Browsing category

Photography

Photography, Poem,

[POEM] Di Antara Persimpangan Menuju Jalan Pulang

Di Antara Persimpangan Menuju Jalan Pulang

Karya: Tomi Saputra

Persekutuan bulir dari tangisan langit merangkak di balik kaca

Bersenandung riang seakan menepis sore yang kelabu

Berbanding terbalik dengan atmosfer di hati yang sedang melamun nanar

Rindu akan aroma persawahan yang diantarkan angin

Nyanyian burung balam yang bermain di sela nyiur melambai

Suara serangga dikala maghrib menjelang, yang menjadi alarm nyamuk untuk mencari mangsa

Dan syahdunya udara sejuk yang menemani embun pagi

Saat ini, dalam suatu persimpangan menuju jalan pulang

Mengais harapan di kota bunga yang katanya menenangkan, menyenangkan

Menahan kerinduan sembari mendekap malam

Bandung, November 2017

Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Fault Line, project by Sophie Barbasch

Fault Line, by Sophie Barbasch

About

I started studying photography in high school and then got more serious about it during college. After college, I realized I wanted to pursue my MFA.

Grad school helped me a lot in terms of understanding what I was trying to do and say with my work. I feel like I am still processing some of the feedback I got, even though I’ve been out of school for a number of years now.

I have experimented with other media, but I feel like photography comes closest to expressing how I experience the world. Even so, I still think a lot about what images cannot express and how to fill those gaps.

Preferences, preparations, photography equipment

It depends a lot on the project—sometimes, I stage the images and work with a tripod. For other projects, I just shoot hand-held and respond in the moment.

I am using the Mamiya 7 and the Sony mirrorless camera right now. I love film, but digital is very liberating.

Project statement

Artist Statement: Fault Line

Fault Line is a story about my family. The protagonist is my younger cousin Adam. It takes place in Brooklin, Maine, where he lives. I have been working on this project intensively since 2013.

It was then that I went to visit Adam and was overwhelmed by his intelligence, humor, and vulnerability. I couldn’t help but feel connected to him. We understood each other in a way no one else in the family did.

I felt like he was my stand-in, my double. When we started taking pictures, we both wanted to make the same images; I didn’t have to explain anything.

In 2013, I had already been estranged from my father for seven years. I wanted to return to a family base to understand what had happened.

I wanted to make images that expressed moments from the past: moments of conflict, isolation, and despair. I also wanted to express the desire to connect to family and to belong to something.

I chose the surreal landscape of Brooklin, sandwiched between the coast and the dense forest, to begin exploring these fragments from my childhood. I used Adam as my model.

Over the years, I also began to incorporate myself, my brother, my aunt, my cousins, and finally my father, into the images.

Influences and favorite stuff within and outside of photography

At the moment, I am inspired by the Not Surprised project (http://www.not-surprised.org/) as well as Barbara Kruger’s new NYC Metrocard series. I just finished reading The Babysitter at Rest by Jen George, which I loved. My new favorite photo book is Blind Date by Leiko Shiga.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Sophie Barbasch

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Poison, by Aji Susanto Anom

POISON

Photo Series by Aji Susanto Anom

Orgasm, La petit mort, The Little Death

This is a poison, a poison delivering my visual interpretation about sex and death. Sex and death is a nature of being, sex is the gate to the birth yet death stands at the end human life. But is it true that sex and death is a matter of life and reproduction?

Bio

Aji Susanto Anom (b.1989) is a photographer based in Indonesia. His work is basically explores all his personal question about the darkness of his deeper life. He has published three photobooks independently called “Nothing Personal”, “Poison” and “Recollecting Dreams”. In 2015, he was selected as one of the participant of “Angkor Photography Workshop” under the mentor: Antoine D’Agata and Sohrab Hura. His works can be discovered through his featured publication on Lens Culture, The Invisible Photographer Asia, Top Photography Films, Monovisions, Dodho Magazines, Sidewalkers.Asia and more.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Aji Susanto Anom

Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

A Girl from Kapan, Photo Story by Ruben Hardjanto (ROE)

About

In my daily life, I lead a Architect Bureau in Jakarta.

I take a photo around the city I lived in my spare time .

Photography is a way for me to relax, meet new friends and exploring my way to tell stories
Later, i found many social issues around me.
Social issue that trig me to dig it deeper.

I realize that picture can tells a thousand word,
I started photographing that issue and tell the story.

Influences

I found a lot of beauty conveyed by humans through song, poetry, and painting.
In every great artwork created by human, I see the unique presence of its maker.

Lately, I read Haruki Murakami’s book and it amazed me.

How he play with the word and bring a simple story up through his imagination is demonstrating the infinite power of imagination.

