About

Nama saya Adi Putra Purnama, tinggal di Solo, Jawa tengah. Saya lulusan S1 Pend. Teknik Mesin Universitas sebelas maret. Sekarang saya bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sragen Jawa tengah.

Awal mula saya mengenal fotografi yaitu ketika saya mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan. Sebenarnya perkenalan saya dengan fotografi karena ketidak-sengajaan. Anggota UKM yang saya ikuti sedikit dan hanya ada 6 laki-laki satu angkatan termasuk saya. Saat itu yang tertarik dengan jabatan fotografer tidak ada, oleh karena saya ditunjuk untuk mengisi bagian tersebut, meski saya juga tidak mengetahui fotografi itu seperti apa.

Saya belajar fotografi secara otodidak. Kamera pertama yang saya gunakan adalah Canon 1000D (itu pun milik UKM). Lambat laun berkat bimbingan kakak tingkat saya mampu menguasai dasar-dasar fotografi. Dari sana lah saya mulai menyukai fotografi. Pertemuan saya dengan mas Taufan Wijaya dan terinspirasi oleh film The Bang Bang Club membuat saya ingin menjadi seorang wartawan foto. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, saya gagal menjadi wartawan. saya pernah melamar ke sebuah koran lokal namun gagal. Akhirnya saya menerima pekerjaan saya sekarang yaitu sebagai guru dan tetap memotret.

Pertemuan saya dengan mas Aji Susanto Anom mengusik pemikiran saya tentang fotografi. Dahulu menurut saya fotografi jurnalistik adalah foto yang sangat indah dan luar biasa, karena foto tidak hanya sebuah foto, ada sesuatu dibalik sebuah foto tersebut dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Setelah saya bertemu dengan mas Aji Susanto Anom saya baru mengetahui aliran foto yang lain, yaitu foto sebagai media mengungkapkan perasaan, foto yang diperuntukan untuk diri sendiri. Mulailah saya membuat projek tentang perasaan saya, salah satunya projek ”Move On”.

Kamera saya yang pertama adalah Canon 1100D, kemudian saya membeli camera digital Canon Powershoot A2500. Berjalannya waktu saya lebih tertarik dengan kamera yang minim dalam kemampuan (saya terinspirasi oleh Daido Moriyama). Saya mulai menganggap kamera adalah senjata, fotografer adalah orang yang menggunakan senjata tersebut. Hal terpenting dalam menghasilkan sebuat karya adalah orang dibelakang senjata tersebut (saya terinspirasi oleh Seno Gumira Ajidarma lewat bukunya “Kisah Mata”). Saat ini saya hanya memiliki kamera Canon Powershoot A2500, sedangkan DSLR saya jual.

Metode memotret saya sekarang ada tiga. Pertama saya memotret berdasarkan dasar-dasar fotografi jurnalistik. Saya masih memiliki ketertarikan dalam hal jurnalistik. Kedua saya memotret berdasarkan aliran Street Photography. Ketiga saya memotret berdasarkan perasaan yang saya rasakan (Saya sedikit susah menjelaskannya untuk yang kedua ini). Bagaimana suasana hati saya, saat saya memegang kamera, dan saya memotret apa yang saya lihat dengan perasaan saya saat itu. Begitulah metode yang kedua ini. hehe

Berhubungan dengan projek saya yang berjudul “Move On” ini adalah kerena perasaan saya yang ditinggal menikah seseorang yang pernah singgah di hati saya. Saat saya merasakan kesedihan itu, saat saya merasakan sakit hati itu, saat itulah saya memotret. Hasilnya adalah rangkaian foto dalam projek “Move On”. Tentang judul “Move On” saya menganggap bahwa kebahagiaan yang sebenarnya adalah dengan menerima kesakitan, bukan lari dari rasa sakit tersebut. Contohnya saat tangan kita terluka karena tergores pisau, kita tidak bisa membayangkan bahwa kita sedang tidak terluka, membayangkan dipadang rumput yang luas nan indah dan melupakan rasa sakit di tangan akibat goresan pisau, padahal tangan kita memang sedang terluka. Berkat rangkaian foto-foto tersebut sekarang saya sudah terbiasa dan terbebas dari kesedihan akibat cinta.

Kegemaran saya diluar fotografi adalah membaca, berpikir dan olahraga. Seorang yang saya idolakan adalah Seno Gumira Ajidarma. Ia wartawan, fotografer, penulis, budayawan, dan pemikir. Sekarang pun saya sedang belajar menulis agar bisa menyalurkan pemikiran dan perasaan saya. Ungkapan yang menginspirasi saya adalah dari Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah proses keabadian”. Didalam pikiran saya, ungkapan tersebut berubah menjadi “Berkarya adalah proses keabadian”.

Saya bukan seseorang yang mecintai fotografi dari awal atas diri saya sendiri, sehingga saya terlalu naïf jika mengatakan bahwa kalau tidak memotret saya akan mati. Namun, fotografi adalah salah satu hal yang membuat saya lebih hidup.
Sekian, maaf jika terlalu bertele-tele, dan terima kasih atas ketertarikannya dengan projek saya yang berjudul “Move On”. Salam kenal.

 

 

 

Move On Project Desription

Aku merasa ini hanya mimpi buruk, tapi ternyata ini semua nyata.
Dia menikah 18 januari 2017, dan hari itu adalah akhir dari hubungan kami. Malam-malam setelah itu, sepi selalu menghampiriku. Handphone yang setiap malam selalu dipenuhi chat darinya, kini seperti mati suri. Aku sering membayangkan bagaimana dia melewati waktu malam bersama suaminya. Padahal sebelumnya, kita masih sering melewati malam bersama.

Beberapa foto ini adalah foto-foto yang aku ambil saat dia terlintas dalam pikiranku. Foto-foto tersebut merupakan proses diriku untuk bangkit kembali. Berkat semua itu, sekarang aku mampu menerima rasa sakit dalam hatiku dan menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Aku yakin setelah ini akan datang “dia” yang lain.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Adi Putra Purnama

Leave a Reply