Browsing category

Articles

Articles, Photography,

2 Pengkarya Berbagi Pengalaman ‘Self-Published’ Photobook

Beberapa tahun terakhir ini minat pegiat fotografi di tanah air cukup antusias untuk membukukan karya-karya mereka, baik itu melalui self-published maupun publisher major. Tentunya menjadi self-publisher mempunyai tantangan tersendiri.

Silahkan simak tulisan berikut dari 2 pengkarya yang bekenan berbagi pengalaman mereka pada jalur  self-published.

DEPTH OF BLUE SEBAGAI ‘SELF-PUBLISHED’ PHOTOBOOK

Aditya Dwi Putra

Depth of Blue adalah rilisan pertama dari series visual mixtape yang menggunakan media audio (mixtape) – visual (photobook) untuk menyampaikan maksud dari karya tersebut. Nama saya adalah Aditya Dwi Putra, dan dalam kesempatan ini saya akan membagi opini dan pengalaman saya mengenai fenomana ‘self-published’ dalam ranah photobook & art-book dengan menggunakan karya ini sebagai sudut pandang dalam menyampaikan opini dan pengalaman saya.

Sedikit latar belakang, karya ini dimulai sebagai tuntutan tugas akhir dari mata kuliah fotografi seni yang saya ambil dalam tahun terakhir masa perkuliahan saya. Di-supervisi oleh Mas Henrycus Napitsunargo, persiapan dalam menyelesaikan visual mixtape/photobook ini dimulai dengan proses konsepsi karya dalam format proposal untuk memperjelas cakupan tujuan dan konsep karya ini dari perspektif yang tepat.

Saya membagi proses berkarya saya menjadi 2, yaitu proses logis (proses kreatif yang berkaitan dengan dengan proses berfikir logis, sestematis, dan berkaitan dengan premis dan hubungan sebab-akibat) dan intuitif (proses kreatif yang berkaitan dengan rasa, hal hal spiritual dan aspek-aspek ‘íntangible’).

Aspek intuitif memiliki kontribusi yang cukup besar dalam proses konsepsi dan proses pemetaan kejaran visual dari karya ini. Dan aspek logis berperan penting dalam proses eksekusi visual. Dan dalam tahap post-produksi, kedua aspek ini sama-sama memiliki andil yang cukup besar.

Secara umum karya ini memiliki tujuan untuk menyampaikan suatu emosi dasar melaui media audio (mixtape) dan visual (photography/photobook) sebagaimana disampaikan sebelumnya. Hasil akhir dari karya ini adalah suatu produk yang memilki bentuk mirip seperti photobook (saya sendiri lebih prefer menyebutnya sebagai visual mixtape) yang didampingi dengan link digital ke mixtape audio untuk merasakan keseutuhan dari karya ini.

Singkat cerita, karya ini bisa di publikasikan berkat dukungan dari salah seorang teman saya yang melihat potensi dari karya ini, dan menurutnya akan sangat disayangkan apabila karya ini hanya dapat dinikmati oleh beberapa orang saja.

Pada akhirnya, karya ini dicetak dan dipublikasikan oleh Retrospective Journal yang memiliki program untuk membantu artist independent dalam memproduksi dan menyeberluaskan karya mereka dengan memberikan bantuan dalam proses percetakan dan proses transformasi karya kedalam bentuk fisik, dengan hasil printing yang berkualitas dan juga membantu dalam proses distribusi melalui penjualan di situs mereka.

Lebih dalam mengenai topik ‘self-published’, pengalaman saya belum dapat dikatakan murni sebagai proses ‘self-publishing’. Hal ini disebabkan Retrospective Journal memiliki kontribusi yang cukup besar dalam membentuk karya ini mencapai bentuk fisiknya. Akan tetapi mungkin saya dapat memberi proyeksi tentang bagaimana mempublikasikan karya dengan jalan ‘self-published’.

Self-published photobook yang dimaksud disini adalah bahwa setiap proses yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu karya dari awal hingga akhir dan proses distribusi itu sendiri dilakukan oleh artist/photographer itu sendiri.

Keuntungan dengan memilih jalur self-published dalam memproduksi dan mendistribusikan karya adalah ketiadaan batasan dan tuntutan dari berbagai pihak terkait karya itu sendiri. Selain itu, semua keuntungan (baik materil ataupun immaterial) 100% akan menjadi hak fotografer/artis. ‘Self-Published’ (independent) sendiri menjadi cukup populer sebagai sebuah opsi publikasi dikarenakan ketatnya peluang yang diberikan oleh publisher besar terhadap para fotografer atau artist yang memilki cakupan karya dengan diversitas yang cukup beragam.

Dalam kasus saya, Retrospective Journal sendiri bisa dibilang berperan sebagi publisher minor, dikarenakan kontribusi signifikan yang diberikan oleh penerbit/percetakan asal semarang ini hanya ada dalam cakupan proses printing / produksi karya. Sedangkan mengenai kontribusi akan proses distribusi, bisa dibilang Retrospective belum memberi kontribusi yang cukup signifikan sehingga distribusi karya sebagian besar banyak dilakukan oleh artist sendiri melalui word of mouth dan sistem consignment ke beberapa retailler artbook/photobook ataupun artshop.

Keuntungan yang saya dapat disini adalah hasil printing dan binding serta packaging product yang sangat memuaskan dengan harga yang cukup terjaungkau dibanding kompetior lainya dalam ranah digital printing (print by demand).

Dalam sudut pandang lainya, permasalahan yang saya dapat disini adalah kesulitan dalam hal distribusi karya melalui sistem consignment, dikarenkan 30-40% dari harga jual produk akan diambil oleh reseller dan apabila anda meng-published photobook/karya anda dengan cara digital printing/print by demand margin keuntungan anda apabila menggunakan cara ini amanya berada disekitaran 30-40% tersebut (apabila dilakukan komparasi dengan produk sejenis).

Kesulitan ini banyak dirasakan oleh banyak artist/photographer yang mempublikasikan karya mereka dengan cara ini.

Dan salah satu resolusi umum untuk permasalahan ini adalah mencetak karya anda dengan sistem offset (print banyak, system cetakan yang notabenya lebih murah dibanding sistem digital printing, akan tetapi untuk mencetak karya anda dengan cara ini ada regulasi minimum order yang mengharuskan anda untuk menyiapkan modal yang cukup besar untuk pencetakan karya anda.

Belum lagi apabila membahas mengenai effort yang cukup rumit dan beberapa riset terkait karakteristik material cetakan dan detail produksi lainya yang harus anda lakukan apabila mencetak dengan cara ini).

Sebagai kesimpulan, pilihan untuk mempublikasi karya anda dengan cara independent/self-published ataupun bergantung ke publisher major, sangat tergantung dari tujuan dari karya itu sendiri. Dalam kasus saya, kebutuhan untuk mempublikasi karya saya sendiri hanya bermula dari tujuan aktualisasi diri personal untuk membentuk karya saya ke dalam bentuk artefak fisik.

Kemudian tujuan ini berkembang lebih jauh menjadi demi penyebarluasan karya saya ke market yang sesuai tanpa ada ekspektasi lebih (finansial ataupun hal lainya). Pada zaman sekarang, juga ada pilihan untuk mempublish karya anda melalui media digital.

Akan tetapi seperti testimoni dari beberapa pihak, suatu karya belum terasa nyata sampai anda menyelesaikan karya tersebut kedalam bentuk fisik. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, itu semua tergantung dari tujuan karya anda, Dan tulisan inipun cuma sebatas opini. Cheers

 

SELF PUBLISH

Agan Dayat

  1. PERSIAPAN PROJECT

Dalam pengerjaan sebuah project biasanya terdiri dari beberapa tema yang dikerjakan secara bersamaan (on going), pergerjaan sebuah project pun bisa memakan waktu enam bulan sampai satu tahun bahkan bisa lebih, tergantung persiapan dan pengerjaannya. Setelah itu masuk ke tahapan produksi.

