Q & A Bersama bang Onit

Pada tahun 2013 saya hanya bisa memantau dari kejauhan, melalui jejaring media sosial Facebook. Karya-karya Yustin Geilardi Zakharias atau biasa dipanggil bang Onit berseliweran di grup-grup sharing karya foto ketika itu.

Ingin bertanya dan belajar langsung, tapi tak kunjung jua saya berani, meski haya sekedar mengirim pesan berkenalan hahaha

Dan beberapa bulan yang lalu, akhirnya ada kesempatan untuk langsung berjabat tangan, namun masih tidak bisa berdialog lama, karena situasi dan kondisi ketika itu. Akhirnya saya ajukan wawancara ekslusif kepada bang Onit, tapi ternyata jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan membuat hati semakin ingin menikmati secangkir kopi tentunya membahas fotografi.

Pada project Series Photo A Wife – The Waves, ada cinta yang amat besar saya rasakan. Suatu bentuk terima kasih kepada istri yang selalu menemani, dan secercah rasa haru yang sangat mendalam. Tidak menarik jika saya uraikan lebih rinci lagi. Silahkan disimak! 

 

Silahkan perkenalkan diri anda?

Saya Yustin Geilardi Zakharias, kawan – kawan saya biasa memanggil dengan Onito. Terlahir di Denpasar – Bali, kemudian kuliah di Jakarta dan saat ini menjadi warga Yogyakarta.
Kenapa anda begitu mencintai fotografi?

Saya kuliah di sekolah seni, dimana saya mendapatkan kesempatan waktu yang banyak dalam mengenal dan mencoba berbagai medium untuk berekspresi.

Mungkin sebuah momentum juga ketika saat itu adalah masa reformasi (1996), informasi yang kita terima sangat banyak dan cepat silih berganti sehingga kebutuhan untuk berkespresi dalam hal merespon situasi sosial dengan medium lain terasa kurang cepat dan tepat pula.

Pilihannya adalah medium fotografi, awalnya aktifitas mendokumentasi sebelum masa itu hanya memiliki eforia sesaat, senang-senang saja, tapi ketika saya mencoba lebih dekat dengan apa yang saya foto saat itu terasa semua organ tubuh ikut bekerjasama dalam hal mencipta.

Bagaimana kita dapat menentukan hal – hal teknis manual pada kamera analog dengan tepat cepat dan disaat bersamaan kita juga harus menghindari pentungan dan lemparan – lemparan batu dari aparat dan massa.

Nah, beranjak dari masa itu fotografi menjadi sebuah medium ekspresi yang memabukkan.

Yang menginspirasi anda dalam berkarya?

Banyak hal yang dapat menginspirasi saya dalam berkarya, mulai dari menyimak apapun melalui media apa saja, sampai dengan berlaku lebih sensitif terhadap lingkungan disekitar saya.

Related:  The Arrival, Photo Series by Andi Sudjana

Motivasi terbesar dalam berkarya khususnya pada bidang fotografi?

Pencatatan waktu kejadian.

Belum lama ini salah satu karya anda lolos seleksi dan ditampilkan pada 2 negara sekaligus, yaitu di Vietnam dan Indonesia. Bagaimana perasaan anda terhadap pencapaian ini?

Tentu senang, ternyata karya tersebut dapat menarik hati yang liat, lah.. ketika buat karya itu sebetulnya hanya untuk istri saya saja kok hahaha..

Boleh ceritakan tentang series photo A Wife – The Waves?

Foto seri tersebut sebenarnya sangat personal, itu bentuk perenungan dan penghargaan terhadap istri saya selama ini, terutama pada masa – masa saya sakit parah.

Semua frame yang terdapat pada foto seri tersebut diambil di lingkungan rumah pada waktu yang berbeda – beda.

Bahwa komitmen itu nyata, bukan dari kata – kata yang merangkai kalimat, tetapi dari sikap dan tindakan yang telah diberikannya.

Bagaimana langkah anda dalam pengerjaan series photo?

Prosesnya mulai dari mencari ide – membuat cerita – mencari foto – menyusun foto – publikasi. Biasanya pada tahap mencari dan menyusun foto itu lumayan panjang karena ditengah pengerjaannya ada saja penambahan ataupun pengurangan foto yang disesuaikan terhadap apa yang akan saya sampaikan.

Terutama untuk hal – hal yang bersifat simbolis. Kita juga harus memikirkan apakah masudnya nanti akan tersampaikan dengan tepat atau tidak.

Fotografi semakin banyak diminati, namun sayangnya semua lebih suka menjadi instan, dan selalu mengandalkan kemudahan teknologi, serta mengejar like dan follower pada media sosial. Bagaimana tanggapan anda?

Jaman semakin maju, informasi semakin mudah didapat dengan cepat, tapi sayangnya banyak orang terkadang melupakan prosesnya. Kalau saya percaya dengan ini; mencari dan belajar – meniru – mencipta.

Dimana sebaiknya kita harus tau mengenai dasarnya dulu, bagaimana sejarah fotografinya kemudian mempelajari bagaimana memotret dengan benar secara manual dulu tentunya, belajar metering ini wajib, kemudian mempelajari berbagai teknik komposisi dan sebagainya, kemudian dipraktekkan.

Biasanya setelah “merasa” atau “menguasai” kamera yang terjadi masuk pada fase meniru/ duplikasi, memiripkan karya kepada para idolanya, ini fase yang terlama dan tersulit, karena biasanya masing – masing yang menjalani tidak akan sadar dengan apa yang sedang dilakukannya dan menjadi terkaget – kaget karena terpesona dengan kawannya setelah menampilkan hal lain dari biasanya.

Related:  Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

Mengejar “like” dan “follower” sah – sah saja, namun yang perlu disadari, siapa mereka yang memberikan hal tersebut, apakah memberikan kontribusi yang baik unuk perkembangan fotografi kita atau malah membuat kita terlena dan malah lupa belajar.

Buku foto favorit anda?

Tidak ada yang menjadi favorit. Tetapi saya suka dengan karya – karya Saul Leiter.

Sebagai penikmat buku foto, apa yang membuat anda begitu menikmati karya tersebut?

Selain dari konten buku tersebut, mungkin karena saya punya dasar pendidikan desain grafis, jadi saya juga memperhatikan penyajian serta finishing buku tersebut. Apa kertas yang digunakan, bagaimana dengan kualitas cetak sampai dengan sebarapa presisi potongan kertas, lem, dan lainnya. Semuanya deh..

Tidak lengkap, tapi lumayan banyak juga saya mengumpulkan buku foto dan zine yang diterbitkan fotografer atau komunitas di Indonesia, sayangnya kebanyakan masih seperti sekedarnya saja, padahal sayang banget karyanya menarik namun karena dikerjakan kurang total akhirnya tidak sempurna dan awet, misalnya seiring waktu kualitas cetak berkurang dan halaman – halaman menjadi lengket.

Saat ini perkembangan dan geliat fotografi dalam medium cetak kembali menjadi tren, bagaimana anda melihat fenomena ini? Sedangkan fotografi dengan teknologi dengan digital makin berkembang?

Jika yang dimaksud adalah tahap presentasinya (publikasi); menurut saya karya fotografi sebaiknya dicetak karena secara lahiriah seperti itu, bisa saja hanya berupa cetak dan atau dipublikasikan didalam sebuah pameran, buku ataupun zine kemudian informasinya dapat disebarkan secara online memanfaatkan media sosial.

Namun jika kehendak si fotografer maunya hanya berupa karya dijital ya juga gak ada masalah juga hahaha..

Itu semua hanya merupakan media untuk mempresentasikan karya saja.

Tapi juga perlu diingat bahwa tidak semua penikmat foto sudah senang atau terpuaskan hanya dengan melihat karya secara online saja, banyak penikmat termasuk saya juga ingin datang langsung melihat ke pameran foto melihat bentuk cetak karya foto itu sambil berbincang dengan fotografernya, atau memiliki buku atau zine sebagai koleksi.

Jika ada kesempatan berkolaborasi dengan fotografer baik itu dari luar maupun Indonesia, dengan siapa anda bekerja sama? Mengapa?

Pada dasarnya bebas aja, sama siapa saja sih bisa saja, karena setiap personal pasti punya karakteristik ide dan karyanya sendiri – sendiri.

Related:  Kampung Aquarium Kini, by Ade Andryani

Anda punya cara tersendiri untuk mempertahankan konsistensi dalam berkarya? Silahkan ceritakan

Dalam berkarya mempertahankan konsistensi itu susah, jenuh pasti ada, karena saya sendiri pernah sempat tidak membuat karya beberapa tahun.

Kalau bicara niat pasti klise ya, hahaha. Tapi yang saya lakukan paling tidak dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini selain menambah informasi melalui buku, web termasuk media sosial dan ngobrol dengan sasama adalah dengan tidak hanya melulu memotret dengan ide maupun cara yang sama, jangan monoton, perlu alternatif proses kreatif.

Jika tertarik memotret dijalanan, kenapa tidak buat proyek pribadi salah satunya berupa foto seri. Bisa tentang apa saja, mulai dari dasar – dasar komposisi sampai dengan hal – hal yang lebih spesifik, misalnya pada tubuh manusia ada gestur, mimik dan lainnya.

Atau bisa saja mulai memikirkan bagaimana cara mempresentasikan karya – karya tersebut lebih lanjut. Ada banyak cara, buat website, buku, zine, pameran foto dan lainnya.

Series Photo A Wife – The Waves:

Bio

Yustin Geilardi Zakharias (Onito), lahir di Denpasar – Bali tahun 1974, kuliah di Institut Kesenian Jakarta jurusan Desain Grafis dan saat ini berdomisili di kota Yogyakarta.

Selain memiliki usaha desain dan produksi kaos bertema fotografi dan budaya Indonesia (kaossaguonito) juga bekerja lepas sebagai fotografer, desainer grafis dan website.

Aktifitas

2015 / Pameran tunggal fotografi – Dream On It / Galeri Paviliun 28 – Jakarta
2002 / Pameran tunggal fotografi / Open House – Bali
1999 / Pameran bersama fotografi / Kedai Kebun – Jogja
1999 / Pameran bersama fotografi 6 hari di ruang publik / Bundaran HI – Stasiun Kota – Kali Malang – Pasar Baru – Taman Danau Situ Lembang – Taman Gelora Bung Karno
1998 / Pameran bersama dokumentasi 97-98 / Galeri TIM – Jakarta
1994 – 1996 / Aktif berpameran tunggal / bersama seni rupa / Jakarta – Jogja – Bandung – Bali

Publikasi

As participant on Frame Zero Media program – The Reel Series: Indonesia & Vietnam Edition (2017)
Margizine #001 / Majalah (Zine) Street Photography / Solo
Black and White Street / Street Photography Online Gallery
Street In Color / Street Photography Online Gallery.

 

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Yustin Geilardi Zakharias

2 Thoughts to “Interviews Yustin Geilardi Zakharias (Bang Onit)”

Leave a Reply