Browsing category

Uncategorized

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal
Blog, Photography, Reviews, Uncategorized,

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Kodachrome Movies

Jika Anda berharap menyaksikan kisah para fotografer dengan aksinya di lapangan pada proses pengambilan gambar seperti pada Bang Bang Club maka di Kodachrome tidak akan banyak ditemukan. Kecenderungan lebih mirip film drama The Secret Life of Walter Mitty. Dan berfokus hubungan antara ayah dan anak yang tidak begitu harmonis.

IMDb memberikan rating 6.8/10 dan skor 71% pada Rotten Tomatoes tentunya sudah cukup layak dipertimbangkan untuk ditonton.

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar nama Kodachrome?

Kodachrome  adalah salah satu color slide film dengan ASA 64 turut menghiasi jajaran produk Eastman Kodak yang diperkenalkan pada tahun 1935, meskipun banyak diminati namun sepertinya bukan menjadi pertimbangan dari pihak Kodak untuk tetap memasarkan. Sehingga pada tahun 2009 slide film ini akhirnya discontinued.

Kodachrome juga menjadi pilihan favorit bagi beberapa fotografer ternama seperti Steve McCurry & Joel Meyerowitz.

Pada film ini dikisahkan Benjamin Ryder (Ed Harris) seorang fotografer profesional yang semua karya menggunakan Kodachrome ingin memproses 4 rol dari awal karyanya ke Kansas, karena hanya di kota ini lah tersisa satu lab terakhir di dunia yang melayani proses development roll film ini yaitu Dwayne’s photo.

Dalam perjalanan ke Kansas Ben ingin ditemani oleh putranya Matt Ryder (Jason Sudeikis), yang bekerja di label musik rekaman dengan karir tidak begitu menggembirakan. Hal ini terlihat pada adegan pembuka ketika perseteruan terjadi dengan atasannya, karena Ia tidak menunjukkan hasil bagus dalam hal pencarian artis berbakat untuk direkrut rekaman.

Yang menarik dari Kodachrome adalah konflik sudah bermula dari awal film ini berjalan. Matt sudah mendapatkan banyak masalah karena gagalnya melakukan perekrutan artis, dan nasibnya di ujung tanduk. Cuma punya waktu 2 minggu untuk mendapatkan band Spare Sevens yang kala itu sedang naik daun.

Ketika kembali pada ruang kerjanya Matt mendapati Zoe Kern (Elizabeth Olsen) yang mengaku sebagai suster pribadi Ben, tujuannya adalah memberikan informasi kalau ayahnya sedang sekarat karena kanker hati, dan sisa umur berdasarkan prediksi dokter cuma sebatas 3-4 bulan. Zoe juga meminta kepada Matt untuk turut serta dalam perjalanan ke Kansas. Sudah bisa ditebak bahwa Zoe ini wanita yang cantik.

Wajah Elizabeth Olsen membuat saya penasaran, karena seakan tidak asing. Ternyata jika mengikuti Avengers  dari seri Age of Ultron sudah hafal tentunya dengan Wanda Maximoff / Scarlet Witch.

Mungkin karena momen tidak begitu pas, baru saja pusing dengan tekanan kerja Matt terlihat agak emosional ketika menerima kabar ingin diajak kembali bertemu dengan Ben. Dalam percakapannya bersama Zoe diketahui lah bahwa anak dan ayah ini sudah tidak bertemu selama kurun waktu 10 tahun. Wow, sungguh hubungan rumit yang tidak bisa saya bayangkan.

Zoe sepertinya bukan wanita yang tidak begitu mudah menyerah, hal ini terbukti karena terus berupaya membujuk Matt setidaknya untuk menghadiri makan malam di rumah Ben. Rasa sayang kepada ayah dalam hati paling terdalam membuat Matt sepertinya menyempatkan hadir.

Pertemuan di rumah Ben membuat saya cukup kagum, bukan karena mewahnya rumah dan segala pernak-perniknya. Namun kemunculan sosok Larry Holdt (Dennis Haysbert) yang menjabat sebagai manajer pribadi Ben. Tentunya Ben bukan fotografer sembarangan, sehingga butuh seseorang untuk mengatur segala sesuatu tentang dirinya.

Sebagai seorang fotografer tentunya menjadi hal lumrah jika dinding rumah dihiasi dengan foto yang dipajang dengan ukuran besar. Entah kenapa melihat karya-karya di sini saya langsung teringat dengan Steve McCurry. Layout tertata rapi layaknya pameran tunggal.

Kesan pertama ketika karakter Ben ditampilkan sebagai sosok yang terlihat bugar, karena dengan penuh enerjik menabuh drum. Sempat terlintas dugaan saya kalau ini hanya suatu trik supaya Matt mau mengunjunginya. Dan ternyata saya berburuk sangka hahaha.

Ben digambarkan sebagai seorang pria dengan umur 60-70an, cenderung sarkas dalam setiap kata yang terlontar. Tentunya suasana makan malam tidak menjadi begitu bersahabat, yang ada malah sikap Ben memicu pertengkaran dengan Matt, kemudian ditonton oleh Zoe dan Larry. Matt juga tidak ketinggalan berbicara lantang menanggapi apa yang dibicarakan Ben.

Dan begitulah makan malam yang bertujuan untuk membicarakan rencana perjalanan ke Kansas menjadi gagal, karena Matt memutuskan meninggalkan rumah Ben dengan amarah.

Setelah pertemuan ini Larry mengambil peran penting untuk membujuk Matt, Ia menawarkan bisa mengatur pertemuan dengan Spare Sevens sembari berkunjung ke Kansas. Karena band ini akan mengadakan konser di Chicago sebagai bagian dari tur musik mereka. Dengan alasan membutuhkan Spare Sevens akhirnya Matt memutuskan mengikuti perjalanan ini.

Perjalanan ke Kansas memakan waktu selama seminggu, berangkat dalam mobil kap terbuka dengan isi penumpang Matt, Ben dan Zoe. Sudah bisa dibayangkan jika konflik kembali terjadi Zoe menjadi penengah 2 orang pria ini. Sepintas saya jadi teringat film 3 Hari untuk Selamanya ketika menyaksikan alur ini. Berbeda memang secara keseluruhan.

Awal mobil mulai melaju konflik kembali terjadi, Ben menjadi risih karena suara operator penunjuk GPS dari smartphone Matt, tanpa basa basi benda itu dibuang ke jalan dengan alasan dimobil ini khusus hanya untuk analog.  Anda bisa bayangkan ekspresi Matt seperti apa, karena awal film diperlihatkan Ia tidak bisa lepas dari smartphone.

Tindakan ini berbalas ketika Ben sedang asyik mendengarkan musik, Matt mengambil dan membuang kaset dari tape yang sedang digunakan, persis sama seperti apa yang dilakukan Ben. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan ini, terlihat childish dan lucu hahah.

Jika menyaksikan suguhan pemandangan di sepanjang perjalanan saya berasa ingin turut serta pada mobil itu, sungguh menarik sepertinya bisa melirik kiri dan kanan begitu menyaksikan hal menakjubkan. Apa lagi oleh mata yang tidak begitu terbiasa melihat landscape Amerika.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konflik sepertinya menjadi bagian dari kehidupan Ben, karena dengan sikap sarkasnya selalu menjadi pemicu timbulnya masalah. Hal ini kembali terjadi ketika di tengah perjalanan mereka memutuskan berkunjung dan bermalam di rumah Dean yaitu adik Ben sendiri.

Di sini terlihat keluarga terdekat Ben sudah maklum dengan sikapnya, dan di sini baru terungkap fakta bahwa Matt lebih banyak menghabiskan waktu bersama paman dan istrinya karena pernah tinggal di sini sampai lepas remaja. Pada suatu acara malam saya sempat terkagum dengan Ben.

Dean: “Apa yang begitu istimewa pada foto-foto ini hingga kau menempuh perjalanan jauh untuk mencetaknya?”

Ben: “Ini semacam karya-karya awalku, foto-foto yang aku ambil sangat lama”

Matt: “Bagaimana jika saat kau mendapatkan hasilnya dan itu sampah? Bagaimana kau tahu apa saja isi di dalam rol film itu?”

Ben: “Aku ingat setiap foto yang pernah aku ambil”

Terdengar seperti percakapan yang akrab, namun tetap saja tidak berakhir demikian. Karena Matt kembali kesal ketika ditanyakan kepada Ben kapan tanggal ulang tahunnya Ben kebingungan menjawab, bahkan jawabannya dibantu oleh Dean.

Meskipun perseteruan selalu berulang, perjalanan tidak batal di tengah jalan. Mungkin karena faktor kebutuhan akan Spare Sevens oleh Matt dan patuhnya seorang Zoe sebagai perawat pribadi. Sembari meneruskan perjalanan Ben seperti tidak ada belas kasih karena mempertanyakan kenapa Matt dan Zoe tidak bercinta padahal mereka telah sekamar dan sama-sama dalam desakan biologis, notabene keduanya telah sama-sama gagal dalam pernikahan.

Tentunya hal ini membuat Matt yang menjadi memanas, meski Zoe terlihat masih sabar. Meski matanya mulai sembab dan suasana melanjutkan perjalanan mulai canggung dan berkaca-kaca. Seperti sebuah adegan jelas seseorang ingin menumpahkan air matanya.

“Apakah kau pernah bahagia Ben” Matt melontarkan pertanyaan demikian ketika Ben masih memancing konflik.

“Biar aku beritahu padamu. Kebahagiaan itu omong kosong. Itu hanya mitos besar dari abad ke-20. Kau pikir Picasso bahagia? Kau pikir Hemingway juga bahagia? Hendrix? Mereka semua menyedihkan, takkan ada seni bernilai besar tercipta dari kebahagiaan. Aku bisa beritahu itu padamu. Ambisi, seks, amarah. Itu adalah mesin yang menggerakkan seniman besar. Setiap orang-orang besar. Sebuah lubang yang takkan dipenuni. Itu sebabnya kita semua adalah bajingan yang sangat menyedihkan” Dengan gamblangnya Ben tentunya memberikan pernyataan ini.

Meskipun Ben digambarkan sebagai pria tua yang menyebalkan, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum jika sisi bijaksana muncul dan kata-katanya begitu menggugah.

Tak peduli betapa bagusnya sesuatu terlihat, kau tidak bisa mengalahkan yang nyata sebenarnya. Orang lebih banyak mengambil gambar saat ini melebihi sebelumnya. Miliaran foto, tapi tak ada klisenya. Tak ada cetakannya. Itu hanya data, debu-debu elektronik.

Bertahun-tahun dari sekarang saat mereka menggali kita, tak ada satupun foto yang ditemukan. Tak ada catatan tentang siapa kita, bagaimana kita hidup.

Saya menjadi begitu terperangah dan sempat mengulang kembali pada adegan ini, sepertinya inilah pilihan yang dilakukan oleh banyak rekan-rekan sesama pegiat fotografi yang masih saja bertahan dengan kamera analog. Dan Matt memicu pertanyaan kepada Ben, sehingga jawaban ini keluar seakan mewakili alasan kenapa fotografi analog masih eksis meskipun digempur oleh majunya teknologi kamera digital belakangan ini.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Baca juga: Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Sesampainya di Chicago pada malam harinya, adalah kesempatan Matt untuk negosiasi dengan Spare Sevens. Di sini mulai terjadi percakapan positif antara kedua anak, berkat tantangan Ben meminta Matt presentasi mengenai pertemuannya. Saran dari Ben akhirnya diterima Matt, meski setelah akhir pembicaraan salah satu personil band menertawakan Ben yang tidak bisa menahan diri untuk ngompol dalam celana.

Matt terlihat tidak nyaman, nurani seorang anak perlahan mulai diperlihatkan. Dengan pilihan sulit meninggalkan band yang selama ini diburunya begitu saja. Namun, apa yang terjadi? Ben tidak merasa bersalah dalam gagalnya negosiasi ini. Zoe ikut membela Matt dengan menjelaskan bahwa Ia membela Ben. Meski berujung perdebatan dengan bosnya kemudian berakhir dengan pemecatan. Konflik tetap terjadi berulang.

Bagaikan segala sesuatu terjadi dengan alasan, pagi keesokan harinya Matt menemukan Ben sedang tidak sadarkan diri di lantai kamarnya, hal ini membuat Ben harus diopname. Pada bagian ini Matt mulai terlihat begitu khawatir, dan pada suatu momen sang ayah dengan bercucuran air mata bercerita tentang kesalahan dimasa lalu dan meminta ma’af sambil bercucuran air mata. Sungguh adegan yang begitu menyentuh, Anda jangan sampai melewatkan adegan ini!

Keesokan harinya adalah batas terakhir proses Kodachrome, meski dalam kondisi semakin melemah Matt memaksa Ben untuk segera melanjutkan perjalanan ke Parsons, Kansas. Menempuh perjalanan sepanjang malam akhirnya sampai pada tujuan. Apakah berakhir begitu saja?

Saya cukup tercengang ketika menyaksikan banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk tujuan sama. Bahkan ada yang memasang tenda di parkiran. Sungguh menakjubkan.

Sesampainya di Dwayne’s photo cukup membuat jantung berdebar-debar, karena seorang wanita operator lab menyatakan bahwa proses development telah ditutup bahkan pada hari sebelumnya. Bayangkan saja sudah menempuh perjalananan jauh selama seminggu tapi tetap tidak bisa memproses rol film yang telah dipersiapkan.

Akhirnya Dwayne sendiri selaku pemilik lab muncul, ternyata sudah disiapkan jatah untuk Ben meski antrian penuh sekalipun. Terlihat di sini Matt mulai kagum pada ayahnya.

Tidak berhenti di situ saja, ketika mereka mencari cafe untuk beristirahat sejenak. Ada salah satu pengunjung yang menyapa Ben, dan dalam waktu sekejap dia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Semua orang mengenalinya dengan begitu hormat.

Kita semua ketakukan dengan waktu, dan bagaimana sesuatu menghilang. Itu sebabnya kita menjadi fotografer. Tugas kita adalah melestarikan.

Kita memotret untuk menghentikan waktu. Untuk mempertegas momen terhadap keabadian. Sifat manusia membuatnya nyata.

Sepenggal petuah yang begitu menginspirasi pada potongan terakhir pada kisah ini. Karena pada malam harinya Ben meninggal dunia dalam keadaan sedang membersihkan peralatan kameranya. Jika diperhatikan lebih seksama maka terlihat Ia hampir tiap saat ketika istirahat merawat kamera dengan begitu telaten.

4 rol yang diantarkan ke Kansas ternyata menjadi suatu bagian paling mengharukan menurut saya pada film ini, kenapa? Ini menjawab prasangka Matt yang menganggap ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya. Karena semua rol ini adalah momen Ben bersama istri, foto ketika Matt berulang tahun ke-4. Suatu foto-foto yang memperlihat Ben begitu menyayangi Matt.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konklusi 

Jika Anda begitu berharap bisa mendapatkan begitu banyak pembahasan mengenai seputar fotografi, atau profil seorang fotografer besar. Maka film ini akan membuat kecewa.

Karena lebih banyak menceritakan mengenai konflik ayah dan anak. Dan tentunya dimbubui oleh kisah romansa oleh Matt dan Zoe. Perjalanan seminggu ke Kansas bisa menceritakan dengan jelas latar belakang konflik yang terjadi pada masa saat ini dan bahkan hal terjadi pada gagalnya pernikahan setiap tokoh utama. Pada Ben penekanan kesalahan sikap dia yang menyebabkan Matt sulit untuk mema’afkan

Film ini syarat akan pesan moral, apakah itu dari bagian mengasihi orang tua dan anak. Serta hal-hal prinsip Ben sebagai seorang seniman besar yang memilih hidup pada jalur fotografi. Banyak kutipan menginspirasi yang layak disimpan.

Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Solitude, Photo Series by Putri Nadhira Saraswati

Solitude by Putri Nadhira Saraswati

Analog photography exhibition contributor Tabu volume 1

Bio

My name is Putri Nadhira Saraswati. I am currently taking major in architecture in Bandung. I started photography as a hobby when I was in high school. I just shot what I like, and I find it relaxing for me.

But the process doesn’t just stop there. I love how photographs can take me back to how I feel when I take the shot, and I would like other people to feel it too. So recently, I try to explore photography as a way to express my feeling and tell stories.

Project Description

This actually isn’t a really well-thought-out project. This is more of a spontaneous project. I spent a lot of time alone and thinking at the moment, and the idea just popped up. Unintentionally, I call this project ‘Solitude’.

I believe that people has their own way to find solitude. To take time for ourselves, reconnecting with our own minds, building an atmosphere to recharge our energy. Some people find it in quiet places, some may even find it in crowded places. A morning run, a walk into nature, writing a journal, or starring at buildings. Simple things to simply make us feel better.

Influences

Basically everything around me. Movies, music, poetry, traveling, even deep talks with my friends can influence my work.

Links

Blog
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Putri Nadhira Saraswati

Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Fault Line, project by Sophie Barbasch

Fault Line, by Sophie Barbasch

About

I started studying photography in high school and then got more serious about it during college. After college, I realized I wanted to pursue my MFA.

Grad school helped me a lot in terms of understanding what I was trying to do and say with my work. I feel like I am still processing some of the feedback I got, even though I’ve been out of school for a number of years now.

I have experimented with other media, but I feel like photography comes closest to expressing how I experience the world. Even so, I still think a lot about what images cannot express and how to fill those gaps.

Preferences, preparations, photography equipment

It depends a lot on the project—sometimes, I stage the images and work with a tripod. For other projects, I just shoot hand-held and respond in the moment.

I am using the Mamiya 7 and the Sony mirrorless camera right now. I love film, but digital is very liberating.

Project statement

Artist Statement: Fault Line

Fault Line is a story about my family. The protagonist is my younger cousin Adam. It takes place in Brooklin, Maine, where he lives. I have been working on this project intensively since 2013.

It was then that I went to visit Adam and was overwhelmed by his intelligence, humor, and vulnerability. I couldn’t help but feel connected to him. We understood each other in a way no one else in the family did.

I felt like he was my stand-in, my double. When we started taking pictures, we both wanted to make the same images; I didn’t have to explain anything.

In 2013, I had already been estranged from my father for seven years. I wanted to return to a family base to understand what had happened.

I wanted to make images that expressed moments from the past: moments of conflict, isolation, and despair. I also wanted to express the desire to connect to family and to belong to something.

I chose the surreal landscape of Brooklin, sandwiched between the coast and the dense forest, to begin exploring these fragments from my childhood. I used Adam as my model.

Over the years, I also began to incorporate myself, my brother, my aunt, my cousins, and finally my father, into the images.

Influences and favorite stuff within and outside of photography

At the moment, I am inspired by the Not Surprised project (http://www.not-surprised.org/) as well as Barbara Kruger’s new NYC Metrocard series. I just finished reading The Babysitter at Rest by Jen George, which I loved. My new favorite photo book is Blind Date by Leiko Shiga.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Sophie Barbasch

Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

A Girl from Kapan, Photo Story by Ruben Hardjanto (ROE)

About

In my daily life, I lead a Architect Bureau in Jakarta.

I take a photo around the city I lived in my spare time .

Photography is a way for me to relax, meet new friends and exploring my way to tell stories
Later, i found many social issues around me.
Social issue that trig me to dig it deeper.

I realize that picture can tells a thousand word,
I started photographing that issue and tell the story.

Influences

I found a lot of beauty conveyed by humans through song, poetry, and painting.
In every great artwork created by human, I see the unique presence of its maker.

Lately, I read Haruki Murakami’s book and it amazed me.

How he play with the word and bring a simple story up through his imagination is demonstrating the infinite power of imagination.

Project description

“A Girl from Kapan” is a story of a girl named Wati,
Wati lives in small village named Beka, 8km from Kapan, North Mollo, NTT.

Every day, Wati has to walk 1,5- 2 hours to go to school.

In school days, she leave her house at 5-6 am and has just arrived at 3-4 pm
Since Wati grew up in a poor family, she has to help her family to work after school.

After long way walk to school and work at home, the daily learning process far from ideal.
Less of water supply, no electricity and the lack of awareness about education is another issue.

We are aware that education is the starting point for this kids to grow and break out the poverty.

This project is created as a trigger to move people for contributing to their needs.

In the end of 2017, we have prepared a “Shelter House” (a house that close to the school) for kids whose live far from school.

With parental consent they can stay in that house for free from Monday to Friday.
Hopefully, this small step can be the first step for a bigger change.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja
Interviews, Photography, Street Photography, Uncategorized,

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

Silahkan perkenalkan diri Anda

Nama Homer Harianja dan saya street photographer

Kenangan apa yang Anda ingat ketika awal mula mengenal fotografi?

Foto Bapak yang memeluk saya di Pantai Ancol. Saya ingin anak saya mengingat seperti saya mengenang Bapak melalui foto.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Street photography sepertinya saat ini menjadi pilihan utama yang Anda pilih pada jalur fotografi, kenapa?

Saya seorang pejalan. Sejak kecil saya sudah memilih berjalan ketimbang bersepeda. Setelah smp saya sering berlama-lama di halte dengan membiarkan angkutan yang saya tunggu berlalu demi menyaksikan kehidupan yang lalu-lalang dan terkadang apa yang disaksikan tadi dengan genit akan saya tulis di buku harian.

Saya baru tahu kemudian bahwa apa yang saya lakukan ini adalah aktivitas flaneur di Paris di pertengahan abad 19. Jika flaneur merekam lewat kata, street photographer melanjutkan tradisi itu.

Sensasi apa yang Anda rasakan ketika pertama kali mendapatkan notifikasi menjadi finalist London Street Photography Festival?

Awalnya senang tapi sekarang biasa saja. Saya sebenarnya ingin menghancurkan mitos bahwa menang di lomba internasyenel itu prestasi besar.

Jangan itu dijadikan standar hebat atau tidaknya seseorang. Saya mencurigai ini penyebab matinya kritik.

Trendnya sekarang orang menaikkan mutu dengan meminjam institusi bukan karya itu sendiri.

Postingan status Facebook Anda sering kali menjadi kontroversi, keresahan apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada publik?

Saya tidak resah. Saya menawarkan gagasan. Kalau tidak sesuai dibantah saja.

Jika pada suatu ketika ada orang yang lebih muda dari Anda memberikan kritik pada status anda di Facebook dengan komentar tidak menyenangkan, apa yang anda lakukan?

Komentar yang tidak menyenangkan itu adalah komentar yang menyerang pribadi.
Tetapi kalau komentarnya mengandung argumentasi, saya akan perhatikan. Sesuai atau tidak.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Bagaimana Anda melihat street photography Indonesia saat ini?

Seperti balita yang sedang belajar berjalan dan di saat ulang tahunnya yang ke-5 orang-orang menghadiahkannya sebuah mobil karena orang-orang itu tidak bisa membedakan antara mobil dengan mobil-mobilan.

Kata street kekinian juga beberapa kali Anda gunakan pada caption foto untuk postingan di media sosial, apa deskripsi street kekinian ini menurut anda?

Street yang berbicara kepada fotografer bukan kepada khayalak. Street yang diapresiasi oleh fotografer karena nilai fotografisnya bukan isinya.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pernah membayangkan menjadi Bruce Gilden di jalan Malioboro?

Tidak. Saya pemalu.

Forum diskusi online atau offline, kenapa?

Saya bukan pembicara publik yang baik. Saya suka melakukannya dalam situasi informal, sambil nyoto misalnya.

Tokoh antagonis street photography Indonesia, dari mana panggilan ini berasal? Dan bagaimana tanggapan Anda terhadap panggilan yang disematkan tersebut, sedangkan bagi sebagian orang ini bisa berkonotasi negatif?

Tokoh antagonis di atas maksudnya bukan seperti penyebutan tokoh masyarakat tetapi penokohan seperti pada karya fiksi, antagonis dan protagonis.

Saya melabeli diri saya sendiri seperti itu supaya seimbang. Yin dan Yang. Gak seru kalau semuanya “LIKERS”

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Meninjau kembali kepada kejadian beberapa minggu ini mengenai ajang kompetisi street photography pada Salon Foto Indonesia, apa yang membuat Anda begitu termotivasi untuk mengkritisi juri dengan lantangnya?

Saya melihat banyak permasalahan dalam penjurian foto. Mereka seperti ruang gelap yang tidak tembus cahaya dengan berlindung dari kalimat tidak dapat diganggu gugat.

Yang saya lakukan cuma pembacaan tandingan pada sebuah karya. Biasa bangetkan? Apa Anda tidak punya pengalaman dalam suatu lomba mendengar keluhan dari peserta yang mencibir, ah jurinya payah? Itu menunjukkan sesuatu kan.

Berbeda misalnya kalau juri membuat pertanggungjawaban publik. Nah itu baru keren.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Mimpi terbesar Anda untuk street photography Indonesia?

20 tahun ke depan saya ingin melihat foto-foto jalanan hari ini. Semoga saat membeli bukufoto atau main ke galeri yang saya lihat bukan cuma decisive moment.

Lihat itu, penggagasnya saja bosen dan kembali melukis. Saya ingin lihat Jogja, saya ingin lihat Kediri, saya ingin lihat Padang, saya ingin lihat Selat Panjang, saya ingin lihat Makassar dan kota-kota lainnya.

Anda cukup berani untuk mengkritisi berbagai hal difotografi tanah air, dan jarang yang berani bersuara seperti Anda. Apakah tidak ada rasa khawatir jika nantinya mempunyai banyak musuh?

Saya sedang menjadi kawan yang baik dengan berkata jujur pada sebuah karya. saya tidak menyerang orangnya. Saya pernah mengkritik foto-foto street dengan low angle tanpa motif dan menyebutnya sebagai foto kodok.

Foto-foto yang hanya gaya semata. Ada teman yang kemudian mengasosiasikannya dengan seseorang. Dipikirnya saya menyerang dia padahal waktu ketemu ngopi bareng.

Bagaimana Anda menilai pendapat orang lain terhadap karya anda?

Saya biasanya mendengarkan saja. Pengarang sudah mati.
Saya akan terlibat jika argumentasinya memang menarik untuk ditanggapi tapi bukan dalam pemaknaan karyanya.

Jika suatu malam Anda terbangun dari tidur, siapa fotografer yang ingin anda temui?

Tony Ray-Jones.

Henri Cartier-Bresson, Joel Meyerowitz, Vivian Maier, Richard Kavlar, Martin Parr. Bagaimana pandangan Anda terhadap para tokoh yang saya sebutkan ini?

HCB meletakkan pondasi Street Photography modern dan sialnya sering disalah pahami.

Joel Meyerowitz, Street Photographer yang beralih ke Landscape lalu membuat bukufoto Landscape dan best seller.

Vivian Maier, Fotografer jenius (flaneur sejati) yang menghidupi dirinya dengan menjadi pengasuh anak.

Richard Kalvar, Street Photographer sepuh yang masih nyetrit sampai hari ini. Long Live, Sir.

