Author

Tomi Saputra Ghazali

writer

Tomi Saputra is a Freelance Photographer, Graphic Designer, Digital Marketing, and social media management practitioner. Based in Bandung, Indonesia. Is very interested in learning about many things while having conversations over black coffee. He is also actively writing for Maklum Foto.Tomi co-founded MaklumFoto, Founder Fnd It Magazine. Follow on Twitter at @udatommo

Absurdity, by Slamet Riyadi
Blog, Photography, Project,

Absurdity, by Slamet Riyadi

Saya Slamet Riyadi, teman-teman biasa panggil saya Didi. Keseharian saya adalah mengajar di sebuah universitas negeri di Bandung sejak 2015 lalu. Fotografi sebenarnya bukan passion yang saya tekuni dengan serius maupun saya jadikan sebagai profesi. Sebagai seorang pengajar di jurusan desain dan sebagai praktisi desain produk, saya menyukai hal-hal yang bersifat mekanikal dan memiliki nilai desain dan engineering yang tinggi, salah satunya adalah kamera analog. Meskipun begitu, saya beruntung sudah mengenal dunia fotografi sejak saya masih duduk di bangku SD karena orang tua saya kebetulan penggemar fotografi juga hingga akhirnya saya pun “terbawa arus” dalam hobi fotografi ini walaupun tidak saya tekuni sebagai profesi.

2011 hingga 2015 saya berkesempatan untuk merantau ke negeri matahari terbit untuk melanjutkan studi saya hingga akhirnya saya ‘mengenal kembali lebih dalam’ dunia fotografi analog yang lama tidak saya lakukan sejak SMP. Saat itu saya mulai menyukai karya-karya dari beberapa fotografer Jepang yang memiliki ciri khas unik dalam teknik framing di setiap fotonya, khususnya dalam fotografi analog.

Selama saya tinggal di sana, saya mencoba mempelajari beberapa karakteristik dan keunikan yang terdapat pada karya-karya fotografer lokal di sana seperti framing, jenis kamera, focal length yang biasa dipakai, jenis film hingga exposure value yang selalu dipakai oleh mereka hingga saya berharap suatu saat saya bisa mencobanya sendiri dalam project yang akan saya lakukan.
Dalam proses studi saya di sana, saya biasanya menyempatkan 2-3 jam untuk bermain dengan kamera analog yang biasa saya bawa setiap hari sambil “hunting” disekitaran kampus dan apartemen tempat saya tinggal.

Absurdity merupakan project pertama saya yang saya anggap menjadi project yang digarap dengan tujuan untuk dapat mencoba mengadaptasi ciri khas fotografer lokal di sana dalam menyampaikan sebuah pesan “susahnya menjalani perkuliahan di negeri sakura” tersebut.
Dalam project ini, saya berusaha memvisualkan emosi positif seperti girang, senang serta emosi negative seperti rasa khawatir, panik, bingung namun dengan format yang informal.

Kamera: Leica M3 + voigtlander nokton classic 35mm f/1.4
Film: Kodak gold 200

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Slamet Riyadi

Articles, Blog, Photography,

Awal Mula Tertarik dan Jatuh Cinta Pada Fotografi

Perjalanan Awal Pada Fotografi

Ini bukanlah sebuah kisah romansa, ketika cinta dimulai dari sebuah pertemuan tidak terduga, hingga dua sejoli akhirnya saling memadu kasih. Tulisan ini hanya sepenggal cerita kenapa saya begitu mencintai fotografi, semoga tidak menjadi membosankan untuk disimak.

Dimasa sekolah dasar, saya sangat menyukai membaca berbagai hal. Ketika membaca, imajinasj seakan memvisulisasikan teks di depan mata, mengkhayalkan beragam hal sambil berdecak kagum. Teks bagaikan sihir yang bisa menghipnotis dengan sedemikian rupa.

Ketika menyadari hal tersebut akhirnya muncul keinginan untuk menjadi penulis.

Hal ini akhirnya berubah ketika menginjak bangku sekolah menengah pertama. Seperti remaja pada umumnya, ketika di akhir pekan menginap di salah satu rumah teman, saya menemukan kumpulan foto-foto dokumentasi kegiatan pemuda karang taruna daerah kami.

Ada ketertarikan yang tidak terlalu saya mengerti, satu persatu foto-foto ini saya perhatikan. Saya terdiam begitu lama, ada daya tarik magis yang seakan membuat saya hadir pada momen foto tersebut. Apa ini? Ketika itu saya belum memahaminya.

Cukup lama saya mencoba merenungkan dan mencari jawaban, kenapa ketika melihat suatu foto, ada bagian dari relung hati yang seakan membangkitkan emosi dengan sedemikian rupa.

Agak berbeda ketika membaca, dibutuhkan proses visualisasi terlebih dahulu baru kemudia saya bisa memahami atau menebak apa yang ingin disampaikan penulis.

Namun ketika melihat foto pada ketika itu, saya tidak melalui tahap visualisasi, karena yang dinikmati memang sudah dalam bentuk visual. Foto dengan cepat bisa membuat saya terperangah, dan saya masih belum memahami alasannya.

Setelah kejadian tersebut, tidak pernah terbayangkan sama sekali bersentuhan dengan fotografi, karena ketika itu pada 2002, fotografi masih menggunakan roll film, tidak murah memang.

Dan kamera pocket yang biasa disebut tustel hanya digunakan hanya pada momen tertentu, ketika ada hajatan atau kegiatan yang memang butuh diabadikan sebagai arsip visual.

Barulah pada 2005-2006 telepon seluler dengan OS Symbian mulai dilengkapi dengan teknologi kamera VGA, pada masa ini saya mulai berkesempatan mengabadikan momen dengan kamera dalam bentuk file digital.

 

© Tomi Saputra, Bandung 2015

Ketika menulis, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk merangkai kata, apakah itu ketika ingin sekedar menulis puisi, atau ketika penulisan untuk sebuah artikel singkat.

Berbeda dengan ketika berfotografi saya hanya memikirkan suatu ide cerita, eksekusinya bisa mengalir dengan perlahan, meskipun pada beberapa ide cerita tertentu cukup kesulitan dituangkan.

Kegiatan menulis dan berfotografi memiliki beberapa kesamaan, saling adanya penuangan emosional si pencipta karya, hal inilah yang akhirnya bisa menyentuh emosi para penikmatnya.

Tidak jarang ketika pada proses pengambilan foto, saya bisa melupakan berbagai hal, tekanan pada dunia kerja, masalah fisansial dan hal lainnya yang menimbulkan depresi. Yang saya tahu, menekan tombol shutter untuk mendapatkan gambar yang bagus.

Mata, pikiran dan hati seakan bekerja sama terlarut dalam observasi, hingga akhirnya nanti, ketika pada proses pemilihan foto ada kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan, sampai akhirnya karena ini diproduksi dalam bentuk cetak. Ada kepuasaan yang sulit diungkapkan.

Berfotografi bagi saya, bagaikan visual diary atau visual memori tentang bagaimana saya melihat dunia, apakah itu keindahan menurut perspektif saya, atau hanya rekaman momen-momen yang menurut saya menarik untuk diabadikan.

Puisi bisa menghadirkan tafsiran ambigu, dan tidak dijabarkan dengan jelas oleh penulis, begitu juga karya pada bentuk foto yang ingin saya sajikan.

Terkadang saya cukup kesulitan menyampaikan pesan dengan medium teks, fotografi inilah yang cocok bagi saya. Meskipun berpuisi masih menarik, tapi saat ini fotografi masih menjadi medium yang tepat bagi saya untuk berkarya.

How did they get here?, by Susan Litaay
Blog, Photo Stories, Photography, Project,

How Did They Get Here? By Susan Leonmarth Van Litaay

How Did They Get Here? Photo Series By Susan Leonmarth Van Litaay

Cukup mengejutkan saat saya mengunjungi panti asuhan Boncel ini.
Bahkan awalnya saya berpikir bahwa tempat ini adalah salah satu sekolah elite Katolik di pusat kota Jakarta.

Ada beberapa tempat tidur besi berjajar. Para bayi memiliki penyejuk udara, perawatan standar dalam taraf baik dan tidak sembarang orang dapat masuk. Di panti tersebut ada sebuah jendela besar yang mana dapat dilihat dari luar. Saya terpana oleh jendela-jendela besar, untuk siapakah?

Jendela tampaknya siap untuk pengunjung sehingga mereka dapat melihat bagaimana lembaga memperlakukan bayi. Dalam kamar ada sekitar 22 bayi dari berbagai usia. Rata-rata saya melihat kebanyakan bayi usia 1 tahun ke bawah yang kamarnya disetel radio, sehingga ada beberapa balita yang menari kotak irama.

Ada pula yang tiba-tiba menangis dan langsung ditangani perawat dengan penuh kelembutan.

Nah bagaimana mereka bisa ada di tempat ini? Seumur hidup mungkin tak akan pernah terpahami.

Somewhat surprising that the orphanage named Boncel, which last year I visit this well-preserved
Even I would have thought that this place is one of an elite Catholic school in the city center of Jakarta.

There are several bed of iron lined. Baby in the room has air-conditioning, and not just anyone may enter. As the nursery at the hospital, there is a large window where one can see from the outside. Had I was stunned by the large windows, for whom the it is?

The window appears to be prepared for visitors so they can see how institutions treat the baby. In the room there were about 22 babies of various ages. On average I see everything under 1 year of age .. In the room mounted radio, so there is some holding toddlers who dance to the rhythm box.

There was a sudden cry and nurse with patient shoote the baby in a compassionate tone. So Pure!

How did they get here? These children have their own story.
The story didn’t understand a lifetime.

Because the point where the baby was finally forced to give to the Boncel’s place is a result and a point of conclusion. A story in which hundreds of problems solved by selfishness.

Bio

Artist Bio/ Statement :

During the eight years of teaching at the university but since 2016 but is no longer.
System Analyst and Entrepreneur which born 1983 at May.

I like to write a few articles and manage own website that discusses photography. Start involved street photography since 2014 using a digital camera. I am interested in making a photograph, especially about human social activity, one of which is a photo series that I put into the frame zero.

Just take a photograph that makes my makeup smudged in the day time, and I am happy

Portfolio Online Links :

Contributor for Margi 1st Edition; Indonesian’s zine street photography (Nov.2015)
Juara Harapan I di Lomba Photostory Budi Luhur Dalam Lensa Kamera 2016 tingkat Umum (Pameran.Juni 2016, April dan Mei 2017)
Kategori 60 Street Fotografi terbaik dengan tema ‘Kontras’ (Pameran.Mei 2017)
http://framezero.media/susanlitaay-howdidtheygethere/
Kategori 30 besar Lomba Foto Keragaman Indonesia;Kolaborasi Kemendikbud dan Kelas Pagi, Kategori Ragam Religi Indonesia (Juni.2017)

Facebook
Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Susan Leonmarth Van Litaay 

The Afternoon People, by Vina Fatma Sari
Blog, Photography, Project,

The Afternoon People, by Vina Fatma Sari

The Afternoon People

Suatu hari saya pergi ke suatu tempat di Bandung yang sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang. Karena saya menyukai foto jalanan atau street photo, saya sengaja mengunjungi Alun-Alun di sore hari untuk belajar mengambil beberapa momen disana. Saya ingin tahu seberapa sabar saya dalam menunggu momen-momen sederhana disana.
Selama tiga jam saya duduk disebuah rumput hijau yang luas dimana disana banyak sekali orang-orang melakukan beberapa kegiatan sederhana.
Tapi yang saya lakukan pertama kali adalah melihat dan mencoba memperhatikan suasana disana, saya hanya mengambil beberapa foto saja.
Sebenarnya selama tiga jam disana saya merasakan sebuah ‘kekosongan’ yang tiba-tiba timbul dari dalam diri saya. Saya menjadi mengerti sesuatu bahkan seperti ada sebuah harapan muncul ketika saya berada disana.
Saya berharap bisa menjadi manusia paling tersibuk supaya saya tidak membiarkan diri saya berhenti atau melamunkan sesuatu, saya tidak akan membiarkan diri saya untuk berdiam diri atau menyerah. Yang haru saya lakukan hanya terus berjalan, berjalan dan berjalan sekalipun harus merangkak.

Terimakasih untuk orang-orang di sore hari, Alun Alun Bandung.

One day I tried to go to a place in Bandung is always crowded, from morning to night. As a street photography lover, I try to learn to photograph a simple but meaningful moment. I take hours to watch what some people do on the green grass. Although what I got was a feeling of emptiness in the crowd.

But I understand something,there hope arise. I hope to be the busiest human among the other human beings. Not allowing this self to think something makes me stop or give up. I just have to keep going even though I have to crawl.

(by Vina FS)

Bio
Nama: Vina Fatma Sari
TTL: Bandung, 13 Januari 1992
Alamat: Jl. Gumuruh no 111B, Bandung.
Pekerjaan: Wartawan
Instagram: @fsvinaa

Facebook: Vina Fatma Sari

 

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Vina Fatma Sari

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Ecology, photo essay by Kurnia Ngayuga Wibowo

Ecology

Yogyakarta, 15 April 2017.

Ecology adalah sebuah project yang mengangkat tentang perjalanan dan suatu bentuk cerita yang telah Kurnia Ngayuga Wibowo alami ketika beberapa saat berada di suatu lokasi yang membuat kami takjub tentang suatu keadaan yang menampilkan tiga wujud citra tuhan.

Mereka memiliki perannya masing-masing, antara manusia, hewan dan lingkungan. Kami mencoba menyajikan sebuah cerita melalui karya fotografi yang kiranya dapat mewakili keadaan dan realitas atas apa yang ada dilokasi pada waktu itu.

TPAS Piyungan terletak di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Didirikan pada tahun 1992 dan mulai beroperasi pada april 1996.

TPAS Piyungan merupakan titik pembuangan akhir di Yogyakarta. Bak sebuah lautan, segala jenis sampah terkumpul disana dan karena suatu proses yang begitu lama sehingga seakan tanah dan sampah telah mengeras dan menjadi satu dengan bumi.

Tak luput dari itu, jika kita berjalan lebih ketengah, kita akan berjumpa dengan Air Lindi. Air Lindi adalah cairan yang merembes ke bawah dari tumpukan sampah yang terbentuk karena pelarutan dan pembilasan materi-materi terlarut dan proses pembusukan oleh aktivitas mikroba setelah adanya air eksternal, termasuk air hujan, yang masuk ke dalam tumpukan sampah itu.

Pada siang yang terik, sekelompok manusia melakukan suatu rutinitas yang juga merupakan sumber mata pencaharian mereka. Mereka bekerja setiap waktu untuk mengais sampah yang menjadi sumber penghidupannya. Jam kerja mereka tidak menentu, terkadang mereka sering bekerja dari pagi hingga malam.

Dengan jam kerja yang sedemikian panjang ini sebenarnya secara tidak langsung dapat mengancam kesehatan mereka. Hal ini dapat kita saksikan dari bertumpuknya gundukan sampah dan mereka harus bergelut diantaranya, jelas ini dapat menimbulkan beragam penyakit seperti penyakit kulit, diare dan sebagainya.

Namun, dengan segala macam problematika yang mereka hadapi. Mereka tetap ramah ketika menerima tamu, hal ini terbukti ketika kami berkunjung untuk melaksanakan aktivitas fotografi disana. Mereka mengizinkan kami untuk dipotret, juga dipersilahkan untuk menaiki dasbor atas sebuah mobil agar jangkauan yang dihasilkan dapat lebih luas.

Sebuah keramahan timur dan Yogyakarta masih kami rasakan ditengah hiruk pikuk realitas kehidupan mereka. Keadaan yang lain pun terlihat dengan jelas, Sapi-sapi yang gemuk dan liar berlalu lalang memadati area TPAS. Namun gemuk bukan berarti menandakan bahwa mereka sehat.

Mereka hidup dan bertahan dengan cara memakan sampah yang terdapat disana. Sapi-sapi tersebut akan mengalami sebuah siklus sederhana namun cukup ironi, Mereka akan tumbuh besar dengan cara memakan sampah karena memang tidak ada pilihan lain, kemudian mereka hidup dengan fisik yang tampak sehat karena gemuk yang menyelimuti tubuhnya, lalu mereka akan mengidap suatu penyaki—Dimulut dan anus mereka akan keluar suatu lendir.

Kemudian secara perlahan mereka akan mati dan menjadi bangkai disana.

Perjalanan ini sangat berkesan bagi diri kami pribadi, karena banyak hal yang kami dapatkan—bukan hanya foto yang menarik  namun juga pengalaman yang membuat kami untuk selalu bersyukur atas apa yang kami miliki saat ini.

Tanpa ada sedikitpun maksud untuk menggurui namun semoga apa yang kami sajikan dapat menjadi suatu pelajaran dan manfaat. Dan kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala bentuk kesalahan baik informasi maupun kata-kata yang membuat suatu pihak merasa tersakiti.

Karena sesungguhnya kebenaran hanyalah milik Allah SWT. Terimakasih atas segala pihak yang terlibat baik secara langsung dan tidak langsung dalam berjalannya project ini. Selamat menyaksikan.

Ecology is a project that brings about the journey and a form of story that Kurnia Ngayuga Wibowo has experienced while at some time in a location that amazes us about a state that features three images of God.

They have their respective roles, between humans, animals and the environment. We try to present a story through photographic works that would represent the circumstances and reality of what was there at that time.

TPAS Piyungan is located in Ngablak Village, Sitimulyo Village, Piyungan Subdistrict, Bantul Regency, Yogyakarta. Established in 1992 and started operation in April 1996.

TPas Piyungan is the final dumping point in Yogyakarta. Like an ocean, all kinds of garbage accumulate there and because of a process that takes so long that soil and waste have hardened and become one with the earth. Not to escape from that, if we walk more ketengah, we will meet with Water Lindi.

Water Lindi is a liquid that seeps down from the waste pile formed by dissolving and flushing dissolved matter and decaying processes by microbial activity after the presence of external water, including rainwater, into the pile of waste.

In the sweltering afternoon, a group of people perform a routine which is also the source of their livelihood. They work every time to scavenge the rubbish that is the source of their livelihood. Their working hours are uncertain, sometimes they often work from morning to night. With such long working hours it can indirectly threaten their health. This we can see from the pile of garbage and they have to wrestle between them, obviously this can cause various diseases such as skin diseases, diarrhea and so forth.

However, with all kinds of problems they face. They remain friendly when receiving guests, this is evident when we visit to carry out photography activities there. They allow us to be photographed, also welcome to board the dashboard over a car so the range can be wider.

An eastern and Yogyakarta hospitality we still feel amidst the frenzied reality of their lives. Other circumstances are clearly visible, Beefy cattle and wild passes crowded the area of TPAS. But fat does not mean that they are healthy. They live and survive by eating the garbage that is there.

The cows will experience a simple cycle but enough irony, They will grow up by eating trash because there is no other choice, then they live with a healthy-looking physique because of fat that enveloped their body, then they will have a canker-Mouth And their anus will come out a mucus. Then slowly they will die and become carcasses there.

This trip was very memorable for us personally, because of the many things we got-not just the interesting photos but also the experiences that made us always grateful for what we have today. Without the slightest intent to patronize but hopefully what we present can be a lesson and benefit.

And we sincerely apologize for any kind of error both information and words that make a party feel hurt. For verily the truth belongs only to Allah SWT. Thank you for all parties involved both directly and indirectly in the course of this project. Have a good time watching.

Biodata Fotografer

Nama : Kurnia Ngayuga Wibowo
TTL : Cirebon, 06 Agustus 1997.
Alamat : Jl. Swasembada 1 no 8B , Kel. Karyamulya, Kec. Kesambi, Kota Cirebon.
Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa

Instagram : @Yugaknow
Website/portfolio: www.yugaknow.wixsite.com/photo

 

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Kurnia Ngayuga Wibowo

Articles, Blog,

Masih Manja Di Era Informatika?

Pada dasarnya manusia memiliki sifat yang tidak mudah puas akan sesuatu, tidak terlepas untuk berinovasi apalagi untuk kemajuan dalam bidang teknologi, tentunya ini berpengaruh juga pada bidang fotografi.

Transisi semakin bergeser ke era yang lebih mengejar kemudahan, pada masa kamera film sempat berjaya, semua perekaman tergantung pada roll film yang digunakan, jumlah pengambilan gambar dibatasi oleh tiap jatah frame yang dibatasi oleh film yang menjadi pilihan, jika tertulis 36exp maka maksimal pengambilan foto hanya bisa dilakukan sebanyak 36 x jepret.

Begitu juga dengan ASA/ISO setiap film sudah memiliki ketentuan tersendiri, bahkan, untuk tone pada tiap film mempunyai karaktertistik tersendiri. Sungguh, semuanya penuh dengan keterbatasan.

Namun, semuanya menjadi cukup berubah ketika film mulai digantikan oleh sensor kamera, proses pengolahan gambar tidak lagi tergantung pada pembakaran yang terjadi pada film, serta tidak lagi bergantung pada penyimpanan yang dibatasi, semua penyimpanan sudah digantikan oleh sebuah memori, sehingga gambar tidak lagi dicuci kemudian dicetak untuk bisa dinikmati, secara praktis gambar bisa dinikmati secara digital.

Untuk penyebaran dan publikasi tentunya menjadi lebih mudah, karena sebelumnya jika ingin mempublikasi karya fotografi, harus ada proses percetakan, baik itu di media massa maupun di galeri, tentunya ini membutuhkan dana atau akses tertentu, tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini.

Internet dan media sosial sangat berperan besar mengubah proses penyebaran karya menjadi lebih mudah, sehingga fotografi tidak hanya dinikmati dan dipelajari oleh orang-orang tertentu, tidak hanya demikian, perkembangan teknologi kamera full digital menjadi peran penting pada perkembangan fotografi, saya masih ingat pada tahun 2009, dimana ketika itu pertama kalinya memegang kamera DSLR entry level Canon 1000D, pada ketika itu bagaikan memegang sebuah peralatan yang mahal dan sangat ekslusif, dan tidak banyak orang memiliki benda aneh berjenis DSLR tersebut, sungguh ketika itu fotografi masih bagian ekslusif dari gaya hidup.

Pada tahun 2009-2010 bagi saya masih ada rasa kesulitan untuk mengakses informasi di internet, apa lagi masih sangat terbatas artikel yang cukup bagus, masih kebanyakan teknik dasar, seringkali pembahasan hanya sepintas dan tidak begitu mendalam, forum fotografi online pada media grup pesan singkat tentunya belum ada, berbeda ketika saat saya menulis artikel ini, grup pesan singkat sangat beragam, menggampangkan untuk bertanya sesuatu, satu pertanyaan bisa dijawab oleh beberapa orang secara spesifik, bahkan dengan beragam informasi lainnya.

Seiiring dengan kemudahan yang terjadi, sepertinya rasa malas menjadi suatu hal yang umum menggeroti, apakah karena pemikiran bahwa segala sesuatu hal bisa didapatkan secara instan?

Pertengahan 2015 saya mulai masuk ke komunitas fotografi online berbasis Instagram, suatu pengalaman baru dalam seumur hidup, diskusi secara online dengan orang-orang yang tidak pernah dikenal, apalagi bertemu. Disuatu malam ada salah satu member yang ingin belajar tentang long exposure dengan gaya visual light trail.

Yang mencengangkan saya adalah, member ini sudah cukup lama melakukan pengambilan gambar dengan kamera mahal yang dia punya, tapi triangle exposure tidak menguasai, dan ternyata proses belajar hanya bagaimana mengahasilkan gambar yang bagus untuk diposting, mengejar like dan pujian belaka.

 

Tidak terlepas hanya pada hal yang telah disebutkan pada paragraf diatas, banyak hal mendasar seperti mengenai teknik dasar serta pertanyaan pemahaman mengenai defenisi yang dilontarkan pada grup chat, kebanyakan pelaku fotografi yang saya temui lebih memilih dijelaskan dari A-Z oleh orang lain, namun tidak mau mempelajari dahulu, internet tentunya kaya akan informasi, jika malas membaca banyak tutorial berupa video yang ada di YouTube.

Semakin pesatnya perkembangan teknologi, dan mudahnya mengakses informasi, apakah anda masih memelihara sikap manja pada era informatika?

Konklusi:
Manfa’atkan semua sumber daya yang bisa diakses pada proses pembelajaran, bisa dari sebuah komunitas, internet dan hal lainnya. Jangan berharap mempunyai karya bagus jika tidak mau menjadi proses belajar.

Topik pada artikel ini juga dibahas lengkap pada Diskusi Nirfaedah #2 Part 1 – Perkembangan Fotografi Pada Era Media Sosial (1/2)