Blog Archives

Poem,

[POEM] Dilema Jiwa

Dilema Jiwa

Karya: Tomi Saputra

Diantara puing reruntuhan hasil congkaknya peradaban,
Tertelungkup malu menatap langit.
Lari sejenak dari kebisingan realita semu,
Dan faktanya cuma berjalan di tempat, merangkak pun tidak.

Bagaimana dengan peradaban?
Dengan berkacak pinggang masih terbahak-bahak.
Sembari menatap jasad rentan yang masih tersungkur dalam kegamangan.
Merintih, bergetar dan menuju ke fase terbujur kaku.

Jasad itu belum sekarat,
Hanya jiwanya saja berkelana dalam dilema.
Ingin berontak, istirahat atau tetap maju ke medan perang.
Si jiwa ini bukanlah lemah, hanya sedang berkelindan dengan carut marutnya suasana.

Jiwa dan jasad yang sedang bertempur dalam getir,
Memanjakan akal dengan rumitnya.
Melawan nafsu yang membakar dengan sangat-sangat bergejolak.
Mencoba dibungkam, diredakan, dalam ketiadaan.

Dan jasad masih terkapar, gemetar, dalam getir.
Dan jiwa masih meronta-ronta, kalut, mencari arah.
Meskipun sudah lama mengerti bahwa arah cuma satu, langkah tetap maju.
Karena pilihan mundur sudah sangat lama dihapuskan.

Bandung, Desember 2017

Photography, Poem,

[POEM] Senja Kala Itu

Senja Kala Itu

Karya: Tomi Saputra

Masih tentang lamunan dibalik selembar kaca

Dimasa hujan berbisik lirih dengan sendunya

Mengemas rindu menjadi semakin menggebu meskipun senja kian
kelabu

Sangat beragam rupa sajak yang memuat tentang senja

Atau mengenai hujan yang dikaitkan dengan momen terbaik bernostalgia

Jangan menjadi muak kawan,

Ini hanyalah pengulangan pada siklus kumpulan kata

Lepaskan batasanmu, buang gengsi penahan sisi melankolis itu

Nikmati ritme rintik turunnya

Terlarutlah dalam suasana dramatisnya, karena ini bukanlah dosa

Hanya memanjakan diri sesaat, menikmati ketika jiwa bercumbu dengan alam

Mari hela hapas sejenak, dan bersyukurlah bahwa kamu masih ada

Bandung, November 2017

Photography, Poem,

[POEM] Di Antara Persimpangan Menuju Jalan Pulang

Di Antara Persimpangan Menuju Jalan Pulang

Karya: Tomi Saputra

Persekutuan bulir dari tangisan langit merangkak di balik kaca

Bersenandung riang seakan menepis sore yang kelabu

Berbanding terbalik dengan atmosfer di hati yang sedang melamun nanar

Rindu akan aroma persawahan yang diantarkan angin

Nyanyian burung balam yang bermain di sela nyiur melambai

Suara serangga dikala maghrib menjelang, yang menjadi alarm nyamuk untuk mencari mangsa

Dan syahdunya udara sejuk yang menemani embun pagi

Saat ini, dalam suatu persimpangan menuju jalan pulang

Mengais harapan di kota bunga yang katanya menenangkan, menyenangkan

Menahan kerinduan sembari mendekap malam

Bandung, November 2017