Martin Parr, King of Kitsch.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pilih Honda Jazz atau Leica M10?

Ini beneran mau dikasih?

Impian yang belum terwujud dalam menekuni fotografi?

Menghasilkan 1 foto street yang bisa saya banggakan.

Buku foto favorit?

Pictures From Home – Larry Sultan

Project terbaru dan jangka panjang?

Projet terbaru memotret jalanan di Sulawesi
Jangka panjang, memotret Malioboro

Satu kata untuk street photography

Jalanan

Facebook
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Homer Harianja

 

Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

I Found The Silence, by Martin Stranka. From Czech Republic

I Found The Silence

Artist Statement

Unlike many compositing artists, Stranka shoots all ofthe photos he uses.

“My photography is my own creation,” he says. “People often ask me if the animals in my animal series are real animals, and all of them are. When I created the components of Until You Wake Up, I went to a nearby animal refuge and took photos of white deer with my 70–200 mm lens.”

So wherever he goes, he collects images of grass, forest, clouds, sky, and sun from nature, knowing he’ll eventually find a use for the right one. “Some people collect stamps,” he says. “I collect trees and fields.”

When he sits down at the computer and opens Photoshop, Stranka approaches each image as if he’s sitting before an actual canvas—although he insists he can’t draw or paint to save his life.

He generally spends up to 100 hours on a single image, working on it for up to a week, before putting it away and returning to it after a few days with a fresh eye.

Project Description

My photography project called “I Found The Silence” is like a diary during my last 8 years. When I am alone I may fear that I will somehow live a life of loneliness or I may discover some truths about myself that can be scary or hurtful.

Being alone is not bad. In fact, it is a time to meditate, discover yourself. It is time for inner peace.

In this world of chaos and distractions, we have gotten into a habit of not stopping, being busy and surrounding ourselves with things that are loud, disturbing and continuous.

Being alone in the silence is actually one of the healthiest moments you can have with yourself. The series “I Found The Silence” shows us in different moments of our inner peace and discovering yourself.

Bio

“Martin Stranka, a native of the Czech Republic who lives in Prague, is a self-taught professional photographer, born on April 13 1984.

Martin was a bored student plodding through courses in business school when the unexpected death of a close friend led him to pursue photography as a form of therapy.

That hobby turned into a passion and, eventually, a profession.

His distinctive vision of photography is etched as a unique space located in a balance and serenity, while his sophisticated and rewarding images exist in that narrow window of a few seconds between dreaming and awakening.

Martin creates images that appear to be stills from a film — one that walks the line between fantasy and reality.

During the last years he has won over 50 major international photography awards from different competitions, including Professional Photographer of the Year, Nikon International Photo Contest, Prix de la Photographie Paris, Sony World Photography Awards and International Photography Awards eleven times in a row.

His solo and group exhibitions have been seen from South and North America, through Europe, all the way to Asia.

His photographs have been exhibited in places such as New York, Los Angeles, Las Vegas, Tokyo, Milan, London, Miami, Paris, Prague, Hong Kong, Kiev and many more.

Martin’s work was presented in prestigious galleries such as Getty Images Gallery, Saatchi Gallery and SNAP! Orlando.

His work stood proudly alongside the likes of Andy Warhol, Annie Leibovitz, Banksy, Damien Hirst, Helmut Newton and Erwin Olaf.

Martin was introduced and exposed at SCOPE, the largest and most global emerging art fair in the world, held annually in New York City, Miami, and Basel.

Martin’s dreamy, transportive photography has been commissioned by cultural institutions such as the National Theatre in Prague and the Czech National Ballet.

Dozens of his images have also been used by New York publishers for the covers of mysteries and thrillers — genres he believes his work is perfectly suited to.

He has created book covers for the biggest New York publishers, such as Harper Collins Publishers, Sterling Publishing and Penguin Random House. In addition, he has collaborated with other book publishers, music publishers and artists around the world.

Work of Martin Stranka was featured in interviews for Adobe, Disney, The Guardian and many more.”

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Martin Stranka