Project description

“A Girl from Kapan” is a story of a girl named Wati,
Wati lives in small village named Beka, 8km from Kapan, North Mollo, NTT.

Every day, Wati has to walk 1,5- 2 hours to go to school.

In school days, she leave her house at 5-6 am and has just arrived at 3-4 pm
Since Wati grew up in a poor family, she has to help her family to work after school.

After long way walk to school and work at home, the daily learning process far from ideal.
Less of water supply, no electricity and the lack of awareness about education is another issue.

We are aware that education is the starting point for this kids to grow and break out the poverty.

This project is created as a trigger to move people for contributing to their needs.

In the end of 2017, we have prepared a “Shelter House” (a house that close to the school) for kids whose live far from school.

With parental consent they can stay in that house for free from Monday to Friday.
Hopefully, this small step can be the first step for a bigger change.

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Move On, Photo Series by Adi Putra Purnama

Move On, Photo Series by Adi Putra Purnama

About

Nama saya Adi Putra Purnama, tinggal di Solo, Jawa tengah.

Saya lulusan S1 Pend. Teknik Mesin Universitas sebelas maret. Sekarang saya bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sragen Jawa tengah.

Awal mula saya mengenal fotografi yaitu ketika saya mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan. Sebenarnya perkenalan saya dengan fotografi karena ketidak-sengajaan. Anggota UKM yang saya ikuti sedikit dan hanya ada 6 laki-laki satu angkatan termasuk saya.

Saat itu yang tertarik dengan jabatan fotografer tidak ada, oleh karena saya ditunjuk untuk mengisi bagian tersebut, meski saya juga tidak mengetahui fotografi itu seperti apa.

Saya belajar fotografi secara otodidak. Kamera pertama yang saya gunakan adalah Canon 1000D (itu pun milik UKM). Lambat laun berkat bimbingan kakak tingkat saya mampu menguasai dasar-dasar fotografi. Dari sana lah saya mulai menyukai fotografi.

Pertemuan saya dengan mas Taufan Wijaya dan terinspirasi oleh film The Bang Bang Club membuat saya ingin menjadi seorang wartawan foto.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, saya gagal menjadi wartawan. saya pernah melamar ke sebuah koran lokal namun gagal.

Akhirnya saya menerima pekerjaan saya sekarang yaitu sebagai guru dan tetap memotret.

Pertemuan saya dengan mas Aji Susanto Anom mengusik pemikiran saya tentang fotografi. Dahulu menurut saya fotografi jurnalistik adalah foto yang sangat indah dan luar biasa, karena foto tidak hanya sebuah foto, ada sesuatu dibalik sebuah foto tersebut dan memiliki kekuatan yang luar biasa.

Setelah saya bertemu dengan mas Aji Susanto Anom saya baru mengetahui aliran foto yang lain, yaitu foto sebagai media mengungkapkan perasaan, foto yang diperuntukan untuk diri sendiri.

Mulailah saya membuat projek tentang perasaan saya, salah satunya projek ”Move On”.

Kamera saya yang pertama adalah Canon 1100D, kemudian saya membeli camera digital Canon Powershoot A2500. Berjalannya waktu saya lebih tertarik dengan kamera yang minim dalam kemampuan (saya terinspirasi oleh Daido Moriyama).

Saya mulai menganggap kamera adalah senjata, fotografer adalah orang yang menggunakan senjata tersebut. Hal terpenting dalam menghasilkan sebuat karya adalah orang dibelakang senjata tersebut (saya terinspirasi oleh Seno Gumira Ajidarma lewat bukunya “Kisah Mata”). Saat ini saya hanya memiliki kamera Canon Powershoot A2500, sedangkan DSLR saya jual.

Metode memotret saya sekarang ada tiga.

Pertama, saya memotret berdasarkan dasar-dasar fotografi jurnalistik. Saya masih memiliki ketertarikan dalam hal jurnalistik.

Kedua, saya memotret berdasarkan aliran Street Photography.

Ketiga, saya memotret berdasarkan perasaan yang saya rasakan (Saya sedikit susah menjelaskannya untuk yang kedua ini). Bagaimana suasana hati saya, saat saya memegang kamera, dan saya memotret apa yang saya lihat dengan perasaan saya saat itu. Begitulah metode yang kedua ini. hehe

Berhubungan dengan projek saya yang berjudul “Move On” ini adalah kerena perasaan saya yang ditinggal menikah seseorang yang pernah singgah di hati saya. Saat saya merasakan kesedihan itu, saat saya merasakan sakit hati itu, saat itulah saya memotret.

Hasilnya adalah rangkaian foto dalam projek “Move On”. Tentang judul “Move On” saya menganggap bahwa kebahagiaan yang sebenarnya adalah dengan menerima kesakitan, bukan lari dari rasa sakit tersebut.

Contohnya saat tangan kita terluka karena tergores pisau, kita tidak bisa membayangkan bahwa kita sedang tidak terluka, membayangkan dipadang rumput yang luas nan indah dan melupakan rasa sakit di tangan akibat goresan pisau, padahal tangan kita memang sedang terluka.

Berkat rangkaian foto-foto tersebut sekarang saya sudah terbiasa dan terbebas dari kesedihan akibat cinta.

Kegemaran saya diluar fotografi adalah membaca, berpikir dan olahraga. Seorang yang saya idolakan adalah Seno Gumira Ajidarma. Ia wartawan, fotografer, penulis, budayawan, dan pemikir. Sekarang pun saya sedang belajar menulis agar bisa menyalurkan pemikiran dan perasaan saya.

Ungkapan yang menginspirasi saya adalah dari Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah proses keabadian”. Didalam pikiran saya, ungkapan tersebut berubah menjadi “Berkarya adalah proses keabadian”.

Saya bukan seseorang yang mecintai fotografi dari awal atas diri saya sendiri, sehingga saya terlalu naïf jika mengatakan bahwa kalau tidak memotret saya akan mati.

Namun, fotografi adalah salah satu hal yang membuat saya lebih hidup.

Sekian, maaf jika terlalu bertele-tele, dan terima kasih atas ketertarikannya dengan projek saya yang berjudul “Move On”. Salam kenal.

 

 

 

Move On Project Desription

Aku merasa ini hanya mimpi buruk, tapi ternyata ini semua nyata.
Dia menikah 18 januari 2017, dan hari itu adalah akhir dari hubungan kami. Malam-malam setelah itu, sepi selalu menghampiriku. Handphone yang setiap malam selalu dipenuhi chat darinya, kini seperti mati suri. Aku sering membayangkan bagaimana dia melewati waktu malam bersama suaminya. Padahal sebelumnya, kita masih sering melewati malam bersama.

Beberapa foto ini adalah foto-foto yang aku ambil saat dia terlintas dalam pikiranku. Foto-foto tersebut merupakan proses diriku untuk bangkit kembali.

Berkat semua itu, sekarang aku mampu menerima rasa sakit dalam hatiku dan menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Aku yakin setelah ini akan datang “dia” yang lain.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Adi Putra Purnama

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja
Interviews, Photography, Street Photography, Uncategorized,

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

Silahkan perkenalkan diri Anda

Nama Homer Harianja dan saya street photographer

Kenangan apa yang Anda ingat ketika awal mula mengenal fotografi?

Foto Bapak yang memeluk saya di Pantai Ancol. Saya ingin anak saya mengingat seperti saya mengenang Bapak melalui foto.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Street photography sepertinya saat ini menjadi pilihan utama yang Anda pilih pada jalur fotografi, kenapa?

Saya seorang pejalan. Sejak kecil saya sudah memilih berjalan ketimbang bersepeda. Setelah smp saya sering berlama-lama di halte dengan membiarkan angkutan yang saya tunggu berlalu demi menyaksikan kehidupan yang lalu-lalang dan terkadang apa yang disaksikan tadi dengan genit akan saya tulis di buku harian.

Saya baru tahu kemudian bahwa apa yang saya lakukan ini adalah aktivitas flaneur di Paris di pertengahan abad 19. Jika flaneur merekam lewat kata, street photographer melanjutkan tradisi itu.

Sensasi apa yang Anda rasakan ketika pertama kali mendapatkan notifikasi menjadi finalist London Street Photography Festival?

Awalnya senang tapi sekarang biasa saja. Saya sebenarnya ingin menghancurkan mitos bahwa menang di lomba internasyenel itu prestasi besar.

Jangan itu dijadikan standar hebat atau tidaknya seseorang. Saya mencurigai ini penyebab matinya kritik.

Trendnya sekarang orang menaikkan mutu dengan meminjam institusi bukan karya itu sendiri.

Postingan status Facebook Anda sering kali menjadi kontroversi, keresahan apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada publik?

Saya tidak resah. Saya menawarkan gagasan. Kalau tidak sesuai dibantah saja.

Jika pada suatu ketika ada orang yang lebih muda dari Anda memberikan kritik pada status anda di Facebook dengan komentar tidak menyenangkan, apa yang anda lakukan?

Komentar yang tidak menyenangkan itu adalah komentar yang menyerang pribadi.
Tetapi kalau komentarnya mengandung argumentasi, saya akan perhatikan. Sesuai atau tidak.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Bagaimana Anda melihat street photography Indonesia saat ini?

Seperti balita yang sedang belajar berjalan dan di saat ulang tahunnya yang ke-5 orang-orang menghadiahkannya sebuah mobil karena orang-orang itu tidak bisa membedakan antara mobil dengan mobil-mobilan.