  1. TAHAPAN PRODUKSI

Setelah project selesai dikerjakan dalam hal ini pengumpulan materi, narasi, layout dan editing hal berikut yang dilakukan adalah mencari tempat produksi atau publisher. Ini adalah salah satu kendala yang terbesar bagi saya dalam penentuan tempat publisher berhubung saya tinggal di daerah yang bisa dikatakan belum terbiasa dengan percetakan sebuah buku foto, Biasanya saya sering berdiskusi terlebih dahulu dengan beberapa teman yang juga dilakukan sebatas chatting atau media sosial digunakan untuk berkomunikasi.

Setelah mendapat tempat produksi yang akan saya gunakan untuk menjadi tempat produksi disini juga menjadi kendala, karena saya tidak langsung bertemu atau berkomunikasi secara langsung dengan pihak produksi dan hanya berkomunikasi via media sosial bahkan terkadang melalui e-mail. Alangkah baiknya dilakukan test print sebelum mencetak dumi untuk buku foto agar kita dapat melihat bagaimana cetakan tersebut lebih kepada teknisnya.

Dan hal ini jarang sekali saya lakukan, dikarenakan jarak yang jauh sehingga memakan cost yang lumayan untuk proses pengiriman. Inilah beberapa kesulitan yang saya sering hadapi pada saat membuat sebuah project atau buku foto. Jarak, waktu, komunikasi serta biaya yang semuanya serba penuh dengan keterbatasan.

Tetapi semua keterbatasan ini tidak menjadi sebuah penghalang bagi saya untuk tetap membuat atau menghasilkan sebuah buku foto, justru bagi saya ini adalah sebuah proses dalam penciptaan sebuah karya dan bagaimana setiap proses ini menjadi sebuah kenikmatan dan tantangan untuk berkarya.

  1. PUBLIKASI DISTRIBUSI

Media sosial masih merupakan medium yang cukup baik dan cukup memberi dampak untuk alat promosi maupun publikasi. Beberapa hal yang lain meminta teman untuk membantu mempublikasikan karya kita di akun-akun media sosial mereka. Submissions project ke berbagai media juga merupakan tahapan publikasi yang baik menurut saya.

Tidak hanya sampai kepada publikasi tetapi saya mengambil inisiatif untuk pendistribusian ke tempat-tempat yang memberikan jasa untuk menjual buku foto, terkadang saya hanya memberikan secara gratis ke beberapa tempat seperti perpustakaan keliling dan beberapa yang lain sebagai bentuk distribusi.

Simak juga

 

 

 

 

Articles, Blog, Interviews, Photo Stories, Photography, Project,

Q&A Bersama 3 Fotografer Pengkarya Photozine & Photobook

Perbincangan Photozine & Photobook

Penyebaran karya melalui media sosial semakin mudah? Kenapa Anda malah tertarik untuk publikasi karya melalui medium cetak?

Arya:
Betul, awal saya memotret sampai sekarang saya masih dalam bentuk media sosial.

Namun ada teman saya yang berpengaruh terhadap karya saya, dia menyarankan untuk mencoba membuat dalam medium cetak. Lalu saya mencoba untuk membuat karya dalam medium cetak.

Selain untuk mencoba hal baru, medium cetak juga sebagai portfolio dan bukti fisik atas karya saya.

Baskara:
Foto tercipta untuk di cetak, setidaknya itu yang saya percayai saat memulai fotografi sebagai hobi, hingga menjadi pekerjaan, dan hingga menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan banyak hal didalam hidup.

Foto dalam bentuk cetak selalu menampilkan sisi-sisi lain yang tidak bisa didapat oleh bentuk digital. Kita bisa menyentuhnya, ada indra lain yang ikut berpartisipasi dalam menyelami karya yang dicetak.

Ada tekstur dari kertas foto yang berbeda-beda, ada kedalaman dan kepekatan tinta, ada pengalaman-pengalaman baru yang akan menyita banyak waktu kita dalam urusan cetak-mencetak sehingga kita menjadi lebih terjun kedalam karya kita sendiri.

