Perbincangan Photozine & Photobook

Penyebaran karya melalui media sosial semakin mudah? Kenapa anda malah tertarik untuk publikasi karya melalui medium cetak?

Arya:
Betul, awal saya memotret sampai sekarang saya masih dalam bentuk media sosial. Namun ada teman saya yang berpengaruh terhadap karya saya, dia menyarankan untuk mencoba membuat dalam medium cetak. Lalu saya mencoba untuk membuat karya dalam medium cetak. Selain untuk mencoba hal baru, medium cetak juga sebagai portfolio dan bukti fisik atas karya saya.

Baskara:
Foto tercipta untuk di cetak, setidaknya itu yang saya percayai saat memulai fotografi sebagai hobi, hingga menjadi pekerjaan, dan hingga menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan banyak hal didalam hidup.

Foto dalam bentuk cetak selalu menampilkan sisi-sisi lain yang tidak bisa didapat oleh bentuk digital. Kita bisa menyentuhnya, ada indra lain yang ikut berpartisipasi dalam menyelami karya yang dicetak.

Ada tekstur dari kertas foto yang berbeda-beda, ada kedalaman dan kepekatan tinta, ada pengalaman-pengalaman baru yang akan menyita banyak waktu kita dalam urusan cetak-mencetak sehingga kita menjadi lebih terjun kedalam karya kita sendiri.

Muhammad Hidayat:
Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

 


Boleh diceritakan proses kreatif anda berkarya pada medium cetak?

Arya:
Saya sering ikut berkumpul bersama penggiat fotografi di Bandung, dan disana saya merasa terbakar saat membicarakan berkarya dalam medium cetak. Apalagi ketika saya ditanya “kamu kapan bikin?” . Seperti dilumuri minyak dan dibakar.

Hal itu yang terus memotivasi saya untuk mencoba berkarya dalam medium cetak. dari saat itu saya mencoba mengumpulkan bahan dan cerita.

Related:  Kampung Aquarium Kini, by Ade Andryani

Hingga pada akhirnya 10:30 tercipta, karena motivasi dan saran dari teman saya saat melihat hasil foto saat saya bersama teman liburan.

Baskara:
Proses kreatif dalam medium cetak bagi saya yang paling pertama adalah menentukan ide dasar dari apa yang akan kita cetak tersebut. Apa kita akan bermain dengan single photo atau akan bermain dengan balutan cerita dalam photo story.

Langkah berikutnya adalah pemilihan foto yang akan dipakai dalam project tersebut, berlanjut pada tahapan selanjutnya mau diapakan foto tersebut? Akan dipamerkan? Akan dibikin dalam bentuk buku? Semua kembali sesuai kebutuhan, pantas dibuat apakah project tersebut.

Muhammad Hidayat:
Memindahkan setiap file-file foto pada medium cetak atau bisa dikatakan membuat sebuah zine ataupun photobook merupakan sebuah tantangan, apalagi karya foto yang sudah dicetak itu dipublikasikan, ini adalah hal yang menarik buat saya.

Saya harus melakukan proses editing yang bisa saya katakan lebih sulit dari pada mengedit sebuah foto menggunakan software editing picture, proses editing disini adalah sequencing atau pemilihan terhadap foto-foto yang akan di rangkum kedalam sebuah zine ataupun photobook dan setelah itu bagaimana dengan cara yang kreatif menyusun dan mendesain sedemikian rupa agar terlihat menarik nantinya.

Apa sajakah kendala pada distribusi? Adakah strategi khusus untuk untuk mendukung pendistribusian menjadi lebih masif?

Arya:
Kendala menurut saya adalah saat saya berusaha memperkenalkan diri kepada dunia luar, bahwasanya saya adalah seorang yang baru saja membuat karya. Hahaha… Orang mungkin akan berkata “siapa lu?” tapi ya itu adalah bagian dari memperkenalkan saya kepada dunia luar.

Strategi yang saya lakukan adalah promosi melalui media sosial teman-teman saya. Baik penggiat fotografi maupun teman kampus.

Baskara:
Distribusi selalu menjadi masalah apabila kita tidak punya jalan dalam melemparkan karya kita. Tidak melulu dalam hal cetak, bermain di media sosial tanpa penikmat pun tetap karya tidak akan terdistribusi dengan baik.

Yang paling utama bagi saya adalah percaya bahwa akan ada yang menikmati karya kita, minimal percaya bahwa kita tidak sendiri. Ide yang kita angkat dalam karya kita mungkin orisinil, namun jutaan manusia di planet ini setidaknya akan ada yang memiliki ide yang mirip dengan kita, dan merekalah yang kemungkinan besar akan meng-apresiasi karya kita.

Related:  How Did They Get Here? By Susan Leonmarth Van Litaay

Medium cetak tentunya memerlukan jalan yang terang benderang untuk distribusi nya, bisa dimulai dengan promosi di media sosial, setidaknya itulah kekuatan yang penting di era digital ini.

Kerjasama dengan berbagai komunitas, kerjasama dengan berbagai orang yang membantu terciptanya karya, dan bekerjasama dengan publisher bisa menjadi jalan yang memuluskan niatan kita.

Muhammad Hidayat:
Bisa saya katakan kendala dalam pendistribusian sebenarnya adalah masalah finansial.

Karena promosi itu selalu berhubungan dengan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu untuk saat ini hal yang mudah untuk melakukan pendistribusian masih seputar media sosial atau menggunakan jasa teman-teman untuk ikut membantu mempublikasikan karya-karya foto yang kita miliki, dalam hal ini berupa review atau sekedar melakukan postingan kedalam akun media sosial mereka.

Motivasi terbesar anda berkarya?

Arya:
Diremehkan, saya lahir dan besar disebuah kota kecil, dimana saat saya berkarya ada beberapa orang yang bisa dikatakan meremehkan saya bukan memotivasi ataupun membantu saya.

Hal itu yang membuat saya ingin terus berkarya. Selain itu, saya juga ingin menciptakan sesuatu yang baru untuk kota saya dan intinya saya ingin membuat orang tua saya bangga, bahwa anaknya telah menciptakan sebuah karya.

Baskara:
Motivasi dalam berkarya bagi saya bisa bermacam-macam, namun kebanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di dalam hidup saya.

Mempertanyakan diri sendiri adalah hal yang cukup saya senangi, karena saya selalu berpegang teguh pada “Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhan-nya”, maka setidaknya inilah salah satu alasan saya berkarya, untuk mengenal dan bertemu Aku yang sejati.

Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto. Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Motivasi dalam berkarya? Balik lagi kepada tujuan awal dalam fotografi itu sendiri, seperti yang pernah saya katakan bahwa fotografi merupakan media untuk mengekspresikan diri dan fotografi merupakan hal yang terindah yang saya miliki saat ini oleh karena itu fotografi tidak pernah padam.

Related:  Agan Dayat, Photozine Muse dan Personal Project Photography

Selagi saya masih bisa melihat dan masih bisa menekan tombol shutter pada kamera maka saya akan terus berkarya.

Project terbaru?

Arya:
Project terbaru dan perdana saya adalah zine 10:30 , dan akan membuat zine lainnya, dan tentunya photobook suatu hari nanti.

Baskara:
Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto.

Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Project terbaru: saat ini saya sedang mengerjakan beberapa series foto dan satu project yang sementara berjalan menggunakan kamera analog dan film 35mm pada project tersebut.

Saran untuk rekan-rekan yang ingin mengikuti jejak anda untuk mencetak karya serta mempublikasikannya?

Arya:
Jangan takut untuk mengambil resiko, jangan pernah takut karyamu dianggap jelek, karena tidak ada karya yang jelek, percaya diri intinya dan mau.

Kalian harus mencoba sensasi melihat karya pertama keluar dari mesin cetakan dan kamu merasakan karya kamu secara fisik, bukan di media sosial. Rasanya itu uhhhhhh…..

Baskara:
Teruslah memotret, jangan ragu untuk berkarya, tidak ada yang salah dalam berkarya. Bisa dimulai dari hal kecil didalam hidup kita, karena hal kecil bisa menjadi besar.

Muhammad Hidayat:
Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret (dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Agan Dayat 
Facebook
Flickr
Instagram
Website

Arya Tri Prasakti
Instagram

Baskara Puraga Somantri
Facebook
Instagram
Website

2 Thoughts to “Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *