About

Hai, nama saya Yoga Liberiawan Ganis Yazid, panggil aja Yoga. Saya masih terdaftar sebagai mahasiswa Sosiologi UGM dan sekarang saya lagi sibuk ngerjain skripsi (jadi tahulah, saya semester berapa). Makanya sehari-hari saya terjebak di kosan buat ngerjain skripsi (tapi masih bisa kopdar).
Kenal fotografi udah cukup lama sih, dari saya SMA sudah mulai asik motret. Walaupun masih pake kamera teman. Mulai mau mengenal fotografi saat kuliah, di perkuliahan saya baru mulai tuh belajar teknik, komposisi, pendekatan-pendekatan di fotografi. Sampai akhirnya, saya kenal streetfotografi, fineart, dan expressionism. Termasuk di project “TERJEBAK” ini, mungkin lebih ke expressionism.

Project description

Project “Terjebak” ini sendiri, saya mulai karena ngerjain skripsi di kosan. Waktu pembuatannya, saya lagi sendirian di kosan dan mau keluar buat refresh otak pun gak bisa, bingung mau kemana. Akhirnya saya motret suasana kosan aja, padahal waktu saya janji buat gak motret dulu, fokus ngerjain skripsi. Tapi, butuh refreshing dan kayaknya saya ngerasa sakaw karena udah lama gak motret. Alhasil saya motret aja.

Sewaktu proses motret, saya melihat refleksi saya di kaca kamer kos dan ada gorden yang jadi latarnya. Seakan-akan saya terjebak didalam sebuah penjara dan sendirian, ditambah lagi waktu pengerjaan project ini lagi dengerin lagu danilla yang judulnya “penutupan”, yang liriknya “Terjebak dilintasan waktu, terbujur aku dan membatu”, dan begitulah ide project ini lahir. Besoknya dari pagi sampai malam, saya motret setiap kaca kamer yang ada di kosan saya.

Pesan yang saya ingin sampaikan, dalam project ini saya lupa pada diri saya sendiri, lupa bahwa saya sendiri manusia yang punya batas/limit dalam mengerjakan sesuatu. Butuh waktu untuk rehat hati dan pikiran. Kalo kita udah bingung, rehat dulu aja. Motret jadi opsi buat rehat, walaupun waktu itu jadi bingung sih.

Related:  Exclamationcomma, By Arif Muhammad

Influences

Ada satu kalimat yang selalu saya ingat ketika perkuliahan yaitu “memanusiakan manusia”. Kalimat tersebut yang saya pakai sampai sekarang ketika melakukan sesuatu hal baik ketika bergelut dengan fotografi dan non-fotografi. Karena ketika kita sudah mampu menjadi manusia, kita bisa memanusiakan orang lain di sekitar kita.

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Yoga Liberiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *