Blog Archives

Photo Stories, Photography, Project,

The Arrival, Photo Series by Andi Sudjana

The Arrival,  by Andi Sudjana

Project description

The arrival was my first attempt to make a photo story based on a science fiction background. It was created initially to response to a submission of Bungkus! (Bandung photography Now!) In 2014.

The idea is to reconstructed or re-imagined the arrival of alien entities to Bandung city based on random article that I found on the internet.

At that moment of the idea emerged I already have some random candid photos that I took during my times wandering my city and somehow it was coincidentally fit to the theme that I want to produced, after that I continue building the story and at the time of presentation of the submission, The Bungkus! Team help me arranged and sequenced the story since it was also my first time creating a photo story.

The Arrival also has been presented as a group exhibition during Bandung photo showcase 2015 event in Bandung, Indonesia.

Short bio:

Andi Sudjana (b.1986), Photography Enthusiast based in Bandung, Indonesia.

Facebook

Instagram

Blog, Photography, Project, Uncategorized,

Ketika Kebosanan Bermedia Sosial Melanda, Maka Kami Mencetak Karya

View this post on Instagram

Udah siap? #diskusiemperan #fotoemperan #ngopret

A post shared by Foto Emperan (@fotoemperan) on

 

Awal Mula Mulai Berkarya Pada Medium Cetak

Perlahan kejenuhan posting foto dimedia sosial itu pasti akan muncul dengan sendirinya, pada awalnya bisa saja like pada foto yang diposting bisa memicu semangat, atau ketika karya anda difitur oleh akun fituran membuat anda merasa begitu bangganya.

Hal semacam itu hanya akan memberikan kepuasaan sesaat, karena memang bergelut di dunia maya seakan semua kesenangan tersebut bertahan sepintas, bagaikan angin yang mudah berlalu tanpa basa basi.

September 2016 terlintas ide untuk mencetak karya dalam bentuk photo series bersama rekan-rekan dari Fotoemperan, diantaranya ada Arifan Sudaryanto dan Baskara Puraga Somantri serta ada M Izzun Ni’am dari Street Malang yang sedang melanjutkan kuliah di Bandung.

Yang menariknya adalah kami tidak begitu paham bagaimana menyusun sebuah buku foto, M Izzun Ni’am cukup mengerti karena pernah berkesempatan mendapatkan pembekalan di Malang dari hasil sharing dengan fotografer yang lebih berpengalaman. Sisanya kami masih sangat awam.

Masih dalam kegamangan dan pasang surutnya semangat, akhirnya ketika menghadiri Bandung Zine Festival 2016 pertemuan bersama mas Kurniadi Widodo dari Flock Project seakan memberikan pencerahan yang tidak akan terlupakan. Lebih akrab dengan panggilan mas Wiwid, mas satu ini sharing panjang lebar tentang wawasan pembuatan photozine, dijelaskan dari A-Z.

Sungguh momen ini memantik kembali keinginan untuk mencetak karya dalam bentuk photozine.

Permasalahan tidak berhenti sampai disitu, ternyata untuk membukukan kumpulan foto tidak semudah yang diduga. Butuh tahap seleksi foto, sequencing, layout sampai pada tahap pembuatan dummy.
Dan tentunya kami tidak berpengalaman dalam hal ini.

Nekat, dan kemauan untuk berkarya ini alasan utama saya untuk tetap mencoba. Minimnya pengetahuan membuat saya belajar lagi menggunakan InDesign, browsing kembali tentang buku foto. Meskipun dengan beragam kekurangan tersebut akhirnya photozine perdana saya The END Room selesai pada tahap photo editing dan layout.

Berbekal dengan ilmu dari internet, sharing sambil ngopi, serta beberapa kali menikmati buku foto membuat saya tidak terlalu ragu untuk menyusun karya.

Meskipun paham bahwa hasilnya tidak akan terlalu bagus, yang menjadi pegangan adalah “ini karya saya, setidaknya saya telah mencoba, bagus dan tidak bagus bukan dari output yang ditampilkan tapi dari proses yang dijalani, gagal adalah proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi”

© Tomi Saputra, from photozine The Audiences, 2017

 

© Tomi Saputra, from photozine A-Z, 2016

Prosesnya belum usai sampai disitu saja, ketika masuk pada tahap cetak permasalahan kembali datang, saya keliling mencari percetakan untuk menemukan hasil cetak yang sesuai dengan keinginan. Setelah mencoba beberapa percetakan akhirnya baru mendapatkan satu percetakan yang memberikan hasil BW nan hitam pekat sesuai dengan karakter BW saya.

Berharap permasalahan usai, namun ternyata ada masalah baru. Ketika anda mencetak foto dengan format booklet ada tantangan tersendiri untuk mesin digital printing, karena pada full spreads ada kemungkinan foto yang dibagi pada 2 halaman tersebut tidak presisi satu sama lain.

Coba bayangkan, anda sudah cukup berusaha dari awal eksekusi ide cerita ketika foto diambil, kemudian proses sampai pada produksi hasilnya malah masih belum memuaskan.

Terlepas dari itu, ada kebanggan dan kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan, selama ini saya hanya bisa menikmati karya hanya dengan layar smartphone atau monitor personal computer (PC) anda, ternyata sensasi berbeda jika dinikmati langsung dalam bentuk fisik seperti format zine ini.

Tidak percaya? Silahkan cetak karya anda.

Dengan perasaan bercampuk aduk antara suka duka karena hasil cetak belum begitu memuaskan saya bersemangat untuk pamerkan kepada rekan-rekan lain di kopi darat mingguan Geonusantara Jawa Barat (GeoJabar).

Buat saya feedback dari orang terdekat itu penting, karena ini bisa menjadi koreksi berkarya untuk pengembangan selanjutnya.

Setelah dummy selesai masuk pada tahap publikasi dengan tujuan pendistribusian photozine. Diproses ini mulai muncul tidak percaya diri, alasannya sederhana karena sejauh ini belum ada pengalaman sama sekali menjual karya, hanya posting dimedia sosial dan kenal teman-teman dari Instagram, ada kegamangan juga apakah nantinya karya bisa diterima dengan baik.

Hal ini berubah ketika saya bertemu dengan mas Wahyu dari Perpustakaan Fotografi Keliling, satu ungkapan yang tidak terlupakan dari mas Wahyu adalah “sebelum karya itu dilahirkan/publikasikan orang yang akan mengkritik sudah ada, pertanyaan adalah apakah berani untuk tampil atau tidak?”

Suatu cambukan yang langsung kena pada lubuk hati, sehingga dengan memberanikan diri photozine perdana The END Room dipublikasikan. Beruntung karena dibantu juga oleh kawan-kawan dimedia sosial untuk upload flyer open pre-order. Dan ternyata cukup banyak peminat, ya mungkin karena hanya sebatas penasaran eheheheh.

Terima sekali buat kawan-kawan yang telah memberikan support dan mengapresiasi.

Karya dengan foto yang tidak begitu jelas, tidak begitu enak dilihat secara teknis, horor bagi sebagian orang. Photozine perdana The END Room terjual kurang lebih 60 pcs bagi saya itu menjadi suatu hal yang tidak bisa dilupakan dengan mudah. Bagaimana tidak, dengan photozine ini saya dan rekan lainnya berkesempatan untuk memamerkan karya dibeberapa kota.

Seperti di Padang dan di Bandung. Pada event Jambore Street Photography Indonesia dan Bandung Photography Month pada tahun 2016. Dengan segala kekurangannya kami dari Fotoemperan juga berkesempatan presentasi di salah satu sesi diskusi Jambore Street Photography Indonesia. Mendapatkan masukan yang sangat bagus dari Ng Swan Ti, Eddy Purnomo, Sari Asih dan para senior lainnya. Suatu kesempatan berharga dalam pembelajaran berkarya.

Konklusi

Saya sangat yakin sekali banyak diantara anda yang ingin mencetak karya foto dalam bentuk buku, menyusun alurnya sedemikian rupa. Tapi ada keraguan bagaimana memulai, bukankah ketika terlintas keinginan untuk membubukan itu adalah awal anda ingin memulai?

Sebagian orang terlalu banyak berfikir, sehingga akhirnya karyanya tidak jadi, kenapa tidak mencoba dulu kemudian produksi. Ketika melihat karya anda dalam bentuk cetak akan ada pemicu untuk mengembangkan dan kembali mencoba mencetak karya.

Jangan takut karya tidak diterima oleh orang lain, tapi takutlah jika anda tidak pernah mencoba!

Simak juga berikut video hasil dokumentasi Diskusi Emperan Vol.1 

 

Exclamationcomma. By Arif Muhammad
Blog, Photography, Project,

Exclamationcomma, By Arif Muhammad

Artists statement

Exclamationcomma

“Dimana terang yang kau janjikan aku kesepian, sepi” – Erk menjadi bekal awal penggarapan project ini. menjalani hubungan jarak jauh dengan pacar membuat saya sering merasa sepi ditempat ramai di Malang, kota yang mendewasakan saya, kota dimana saya tumbuh menjadi manusia seutuhnya yang terus berkarya dan menjadi raya.

 

About

Arif Muhammad, pria kelahiran Palembang 19 Desember 1994. Tumbuh dan besar dikota Jakarta lalu mendewasakan diri dikota Malang, Jawa timur. Memulai berfotografi dengan lebih serius semenjak bergabung dengan #walkingalam , sebuah komunitas fotografi ruang publik dikota Malang, tempat saya belajar dan mulai tau arti dari sebuah karya fotografi.

Awards

• Best of 9 photo on Walkingalam Instagram 2016
• First Curator Choice World street photography 8 / 2017
• Honourable mention from World Street Photography 8 / 2017

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Arif Muhammad

Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Agan Dayat, Photozine Muse dan Personal Project Photography

Photozine Muse dan Personal Project Photography

Silahkan perkenalkan diri anda?

Hai.. nama saya Muhammad Hidayat, tetapi teman teman lebih sering memanggil Agan Dayat, Saya lahir di Manado tetapi dibesarkan di Jakarta dan sekarang berdomisili di Banda Aceh.

Kenapa anda tertarik pada fotografi?

Buat saya fotografi merupakan sebuah alat atau media untuk pelampiasan emosi karena melibatkan semua perasaan seperti kesal, sedih bahkan gembira dan semua itu dapat saya tuangkan kedalam sebuah foto, dan hal itu menjadikan fotografi merupakan bagian dalam hidup saya saat ini.

Pada project Muse, apakah yang motivasi terbesar anda sehingga akhirnya muncul project ini?

Project ini saya kerjakan pada tahun 2016. Awalnya karena melihat berbagai hal yang terjadi seperti bencana alam, berbagai kejahatan dan semua kekacauan yang terjadi di negeri ini, dimana nyawa tidaklah begitu berarti beberapa orang memiliki pikiran yang sangat sempit dan dengan mudah untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga pada suatu waktu timbul seperti adanya rasa takut dalam hidup yang saya jalani, mungkin semua hal itu menimpa orang lain tetapi tidak bisa dipungkiri suatu saat akan menimpa saya.

Saat itu saya benar-benar mengalami sebuah ketakutan dan kekuatiran, sehingga hampir beberapa hari saya mengambil waktu untuk merenungkan tentang kehidupan yang saya jalani.

Akhirnya saya mendapat sebuah jawaban dari semua perasaan takut yang dialami.

Bersyukur, ya kalimat ini yang muncul dalam hati kecil saya sehingga saya seharusnya merasa bersyukur karena masih bisa tetap bernafas dan tetap dalam keadaan yang sehat hingga saat ini dan bukannya merasa takut dan kuatir.

Bagaimana dengan mereka yang hidupnya begitu mengharukan, bagaimana dengan mereka yang tetap berjuang untuk bertahan hidup dalam kesakitan dan kelaparan.

Semua perasaan dan pemikiran ini yang mendasari dalam pembuatan project Muse.

Secara visual menurut saya, karya pada Muse ini mengingatkan kepada foto-foto Jacob Aue Sobol, apakah ini suatu indikasi bawah Jacob Aue Sobol sangat menginspirasi anda?

Saya mengenal fotografi dan baru bener-bener mendalaminya sekitar pertengahan tahun 2015, sehingga masih sangat minim dengan berbagai referensi Fotografer.

Hal yang sangat menarik buat saya, saya sudah mengambil beberapa foto untuk mengerjakan project Muse dan saya mencoba share dengan beberapa teman yang tergabung dalam salah satu komunitas fotografi yang berbasis media sosial atau group LINE dan pada saat itu salah satu temen mengatakan foto saya mirip dengan karya-karya dari Jacob Aue Sobol, saat itulah saya baru tau dengan nama Jacob Aue Sobol yang sebelumnya saya tidak pernah mengetahuinya.

Saat itu juga saya mulai googling untuk melihat karya karya Jacob, membaca beberapa tulisannya dan akhirnya beliau merupakan salah satu fotografer yang begitu menginspirasi dalam melihat sebuah karya foto.

Maukah anda menceritakan proses dibalik pengerjaan project Muse ini?

Semua foto dalam Muse pengambilannya menggunakan kamera dari telepon seluler. Orang-orang yang ada didalamnya sebagian merupakan teman-teman kantor saya.

Hal yang menarik pengambilan frame demi frame dengan cara candid.

Beberapa dari mereka menertawakan saya karena baru menyadari saya mengambil foto kaki, tangan dan beberapa bagian tubuh mereka, bahkan ketika project Muse selesai beberapa dari mereka terkejut karena ada dalamnya.

Bagaimana anda membagi waktu antara kesibukan pekerjaan dengan pengerjaan sebuah project foto?

Sebenarnya memiliki waktu yang khusus untuk pengerjaan sebuah project foto bisa dikatakan tidak ada, biasanya saya mengambil beberapa waktu sekitar 1-2 jam pada saat weekend (itupun kalo memang bener-bener tidak sedang mengerjakan sesuatu).

Pertama kali saya melihat project Muse dalam bentuk medium cetak berupa photozine, kenapa lebih memilih menggunakan medium cetak sedangkan penyebaran secara digital lebih mudah diakses oleh banyak orang?

Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

Kenapa anda begitu tertarik dengan personal project?

Nah! Ini pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab, kembali dengan apa yang saya katakan sebelumnya bahwa fotografi itu merupakan sebuah pelampiasan emosi dan buat saya fotografi itu bagian dari hidup dan saat ini fotografi merupakan sesuatu yang sangat indah yang saya miliki saat ini. Kenapa dengan personal project ?

Disitulah saya bisa melampiaskan apa yang saya rasakan apa yang saya alami kedalam sebuah personal project, karena berbicara personal berarti sesuatu yang sangat pribadi dan sangat spesifik, saya baru menyadari bahwa personal project adalah jalan untuk melihat kembali kehidupan yang saya jalani mulai dari kecil hingga saat ini.

Apakah ada kendala tersendiri ketika proses pengerjaan personal project?

Kendalanya ya hanya satu tidak semua orang akan dapat dengan mudah untuk menerima foto dan karya yang kita tawarkan.

Adakah anda punya saran, jika nantinya ada rekan-rekan pembaca ingin memuluai sebuah project fotografi?

Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret ( dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret ) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Bio

Muhammad Hidayat (b.1982) Lahir di Sulawesi Utara dan saat ini berdomisili di Banda Aceh bekerja sebagai staf bagian anggaran pada salah satu instansi pemerintahan di Kota Banda Aceh.

Mengenal fotografi sejak pertengahan tahun 2015 dan mulai serius dan memfokuskan diri dengan fotografi, sangat tertarik pada fine art dan expressionism fotografi. Foto-foto dan karyanya sangat personal, mengambil pengalaman dari kehidupannya.

Baginya fotografi bukan sekedar menekan tombol shutter tetapi bagaimana mencurahkan segala perasaan didalamnya serta pelampiasan dari emosi.

Beberapa karya yang telah di published beberapa website Photography

Facebook
Flickr
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Agan Dayat