MANIFESTASI PERSEPSI.

Essay: Arifan Sudaryanto


Perbedaan adalah hal yang tabu di negeri ini. Sesuatu hal yang dianggap “salah” atau “berbeda” dijadikan senjata oleh para “Pembela kebenaran” untuk melancarkan manufer penyerangan yang secara massif dan terorganisir terhadap pihak yang dituduh “bersalah”. Ragamnya penyeragaman polapikir, dengan cara sehalus apapun merupakan bentuk pemerkosaan terhadap jiwa dan fikiran korban penyeragaman.

Pemadaman gagasan oleh mereka para intelek mainstream, mencuatkan pertanyaan mendasar padaku; bukankah setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing? Sepertinya pertanyaan tersebut terlalu bias bagi mayoritas dengan kepintaran diatas rata-rata (yang mungkin) terlalu bodoh untuk dipertanyakan, dan menuhankan persepsi kebenarannya secara absolut. Kebenaran yang seharusnya menjadi persepsi pribadi, dipaksakan kebenarannya pada oranglain yang tentunya memiliki persepsinya tersendiri akan kebenaran. Bukankah itu sama saja dengan penindasan?

Bagi mereka yang tak sanggup bertahan pada persepsi kebenarannya, sama saja mereka telah diperkosa secara keji dan tak melakukan perlawanan apapun. Dan sebaliknya, untuk mereka yg bertahan pada persepsi kebenaran tak kenal takut meskipun dihadapkan pada selongsong senapan, merekalah yg sanggup berdiri mereduksi cacian halus dengan segenap tau bahwa menghargai adalah kebenaran sejati.

Hendaknya manusia sebagai makhluk yang memiliki fikiran sejati, menghargai setiap perbedaan sekecil apapun dalam berfikir, dan mereduksi ego masing-masing yg hendak mengebiri gagasan yang tak sejalan. Setiap gagasan baru adalah hutan belantara yang belum tersentuh polutan. Atau, jika kamu bersikukuh bahwa kamu paling benar, apakah kamu Tuhan?

Photo & text:
Arifan Sudaryanto

Leave a Reply