Blog Archives

1st Roll 35mm Analogue Photography, Expired Film 2005

Artist Statement

Project ini bukan tentang bagaimana suatu karya dengan kumpulan foto menawan, mengagumkan atau sangat filosofis. Tapi lebih kepada bagaimana suatu historis yang sangat berarti pada perjalanan kehidupan. Sangat sederhana mungkin bagi sebagian orang, tapi bagi saya kumpulan foto sangat berkesan karena pertama kalinya mengambil foto dengan kamera analog. Full manual dengan lightmeter mati, dan nekatnya menggunakan roll film Superia 200 yang sudah expired pada tahun 2005, sedangkan pengambilan foto pada tahun 2015. Terhitung film ini expired sudah 10 tahun. Dengan bermodal kamera analog usang Ricoh A-50 berpasangan dengan lensa Riconar 55mm f/2.2 roll pertama menggunakan kamera analog akhirnya jadi dengan segala kekurangannya.

This project not about how a work with group of photographs charming , imposing or very philosophical. But more to how can a historically very important in the way of life .Very simple possible for some people , but to me group of photographs especially memorable for the first time taking pictures with a camera analog .Full use lightmeter dead , and nekatnya using roll film superia 200 had expired in 2005 , while the photos in 2015 .Starting this film expired have 10 years .With very analog camera obsolete ricoh a-50 paired with the lens riconar 55mm f / 2.2 a first roll a camera analog finally so with all the rest 

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tomi Saputra

Ash & Charcoal. Pekanbaru, Indonesia 2013

Artist Statement

Api kecil bisa menjadi teman, api yang besar bisa menghancurkan apa saja. Pepatah lama.

September – October 2013 beberapa kebakaran terjadi beruntun di Pekanbaru, bangungan yang cukup tua bisa menjadi puing dalam beberapa menit.

Setelah api padam hanya menyisakan puing reruntuhan yang tidak berarti apapun. Hanya abu dan arang.

Semua kejadian musibah kebakaran hanya dilaporkan disebabkan oleh kesalahan arus pendek listrik

A small fire can be a friend, a large fire could destroy anything. The old adage.

September-October 2013 some fire-related accidents stroke Pekanbaru, Indonesia. Old buildings were flatten to the ground in a matter of minutes.

After the fire went out, it left nothing but ruins. Only ash and charcoal.

All these accidents were reported as caused by an electrical short-circuit faults

 
Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tomi Saputra

 

The END Room, by Tomi Saputra

The END Room

Artist Statement

Ketika memasuki area pemakaman saya tidak hanya merasakan seram saja, ada kepedihan dan kesepian yang saya temukan. Kitab suci dari beberapa agama yang berbeda simpang siur akan nasib manusia setelah mati. Apakah memang benar roh langsung menuju ke surga atau menunggu hari penghakiman terlebih dahulu di alam kubur? Tidak ada manusia yang tahu pasti jawabannya. Yang paling konkret diketahui adalah ketika raga tidak lagi ditempati roh maka tubuh tersebut sudah tidak bisa melakukan apapun lagi, dikenal dengan istilah mati. Tanpa mengacu pada kitab suci agama manapun, ke mana perginya roh setelah meninggalkan tubuh masih menjadi pertanyaan besar.

Jika roh masih berdiam di sekitar raga, bayangkan saja anda hanya bersemayam di suatu ruang sempit dan gelap tanpa siapapun yang menemani. Semua hal duniawi tidak lagi berguna. Sebagus apapun makam anda tidak akan ada gunanya jika nantinya tidak ada yang berkunjung. Pada akhirnya jika raga tidak lagi didiami roh maka tidak akan ada yang tersisa kecuali amalan yang telah diperbuat selama hidup di dunia. Dan perlahan hanya kegelapan yang akan tertinggal, anda hanya menjadi kenangan bagi orang yang mungkin saja masih berkenan mengenang anda. Pertanyaannya adalah, apakah akhirnya nanti nama anda hanya akan ditulis dibatu nisan saja?

When i entered a graveyard, not only i feel something sinister, but there were also pain and loneliness. Holy books from several different religions state different things about the after-life. Is it true that the spirit go straight to heaven or wait inside the grave until judgment day? No one knows for sure. The only thing certain is, when the body is no longer inhabited by the spirit, it is not able to do anything anymore, or known as dead. But, not referring to any holy books of any religions, where the spirit goes after separated with the body is still a big question.

Imagine, if the spirit still hangs around the body, it will just sit in a tight room, live in the dark alone. All the “earthy” things, everything you have done before is no longer useful. No matter how nice and luxurious your grave is, it means nothing when no one is visiting. Finally, when body and spirit has been separated, there are nothing left but the good deeds you’ve done when you were alive. And slowly you will live in the dark and become a mere memory to those who are still remember you. And in the end, there is a question, will your name only being written in headstone?

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tomi Saputra

5 Inch World, Addict

Artist Statement

Kemajuan teknologi selalu dikembangkan seiring dengan kebutuhan manusia yang mengejar sisi praktis, sifat dasar manusia yang selalu tidak akan pernah puas. Fenomena 5 tahun terakhir adalah makin mudahnya mengakses informasi dan komunikasi, telepon pintar dikembangkan sedemikian rupa, bahkan sampai pada tahap di mana dunia menjadi teralihkan. Hanya dengan layar 5 inch anda bisa terhubung dengan siapapun dan kapanpun, bahkan ruang untuk berdialog seakan tidak lagi dibutuhkan secara offline. Semua terhubung online. Bukan hanya hal ini saja, berhenti berbicara dengan pesan singkat, telepon pintar dengan mudah beralih menjadi kebutuhan fotografi, semua hal diabadikan.

Apakah nantinya kemajuan teknologi ini bisa menakutkan? Jika anda menonton film animasi Wall-E karya Pixar, anda mengerti akan apa yang saya maksud.

Technological progress always developed along with human need pursue with practical, human nature who always will never be filled. Phenomena last five years is the easy access information and communication, smart phone developed in such a way, even in the stage in which the world a teralihkan. Only with sails 5 of an inch you can connected with no one and whenever, even room for dialogue seem to be longer needed in offline. All connected online. Not only thing this, stop talking with short message, smart phone easily turn into the needs of photography, all the things immortalized.

Do later on progress this technology can scary? If you watch animated film Wall-E. work Pixar, You understand will what i mean.

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tomi Saputra

Tomi Saputra, from the series A-Z,2016 © Tomi Saputra

A-Z

Artist Statement

Dalam setiap kehidupan anak cucu Adam akan selalu ada masa di mana hal-hal menjadi tidak menarik, membosankan dan bahkan menyedihkan. Banyak hal tentunya ingin lari dari kenyataan, apakah hanya sekedar melepas lelah atau memaksakan diri untuk tetap bisa terlihat tertawa. Dari A sampai Z perjalanan hidup, pilihan terbaik hanyalah bertahan untuk tetap menjalani semuanya, karena kehidupan tidak lah mudah, selalu memberikan pertanyaan dan dengan cara sendiri memberikan jawabannya. Sampai nanti pada masa di mana tubuh terurai dan yang ada hanya tinggal tulang belulang. Kehidupan akan berakhir pada waktu yang telah ditentukan.

In every life of the descendants of Adam there will always be a time when things become unattractive, boring and even miserable. Many things make us want to run away from reality, whether just unwind or force yourself to still be seen laughing. From A to Z of life’s journey, the best option is just to survive to live it all, because life is not easy, always asking questions and by itself giving the answer. Until later in a time where the body decomposes and that there are only bones remaining. Life will end at a predetermined time.

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tomi Saputra

Behind The Celebration, photo essay by Tomi Saputra

Behind The Celebration

Disetiap semua perayaan terjadi pengulangan momen tentang apa yang dirayakan. Hal yang mainstream terjadi tiap tahunnya. Hanya perubahan kecil yang berganti pada konten acara.

Namun tidak bisa disangkal, meskipun perayaan menampilkan hal yang sama setiap tahun, antusias dari masyarakat untuk hadir menonton pertunjukan pada perayaan tersebut tidak kunjung reda. Mungkin karena hanya penasaran atau karena minimnya hiburan murah untuk rakyat.

Pada project ini saya mengambil foto ketika perayaan Cap Go Meh pada dua kota berbeda di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di kota Bogor, masyarakat berbondong-bondong tetap bertahan menonton meskipun dilanda hujan, sedangkan di kota Bandung, pengunjung hadir tumpah ruah ketika sedang panas teriknya.

Festival are always being feasted annually, and usually there are small things change in content event each year.

However, it can’t be denied. Although the festival shows the same thing in every year, people are always enthusiastic to watch and celebrate it. Maybe it could be because they are curious about it, or because there are view free event to entertain people these day.

In this project, I took a picture about celebration of Cap Go meh festival at two different city in West Java, Indonesia. People are so excited and still watched the show even though it was raining in Bogor, while in Bandung, people attended the festival when sunshine’s brightly.

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Tomi Saputra.