Kata street kekinian juga beberapa kali Anda gunakan pada caption foto untuk postingan di media sosial, apa deskripsi street kekinian ini menurut anda?

Street yang berbicara kepada fotografer bukan kepada khayalak. Street yang diapresiasi oleh fotografer karena nilai fotografisnya bukan isinya.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pernah membayangkan menjadi Bruce Gilden di jalan Malioboro?

Tidak. Saya pemalu.

Forum diskusi online atau offline, kenapa?

Saya bukan pembicara publik yang baik. Saya suka melakukannya dalam situasi informal, sambil nyoto misalnya.

Tokoh antagonis street photography Indonesia, dari mana panggilan ini berasal? Dan bagaimana tanggapan Anda terhadap panggilan yang disematkan tersebut, sedangkan bagi sebagian orang ini bisa berkonotasi negatif?

Tokoh antagonis di atas maksudnya bukan seperti penyebutan tokoh masyarakat tetapi penokohan seperti pada karya fiksi, antagonis dan protagonis.

Saya melabeli diri saya sendiri seperti itu supaya seimbang. Yin dan Yang. Gak seru kalau semuanya “LIKERS”

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Meninjau kembali kepada kejadian beberapa minggu ini mengenai ajang kompetisi street photography pada Salon Foto Indonesia, apa yang membuat Anda begitu termotivasi untuk mengkritisi juri dengan lantangnya?

Saya melihat banyak permasalahan dalam penjurian foto. Mereka seperti ruang gelap yang tidak tembus cahaya dengan berlindung dari kalimat tidak dapat diganggu gugat.

Yang saya lakukan cuma pembacaan tandingan pada sebuah karya. Biasa bangetkan? Apa Anda tidak punya pengalaman dalam suatu lomba mendengar keluhan dari peserta yang mencibir, ah jurinya payah? Itu menunjukkan sesuatu kan.

Berbeda misalnya kalau juri membuat pertanggungjawaban publik. Nah itu baru keren.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Mimpi terbesar Anda untuk street photography Indonesia?

20 tahun ke depan saya ingin melihat foto-foto jalanan hari ini. Semoga saat membeli bukufoto atau main ke galeri yang saya lihat bukan cuma decisive moment.

Lihat itu, penggagasnya saja bosen dan kembali melukis. Saya ingin lihat Jogja, saya ingin lihat Kediri, saya ingin lihat Padang, saya ingin lihat Selat Panjang, saya ingin lihat Makassar dan kota-kota lainnya.

Anda cukup berani untuk mengkritisi berbagai hal difotografi tanah air, dan jarang yang berani bersuara seperti Anda. Apakah tidak ada rasa khawatir jika nantinya mempunyai banyak musuh?

Saya sedang menjadi kawan yang baik dengan berkata jujur pada sebuah karya. saya tidak menyerang orangnya. Saya pernah mengkritik foto-foto street dengan low angle tanpa motif dan menyebutnya sebagai foto kodok.

Foto-foto yang hanya gaya semata. Ada teman yang kemudian mengasosiasikannya dengan seseorang. Dipikirnya saya menyerang dia padahal waktu ketemu ngopi bareng.

Bagaimana Anda menilai pendapat orang lain terhadap karya anda?

Saya biasanya mendengarkan saja. Pengarang sudah mati.
Saya akan terlibat jika argumentasinya memang menarik untuk ditanggapi tapi bukan dalam pemaknaan karyanya.

Jika suatu malam Anda terbangun dari tidur, siapa fotografer yang ingin anda temui?

Tony Ray-Jones.

Henri Cartier-Bresson, Joel Meyerowitz, Vivian Maier, Richard Kavlar, Martin Parr. Bagaimana pandangan Anda terhadap para tokoh yang saya sebutkan ini?

HCB meletakkan pondasi Street Photography modern dan sialnya sering disalah pahami.

Joel Meyerowitz, Street Photographer yang beralih ke Landscape lalu membuat bukufoto Landscape dan best seller.

Vivian Maier, Fotografer jenius (flaneur sejati) yang menghidupi dirinya dengan menjadi pengasuh anak.

Richard Kalvar, Street Photographer sepuh yang masih nyetrit sampai hari ini. Long Live, Sir.

Martin Parr, King of Kitsch.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pilih Honda Jazz atau Leica M10?

Ini beneran mau dikasih?

Impian yang belum terwujud dalam menekuni fotografi?

Menghasilkan 1 foto street yang bisa saya banggakan.

Buku foto favorit?

Pictures From Home – Larry Sultan

Project terbaru dan jangka panjang?

Projet terbaru memotret jalanan di Sulawesi
Jangka panjang, memotret Malioboro

Satu kata untuk street photography

Jalanan

Facebook
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Homer Harianja