Author

Tomi Saputra Ghazali

writer

Tomi Saputra is a Freelance Photographer, Graphic Designer, Digital Marketing, and social media management practitioner. Based in Bandung, Indonesia. Is very interested in learning about many things while having conversations over black coffee. He is also actively writing for Maklum Foto.Tomi co-founded MaklumFoto, Founder Fnd It Magazine. Follow on Twitter at @udatommo

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Poison, by Aji Susanto Anom

POISON

Photo Series by Aji Susanto Anom

Orgasm, La petit mort, The Little Death

This is a poison, a poison delivering my visual interpretation about sex and death. Sex and death is a nature of being, sex is the gate to the birth yet death stands at the end human life. But is it true that sex and death is a matter of life and reproduction?

Bio

Aji Susanto Anom (b.1989) is a photographer based in Indonesia. His work is basically explores all his personal question about the darkness of his deeper life. He has published three photobooks independently called “Nothing Personal”, “Poison” and “Recollecting Dreams”. In 2015, he was selected as one of the participant of “Angkor Photography Workshop” under the mentor: Antoine D’Agata and Sohrab Hura. His works can be discovered through his featured publication on Lens Culture, The Invisible Photographer Asia, Top Photography Films, Monovisions, Dodho Magazines, Sidewalkers.Asia and more.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Aji Susanto Anom

Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

A Girl from Kapan, Photo Story by Ruben Hardjanto (ROE)

About

In my daily life, I lead a Architect Bureau in Jakarta.

I take a photo around the city I lived in my spare time .

Photography is a way for me to relax, meet new friends and exploring my way to tell stories
Later, i found many social issues around me.
Social issue that trig me to dig it deeper.

I realize that picture can tells a thousand word,
I started photographing that issue and tell the story.

Influences

I found a lot of beauty conveyed by humans through song, poetry, and painting.
In every great artwork created by human, I see the unique presence of its maker.

Lately, I read Haruki Murakami’s book and it amazed me.

How he play with the word and bring a simple story up through his imagination is demonstrating the infinite power of imagination.

Project description

“A Girl from Kapan” is a story of a girl named Wati,
Wati lives in small village named Beka, 8km from Kapan, North Mollo, NTT.

Every day, Wati has to walk 1,5- 2 hours to go to school.

In school days, she leave her house at 5-6 am and has just arrived at 3-4 pm
Since Wati grew up in a poor family, she has to help her family to work after school.

After long way walk to school and work at home, the daily learning process far from ideal.
Less of water supply, no electricity and the lack of awareness about education is another issue.

We are aware that education is the starting point for this kids to grow and break out the poverty.

This project is created as a trigger to move people for contributing to their needs.

In the end of 2017, we have prepared a “Shelter House” (a house that close to the school) for kids whose live far from school.

With parental consent they can stay in that house for free from Monday to Friday.
Hopefully, this small step can be the first step for a bigger change.

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Move On, Photo Series by Adi Putra Purnama

Move On, Photo Series by Adi Putra Purnama

About

Nama saya Adi Putra Purnama, tinggal di Solo, Jawa tengah.

Saya lulusan S1 Pend. Teknik Mesin Universitas sebelas maret. Sekarang saya bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sragen Jawa tengah.

Awal mula saya mengenal fotografi yaitu ketika saya mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan. Sebenarnya perkenalan saya dengan fotografi karena ketidak-sengajaan. Anggota UKM yang saya ikuti sedikit dan hanya ada 6 laki-laki satu angkatan termasuk saya.

Saat itu yang tertarik dengan jabatan fotografer tidak ada, oleh karena saya ditunjuk untuk mengisi bagian tersebut, meski saya juga tidak mengetahui fotografi itu seperti apa.

Saya belajar fotografi secara otodidak. Kamera pertama yang saya gunakan adalah Canon 1000D (itu pun milik UKM). Lambat laun berkat bimbingan kakak tingkat saya mampu menguasai dasar-dasar fotografi. Dari sana lah saya mulai menyukai fotografi.

Pertemuan saya dengan mas Taufan Wijaya dan terinspirasi oleh film The Bang Bang Club membuat saya ingin menjadi seorang wartawan foto.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, saya gagal menjadi wartawan. saya pernah melamar ke sebuah koran lokal namun gagal.

Akhirnya saya menerima pekerjaan saya sekarang yaitu sebagai guru dan tetap memotret.

Pertemuan saya dengan mas Aji Susanto Anom mengusik pemikiran saya tentang fotografi. Dahulu menurut saya fotografi jurnalistik adalah foto yang sangat indah dan luar biasa, karena foto tidak hanya sebuah foto, ada sesuatu dibalik sebuah foto tersebut dan memiliki kekuatan yang luar biasa.

Setelah saya bertemu dengan mas Aji Susanto Anom saya baru mengetahui aliran foto yang lain, yaitu foto sebagai media mengungkapkan perasaan, foto yang diperuntukan untuk diri sendiri.

Mulailah saya membuat projek tentang perasaan saya, salah satunya projek ”Move On”.

Kamera saya yang pertama adalah Canon 1100D, kemudian saya membeli camera digital Canon Powershoot A2500. Berjalannya waktu saya lebih tertarik dengan kamera yang minim dalam kemampuan (saya terinspirasi oleh Daido Moriyama).

Saya mulai menganggap kamera adalah senjata, fotografer adalah orang yang menggunakan senjata tersebut. Hal terpenting dalam menghasilkan sebuat karya adalah orang dibelakang senjata tersebut (saya terinspirasi oleh Seno Gumira Ajidarma lewat bukunya “Kisah Mata”). Saat ini saya hanya memiliki kamera Canon Powershoot A2500, sedangkan DSLR saya jual.

Metode memotret saya sekarang ada tiga.

Pertama, saya memotret berdasarkan dasar-dasar fotografi jurnalistik. Saya masih memiliki ketertarikan dalam hal jurnalistik.

Kedua, saya memotret berdasarkan aliran Street Photography.

Ketiga, saya memotret berdasarkan perasaan yang saya rasakan (Saya sedikit susah menjelaskannya untuk yang kedua ini). Bagaimana suasana hati saya, saat saya memegang kamera, dan saya memotret apa yang saya lihat dengan perasaan saya saat itu. Begitulah metode yang kedua ini. hehe

Berhubungan dengan projek saya yang berjudul “Move On” ini adalah kerena perasaan saya yang ditinggal menikah seseorang yang pernah singgah di hati saya. Saat saya merasakan kesedihan itu, saat saya merasakan sakit hati itu, saat itulah saya memotret.

Hasilnya adalah rangkaian foto dalam projek “Move On”. Tentang judul “Move On” saya menganggap bahwa kebahagiaan yang sebenarnya adalah dengan menerima kesakitan, bukan lari dari rasa sakit tersebut.

Contohnya saat tangan kita terluka karena tergores pisau, kita tidak bisa membayangkan bahwa kita sedang tidak terluka, membayangkan dipadang rumput yang luas nan indah dan melupakan rasa sakit di tangan akibat goresan pisau, padahal tangan kita memang sedang terluka.

Berkat rangkaian foto-foto tersebut sekarang saya sudah terbiasa dan terbebas dari kesedihan akibat cinta.

Kegemaran saya diluar fotografi adalah membaca, berpikir dan olahraga. Seorang yang saya idolakan adalah Seno Gumira Ajidarma. Ia wartawan, fotografer, penulis, budayawan, dan pemikir. Sekarang pun saya sedang belajar menulis agar bisa menyalurkan pemikiran dan perasaan saya.

Ungkapan yang menginspirasi saya adalah dari Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah proses keabadian”. Didalam pikiran saya, ungkapan tersebut berubah menjadi “Berkarya adalah proses keabadian”.

Saya bukan seseorang yang mecintai fotografi dari awal atas diri saya sendiri, sehingga saya terlalu naïf jika mengatakan bahwa kalau tidak memotret saya akan mati.

Namun, fotografi adalah salah satu hal yang membuat saya lebih hidup.

Sekian, maaf jika terlalu bertele-tele, dan terima kasih atas ketertarikannya dengan projek saya yang berjudul “Move On”. Salam kenal.

 

 

 

Move On Project Desription

Aku merasa ini hanya mimpi buruk, tapi ternyata ini semua nyata.
Dia menikah 18 januari 2017, dan hari itu adalah akhir dari hubungan kami. Malam-malam setelah itu, sepi selalu menghampiriku. Handphone yang setiap malam selalu dipenuhi chat darinya, kini seperti mati suri. Aku sering membayangkan bagaimana dia melewati waktu malam bersama suaminya. Padahal sebelumnya, kita masih sering melewati malam bersama.

Beberapa foto ini adalah foto-foto yang aku ambil saat dia terlintas dalam pikiranku. Foto-foto tersebut merupakan proses diriku untuk bangkit kembali.

Berkat semua itu, sekarang aku mampu menerima rasa sakit dalam hatiku dan menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Aku yakin setelah ini akan datang “dia” yang lain.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Adi Putra Purnama

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja
Interviews, Photography, Street Photography, Uncategorized,

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

Silahkan perkenalkan diri Anda

Nama Homer Harianja dan saya street photographer

Kenangan apa yang Anda ingat ketika awal mula mengenal fotografi?

Foto Bapak yang memeluk saya di Pantai Ancol. Saya ingin anak saya mengingat seperti saya mengenang Bapak melalui foto.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Street photography sepertinya saat ini menjadi pilihan utama yang Anda pilih pada jalur fotografi, kenapa?

Saya seorang pejalan. Sejak kecil saya sudah memilih berjalan ketimbang bersepeda. Setelah smp saya sering berlama-lama di halte dengan membiarkan angkutan yang saya tunggu berlalu demi menyaksikan kehidupan yang lalu-lalang dan terkadang apa yang disaksikan tadi dengan genit akan saya tulis di buku harian.

Saya baru tahu kemudian bahwa apa yang saya lakukan ini adalah aktivitas flaneur di Paris di pertengahan abad 19. Jika flaneur merekam lewat kata, street photographer melanjutkan tradisi itu.

Sensasi apa yang Anda rasakan ketika pertama kali mendapatkan notifikasi menjadi finalist London Street Photography Festival?

Awalnya senang tapi sekarang biasa saja. Saya sebenarnya ingin menghancurkan mitos bahwa menang di lomba internasyenel itu prestasi besar.

Jangan itu dijadikan standar hebat atau tidaknya seseorang. Saya mencurigai ini penyebab matinya kritik.

Trendnya sekarang orang menaikkan mutu dengan meminjam institusi bukan karya itu sendiri.

Postingan status Facebook Anda sering kali menjadi kontroversi, keresahan apa yang sebenarnya ingin disampaikan kepada publik?

Saya tidak resah. Saya menawarkan gagasan. Kalau tidak sesuai dibantah saja.

Jika pada suatu ketika ada orang yang lebih muda dari Anda memberikan kritik pada status anda di Facebook dengan komentar tidak menyenangkan, apa yang anda lakukan?

Komentar yang tidak menyenangkan itu adalah komentar yang menyerang pribadi.
Tetapi kalau komentarnya mengandung argumentasi, saya akan perhatikan. Sesuai atau tidak.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Bagaimana Anda melihat street photography Indonesia saat ini?

Seperti balita yang sedang belajar berjalan dan di saat ulang tahunnya yang ke-5 orang-orang menghadiahkannya sebuah mobil karena orang-orang itu tidak bisa membedakan antara mobil dengan mobil-mobilan.

Kata street kekinian juga beberapa kali Anda gunakan pada caption foto untuk postingan di media sosial, apa deskripsi street kekinian ini menurut anda?

Street yang berbicara kepada fotografer bukan kepada khayalak. Street yang diapresiasi oleh fotografer karena nilai fotografisnya bukan isinya.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pernah membayangkan menjadi Bruce Gilden di jalan Malioboro?

Tidak. Saya pemalu.

Forum diskusi online atau offline, kenapa?

Saya bukan pembicara publik yang baik. Saya suka melakukannya dalam situasi informal, sambil nyoto misalnya.

Tokoh antagonis street photography Indonesia, dari mana panggilan ini berasal? Dan bagaimana tanggapan Anda terhadap panggilan yang disematkan tersebut, sedangkan bagi sebagian orang ini bisa berkonotasi negatif?

Tokoh antagonis di atas maksudnya bukan seperti penyebutan tokoh masyarakat tetapi penokohan seperti pada karya fiksi, antagonis dan protagonis.

Saya melabeli diri saya sendiri seperti itu supaya seimbang. Yin dan Yang. Gak seru kalau semuanya “LIKERS”

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Meninjau kembali kepada kejadian beberapa minggu ini mengenai ajang kompetisi street photography pada Salon Foto Indonesia, apa yang membuat Anda begitu termotivasi untuk mengkritisi juri dengan lantangnya?

Saya melihat banyak permasalahan dalam penjurian foto. Mereka seperti ruang gelap yang tidak tembus cahaya dengan berlindung dari kalimat tidak dapat diganggu gugat.

Yang saya lakukan cuma pembacaan tandingan pada sebuah karya. Biasa bangetkan? Apa Anda tidak punya pengalaman dalam suatu lomba mendengar keluhan dari peserta yang mencibir, ah jurinya payah? Itu menunjukkan sesuatu kan.

Berbeda misalnya kalau juri membuat pertanggungjawaban publik. Nah itu baru keren.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Mimpi terbesar Anda untuk street photography Indonesia?

20 tahun ke depan saya ingin melihat foto-foto jalanan hari ini. Semoga saat membeli bukufoto atau main ke galeri yang saya lihat bukan cuma decisive moment.

Lihat itu, penggagasnya saja bosen dan kembali melukis. Saya ingin lihat Jogja, saya ingin lihat Kediri, saya ingin lihat Padang, saya ingin lihat Selat Panjang, saya ingin lihat Makassar dan kota-kota lainnya.

Anda cukup berani untuk mengkritisi berbagai hal difotografi tanah air, dan jarang yang berani bersuara seperti Anda. Apakah tidak ada rasa khawatir jika nantinya mempunyai banyak musuh?

Saya sedang menjadi kawan yang baik dengan berkata jujur pada sebuah karya. saya tidak menyerang orangnya. Saya pernah mengkritik foto-foto street dengan low angle tanpa motif dan menyebutnya sebagai foto kodok.

Foto-foto yang hanya gaya semata. Ada teman yang kemudian mengasosiasikannya dengan seseorang. Dipikirnya saya menyerang dia padahal waktu ketemu ngopi bareng.

Bagaimana Anda menilai pendapat orang lain terhadap karya anda?

Saya biasanya mendengarkan saja. Pengarang sudah mati.
Saya akan terlibat jika argumentasinya memang menarik untuk ditanggapi tapi bukan dalam pemaknaan karyanya.

Jika suatu malam Anda terbangun dari tidur, siapa fotografer yang ingin anda temui?

Tony Ray-Jones.

Henri Cartier-Bresson, Joel Meyerowitz, Vivian Maier, Richard Kavlar, Martin Parr. Bagaimana pandangan Anda terhadap para tokoh yang saya sebutkan ini?

HCB meletakkan pondasi Street Photography modern dan sialnya sering disalah pahami.

Joel Meyerowitz, Street Photographer yang beralih ke Landscape lalu membuat bukufoto Landscape dan best seller.

Vivian Maier, Fotografer jenius (flaneur sejati) yang menghidupi dirinya dengan menjadi pengasuh anak.

Richard Kalvar, Street Photographer sepuh yang masih nyetrit sampai hari ini. Long Live, Sir.

Martin Parr, King of Kitsch.

Q&A Dengan Tokoh Antagonis Street Photography, Homer Harianja

© Homer Harianja

Pilih Honda Jazz atau Leica M10?

Ini beneran mau dikasih?

Impian yang belum terwujud dalam menekuni fotografi?

Menghasilkan 1 foto street yang bisa saya banggakan.

Buku foto favorit?

Pictures From Home – Larry Sultan

Project terbaru dan jangka panjang?

Projet terbaru memotret jalanan di Sulawesi
Jangka panjang, memotret Malioboro

Satu kata untuk street photography

Jalanan

Facebook
Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Homer Harianja

 

Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

I Found The Silence, by Martin Stranka. From Czech Republic

I Found The Silence

Artist Statement

Unlike many compositing artists, Stranka shoots all ofthe photos he uses.

“My photography is my own creation,” he says. “People often ask me if the animals in my animal series are real animals, and all of them are. When I created the components of Until You Wake Up, I went to a nearby animal refuge and took photos of white deer with my 70–200 mm lens.”

So wherever he goes, he collects images of grass, forest, clouds, sky, and sun from nature, knowing he’ll eventually find a use for the right one. “Some people collect stamps,” he says. “I collect trees and fields.”

When he sits down at the computer and opens Photoshop, Stranka approaches each image as if he’s sitting before an actual canvas—although he insists he can’t draw or paint to save his life.

He generally spends up to 100 hours on a single image, working on it for up to a week, before putting it away and returning to it after a few days with a fresh eye.

Project Description

My photography project called “I Found The Silence” is like a diary during my last 8 years. When I am alone I may fear that I will somehow live a life of loneliness or I may discover some truths about myself that can be scary or hurtful.

Being alone is not bad. In fact, it is a time to meditate, discover yourself. It is time for inner peace.

In this world of chaos and distractions, we have gotten into a habit of not stopping, being busy and surrounding ourselves with things that are loud, disturbing and continuous.

Being alone in the silence is actually one of the healthiest moments you can have with yourself. The series “I Found The Silence” shows us in different moments of our inner peace and discovering yourself.

Bio

“Martin Stranka, a native of the Czech Republic who lives in Prague, is a self-taught professional photographer, born on April 13 1984.

Martin was a bored student plodding through courses in business school when the unexpected death of a close friend led him to pursue photography as a form of therapy.

That hobby turned into a passion and, eventually, a profession.

His distinctive vision of photography is etched as a unique space located in a balance and serenity, while his sophisticated and rewarding images exist in that narrow window of a few seconds between dreaming and awakening.

Martin creates images that appear to be stills from a film — one that walks the line between fantasy and reality.

During the last years he has won over 50 major international photography awards from different competitions, including Professional Photographer of the Year, Nikon International Photo Contest, Prix de la Photographie Paris, Sony World Photography Awards and International Photography Awards eleven times in a row.

His solo and group exhibitions have been seen from South and North America, through Europe, all the way to Asia.

His photographs have been exhibited in places such as New York, Los Angeles, Las Vegas, Tokyo, Milan, London, Miami, Paris, Prague, Hong Kong, Kiev and many more.

Martin’s work was presented in prestigious galleries such as Getty Images Gallery, Saatchi Gallery and SNAP! Orlando.

His work stood proudly alongside the likes of Andy Warhol, Annie Leibovitz, Banksy, Damien Hirst, Helmut Newton and Erwin Olaf.

Martin was introduced and exposed at SCOPE, the largest and most global emerging art fair in the world, held annually in New York City, Miami, and Basel.

Martin’s dreamy, transportive photography has been commissioned by cultural institutions such as the National Theatre in Prague and the Czech National Ballet.

Dozens of his images have also been used by New York publishers for the covers of mysteries and thrillers — genres he believes his work is perfectly suited to.

He has created book covers for the biggest New York publishers, such as Harper Collins Publishers, Sterling Publishing and Penguin Random House. In addition, he has collaborated with other book publishers, music publishers and artists around the world.

Work of Martin Stranka was featured in interviews for Adobe, Disney, The Guardian and many more.”

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Martin Stranka

Relikui Asa, by Arifan Sudaryanto
Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Relikui Asa, by Arifan Sudaryanto

Project Description

Penggusuran adalah salahsatu isu sosial yang menjadi momok mengerikan yang takkan ada hentinya menggerus kehidupan masyarakat urban. Pemerataan pembangunan menjadi dalih penggusuran tanpa menghiraukan keadilan bagi korban penggusuran.

Rasa kemanusiaan dilacuri kepada pemilik kekuasaan seumpama para pemilik modal dan para investor, yang tentunya dilindungi negara yang lebih ber-empati pada mereka yang kantongnya berisi.

Ketika rakyat membela haknya, dilawan dengan tindakan keras oleh “atribut negara” dan segala aksesorisnya untuk meng-eksekusi rakyat tertindas (yang seharusnya melindungi). Demi tuhan semesta alam, siapa yg kau lindungi wahai pemimpin kami? Mereka para korporasi, atau kami yang diusir secara paksa dari tanah kelahiran kami sendiri?

Pada dasarnya, tak ada yang berpihak pada rakyat jika ego manusia masih bercukul kokoh diatas kekuasaan dan berambisi memenuhi ego nya semata, yang tentunya diiringi keserakahan materi sebagai poros utamanya.

Persetan dengan semua tektek bengek demokrasi (walaupun berdebat hingga mulut berbusa) jika kapitalisme masih tetap dilanggengkan negara dan lebih berpotensi menjadi tuhan baru bagi negeri ini.

Kini, hanya kesedihan yang muncul sebagai akibat keadilan yang begitu semu bagi rakyat tertindas. Rumah, sebagai tempat yang sakral bagi penghuninya, kini hanya menyisakan cerita pilu akan ketidakadilan yang begitu nyata dan menjadi parasit bagi rakyat kecil.

Segala kebahagiaan, kehangatan, dan kenyamanan hilang seketika tertimbun reruntuhan rumah yang diluluh lantahkan oleh tangan dingin korporasi. Relikui Asa, merasakan semua kesedihan itu.

Instagram

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Arifan Sudaryanto