Pada dasarnya manusia memiliki sifat yang tidak mudah puas akan sesuatu, tidak terlepas untuk berinovasi apalagi untuk kemajuan dalam bidang teknologi, tentunya ini berpengaruh juga pada bidang fotografi.

Transisi semakin bergeser ke era yang lebih mengejar kemudahan, pada masa kamera film sempat berjaya, semua perekaman tergantung pada roll film yang digunakan, jumlah pengambilan gambar dibatasi oleh tiap jatah frame yang dibatasi oleh film yang menjadi pilihan, jika tertulis 36exp maka maksimal pengambilan foto hanya bisa dilakukan sebanyak 36 x jepret.

Begitu juga dengan ASA/ISO setiap film sudah memiliki ketentuan tersendiri, bahkan, untuk tone pada tiap film mempunyai karaktertistik tersendiri. Sungguh, semuanya penuh dengan keterbatasan.

Namun, semuanya menjadi cukup berubah ketika film mulai digantikan oleh sensor kamera, proses pengolahan gambar tidak lagi tergantung pada pembakaran yang terjadi pada film, serta tidak lagi bergantung pada penyimpanan yang dibatasi, semua penyimpanan sudah digantikan oleh sebuah memori, sehingga gambar tidak lagi dicuci kemudian dicetak untuk bisa dinikmati, secara praktis gambar bisa dinikmati secara digital.

Untuk penyebaran dan publikasi tentunya menjadi lebih mudah, karena sebelumnya jika ingin mempublikasi karya fotografi, harus ada proses percetakan, baik itu di media massa maupun di galeri, tentunya ini membutuhkan dana atau akses tertentu, tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini.

Internet dan media sosial sangat berperan besar mengubah proses penyebaran karya menjadi lebih mudah, sehingga fotografi tidak hanya dinikmati dan dipelajari oleh orang-orang tertentu, tidak hanya demikian, perkembangan teknologi kamera full digital menjadi peran penting pada perkembangan fotografi, saya masih ingat pada tahun 2009, dimana ketika itu pertama kalinya memegang kamera DSLR entry level Canon 1000D, pada ketika itu bagaikan memegang sebuah peralatan yang mahal dan sangat ekslusif, dan tidak banyak orang memiliki benda aneh berjenis DSLR tersebut, sungguh ketika itu fotografi masih bagian ekslusif dari gaya hidup.

Related:  Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

Pada tahun 2009-2010 bagi saya masih ada rasa kesulitan untuk mengakses informasi di internet, apa lagi masih sangat terbatas artikel yang cukup bagus, masih kebanyakan teknik dasar, seringkali pembahasan hanya sepintas dan tidak begitu mendalam, forum fotografi online pada media grup pesan singkat tentunya belum ada, berbeda ketika saat saya menulis artikel ini, grup pesan singkat sangat beragam, menggampangkan untuk bertanya sesuatu, satu pertanyaan bisa dijawab oleh beberapa orang secara spesifik, bahkan dengan beragam informasi lainnya.

Seiiring dengan kemudahan yang terjadi, sepertinya rasa malas menjadi suatu hal yang umum menggeroti, apakah karena pemikiran bahwa segala sesuatu hal bisa didapatkan secara instan?

Pertengahan 2015 saya mulai masuk ke komunitas fotografi online berbasis Instagram, suatu pengalaman baru dalam seumur hidup, diskusi secara online dengan orang-orang yang tidak pernah dikenal, apalagi bertemu. Disuatu malam ada salah satu member yang ingin belajar tentang long exposure dengan gaya visual light trail.

Yang mencengangkan saya adalah, member ini sudah cukup lama melakukan pengambilan gambar dengan kamera mahal yang dia punya, tapi triangle exposure tidak menguasai, dan ternyata proses belajar hanya bagaimana mengahasilkan gambar yang bagus untuk diposting, mengejar like dan pujian belaka.

 

Tidak terlepas hanya pada hal yang telah disebutkan pada paragraf diatas, banyak hal mendasar seperti mengenai teknik dasar serta pertanyaan pemahaman mengenai defenisi yang dilontarkan pada grup chat, kebanyakan pelaku fotografi yang saya temui lebih memilih dijelaskan dari A-Z oleh orang lain, namun tidak mau mempelajari dahulu, internet tentunya kaya akan informasi, jika malas membaca banyak tutorial berupa video yang ada di YouTube.

Related:  From Somewhere, To Elsewhere, by Yota Yoshida. Street Photographers from Japan

Semakin pesatnya perkembangan teknologi, dan mudahnya mengakses informasi, apakah anda masih memelihara sikap manja pada era informatika?

Konklusi:
Manfa’atkan semua sumber daya yang bisa diakses pada proses pembelajaran, bisa dari sebuah komunitas, internet dan hal lainnya. Jangan berharap mempunyai karya bagus jika tidak mau menjadi proses belajar.

Topik pada artikel ini juga dibahas lengkap pada Diskusi Nirfaedah #2 Part 1 – Perkembangan Fotografi Pada Era Media Sosial (1/2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *