Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Fotografi Analog with Slamet Riyadi

Apa yang membuat anda begitu mencintai fotografi analog, sedangkan pada jaman sekarang teknologi fotografi digital makin maju dan semakin efisien?

Menurut saya saat ini fotografi analog sudah menjadi genre yang terpisah dari dunia
fotografi secara holistik sehingga akan sulit untuk kita samakan dengan fotografi
digital. Saya sendiri bukan orang yang anti fotografi digital, bahkan sampai saat ini
saya masih memotret dengan kamera digital, tetapi untuk kebutuhan tertentu, saya
juga menggunakan kamera analog.

Bagi saya, dalam fotografi analog terdapat 4 hal utama yang menjadi alasan saya
pribadi untuk tetap menggunakan kamera film,

1. Segudang pilihan untuk kamera, format dan film dalam dunia fotografi
analog yang dapat kita coba (dengan range harga yang relatif terjangkau).
Aktivitas penggunaan kamera analog lebih dititik-beratkan pada proses di mana
kita sebagai pengguna kamera analog akan dihadapkan dengan opsi yang cukup
banyak sebelum memulainya; seperti pilihan gear dan format filmnya (SLR,
rangefinder, TLR, point and shoot, pinhole, toycam, medium format SLR, medium
format TLR, medium format rangefinder, large format camera dsb.)

Dan film apa yang akan digunakan (black and white, negative color, color slide dsb.) Serta
semua hal tersebut memberikan pengalaman pengguna yang berbeda-beda
antara satu gear dengan gear lain.

Sedangkan pada fotografi digital daya tarik
bagi penggunanya (pendapat pribadi) dititik beratkan pada spek kamera itu
sendiri (berapa megapixel resolusinya, berapa banyak titik autofokusnya,
seberapa responsif fps dan AF nya, seberapa hebat kemampuan shooting
videonya dsb.) Yang secara umum pengalaman penggunanya kurang lebih akan
serupa antara satu kamera dengan kamera lain.

2. Keterbatasan dalam merekam gambar.

Kamera film mengajarkan kita untuk berfikir lebih matang dalam mengambil
keputusan saat menekan tombol shutter dan juga menghargai setiap
jepretannya. Hal ini terjadi karena adanya limitasi pada jumlah frame dalam satu
roll filmnya (36 dan 24 frame saja). Selain itu, satu roll film hanya memiliki satu
jenis karakter warna (tanpa adanya auto whitebalance) dan satu jenis ISO / ASA
sehingga kita dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut dalam
mengambil gambar.

Sedangkan fotografi digital (pendapat pribadi) lebih menitik-beratkan pada hasil
dimana kita memiliki ‘infinte amount of shot’ dalam konteks pengambilan gambar
tergantung berapa kapasitas kartu memori dan bebas mengatur ISO pada
kamera sehingga dapat mengambil gambar dalam kondisi apapun (terang
maupun gelap).

Kamera digital memiliki keunggulan lain seperti instant preview setiap kali kita
mengambil gambar, terkadang pada akhirnya kita malah lebih sering melihat
hasil dari setiap jepretannya daripada fokus pada subjek yang akan kita foto.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi
Rolleiflex 2.8F 80mm f2.8 + Kodak Portra 400 (overexposed 2 stop)

3. Elemen kejutan dalam setiap roll-nya.

Dengan tidak adanya fitur instant preview saat pengambilan gambar pada
kamera analog, kita bisa tetap fokus pada konten yang akan difoto.selain itu,
memotret dengan film memiliki kejutan tersendiri dari hasil yang telah di develop
seperti kesesuaian hasil dengan gambaran saat kita memotret, adanya
kepuasan pada warna / tone yang dihasilkan dan yang membuat saya ingin
mencoba terus dan ber-eksperimen dengan film yang berbeda untuk
mendapatkan hasil yang berbeda pula sehingga dapat dikatakan menggunakan
kamera analog merupakan wujud usaha untuk saling mengerti antara kita
dengan medium film tersebut.

Related:  Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

4. Semua tentang Proses

Menariknya dari fotografi analog adalah sejatinya merupakan sebuah proses
yang harus kita lalui dari awal hingga akhir agar mendapatkan hasil yang sesuai
dengan harapan. Walaupun sudah banyak filter yang beredar untuk foto digital
agar terlihat seperti tone pada film, akan tetapi proses yang dijalani oleh
fotografer dengan kamera analog itu sendiri akan berbeda. Seperti proses
menentukan kamera apa yang cocok untuk kita/jenis foto kita, pemilihan film apa
yang akan digunakan, bagaimana kita mengekspos film yang kita pakai (under
expose, over expose, push, pull, double exposure, experimental dll) dan proses
developing film (color maupun black and white) serta scanning / printing. Hasil
printing dan film negativenya (klise) merupakan reward dan record yang kita
terima dari proses itu sendiri.

5. Foto yang benar-benar bisa kita pegang

Dengan adanya digitalisasi dari segala hal termasuk pada medium foto, semakin
jarang kita mencetak foto yang kita ambil dan dapat kita pegang secara fisik.
Memotret dengan roll film pada kamera analog membuat setiap jepretan kita
memiliki rekam jejak dalam bentuk fisik (negative film) yang dapat kita pegang
dan memiliki value berbeda dengan melihat foto dibalik layar digital.

Dan tentu saja masih banyak opini dari para pengguna lain yang mungkin
berbeda tentang fotografi analog saat ini.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi
Rolleiflex 2.8F 80mm f2.8 + Kodak Portra 400 (overexposed 2 stop)


Adakah yang menginspirasi anda untuk tetap berkarya pada fotografi analog?

Saya merasa setiap momen yang ada di sekitar saya dan menurut saya menarik
perlu di abadikan sebagai ‘memento’ atau rekam jejak saya pribadi. Dan saya
memutuskan untuk menggunakan medium film hanya karena value yang
terkandung dalam medium film tersebut lebih baik menurut saya. Mungkin dari
pernyataan saya tersebut yang akhirnya menginspirasi saya untuk terus
menggunakan kamera analog.

Bagaimana anda melihat perkembangan fotografi analog pada generasi milenial saat ini?

Fenomena populernya kembali fotografi analog dikalangan milenial akan berakibat
semakin banyak pula stakeholder yang akan men-support dan itu menurut saya
hal yang positif dan menguntungkan bagi pecinta fotografi analog yang lain.
Dampak buruknya pun harus siap kita hadapi seperti naiknya harga-harga
kamera analog, roll film, ongkos develop dan hal yang berkaitan dengan fotografi
analog.

Silahkan cek juga photo series Absurdity, by Slamet Riyadi

Banyak orang yang merasa kesulitan untuk memaksimalkan tone film, ketika melihat hasil rekan-rekan atau diinternet karakter tone roll film yang digunakan tidak sesuai dengan contoh dari hasil foto yang didapat sedangkan anda menurut saya cukup bisa mengatasi hal ini, silahkan berbagi tipsnya.

Tone atau karakter pada film merupakan salah satu daya tarik dari fotografi
analog itu sendiri dan menurut saya soal tone pada film merupakan hal yang
personal dan selera dari masing-masing individu.

Saya sendiri masih menganggap bahwa film yang saya selalu pakai belum
sepenuhnya dimengerti sehingga masih ada ruang untuk mempelajari karakter
dari film tersebut. Mungkin kuncinya adalah KONSISTENSI (yang bagi saya pun
sulit untuk diterapkan). Dengan memahami bagaimana film yang kita pakai
tersebut bereaksi dengan cahaya ketika di overexposed atau di underexposed,
sehingga kita tahu bagaimana kita mensetting kamera kita (konteks kamera
analog manual / kamera non point-and-shoot). Tetap terbuka akan kemungkinan
dan ide baru saat mengekspose film pun menjadi salah satu kunci (at least bagi
saya) agar mengetahui bagaimana hasilnya, meskipun ada harga yang harus
dibayar yakni menghabiskan beberapa roll film untuk belajar memahami film
tersebut.

Related:  Agan Dayat, Photozine Muse dan Personal Project Photography
Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi
Leica M6 + Leica Summicron-M 50mm f2 + Fujicolor Industrial 100 (overexposed 1.5 stop)


Apa yang mesti diperhatikan ketika ingin membeli peralatan fotografi analog? Secara 
gear yang ditawarkan tergolong sudah cukup tua, bahkan ada yang sudah berumur puluhan tahun.

IMHO faktor yang paling mempengaruhi dalam fotografi analog adalah kualitas
lensa, karena lensa yang memiliki kontak langsung dengan film saat
memproyeksikan gambar yang kita bidik. Lensa yang sehat (bebas dari jamur, fog
dll karena usia) menjadi hal yang mutlak menjadi concern utama sebelum
memutuskan kamera / lensa merk apa yang akan dibeli.

Kamera/bodi kamera dengan jenis tertentu (SLR, rangefinder, TLR, point and
shoot, toycam dll) yang sehat secara umum hanya akan mempengaruhi tingkat
kenyamanan saat kita pakai karena masing-masing jenis kamera memiliki
keunggulan masing-masing dan disesuaikan dengan genre fotografi kita sendiri.
Dan bagaimana ketika memilih serta menggunakan roll expired, apakah ada cara
khusus?

Berbeda dengan fotografi digital, dalam dunia fotografi analog, medium film
merupakan medium yang bersifat kimiawi yang memiliki batas usia tertentu dan
memiliki tingkat kepekaan terhadap cahaya yang berbeda tergantung pada
treatment kita saat menyimpan medium tersebut.

Film expired biasanya memiliki tingkat kepekaan terhadap cahaya yang sudah
menurun dan terjadi pergeseran warna dari aslinya. sehingga penggunaannya
dalam kamera analog adalah dengan cara mengatur intensitas ISO/ASA nya
lebih rendah dari aslinya dengan tujuan agar tingkat kepekaan terhadap cahaya
dari film tersebut tetap cukup saat digunakan.

Selain itu, karena faktor menurunnya tingkat kepekaan terhadap cahaya dari satu
film bukan hanya disebabkan oleh faktor tanggal kadaluarsanya, tetapi juga dapat
disebabkan oleh kesalahan saat penyimpanan film itu sendiri, maka tanggal
kadaluarsa pada film tidak menjadi patokan berapa banyak stop yang harus
diturunkan dalam ISO / ASA dari film tersebut saat digunakan dalam kamera
analog.

Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi
Leica M3 + Leica Summicron-M 50mm f2 + Fujicolor Industrial 100 (overexposed 1.5 stop)


Mengenai pemeliharaan gear apa saja yang biasa anda lakukan agar tetap menjaga 
kondisi menjadi apik dan keliatan masih kinclong?

Perawatan benda tua pada umumnya sama saja termasuk kamera analog.
hindari tempat lembab, usahakan memiliki dry cabinet dan rajin-rajinlah
membersihkan kamera setiap kali akan disimpan terutama jika kamera tidak
digunakan dalam waktu lama.

Kamera analog yang berbasis mekanikal hanya membutuhkan pemakaian rutin
agar mekaniknya tetap berjalan dan tidak terjadi karat dan korosi. kalaupun
terjadi kerusakan ringan seperti tidak akuratnya shutter speed, aperture yang
macet / stuck, dll, kamera mekaikal hanya butuh di CLA (clean, lubricate and
adjust) oleh ahlinya dan untuk kamera dengan daya baterai, dianjurkan untuk
selalu lepas dan bersihkan jika akan disimpan dalam waktu yang lama agar
elektronik pada kamera tetap awet.

Related:  A Moment of Solitary, by Edas Wong. Street Photographers from Hongkong

Sebutkan roll film favorit anda, kenapa?

Fujicolor Industrial 100 & 400, kodak portra 400, kodak ektar, fujipro 400H,
sebenarnya semua film negative dengan tone yang soft buat saya adalah favorit.
karena film-film tersebut masih mudah ditemukan, menarik untuk dipelajari dan
memiliki hasil yang memuaskan bagi saya pribadi.

Apakah menurut anda fotografi analog akan tetap berkembang sampai 20 tahun ke depan?

Fotografi analog sebagai aktivitas, experience dan hobi mungkin saja akan tetap
eksis untuk beberapa tahun kedepan selama semua stakeholder yang terkait
fotografi analog masih saling support (produsen roll film,produsen chemical
developer, lab fotografi, komunitas dan produsen kamera masih tetap eksis).
karena walau bagaimana-pun fotografi analog merupakan basic dari aktivitas
fotografi yang akan selalu menarik untuk dikenalkan bagi generasi muda yang
belum sempat mengalami jamannya.

Akan tetapi, jika fotografi analog dilihat sebagai profesi dalam konteks umum,
mungkin saja akan semakin sulit bertahan karena semakin kesini, setiap orang
merupakan fotografer (termasuk pengguna fotografi dengan smartphone) dan
proses dalam fotografi analog yang semakin tidak relevan untuk kebutuhan saat
ini dan yang akan datang di mana efisiensi proses, efektivitas medium dan lowcost
menjadi tuntutan dalam dunia fotografi saat ini.

Pesan untuk rekan-rekan yang sedang mengandrungi fotografi analog, atau baru ingin mencoba fotografi analog.

Jangan ragu untuk mencoba hal baru yang positif termasuk dunia fotografi analog,
karena selain cakupannya yang luas,akan selalu ada kejutan dan kebaruan dalam
dunia fotografi analog meskipun kita sudah lama mengenal dunia fotografi analog
tersebut. Viva la Film!

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Slamet Riyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *