Browsing category

Blog

Blog, Interviews,

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Q & A Hipercatlab

Bagaimana awal mulanya Hipercatlab mulai melayani jasa develop film hitam putih?

Sebelum punya nama hipercatlab, tahun 2009-2010 saya aktif di sebuah forum online yang salah satu thread-nya membahas tentang proses film. Dari forum tersebut saya mempelajari ilmu proses film BW secara otodidak, sampai suatu ketika beberapa teman di forum tersebut meminta untuk memproses film BW mereka.

Dari situ muncul ide untuk membuka jasa proses film BW. Baru di tahun 2014 usaha saya ini diberi nama Hipercatlab, tujuannya agar lebih mudah diingat dan gampang untuk dikomersilkan.

Adakah strategi khusus untuk mendapatkan customer pada awal merintis Hipercatlab?

Pelanggan di awal-awal saya membuka jasa proses film hampir semua adalah teman dan kenalan dari internet. Kalau strategi khusus sih tidak ada, yang saya lakukan adalah promosi lewat media sosial yang menurut saya sangat efektif.

Berapa roll film hitam putih yang bisa diselesaikan dalam satu hari?

Dalam 1 hari kami mengerjakan proses BW 10-14 roll.

Kendala apa yang dihadapi saat ini untuk melayani jasa developing film?

Kendala utama adalah pasokan chemical yang sering terlambat karena shipping dan bea cukai. Jadi pernah kejadian dalam beberapa hari kami tidak memproses film karena stok chemical habis.

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Kodak Portra 160 Scan & Developing Hipercatlab

Bagaimana pendapat Anda melihat perkembangan fotografi analog yang begitu mewabah pada beberapa tahun terakhir ini?

Sebagai pribadi yang menggunakan film, meningkatnya minat akan fotografi analog beberapa tahun belakangan tentu menggembirakan. Hal ini tidak lepas dari pengaruh media sosial dan menurut saya karena boomingnya Street Photography.

Para master Street Photography kebanyakan adalah pengguna film dan pelarian “hunting” yang mudah dan murah bagi pengguna kamera analog adalah jalanan. Jadi saya melihat ada keterkaitan antara peningkatan pengguna kamera analog dan Street Photography belakangan ini.

 

Dari Hipercatlab sering kali memberikan edukasi developing film hitam putih, apakah tidak merasa khawatir akan bermunculannya kompetitor?

Saya rasa tidak, dalam merintis dan mengelola jasa proses film dibutuhkan tenaga dan waktu yang cukup banyak terkuras, bisa dibilang usaha ini bukan pekerjaan sambilan. Dan kebanyakan peserta workshop adalah mahasiswa/pelajar bukan kalangan profesional.

Value apa yang ditawarkan Hipercatlab sehingga masih begitu banyak customer yang baru dan loyal masih bertahan sampai sekarang?

Mungkin karena kami sudah cukup lama di jasa ini, bahkan bisa dibilang yang pertama mengawali tren lab online, pelanggan menilai kami sebagai lab yang terpercaya. Hal lain yang membuat customer datang dan bertahan adalah harga kami lebih bersahabat dibanding kompetitor dengan kualitas yang setara.

Kompetitor semakin banyak untuk menyediakan jasa serupa. Apakah Hipercatlab tidak merasa khawatir akan hal ini?

Malah kami merasa dengan banyaknya kompetitor berarti fotografi analog di Indonesia sudah makin maju. Dengan adanya kompetitor juga kami bisa mengevaluasi servis yang kami berikan ke customer.

Berbincang Bersama Hipercatlab, Jasa Developing Film dari Kota Kembang

Ilford delta 100 Develop & Scan Hipercatlab

Apa momen yang tidak terlupakan sejauh ini semenjak pertama kali Hipertcatlab go public?

Momen yang tidak terlupakan salah satunya di awal hipercat buka adalah salah proses orderan customer. Karena terlalu capek jadinya kurang konsentrasi pas develop film, alhasil film tersebut blank, hehe..

Dari situ saya lebih hati-hati, kalau capek mending istirahat dari pada memaksakan proses film. Momen lain yang berkesan adalah saat pertama kali buka dropbox film di bazzar, tidak menyangka banyak sekali yang titip proses film sampai kontainer kami tidak cukup.

Jika tidak menyediakan jasa developing film, kira-kira apa bisnis yang akan digeluti?

Tempat ngopi atau bengkel sepeda.

Menurut pandangan Anda bagaimana prediksi masa depan fotografi analog, apakah akan senantiasa bertahan berdampingan dengan era fotografi digital?

Saat ini fotografi secara umum makin diterima oleh semua kalangan, pengaplikasian fotografi juga makin luas dan beragam. Pilihan alat dan bahan fotografi makin banyak dan mudah untuk diakses.

Dari pihak produsen film, misalnya Kodak, sangat mendukung terjaganya fotografi analog, contohnya mereka akan memnproduksi kembali film slide Ektachrome. Jadi sejauh ini prediksi saya fotografi film akan bertahan lama.

Biodata:

Hipercat Lab

Usaha kami:

Jasa proses dan scan film (BW, color negative, slide)

Menyediakan kebutuhan fotografi film (kamera, film, aksesoris, merchandise)

Alamat:

Jl. Jenderal Sudirman Gang Madniah 12A/75, Kecamatan Andir, Kota Bandung – JAWA BARAT 40184

No. telp/WA : 081222459304

Email: hipercatlab@gmail.com

 

Facebook

Instagram

Tokopedia

Twitter

Website 

 

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas
Blog, Interviews, Photography,

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Q & A Arbain Rambey

Setelah sebelumnya Q & A bersama Homer Harianja, maka pada kesempatan kali ini giliran Arbain Rambey yang akan saya wawancara.

Fotografer senior Kompas ini tentunya sudah tidak asing bagi Anda. Aktif di media sosial dan sering kali masih menjadi pembicara di seluruh penjuru tanah air.

Pertama kali bertemu dengan beliau ketika kami sama-sama diberikan kesempatan menjadi pembicara pada seminar fotografi di FISIP UNPAS Bandung, kesan pertama tentunya saya ingin bertanya akan banyak hal kepada sosok yang rendah hati ini.

Mari disimak:

Bagaimana awal mula Anda bisa terjun dalam dunia fotografi?

Tahun 1988 selulus kuliah dari teknik Sipil ITB, saya bekerja di Papua ikut merancang sebuah bangunan sekolah untuk masyarakat Asmat. Diliput KOMPAS. Lalu saya tertarik melamar ke KOMPAS dan diterima Mei 1990. Selama 6 tahun pertama saya jadi wartawan tulis, dan tiba-tiba saya diangkat sebagai redaktur fotografi pada 1996. Sejak 1996 saya jadi fotografer.

Pernahkah dimasa kecil memiliki cita-cita menjadi jurnalis?

Tak pernah terpikir sebelumnya

Menulis atau memotret?

Memotret adalah hobi sejak SMA, sementara menulis dilakukan saat kuliah (1980-1988) untuk mencari uang tambahan, di majalah Mutiara dan majalah Zaman.

Apa kenangan paling menyenangkan ketika pertama kali mengenal fotografi?

Pada 1974 (kelas 1 SMP), pertama kali belajar cuci cetak foto, senang sekali merasakan sensasi kamar gelap.

Bagaimana cara Anda mendapat ide sebelum pengambilan foto?

Hampir semua foto saya adalah hasil merancang. Ide-ide didapat dari aneka contoh foto yang pernah saya lihat sebelumnya

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Tantangan paling berkesan yang pernah dialami selama masa peliputan

Sangat mengesankan kalau berhasil mendapatkan foto sesuai perencanaan, lalu diapresiasi pembaca

Hal apa yang harus dimiliki oleh seorang pewarta foto selain kemampuan mumpuni pada bidang fotografi?

Tahan stress… Kadang memotret pesta olahraga seperti Olimpiade atau Asian Games bisa sampai 2 minggu dan setiap hari sangat padat.

Tahan kecewa, misalnya memotret 1000 foto tapi tak satu pun dipilih redaktur.

Fotografer favorit Anda

Saya tidak punya manusia favorit, tetapi beberapa fotografer saya kagumi karena kemauannya selalu berbagi ilmu, yaitu Darwis Triadi dan Roy Genggam

Inspirasi Anda dalam kehidupan

Kalau bisa dibuat mudah, buatlah mudah

Hobi lain di luar fotografi

Musik: memainkan alat musik berdawai seperti gitar, mandolin, kecapi, sasando

Melukis

Banyak media besar saat ini perlahan bertumbangan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Itu adalah realitas zaman yang tidak bisa dihindari

Anda sering sekali terlihat memberikan dukungan besar terhadap kemajuan teknologi kamera digital berjenis mirorless, apakah ada alasan khusus?

Tidak ada alasan khusus. Saya melakukannya karena senang

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Apa perbedaan besar yang Anda rasakan antara media cetak dan media online?

Media online sangat praktis, bisa diakses kapan pun di mana pun, sebanyak mungkin tanpa beban berat.

Menurut pengamatan Anda apakah media cetak akan bertahan untuk 20 tahun ke depan?

Rasanya paling lama 5 tahun ke depan

Adakah keinginan Anda untuk merilis buku foto sendiri? Seperti Split Second Split Moment kumpulan karya dari Julian Sihombing

Belum tertarik karena biayanya sangat mahal. Saya malah terpikir membuat buku online

Jika tidak mengenal dunia jurnalistik apa profesi yang saat ini bakal Anda tekuni?

Pelukis

Anda ingin dikenal sebagai sosok seperti apa nantinya dikemudian hari?

Saya ingin dikenal sebagai orang yang pernah berguna bagi banyak orang lain

Q & A Dengan Arbain Rambey (@arbainrambey) . Fotografer Senior Kompas

Photo: Arbain Rambey

Bio

Nama : Arbain Rambey
Tempat/tanggal lahir : Semarang, 2 Juli 1961
Alamat : Cempaka Baru I/9 Jakarta Pusat
Telepon: 0811-196027

Email: arbainrambey@yahoo.com
Twitter: @arbainrambey
Pekerjaan saat ini: Fotografer Harian Kompas dan pengasuh rubrik Klinik Fotografi Kompas setiap hari Selasa

Pendidikan formal terakhir:

Jurusan Teknik Sipil ITB, selesai 1988

Pengalaman Kerja Jurnalistik dan Fotografi:

-Fotografer Yayasan Asmat, 1988-1999
-Wartawan Olahraga Harian Kompas 1990-1996
-Redaktur Fotografi Kompas 1996-2000
-Koordinator Harian Kompas untuk Sumbagut 2000-2003
-Redaktur Fotografi Harian Kompas 2003-2006
-Dosen tidak tetap Fotografi di Universitas Sumatera Utara, Medan 2002-2003
-Mengajar Fotografi di Darwis School of Photography 2003-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, 2004-2009
-Dosen Fotografi di Universitas Multimedia Nisantara, Serpong, Tangerang 2008-sekarang
-Dosen Fotografi di Universitas Indonesia, FISIP mulai September 2011

Organisasi:

Ketua Pewarta Foto Indonesia 1998-2001

Buku fotografi karya Arbain Rambey terbit di London, Inggris Desember 2005 dengan judul “Mist of Time”, diterbitkan Waterous and Co

Beberapa lomba foto yang dimenangkan :

Juara I Lomba Foto Fashion Nasional 1993
Juara Tunggal Lomba Foto International Art Summit 1999
Juara II Lomba Foto Honda Stream 2004
Juara I Lomba Foto MURI 2008

Pameran Foto:

Ekspresi (tunggal), Medan 2002
Kecil (bersama), Medan 2002
Mandailing (tunggal), Medan 2002
Senyap (tunggal), Bentara Budaya, Jakarta, 2004
Crossing Bridges (bersama), Singapura, 2004
Colour of Indonesia (tunggal), Galeri Cahya, Jakarta, 2004
Persatoean (bersama), Jakarta, 2005
Persatoean (bersama), Melbourne, Australia, 2005
Nusantara (berdua dengan Makarios Soekojo), Hotel Aston Jakarta, 2006
Olympic in China (bersama) Plaza Indonesia 2007
Romance in China (bersama) Senayan City 2008
Bromo (bersama) di Bromo (2008)
Indonesia in 50 Pictures (tunggal), Kuwait City, Kuwait, 2009

Liputan Jurnalistik:

-Davis Cup Indonesia-India, Jaipur, India 1991
-Tenis Piala Asia, Hongkong 1991
-SEA Games Manila, Filipina 1991
-Tenis Pre Olimpic, Osaka, Jepang 1992
-Tenis Wimbledon, London, Inggris 1992
-World Youth Cup, Barcelona, Spanyol 1992
-Camp Tenis Sparta, Ceko-Slowakia 1992
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1993
-Tenis Pattaya Open, Thailand 1993
-Fed Cup, Colombo, Sri Lanka 1993
-Tenis Australian Open, Melbourne, Australia 1994
-Tenis US Open, New York, USA 1994
-Asian Games, Hiroshima, Jepang 1994
-All Star Game NBA, Phoenix, USA 1995
-Tenis French Open, Paris, Perancis 1995
-Tenis Piala Asia, Manila, FIlipina 1995
-SEA Games Chiang Mai, Thailand 1995
-Olimpiade Atlanta, USA 1996
-Liputan TKW, Arab Saudi 1997
-Liputan Timur Tengah, Israel, Mesir, Yordania 1997
-SEA Games Brunei Darussalam, Brunei 1999
-Liputan Pengurukan Singapura dengan Pasir Riau, Singapura 2000
-Liputan TKW, Penang, Malaysia 2001
-Liputan Ekonomi Cina, RRC, Hongkong, Makau 2002
-Liputan Teknologi, Denmark 2003
-Liputan gempa bumi Iran di Bam, 2004
-Olimpiade Athena, 2004
-Liputan gempa bumi Pakistan, 2005
-Liputan Teknologi Sydney, Australia, 2006
-Liputan Teknologi Hongkong, 2006
-Liputan Teknologi, Fukushima, Jepang, 2006
-Liputan Budaya, Sappa, Vietnam, 2006
-Liputan Teknologi, Beijing, RRC, 2007
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2007
-Liputan Teknologi, London, 2008
-Liputan Teknologi, Denmark, 2008
-Liputan London Fashion Week, Inggris 2009
-Liputan Teknologi, Hongkong, 2009
-Liputan Teknologi, Melbourne, Australia 2010
-Liputan Teknologi, Tokyo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Sapporo, Jepang, 2010
-Liputan Teknologi, Queenstown, Selandia baru, 2011
-Liputan Teknologi, Goslar, Munster, Frankfurt, Iserlohn (Jerman) 2011
-Liputan Wisata, Turki, 2011
-Liputan Budaya, Myanmar 2011
-Liputan Teknologi, Headquarter Canon, Tokyo, Jepang 2012
-Liputan Teknologi, Queensland, Australia 2012
-Liputan Wisata, Makau, 2013
-Liputan Wisata, Uni Emirat Arab, 2013
-Liputan Wisata, Makau 2014
-Liputan Wisata, Malaysia 2014
-LiputanTeknologi, New York, AS, 2014
-Liputan Teknologi, Kamboja, 2014
-Liputan Wisata, New South Wales, Australia 2014
-Liputan Wisata, Mesir, Yordania 2014
-Liputan Teknologi, Barcelona, Spanyol 2015
-Liputan Wisata, Myanmar, 2015
-Liputan Wisata, India, 2016
-Liputan Fashion, Dubai, Uni Emirat Arab, 2017
-Liputan Wisata, Ethiopia dan Kenya, 2017
-Liputan Wisata, Iran, 2018
-Liputan Teknologi, Cologne, Jerman, 2018

­­­­­­

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal
Blog, Photography, Reviews, Uncategorized,

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Kodachrome Movies

Jika Anda berharap menyaksikan kisah para fotografer dengan aksinya di lapangan pada proses pengambilan gambar seperti pada Bang Bang Club maka di Kodachrome tidak akan banyak ditemukan. Kecenderungan lebih mirip film drama The Secret Life of Walter Mitty. Dan berfokus hubungan antara ayah dan anak yang tidak begitu harmonis.

IMDb memberikan rating 6.8/10 dan skor 71% pada Rotten Tomatoes tentunya sudah cukup layak dipertimbangkan untuk ditonton.

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar nama Kodachrome?

