Blog Archives

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja
Interviews, Photography, Street Photography, Uncategorized,

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

Silahkan perkenalkan diri Anda

Nama Homer Harianja dan saya street photographer

Kenangan apa yang Anda ingat ketika awal mula mengenal fotografi?

Foto Bapak yang memeluk saya di Pantai Ancol. Saya ingin anak saya mengingat seperti saya mengenang Bapak melalui foto.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Street photography sepertinya saat ini menjadi pilihan utama yang Anda pilih pada jalur fotografi, kenapa?

Saya seorang pejalan. Sejak kecil saya sudah memilih berjalan ketimbang bersepeda. Setelah smp saya sering berlama-lama di halte dengan membiarkan angkutan yang saya tunggu berlalu demi menyaksikan kehidupan yang lalu-lalang dan terkadang apa yang disaksikan tadi dengan genit akan saya tulis di buku harian.

Saya baru tahu kemudian bahwa apa yang saya lakukan ini adalah aktivitas flaneur di Paris di pertengahan abad 19. Jika flaneur merekam lewat kata, street photographer melanjutkan tradisi itu.

Sensasi apa yang Anda rasakan ketika pertama kali mendapatkan notifikasi menjadi finalist London Street Photography Festival?

Awalnya senang tapi sekarang biasa saja. Saya sebenarnya ingin menghancurkan mitos bahwa menang di lomba internasyenel itu prestasi besar.

Jangan itu dijadikan standar hebat atau tidaknya seseorang. Saya mencurigai ini penyebab matinya kritik.

Trendnya sekarang orang menaikkan mutu dengan meminjam institusi bukan karya itu sendiri.

Postingan status Facebook Anda sering kali menjadi kontroversi, keresahan apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada publik?

Saya tidak resah. Saya menawarkan gagasan. Kalau tidak sesuai dibantah saja.

Jika pada suatu ketika ada orang yang lebih muda dari Anda memberikan kritik pada status anda di Facebook dengan komentar tidak menyenangkan, apa yang anda lakukan?

Komentar yang tidak menyenangkan itu adalah komentar yang menyerang pribadi.
Tetapi kalau komentarnya mengandung argumentasi, saya akan perhatikan. Sesuai atau tidak.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Bagaimana Anda melihat street photography Indonesia saat ini?

Seperti balita yang sedang belajar berjalan dan di saat ulang tahunnya yang ke-5 orang-orang menghadiahkannya sebuah mobil karena orang-orang itu tidak bisa membedakan antara mobil dengan mobil-mobilan.

Kata street kekinian juga beberapa kali Anda gunakan pada caption foto untuk postingan di media sosial, apa deskripsi street kekinian ini menurut anda?

Street yang berbicara kepada fotografer bukan kepada khayalak. Street yang diapresiasi oleh fotografer karena nilai fotografisnya bukan isinya.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pernah membayangkan menjadi Bruce Gilden di jalan Malioboro?

Tidak. Saya pemalu.

Forum diskusi online atau offline, kenapa?

Saya bukan pembicara publik yang baik. Saya suka melakukannya dalam situasi informal, sambil nyoto misalnya.

Tokoh antagonis street photography Indonesia, dari mana panggilan ini berasal? Dan bagaimana tanggapan Anda terhadap panggilan yang disematkan tersebut, sedangkan bagi sebagian orang ini bisa berkonotasi negatif?

Tokoh antagonis di atas maksudnya bukan seperti penyebutan tokoh masyarakat tetapi penokohan seperti pada karya fiksi, antagonis dan protagonis.

Saya melabeli diri saya sendiri seperti itu supaya seimbang. Yin dan Yang. Gak seru kalau semuanya “LIKERS”

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Meninjau kembali kepada kejadian beberapa minggu ini mengenai ajang kompetisi street photography pada Salon Foto Indonesia, apa yang membuat Anda begitu termotivasi untuk mengkritisi juri dengan lantangnya?

Saya melihat banyak permasalahan dalam penjurian foto. Mereka seperti ruang gelap yang tidak tembus cahaya dengan berlindung dari kalimat tidak dapat diganggu gugat.

Yang saya lakukan cuma pembacaan tandingan pada sebuah karya. Biasa bangetkan? Apa Anda tidak punya pengalaman dalam suatu lomba mendengar keluhan dari peserta yang mencibir, ah jurinya payah? Itu menunjukkan sesuatu kan.

Berbeda misalnya kalau juri membuat pertanggungjawaban publik. Nah itu baru keren.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Mimpi terbesar Anda untuk street photography Indonesia?

20 tahun ke depan saya ingin melihat foto-foto jalanan hari ini. Semoga saat membeli bukufoto atau main ke galeri yang saya lihat bukan cuma decisive moment.

Lihat itu, penggagasnya saja bosen dan kembali melukis. Saya ingin lihat Jogja, saya ingin lihat Kediri, saya ingin lihat Padang, saya ingin lihat Selat Panjang, saya ingin lihat Makassar dan kota-kota lainnya.

Anda cukup berani untuk mengkritisi berbagai hal difotografi tanah air, dan jarang yang berani bersuara seperti Anda. Apakah tidak ada rasa khawatir jika nantinya mempunyai banyak musuh?

Saya sedang menjadi kawan yang baik dengan berkata jujur pada sebuah karya. saya tidak menyerang orangnya. Saya pernah mengkritik foto-foto street dengan low angle tanpa motif dan menyebutnya sebagai foto kodok.

Foto-foto yang hanya gaya semata. Ada teman yang kemudian mengasosiasikannya dengan seseorang. Dipikirnya saya menyerang dia padahal waktu ketemu ngopi bareng.

Bagaimana Anda menilai pendapat orang lain terhadap karya anda?

Saya biasanya mendengarkan saja. Pengarang sudah mati.
Saya akan terlibat jika argumentasinya memang menarik untuk ditanggapi tapi bukan dalam pemaknaan karyanya.

Jika suatu malam Anda terbangun dari tidur, siapa fotografer yang ingin anda temui?

Tony Ray-Jones.

Henri Cartier-Bresson, Joel Meyerowitz, Vivian Maier, Richard Kavlar, Martin Parr. Bagaimana pandangan Anda terhadap para tokoh yang saya sebutkan ini?

HCB meletakkan pondasi Street Photography modern dan sialnya sering disalah pahami.

Joel Meyerowitz, Street Photographer yang beralih ke Landscape lalu membuat bukufoto Landscape dan best seller.

Vivian Maier, Fotografer jenius (flaneur sejati) yang menghidupi dirinya dengan menjadi pengasuh anak.

Richard Kalvar, Street Photographer sepuh yang masih nyetrit sampai hari ini. Long Live, Sir.

Martin Parr, King of Kitsch.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pilih Honda Jazz atau Leica M10?

Ini beneran mau dikasih?

Impian yang belum terwujud dalam menekuni fotografi?

Menghasilkan 1 foto street yang bisa saya banggakan.

Buku foto favorit?

Pictures From Home – Larry Sultan

Project terbaru dan jangka panjang?

Projet terbaru memotret jalanan di Sulawesi
Jangka panjang, memotret Malioboro

Satu kata untuk street photography

Jalanan

Facebook
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Homer Harianja