Blog Archives

Articles, Photography,

2 Pengkarya Berbagi Pengalaman ‘Self-Published’ Photobook

Beberapa tahun terakhir ini minat pegiat fotografi di tanah air cukup antusias untuk membukukan karya-karya mereka, baik itu melalui self-published maupun publisher major. Tentunya menjadi self-publisher mempunyai tantangan tersendiri.

Silahkan simak tulisan berikut dari 2 pengkarya yang bekenan berbagi pengalaman mereka pada jalur  self-published.

DEPTH OF BLUE SEBAGAI ‘SELF-PUBLISHED’ PHOTOBOOK

Aditya Dwi Putra

Depth of Blue adalah rilisan pertama dari series visual mixtape yang menggunakan media audio (mixtape) – visual (photobook) untuk menyampaikan maksud dari karya tersebut. Nama saya adalah Aditya Dwi Putra, dan dalam kesempatan ini saya akan membagi opini dan pengalaman saya mengenai fenomana ‘self-published’ dalam ranah photobook & art-book dengan menggunakan karya ini sebagai sudut pandang dalam menyampaikan opini dan pengalaman saya.

Sedikit latar belakang, karya ini dimulai sebagai tuntutan tugas akhir dari mata kuliah fotografi seni yang saya ambil dalam tahun terakhir masa perkuliahan saya. Di-supervisi oleh Mas Henrycus Napitsunargo, persiapan dalam menyelesaikan visual mixtape/photobook ini dimulai dengan proses konsepsi karya dalam format proposal untuk memperjelas cakupan tujuan dan konsep karya ini dari perspektif yang tepat.

Saya membagi proses berkarya saya menjadi 2, yaitu proses logis (proses kreatif yang berkaitan dengan dengan proses berfikir logis, sestematis, dan berkaitan dengan premis dan hubungan sebab-akibat) dan intuitif (proses kreatif yang berkaitan dengan rasa, hal hal spiritual dan aspek-aspek ‘íntangible’).

Aspek intuitif memiliki kontribusi yang cukup besar dalam proses konsepsi dan proses pemetaan kejaran visual dari karya ini. Dan aspek logis berperan penting dalam proses eksekusi visual. Dan dalam tahap post-produksi, kedua aspek ini sama-sama memiliki andil yang cukup besar.

Secara umum karya ini memiliki tujuan untuk menyampaikan suatu emosi dasar melaui media audio (mixtape) dan visual (photography/photobook) sebagaimana disampaikan sebelumnya. Hasil akhir dari karya ini adalah suatu produk yang memilki bentuk mirip seperti photobook (saya sendiri lebih prefer menyebutnya sebagai visual mixtape) yang didampingi dengan link digital ke mixtape audio untuk merasakan keseutuhan dari karya ini.

Singkat cerita, karya ini bisa di publikasikan berkat dukungan dari salah seorang teman saya yang melihat potensi dari karya ini, dan menurutnya akan sangat disayangkan apabila karya ini hanya dapat dinikmati oleh beberapa orang saja.

Pada akhirnya, karya ini dicetak dan dipublikasikan oleh Retrospective Journal yang memiliki program untuk membantu artist independent dalam memproduksi dan menyeberluaskan karya mereka dengan memberikan bantuan dalam proses percetakan dan proses transformasi karya kedalam bentuk fisik, dengan hasil printing yang berkualitas dan juga membantu dalam proses distribusi melalui penjualan di situs mereka.

Lebih dalam mengenai topik ‘self-published’, pengalaman saya belum dapat dikatakan murni sebagai proses ‘self-publishing’. Hal ini disebabkan Retrospective Journal memiliki kontribusi yang cukup besar dalam membentuk karya ini mencapai bentuk fisiknya. Akan tetapi mungkin saya dapat memberi proyeksi tentang bagaimana mempublikasikan karya dengan jalan ‘self-published’.

Self-published photobook yang dimaksud disini adalah bahwa setiap proses yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu karya dari awal hingga akhir dan proses distribusi itu sendiri dilakukan oleh artist/photographer itu sendiri.

Keuntungan dengan memilih jalur self-published dalam memproduksi dan mendistribusikan karya adalah ketiadaan batasan dan tuntutan dari berbagai pihak terkait karya itu sendiri. Selain itu, semua keuntungan (baik materil ataupun immaterial) 100% akan menjadi hak fotografer/artis. ‘Self-Published’ (independent) sendiri menjadi cukup populer sebagai sebuah opsi publikasi dikarenakan ketatnya peluang yang diberikan oleh publisher besar terhadap para fotografer atau artist yang memilki cakupan karya dengan diversitas yang cukup beragam.

Dalam kasus saya, Retrospective Journal sendiri bisa dibilang berperan sebagi publisher minor, dikarenakan kontribusi signifikan yang diberikan oleh penerbit/percetakan asal semarang ini hanya ada dalam cakupan proses printing / produksi karya. Sedangkan mengenai kontribusi akan proses distribusi, bisa dibilang Retrospective belum memberi kontribusi yang cukup signifikan sehingga distribusi karya sebagian besar banyak dilakukan oleh artist sendiri melalui word of mouth dan sistem consignment ke beberapa retailler artbook/photobook ataupun artshop.

Keuntungan yang saya dapat disini adalah hasil printing dan binding serta packaging product yang sangat memuaskan dengan harga yang cukup terjaungkau dibanding kompetior lainya dalam ranah digital printing (print by demand).

Dalam sudut pandang lainya, permasalahan yang saya dapat disini adalah kesulitan dalam hal distribusi karya melalui sistem consignment, dikarenkan 30-40% dari harga jual produk akan diambil oleh reseller dan apabila anda meng-published photobook/karya anda dengan cara digital printing/print by demand margin keuntungan anda apabila menggunakan cara ini amanya berada disekitaran 30-40% tersebut (apabila dilakukan komparasi dengan produk sejenis).

Kesulitan ini banyak dirasakan oleh banyak artist/photographer yang mempublikasikan karya mereka dengan cara ini.

Dan salah satu resolusi umum untuk permasalahan ini adalah mencetak karya anda dengan sistem offset (print banyak, system cetakan yang notabenya lebih murah dibanding sistem digital printing, akan tetapi untuk mencetak karya anda dengan cara ini ada regulasi minimum order yang mengharuskan anda untuk menyiapkan modal yang cukup besar untuk pencetakan karya anda.

Belum lagi apabila membahas mengenai effort yang cukup rumit dan beberapa riset terkait karakteristik material cetakan dan detail produksi lainya yang harus anda lakukan apabila mencetak dengan cara ini).

Sebagai kesimpulan, pilihan untuk mempublikasi karya anda dengan cara independent/self-published ataupun bergantung ke publisher major, sangat tergantung dari tujuan dari karya itu sendiri. Dalam kasus saya, kebutuhan untuk mempublikasi karya saya sendiri hanya bermula dari tujuan aktualisasi diri personal untuk membentuk karya saya ke dalam bentuk artefak fisik.

Kemudian tujuan ini berkembang lebih jauh menjadi demi penyebarluasan karya saya ke market yang sesuai tanpa ada ekspektasi lebih (finansial ataupun hal lainya). Pada zaman sekarang, juga ada pilihan untuk mempublish karya anda melalui media digital.

Akan tetapi seperti testimoni dari beberapa pihak, suatu karya belum terasa nyata sampai anda menyelesaikan karya tersebut kedalam bentuk fisik. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, itu semua tergantung dari tujuan karya anda, Dan tulisan inipun cuma sebatas opini. Cheers

 

SELF PUBLISH

Agan Dayat

  1. PERSIAPAN PROJECT

Dalam pengerjaan sebuah project biasanya terdiri dari beberapa tema yang dikerjakan secara bersamaan (on going), pergerjaan sebuah project pun bisa memakan waktu enam bulan sampai satu tahun bahkan bisa lebih, tergantung persiapan dan pengerjaannya. Setelah itu masuk ke tahapan produksi.

  1. TAHAPAN PRODUKSI

Setelah project selesai dikerjakan dalam hal ini pengumpulan materi, narasi, layout dan editing hal berikut yang dilakukan adalah mencari tempat produksi atau publisher. Ini adalah salah satu kendala yang terbesar bagi saya dalam penentuan tempat publisher berhubung saya tinggal di daerah yang bisa dikatakan belum terbiasa dengan percetakan sebuah buku foto, Biasanya saya sering berdiskusi terlebih dahulu dengan beberapa teman yang juga dilakukan sebatas chatting atau media sosial digunakan untuk berkomunikasi.

Setelah mendapat tempat produksi yang akan saya gunakan untuk menjadi tempat produksi disini juga menjadi kendala, karena saya tidak langsung bertemu atau berkomunikasi secara langsung dengan pihak produksi dan hanya berkomunikasi via media sosial bahkan terkadang melalui e-mail. Alangkah baiknya dilakukan test print sebelum mencetak dumi untuk buku foto agar kita dapat melihat bagaimana cetakan tersebut lebih kepada teknisnya.

Dan hal ini jarang sekali saya lakukan, dikarenakan jarak yang jauh sehingga memakan cost yang lumayan untuk proses pengiriman. Inilah beberapa kesulitan yang saya sering hadapi pada saat membuat sebuah project atau buku foto. Jarak, waktu, komunikasi serta biaya yang semuanya serba penuh dengan keterbatasan.

Tetapi semua keterbatasan ini tidak menjadi sebuah penghalang bagi saya untuk tetap membuat atau menghasilkan sebuah buku foto, justru bagi saya ini adalah sebuah proses dalam penciptaan sebuah karya dan bagaimana setiap proses ini menjadi sebuah kenikmatan dan tantangan untuk berkarya.

  1. PUBLIKASI DISTRIBUSI

Media sosial masih merupakan medium yang cukup baik dan cukup memberi dampak untuk alat promosi maupun publikasi. Beberapa hal yang lain meminta teman untuk membantu mempublikasikan karya kita di akun-akun media sosial mereka. Submissions project ke berbagai media juga merupakan tahapan publikasi yang baik menurut saya.

Tidak hanya sampai kepada publikasi tetapi saya mengambil inisiatif untuk pendistribusian ke tempat-tempat yang memberikan jasa untuk menjual buku foto, terkadang saya hanya memberikan secara gratis ke beberapa tempat seperti perpustakaan keliling dan beberapa yang lain sebagai bentuk distribusi.

Simak juga

 

 

 

 

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Agan Dayat, Photozine Muse dan Personal Project Photography

Photozine Muse dan Personal Project Photography

Silahkan perkenalkan diri anda?

Hai.. nama saya Muhammad Hidayat, tetapi teman teman lebih sering memanggil Agan Dayat, Saya lahir di Manado tetapi dibesarkan di Jakarta dan sekarang berdomisili di Banda Aceh.

Kenapa anda tertarik pada fotografi?

Buat saya fotografi merupakan sebuah alat atau media untuk pelampiasan emosi karena melibatkan semua perasaan seperti kesal, sedih bahkan gembira dan semua itu dapat saya tuangkan kedalam sebuah foto, dan hal itu menjadikan fotografi merupakan bagian dalam hidup saya saat ini.

Pada project Muse, apakah yang motivasi terbesar anda sehingga akhirnya muncul project ini?

Project ini saya kerjakan pada tahun 2016. Awalnya karena melihat berbagai hal yang terjadi seperti bencana alam, berbagai kejahatan dan semua kekacauan yang terjadi di negeri ini, dimana nyawa tidaklah begitu berarti beberapa orang memiliki pikiran yang sangat sempit dan dengan mudah untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga pada suatu waktu timbul seperti adanya rasa takut dalam hidup yang saya jalani, mungkin semua hal itu menimpa orang lain tetapi tidak bisa dipungkiri suatu saat akan menimpa saya.

Saat itu saya benar-benar mengalami sebuah ketakutan dan kekuatiran, sehingga hampir beberapa hari saya mengambil waktu untuk merenungkan tentang kehidupan yang saya jalani.

Akhirnya saya mendapat sebuah jawaban dari semua perasaan takut yang dialami.

Bersyukur, ya kalimat ini yang muncul dalam hati kecil saya sehingga saya seharusnya merasa bersyukur karena masih bisa tetap bernafas dan tetap dalam keadaan yang sehat hingga saat ini dan bukannya merasa takut dan kuatir.

Bagaimana dengan mereka yang hidupnya begitu mengharukan, bagaimana dengan mereka yang tetap berjuang untuk bertahan hidup dalam kesakitan dan kelaparan.

Semua perasaan dan pemikiran ini yang mendasari dalam pembuatan project Muse.

Secara visual menurut saya, karya pada Muse ini mengingatkan kepada foto-foto Jacob Aue Sobol, apakah ini suatu indikasi bawah Jacob Aue Sobol sangat menginspirasi anda?

Saya mengenal fotografi dan baru bener-bener mendalaminya sekitar pertengahan tahun 2015, sehingga masih sangat minim dengan berbagai referensi Fotografer.

Hal yang sangat menarik buat saya, saya sudah mengambil beberapa foto untuk mengerjakan project Muse dan saya mencoba share dengan beberapa teman yang tergabung dalam salah satu komunitas fotografi yang berbasis media sosial atau group LINE dan pada saat itu salah satu temen mengatakan foto saya mirip dengan karya-karya dari Jacob Aue Sobol, saat itulah saya baru tau dengan nama Jacob Aue Sobol yang sebelumnya saya tidak pernah mengetahuinya.

Saat itu juga saya mulai googling untuk melihat karya karya Jacob, membaca beberapa tulisannya dan akhirnya beliau merupakan salah satu fotografer yang begitu menginspirasi dalam melihat sebuah karya foto.

Maukah anda menceritakan proses dibalik pengerjaan project Muse ini?

Semua foto dalam Muse pengambilannya menggunakan kamera dari telepon seluler. Orang-orang yang ada didalamnya sebagian merupakan teman-teman kantor saya.

Hal yang menarik pengambilan frame demi frame dengan cara candid.

Beberapa dari mereka menertawakan saya karena baru menyadari saya mengambil foto kaki, tangan dan beberapa bagian tubuh mereka, bahkan ketika project Muse selesai beberapa dari mereka terkejut karena ada dalamnya.

Bagaimana anda membagi waktu antara kesibukan pekerjaan dengan pengerjaan sebuah project foto?

Sebenarnya memiliki waktu yang khusus untuk pengerjaan sebuah project foto bisa dikatakan tidak ada, biasanya saya mengambil beberapa waktu sekitar 1-2 jam pada saat weekend (itupun kalo memang bener-bener tidak sedang mengerjakan sesuatu).

Pertama kali saya melihat project Muse dalam bentuk medium cetak berupa photozine, kenapa lebih memilih menggunakan medium cetak sedangkan penyebaran secara digital lebih mudah diakses oleh banyak orang?

Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

Kenapa anda begitu tertarik dengan personal project?

Nah! Ini pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab, kembali dengan apa yang saya katakan sebelumnya bahwa fotografi itu merupakan sebuah pelampiasan emosi dan buat saya fotografi itu bagian dari hidup dan saat ini fotografi merupakan sesuatu yang sangat indah yang saya miliki saat ini. Kenapa dengan personal project ?

Disitulah saya bisa melampiaskan apa yang saya rasakan apa yang saya alami kedalam sebuah personal project, karena berbicara personal berarti sesuatu yang sangat pribadi dan sangat spesifik, saya baru menyadari bahwa personal project adalah jalan untuk melihat kembali kehidupan yang saya jalani mulai dari kecil hingga saat ini.

Apakah ada kendala tersendiri ketika proses pengerjaan personal project?

Kendalanya ya hanya satu tidak semua orang akan dapat dengan mudah untuk menerima foto dan karya yang kita tawarkan.

Adakah anda punya saran, jika nantinya ada rekan-rekan pembaca ingin memuluai sebuah project fotografi?

Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret ( dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret ) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Bio

Muhammad Hidayat (b.1982) Lahir di Sulawesi Utara dan saat ini berdomisili di Banda Aceh bekerja sebagai staf bagian anggaran pada salah satu instansi pemerintahan di Kota Banda Aceh.

Mengenal fotografi sejak pertengahan tahun 2015 dan mulai serius dan memfokuskan diri dengan fotografi, sangat tertarik pada fine art dan expressionism fotografi. Foto-foto dan karyanya sangat personal, mengambil pengalaman dari kehidupannya.

Baginya fotografi bukan sekedar menekan tombol shutter tetapi bagaimana mencurahkan segala perasaan didalamnya serta pelampiasan dari emosi.

Beberapa karya yang telah di published beberapa website Photography

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Agan Dayat