu saja. Namun, apa yang terjadi? Ben tidak merasa bersalah dalam gagalnya negosiasi ini. Zoe ikut membela Matt dengan menjelaskan bahwa Ia membela Ben. Meski berujung perdebatan dengan bosnya kemudian berakhir dengan pemecatan. Konflik tetap terjadi berulang.

Bagaikan segala sesuatu terjadi dengan alasan, pagi keesokan harinya Matt menemukan Ben sedang tidak sadarkan diri di lantai kamarnya, hal ini membuat Ben harus diopname. Pada bagian ini Matt mulai terlihat begitu khawatir, dan pada suatu momen sang ayah dengan bercucuran air mata bercerita tentang kesalahan dimasa lalu dan meminta ma’af sambil bercucuran air mata. Sungguh adegan yang begitu menyentuh, Anda jangan sampai melewatkan adegan ini!

Keesokan harinya adalah batas terakhir proses Kodachrome, meski dalam kondisi semakin melemah Matt memaksa Ben untuk segera melanjutkan perjalanan ke Parsons, Kansas. Menempuh perjalanan sepanjang malam akhirnya sampai pada tujuan. Apakah berakhir begitu saja?

Saya cukup tercengang ketika menyaksikan banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk tujuan sama. Bahkan ada yang memasang tenda di parkiran. Sungguh menakjubkan.

Sesampainya di Dwayne’s photo cukup membuat jantung berdebar-debar, karena seorang wanita operator lab menyatakan bahwa proses development telah ditutup bahkan pada hari sebelumnya. Bayangkan saja sudah menempuh perjalananan jauh selama seminggu tapi tetap tidak bisa memproses rol film yang telah dipersiapkan.

Akhirnya Dwayne sendiri selaku pemilik lab muncul, ternyata sudah disiapkan jatah untuk Ben meski antrian penuh sekalipun. Terlihat di sini Matt mulai kagum pada ayahnya.

Tidak berhenti di situ saja, ketika mereka mencari cafe untuk beristirahat sejenak. Ada salah satu pengunjung yang menyapa Ben, dan dalam waktu sekejap dia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Semua orang mengenalinya dengan begitu hormat.

Kita semua ketakukan dengan waktu, dan bagaimana sesuatu menghilang. Itu sebabnya kita menjadi fotografer. Tugas kita adalah melestarikan.

Kita memotret untuk menghentikan waktu. Untuk mempertegas momen terhadap keabadian. Sifat manusia membuatnya nyata.

Sepenggal petuah yang begitu menginspirasi pada potongan terakhir pada kisah ini. Karena pada malam harinya Ben meninggal dunia dalam keadaan sedang membersihkan peralatan kameranya. Jika diperhatikan lebih seksama maka terlihat Ia hampir tiap saat ketika istirahat merawat kamera dengan begitu telaten.

4 rol yang diantarkan ke Kansas ternyata menjadi suatu bagian paling mengharukan menurut saya pada film ini, kenapa? Ini menjawab prasangka Matt yang menganggap ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya. Karena semua rol ini adalah momen Ben bersama istri, foto ketika Matt berulang tahun ke-4. Suatu foto-foto yang memperlihat Ben begitu menyayangi Matt.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konklusi 

Jika Anda begitu berharap bisa mendapatkan begitu banyak pembahasan mengenai seputar fotografi, atau profil seorang fotografer besar. Maka film ini akan membuat kecewa.

Karena lebih banyak menceritakan mengenai konflik ayah dan anak. Dan tentunya dimbubui oleh kisah romansa oleh Matt dan Zoe. Perjalanan seminggu ke Kansas bisa menceritakan dengan jelas latar belakang konflik yang terjadi pada masa saat ini dan bahkan hal terjadi pada gagalnya pernikahan setiap tokoh utama. Pada Ben penekanan kesalahan sikap dia yang menyebabkan Matt sulit untuk mema’afkan

Film ini syarat akan pesan moral, apakah itu dari bagian mengasihi orang tua dan anak. Serta hal-hal prinsip Ben sebagai seorang seniman besar yang memilih hidup pada jalur fotografi. Banyak kutipan menginspirasi yang layak disimpan.

Photo Stories, Photography,

Consciousness, Photo Series by Santosh Korthiwada

Consciousness

About 

Like most people, my relationship with photography started way before I held a camera in my hands for the first time. On our wall at home, there was a photograph of my grandparents from the 1940’s, probably taken a few years after their marriage. I remember asking them a thousand times, in utter disbelief, if they were the same two people in that photograph. My grandparents always said ‘yes’ and were amused at my question. I couldn’t believe them because the photograph was showing me something from the past, and the reality looked so very different. In another photograph of my aunt, uncle, and cousin; a very candid and lively moment captured and although it was made years ago, what was shown in the photograph seemed real in the present. The photograph told me the truth and it also lied to me, at the same time. It’s just that I’m now able to articulate it, and recollect the moments of absolute fascination with the photograph.

I grew up in a small village called Chegunta, in Telangana state, India. My life took many extreme twists and turns, and after four decades of craziness, I’m what I’m today. My wife Kavya and our son Ishaan have been my strength, and they have always been supportive of me.

I enjoyed drawing and painting more than regular studies, and my love affair with the arts started at a very young age.  Camera was introduced to me in my B.F.A, and I didn’t do much with it except for a few snapshots. It was only when I bought my first 35mm Film SLR camera, I took my hobby seriously. Thanks to photography, my travels became frequent and more interesting, made new friends, interacted with a lot of strangers, and I was exposed to random acts of kindness from totally unexpected situations.

Just like attempting to perseive architecture through music, music through mathematics, mathematics through sculpture, sculpture though language, language through painting, painting through dance, and so on, my work can be considered as an incomplete text because although each of these attempts are made to communicate successfully, the essential aspects are lost in translation. Each of these art forms are intrinsically different from each other and yet they are all devises to explore the inner self and for me it is photography. The more I photographed, the more I learned and the more I learned, the more I photographed. However imperfect, I love what I do and I do it sincerely.

Photography helped me see life with intensity, and depth that I otherwise would not have. It started as a hobby, became a serious passion, transformed into a profession, and now it is my way of life. People tell me that I chose the road less travelled, and with all due respect, I tell them that there is no road at al. First, I must pave it to walk on it.

Artist statement

My major project is titled ‘Consciousness’ and it probably took me at least five years to bring it to completion.

Consciousness for me is an unending, ever-changing flow of imagination that never ceases to grow; with and without a singular answer. Contemplating, observing, reacting, and presenting everyday things and questioning my perceptions is what I am passionate about and that is what this project is about. What makes this project uniquely positioned is the choice of everyday subject matter juxtaposed as visual pairs. This decision is to stimulate curiosity and challenge conventional thinking. In the contemporary context, considering the time in which information bombardment and cognitive overload are the new normal, in the context of photography, we must question not only the topics it depicts, but also the role of photography, the photographer, and the photograph itself. Within the framework of conventional human progress, this might seem like an anti-development strategy, but I believe that it is not. We take too many things for granted too readily, and as a photographer, I attempt to slow down the pace through this body of work, Consciousness.

This project is a visual exploration through constructed narratives. It is a play on awareness, perception, and imagination as if one is trying to solve a riddle. Regarding aesthetics and personal style, my strategy is; to pull and push the viewer from the visuals for cognitive friction, to bring out surface textures for emotional intimacy. I predominantly use active framing and capture the images both on film and digital cameras.

I think a lot and sometimes a bit too much, and I read and write, and I walk a lot. Most of my thinking, and actually photographing happens during these walks. Along with the images, I diligently construct sentence fragments and extend the narrative for an additional layer of my own way of  storytelling.

For analog, I use Kodak Tri-X 400 ISO B&W 35mm format and push it to 1600 ISO. For digital, I use Canon Mark II camera, and all the images are converted to black and white using Silver FX plugin. I mostly work in black & white because I realized that color, in general, has rarely impacted me emotionally. I do not have any childhood memories that I associate with color and all I ever liked was white or black, and technically, those are not colors. Robert Frank once said “Black and white are the colors of photography. To me they symbolize the alternatives of hope and despair to which mankind is forever subjected.”

However, I do produce color work occasionally, and may be the color started impacting me at this juncture of my life. I’m yet to figure it out.

Interest and any future projects

I experienced and observed a strange but prevalent social conditioning to excel in everything one does, and we are made to believe that anything less than excellent would lead to an unhappy life. Once upon a time, we looked at the stars and drew constellations, then we looked at the valleys and constructed industries. Later, we looked at our empty homes and made televisions and now, we looked at our bare hands and made cell phones and yet, we search for that happy life. In the name of human progress, we built great civilizations in-excess of everything, and nothing could satisfy our thirst for greatness. We are plagued with violence through wars, poverty, hunger, disease, discrimination, and have accumulated an abundance of utterly futile fame. All this is because, I think, we as a society are afraid of being ordinary and average.

Initially, I used to take up a new project only when I finished with my current one. My inexperience didn’t allow me to deal with more than one idea or concept. As I got matured with photography, I now work on at least 9 to 10 projects simultaneously. I guess, my mind is engaged and fired-up this way as of now, and I don’t know how long it will go on like this. There is no right way or wrong way with this, but what’s important is not to get comfortable with your work.

I think, there is great beauty in the ordinary. There is a lot to learn from the ordinary. So, I decided to pursue this topic for the rest of my life. As of now, it is with photography. As of now, I’m focusing on two major ongoing projects called ‘Conversations’, and ‘Absence’. And by the way, ‘Absence’ is conceptually opposite to ‘Consciousness’.

Influences 

Don’t think I can list all of them here, so I will name a few.

Even though I do get inspired from photographic work (Minor White, Harry Callahan, Aaron Siskind, Josef Koudelka, Masahisa Fukase, Daido Moriyama), many of my influences come from non-photographic disciplines such as philosophy (Immanuel Kant, Jaques Derrida, Carl Jung), poetry (Adi Shankara, Jalaluddin Rumi, Annamacharya), cinema (Akira Kurosawa, Satyajit Ray, Guru Dutt, Narsing Rao, and literature (Sri Sri, Thapi Dharma Rao, Ayn Rand).

Some of my favorite books are ‘On Photography’ by Susan Sontag, ‘Camera Lucida’ by Ronald Barthes, ‘The Photographer’s Eye’ by John Szarkowski, ‘Photography Between Covers’ by Thomas Dugan, ‘Light Readings’ by A.D. Coleman, ‘Concerning the Spiritual In Art’ by Kandinsky, ‘Sapiens’ by Yuval Noah Harari, ‘Man’s Search For Meaning’ by Viktor E. Frankel, ‘An Autobiography of a Yogi’ by Paramhansa Yogananda.

Galleries and museums overwhelm me sometimes. So, I walk around quickly and settle down in front an art-object. I remember visiting SFMOMA and sitting in front of a photograph for almost four hours. It was an image of a makeshift chair by Mexican photographer named Anthony Hernandez, and the title is ‘Landscapes for the Homeless # 18, 1989.

Facebook

Instagram

Website

Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Solitude, Photo Series by Putri Nadhira Saraswati

Solitude by Putri Nadhira Saraswati

Analog photography exhibition contributor Tabu volume 1

Bio

My name is Putri Nadhira Saraswati. I am currently taking major in architecture in Bandung. I started photography as a hobby when I was in high school. I just shot what I like, and I find it relaxing for me.

But the process doesn’t just stop there. I love how photographs can take me back to how I feel when I take the shot, and I would like other people to feel it too. So recently, I try to explore photography as a way to express my feeling and tell stories.

Project Description

This actually isn’t a really well-thought-out project. This is more of a spontaneous project. I spent a lot of time alone and thinking at the moment, and the idea just popped up. Unintentionally, I call this project ‘Solitude’.

I believe that people has their own way to find solitude. To take time for ourselves, reconnecting with our own minds, building an atmosphere to recharge our energy. Some people find it in quiet places, some may even find it in crowded places. A morning run, a walk into nature, writing a journal, or starring at buildings. Simple things to simply make us feel better.

Influences

Basically everything around me. Movies, music, poetry, traveling, even deep talks with my friends can influence my work.

Links

Blog
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Putri Nadhira Saraswati

Photo Stories, Photography, Project,

The Arrival, Photo Series by Andi Sudjana

The Arrival,  by Andi Sudjana

Project description

The arrival was my first attempt to make a photo story based on a science fiction background. It was created initially to response to a submission of Bungkus! (Bandung photography Now!) In 2014.

The idea is to reconstructed or re-imagined the arrival of alien entities to Bandung city based on random article that I found on the internet.

At that moment of the idea emerged I already have some random candid photos that I took during my times wandering my city and somehow it was coincidentally fit to the theme that I want to produced, after that I continue building the story and at the time of presentation of the submission, The Bungkus! Team help me arranged and sequenced the story since it was also my first time creating a photo story.

The Arrival also has been presented as a group exhibition during Bandung photo showcase 2015 event in Bandung, Indonesia.

Short bio:

Andi Sudjana (b.1986), Photography Enthusiast based in Bandung, Indonesia.

Facebook

Instagram

Photography, Poem,

[POEM] Senja Kala Itu

Senja Kala Itu

Karya: Tomi Saputra

Masih tentang lamunan dibalik selembar kaca

Dimasa hujan berbisik lirih dengan sendunya

Mengemas rindu menjadi semakin menggebu meskipun senja kian
kelabu

Sangat beragam rupa sajak yang memuat tentang senja

Atau mengenai hujan yang dikaitkan dengan momen terbaik bernostalgia

Jangan menjadi muak kawan,

Ini hanyalah pengulangan pada siklus kumpulan kata

Lepaskan batasanmu, buang gengsi penahan sisi melankolis itu

Nikmati ritme rintik turunnya

Terlarutlah dalam suasana dramatisnya, karena ini bukanlah dosa

Hanya memanjakan diri sesaat, menikmati ketika jiwa bercumbu dengan alam

Mari hela hapas sejenak, dan bersyukurlah bahwa kamu masih ada

Bandung, November 2017