Muhammad Hidayat:
Buat saya media online dan digital itu sangat bagus sehingga kita dengan mudah dapat memperkenalkan karya foto kita kepada publik dan dengan sangat mudah cepat diakses serta dilihat oleh banyak orang.

Tetapi ada hal yang sangat berbeda dan menarik secara pribadi buat saya jika karya foto itu dicetak dalam berbagai media apapun sehingga ada sebuah kepuasan untuk dapat melihat karya foto tersebut setelah dicetak.

Coba anda rasakan jika melihat foto anda dalam bentuk file atau digital dan pada saat sudah dalam bentuk cetakan, pasti akan berbeda rasanya.

 


Boleh diceritakan proses kreatif Anda berkarya pada medium cetak?

Arya:
Saya sering ikut berkumpul bersama penggiat fotografi di Bandung, dan disana saya merasa terbakar saat membicarakan berkarya dalam medium cetak.

Apalagi ketika saya ditanya “kamu kapan bikin?” . Seperti dilumuri minyak dan dibakar.

Hal itu yang terus memotivasi saya untuk mencoba berkarya dalam medium cetak. dari saat itu saya mencoba mengumpulkan bahan dan cerita.

Hingga pada akhirnya 10:30 tercipta, karena motivasi dan saran dari teman saya saat melihat hasil foto saat saya bersama teman liburan.

Baskara:
Proses kreatif dalam medium cetak bagi saya yang paling pertama adalah menentukan ide dasar dari apa yang akan kita cetak tersebut.

Apa kita akan bermain dengan single photo atau akan bermain dengan balutan cerita dalam photo story.

Langkah berikutnya adalah pemilihan foto yang akan dipakai dalam project tersebut, berlanjut pada tahapan selanjutnya mau diapakan foto tersebut? Akan dipamerkan? Akan dibikin dalam bentuk buku? Semua kembali sesuai kebutuhan, pantas dibuat apakah project tersebut.

Muhammad Hidayat:
Memindahkan setiap file-file foto pada medium cetak atau bisa dikatakan membuat sebuah zine ataupun photobook merupakan sebuah tantangan, apalagi karya foto yang sudah dicetak itu dipublikasikan, ini adalah hal yang menarik buat saya.

Saya harus melakukan proses editing yang bisa saya katakan lebih sulit dari pada mengedit sebuah foto menggunakan software editing picture, proses editing disini adalah sequencing atau pemilihan terhadap foto-foto yang akan di rangkum kedalam sebuah zine ataupun photobook dan setelah itu bagaimana dengan cara yang kreatif menyusun dan mendesain sedemikian rupa agar terlihat menarik nantinya.

Apa sajakah kendala pada distribusi? Adakah strategi khusus untuk untuk mendukung pendistribusian menjadi lebih masif?

Arya:
Kendala menurut saya adalah saat saya berusaha memperkenalkan diri kepada dunia luar, bahwasanya saya adalah seorang yang baru saja membuat karya.

Hahaha… Orang mungkin akan berkata “siapa lu?” tapi ya itu adalah bagian dari memperkenalkan saya kepada dunia luar.

Strategi yang saya lakukan adalah promosi melalui media sosial teman-teman saya. Baik penggiat fotografi maupun teman kampus.

Baskara:
Distribusi selalu menjadi masalah apabila kita tidak punya jalan dalam melemparkan karya kita. Tidak melulu dalam hal cetak, bermain di media sosial tanpa penikmat pun tetap karya tidak akan terdistribusi dengan baik.

Yang paling utama bagi saya adalah percaya bahwa akan ada yang menikmati karya kita, minimal percaya bahwa kita tidak sendiri.

Ide yang kita angkat dalam karya kita mungkin orisinil, namun jutaan manusia di planet ini setidaknya akan ada yang memiliki ide yang mirip dengan kita, dan merekalah yang kemungkinan besar akan meng-apresiasi karya kita.

Medium cetak tentunya memerlukan jalan yang terang benderang untuk distribusi nya, bisa dimulai dengan promosi di media sosial, setidaknya itulah kekuatan yang penting di era digital ini.

Kerjasama dengan berbagai komunitas, kerjasama dengan berbagai orang yang membantu terciptanya karya, dan bekerjasama dengan publisher bisa menjadi jalan yang memuluskan niatan kita.

Muhammad Hidayat:
Bisa saya katakan kendala dalam pendistribusian sebenarnya adalah masalah finansial.

Karena promosi itu selalu berhubungan dengan biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu untuk saat ini hal yang mudah untuk melakukan pendistribusian masih seputar media sosial atau menggunakan jasa teman-teman untuk ikut membantu mempublikasikan karya-karya foto yang kita miliki, dalam hal ini berupa review atau sekedar melakukan postingan kedalam akun media sosial mereka.

Motivasi terbesar Anda berkarya?

Arya:
Diremehkan, saya lahir dan besar disebuah kota kecil, dimana saat saya berkarya ada beberapa orang yang bisa dikatakan meremehkan saya bukan memotivasi ataupun membantu saya.

Hal itu yang membuat saya ingin terus berkarya. Selain itu, saya juga ingin menciptakan sesuatu yang baru untuk kota saya dan intinya saya ingin membuat orang tua saya bangga, bahwa anaknya telah menciptakan sebuah karya.

Baskara:
Motivasi dalam berkarya bagi saya bisa bermacam-macam, namun kebanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di dalam hidup saya.

Mempertanyakan diri sendiri adalah hal yang cukup saya senangi, karena saya selalu berpegang teguh pada “Siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhan-nya”, maka setidaknya inilah salah satu alasan saya berkarya, untuk mengenal dan bertemu Aku yang sejati.

Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto. Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Motivasi dalam berkarya? Balik lagi kepada tujuan awal dalam fotografi itu sendiri, seperti yang pernah saya katakan bahwa fotografi merupakan media untuk mengekspresikan diri dan fotografi merupakan hal yang terindah yang saya miliki saat ini oleh karena itu fotografi tidak pernah padam.

Selagi saya masih bisa melihat dan masih bisa menekan tombol shutter pada kamera maka saya akan terus berkarya.

Project terbaru?

Arya:
Project terbaru dan perdana saya adalah zine 10:30 , dan akan membuat zine lainnya, dan tentunya photobook suatu hari nanti.

Baskara:
Saya tipe orang yang selalu memupuk project foto.

Saya tidak pernah bisa lepas dari satu project ke project lainnya. Saya selalu menjalankan minimal tiga project yang sedang dan terus diolah, baik dari pengumpulan data atau dalam hal lainnya.

Jika tak ada aral melintang mungkin awal tahun 2018 saya berkeinginan untuk merilis buku tentang kota yang saya tempati, dan bagaimana kota tersebut membentuk pribadi saya dan orang-orang terdekat, atau mungkin kita semua.

Muhammad Hidayat:
Project terbaru: saat ini saya sedang mengerjakan beberapa series foto dan satu project yang sementara berjalan menggunakan kamera analog dan film 35mm pada project tersebut.

Saran untuk rekan-rekan yang ingin mengikuti jejak Anda untuk mencetak karya serta mempublikasikannya?

Arya:
Jangan takut untuk mengambil resiko, jangan pernah takut karyamu dianggap jelek, karena tidak ada karya yang jelek, percaya diri intinya dan mau.

Kalian harus mencoba sensasi melihat karya pertama keluar dari mesin cetakan dan kamu merasakan karya kamu secara fisik, bukan di media sosial. Rasanya itu uhhhhhh…..

Baskara:
Teruslah memotret, jangan ragu untuk berkarya, tidak ada yang salah dalam berkarya. Bisa dimulai dari hal kecil didalam hidup kita, karena hal kecil bisa menjadi besar.

Muhammad Hidayat:
Sebenarnya bukan kepada saran tetapi pengalaman saya dalam mengerjakan project foto harusnya banyak melihat, membaca, mendengar dan memotret (dalam keadaan apapun yang sedang kita rasakan jangan pernah berhenti untuk memotret) mungkin saat itulah kita menemukan sebuah project yang akan kita kerjakan.

Agan Dayat 
Facebook
Flickr
Instagram
Website

Arya Tri Prasakti
Instagram

Baskara Puraga Somantri
Facebook
Instagram
Website

Articles, Blog, Photography,

[Press Release] Indo Street Project Jabar Gelar “Bandung Public Space” Street Photography Exhibition di Cihampelas Walk

Indo Street Project Jabar “Bandung Public Space”

Dalam beberapa tahun ke belakang, keberadaan instagram ikut memicu kemunculan banyak sekali komunitas fotografi di seluruh dunia, dan tentunya di Indonesia yang merupakan gudangnya komunitas. Salah satu komunitas tersebut adalah Indo Street Project. Komunitas yang memfokuskan bidang kegiatannya pada genre street photography ini telah memiliki 3 regional di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Indo Street Project Jawa Barat sendiri cukup aktif dalam menggelar berbagai kegiatan di regionalnya. Mulai dari hunting bareng, zine showcase, diskusi foto, serta screening film. Selain empat kegiatan tersebut, Indo Street Project Jabar juga mendapat kesempatan untuk menggelar photo exhibition mereka yang pertama dan diberi tajuk “Bandung Public Space.” Acara yang digelar mulai dari 31 Agustus 2017 hingga 3 September 2017 ini mengambil tempat di area plaza Cihampelas Walk Bandung. Sesuai dengan nama acara tersebut, “Bandung Public Space” menampilkan 58 karya foto jalanan yang diambil di ruang publik Kota Bandung dari 29 fotografer yang berbeda. Masing-masing fotonya memperlihatkan gaya dan sudut pandang yang menjadi ciri dari setiap fotografer.

 

Tema ruang publik Kota Bandung menjadi hal yang menarik untuk diangkat ke dalam photo exhibition ini dikarenakan wajah Kota Bandung yang banyak mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, Kota Bandung yang kini telah menjadi sebuah melting pot tak jarang menyajikan beragam momen unik dan atraktif untuk diabadikan dalam sebuah kamera.
Dengan diselenggarakannya acara ini, diharapkan para pengunjung Bandung Public Space Street Photography Exhibition dapat mengenal Kota Bandung dengan cara dan sudut pandang yang berbeda, serta dapat menumbuhkan geliat aktivitas street photography di Bandung, dan lebih luasnya di seluruh Indonesia.

 

 

Teks: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Foto: Arif Sahroni, Syifa L Kusdini, Tomi Saputra

Articles, Blog, Photography,

Awal Mula Tertarik dan Jatuh Cinta Pada Fotografi

Perjalanan Awal Pada Fotografi

Ini bukanlah sebuah kisah romansa, ketika cinta dimulai dari sebuah pertemuan tidak terduga, hingga dua sejoli akhirnya saling memadu kasih. Tulisan ini hanya sepenggal cerita kenapa saya begitu mencintai fotografi, semoga tidak menjadi membosankan untuk disimak.

Dimasa sekolah dasar, saya sangat menyukai membaca berbagai hal. Ketika membaca, imajinasj seakan memvisulisasikan teks di depan mata, mengkhayalkan beragam hal sambil berdecak kagum. Teks bagaikan sihir yang bisa menghipnotis dengan sedemikian rupa.

Ketika menyadari hal tersebut akhirnya muncul keinginan untuk menjadi penulis.

Hal ini akhirnya berubah ketika menginjak bangku sekolah menengah pertama. Seperti remaja pada umumnya, ketika di akhir pekan menginap di salah satu rumah teman, saya menemukan kumpulan foto-foto dokumentasi kegiatan pemuda karang taruna daerah kami.

Ada ketertarikan yang tidak terlalu saya mengerti, satu persatu foto-foto ini saya perhatikan. Saya terdiam begitu lama, ada daya tarik magis yang seakan membuat saya hadir pada momen foto tersebut. Apa ini? Ketika itu saya belum memahaminya.

Cukup lama saya mencoba merenungkan dan mencari jawaban, kenapa ketika melihat suatu foto, ada bagian dari relung hati yang seakan membangkitkan emosi dengan sedemikian rupa.

Agak berbeda ketika membaca, dibutuhkan proses visualisasi terlebih dahulu baru kemudia saya bisa memahami atau menebak apa yang ingin disampaikan penulis.

Namun ketika melihat foto pada ketika itu, saya tidak melalui tahap visualisasi, karena yang dinikmati memang sudah dalam bentuk visual. Foto dengan cepat bisa membuat saya terperangah, dan saya masih belum memahami alasannya.

Setelah kejadian tersebut, tidak pernah terbayangkan sama sekali bersentuhan dengan fotografi, karena ketika itu pada 2002, fotografi masih menggunakan roll film, tidak murah memang.

Dan kamera pocket yang biasa disebut tustel hanya digunakan hanya pada momen tertentu, ketika ada hajatan atau kegiatan yang memang butuh diabadikan sebagai arsip visual.

Barulah pada 2005-2006 telepon seluler dengan OS Symbian mulai dilengkapi dengan teknologi kamera VGA, pada masa ini saya mulai berkesempatan mengabadikan momen dengan kamera dalam bentuk file digital.

 

© Tomi Saputra, Bandung 2015

Ketika menulis, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk merangkai kata, apakah itu ketika ingin sekedar menulis puisi, atau ketika penulisan untuk sebuah artikel singkat.

Berbeda dengan ketika berfotografi saya hanya memikirkan suatu ide cerita, eksekusinya bisa mengalir dengan perlahan, meskipun pada beberapa ide cerita tertentu cukup kesulitan dituangkan.

Kegiatan menulis dan berfotografi memiliki beberapa kesamaan, saling adanya penuangan emosional si pencipta karya, hal inilah yang akhirnya bisa menyentuh emosi para penikmatnya.

Tidak jarang ketika pada proses pengambilan foto, saya bisa melupakan berbagai hal, tekanan pada dunia kerja, masalah fisansial dan hal lainnya yang menimbulkan depresi. Yang saya tahu, menekan tombol shutter untuk mendapatkan gambar yang bagus.

Mata, pikiran dan hati seakan bekerja sama terlarut dalam observasi, hingga akhirnya nanti, ketika pada proses pemilihan foto ada kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan, sampai akhirnya karena ini diproduksi dalam bentuk cetak. Ada kepuasaan yang sulit diungkapkan.

Berfotografi bagi saya, bagaikan visual diary atau visual memori tentang bagaimana saya melihat dunia, apakah itu keindahan menurut perspektif saya, atau hanya rekaman momen-momen yang menurut saya menarik untuk diabadikan.

Puisi bisa menghadirkan tafsiran ambigu, dan tidak dijabarkan dengan jelas oleh penulis, begitu juga karya pada bentuk foto yang ingin saya sajikan.

Terkadang saya cukup kesulitan menyampaikan pesan dengan medium teks, fotografi inilah yang cocok bagi saya. Meskipun berpuisi masih menarik, tapi saat ini fotografi masih menjadi medium yang tepat bagi saya untuk berkarya.

Articles, Blog,

Masih Manja Di Era Informatika?

Pada dasarnya manusia memiliki sifat yang tidak mudah puas akan sesuatu, tidak terlepas untuk berinovasi apalagi untuk kemajuan dalam bidang teknologi, tentunya ini berpengaruh juga pada bidang fotografi.

Transisi semakin bergeser ke era yang lebih mengejar kemudahan, pada masa kamera film sempat berjaya, semua perekaman tergantung pada roll film yang digunakan, jumlah pengambilan gambar dibatasi oleh tiap jatah frame yang dibatasi oleh film yang menjadi pilihan, jika tertulis 36exp maka maksimal pengambilan foto hanya bisa dilakukan sebanyak 36 x jepret.

Begitu juga dengan ASA/ISO setiap film sudah memiliki ketentuan tersendiri, bahkan, untuk tone pada tiap film mempunyai karaktertistik tersendiri. Sungguh, semuanya penuh dengan keterbatasan.

Namun, semuanya menjadi cukup berubah ketika film mulai digantikan oleh sensor kamera, proses pengolahan gambar tidak lagi tergantung pada pembakaran yang terjadi pada film, serta tidak lagi bergantung pada penyimpanan yang dibatasi, semua penyimpanan sudah digantikan oleh sebuah memori, sehingga gambar tidak lagi dicuci kemudian dicetak untuk bisa dinikmati, secara praktis gambar bisa dinikmati secara digital.

Untuk penyebaran dan publikasi tentunya menjadi lebih mudah, karena sebelumnya jika ingin mempublikasi karya fotografi, harus ada proses percetakan, baik itu di media massa maupun di galeri, tentunya ini membutuhkan dana atau akses tertentu, tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini.

Internet dan media sosial sangat berperan besar mengubah proses penyebaran karya menjadi lebih mudah, sehingga fotografi tidak hanya dinikmati dan dipelajari oleh orang-orang tertentu, tidak hanya demikian, perkembangan teknologi kamera full digital menjadi peran penting pada perkembangan fotografi, saya masih ingat pada tahun 2009, dimana ketika itu pertama kalinya memegang kamera DSLR entry level Canon 1000D, pada ketika itu bagaikan memegang sebuah peralatan yang mahal dan sangat ekslusif, dan tidak banyak orang memiliki benda aneh berjenis DSLR tersebut, sungguh ketika itu fotografi masih bagian ekslusif dari gaya hidup.

Pada tahun 2009-2010 bagi saya masih ada rasa kesulitan untuk mengakses informasi di internet, apa lagi masih sangat terbatas artikel yang cukup bagus, masih kebanyakan teknik dasar, seringkali pembahasan hanya sepintas dan tidak begitu mendalam, forum fotografi online pada media grup pesan singkat tentunya belum ada, berbeda ketika saat saya menulis artikel ini, grup pesan singkat sangat beragam, menggampangkan untuk bertanya sesuatu, satu pertanyaan bisa dijawab oleh beberapa orang secara spesifik, bahkan dengan beragam informasi lainnya.

Seiiring dengan kemudahan yang terjadi, sepertinya rasa malas menjadi suatu hal yang umum menggeroti, apakah karena pemikiran bahwa segala sesuatu hal bisa didapatkan secara instan?

Pertengahan 2015 saya mulai masuk ke komunitas fotografi online berbasis Instagram, suatu pengalaman baru dalam seumur hidup, diskusi secara online dengan orang-orang yang tidak pernah dikenal, apalagi bertemu. Disuatu malam ada salah satu member yang ingin belajar tentang long exposure dengan gaya visual light trail.

Yang mencengangkan saya adalah, member ini sudah cukup lama melakukan pengambilan gambar dengan kamera mahal yang dia punya, tapi triangle exposure tidak menguasai, dan ternyata proses belajar hanya bagaimana mengahasilkan gambar yang bagus untuk diposting, mengejar like dan pujian belaka.

 

Tidak terlepas hanya pada hal yang telah disebutkan pada paragraf diatas, banyak hal mendasar seperti mengenai teknik dasar serta pertanyaan pemahaman mengenai defenisi yang dilontarkan pada grup chat, kebanyakan pelaku fotografi yang saya temui lebih memilih dijelaskan dari A-Z oleh orang lain, namun tidak mau mempelajari dahulu, internet tentunya kaya akan informasi, jika malas membaca banyak tutorial berupa video yang ada di YouTube.

Semakin pesatnya perkembangan teknologi, dan mudahnya mengakses informasi, apakah anda masih memelihara sikap manja pada era informatika?

Konklusi:
Manfa’atkan semua sumber daya yang bisa diakses pada proses pembelajaran, bisa dari sebuah komunitas, internet dan hal lainnya. Jangan berharap mempunyai karya bagus jika tidak mau menjadi proses belajar.

Topik pada artikel ini juga dibahas lengkap pada Diskusi Nirfaedah #2 Part 1 – Perkembangan Fotografi Pada Era Media Sosial (1/2)