Kodachrome  adalah salah satu color slide film dengan ASA 64 turut menghiasi jajaran produk Eastman Kodak yang diperkenalkan pada tahun 1935, meskipun banyak diminati namun sepertinya bukan menjadi pertimbangan dari pihak Kodak untuk tetap memasarkan. Sehingga pada tahun 2009 slide film ini akhirnya discontinued.

Kodachrome juga menjadi pilihan favorit bagi beberapa fotografer ternama seperti Steve McCurry & Joel Meyerowitz.

Pada film ini dikisahkan Benjamin Ryder (Ed Harris) seorang fotografer profesional yang semua karya menggunakan Kodachrome ingin memproses 4 rol dari awal karyanya ke Kansas, karena hanya di kota ini lah tersisa satu lab terakhir di dunia yang melayani proses development roll film ini yaitu Dwayne’s photo.

Dalam perjalanan ke Kansas Ben ingin ditemani oleh putranya Matt Ryder (Jason Sudeikis), yang bekerja di label musik rekaman dengan karir tidak begitu menggembirakan. Hal ini terlihat pada adegan pembuka ketika perseteruan terjadi dengan atasannya, karena Ia tidak menunjukkan hasil bagus dalam hal pencarian artis berbakat untuk direkrut rekaman.

Yang menarik dari Kodachrome adalah konflik sudah bermula dari awal film ini berjalan. Matt sudah mendapatkan banyak masalah karena gagalnya melakukan perekrutan artis, dan nasibnya di ujung tanduk. Cuma punya waktu 2 minggu untuk mendapatkan band Spare Sevens yang kala itu sedang naik daun.

Ketika kembali pada ruang kerjanya Matt mendapati Zoe Kern (Elizabeth Olsen) yang mengaku sebagai suster pribadi Ben, tujuannya adalah memberikan informasi kalau ayahnya sedang sekarat karena kanker hati, dan sisa umur berdasarkan prediksi dokter cuma sebatas 3-4 bulan. Zoe juga meminta kepada Matt untuk turut serta dalam perjalanan ke Kansas. Sudah bisa ditebak bahwa Zoe ini wanita yang cantik.

Wajah Elizabeth Olsen membuat saya penasaran, karena seakan tidak asing. Ternyata jika mengikuti Avengers  dari seri Age of Ultron sudah hafal tentunya dengan Wanda Maximoff / Scarlet Witch.

Mungkin karena momen tidak begitu pas, baru saja pusing dengan tekanan kerja Matt terlihat agak emosional ketika menerima kabar ingin diajak kembali bertemu dengan Ben. Dalam percakapannya bersama Zoe diketahui lah bahwa anak dan ayah ini sudah tidak bertemu selama kurun waktu 10 tahun. Wow, sungguh hubungan rumit yang tidak bisa saya bayangkan.

Zoe sepertinya bukan wanita yang tidak begitu mudah menyerah, hal ini terbukti karena terus berupaya membujuk Matt setidaknya untuk menghadiri makan malam di rumah Ben. Rasa sayang kepada ayah dalam hati paling terdalam membuat Matt sepertinya menyempatkan hadir.

Pertemuan di rumah Ben membuat saya cukup kagum, bukan karena mewahnya rumah dan segala pernak-perniknya. Namun kemunculan sosok Larry Holdt (Dennis Haysbert) yang menjabat sebagai manajer pribadi Ben. Tentunya Ben bukan fotografer sembarangan, sehingga butuh seseorang untuk mengatur segala sesuatu tentang dirinya.

Sebagai seorang fotografer tentunya menjadi hal lumrah jika dinding rumah dihiasi dengan foto yang dipajang dengan ukuran besar. Entah kenapa melihat karya-karya di sini saya langsung teringat dengan Steve McCurry. Layout tertata rapi layaknya pameran tunggal.

Kesan pertama ketika karakter Ben ditampilkan sebagai sosok yang terlihat bugar, karena dengan penuh enerjik menabuh drum. Sempat terlintas dugaan saya kalau ini hanya suatu trik supaya Matt mau mengunjunginya. Dan ternyata saya berburuk sangka hahaha.

Ben digambarkan sebagai seorang pria dengan umur 60-70an, cenderung sarkas dalam setiap kata yang terlontar. Tentunya suasana makan malam tidak menjadi begitu bersahabat, yang ada malah sikap Ben memicu pertengkaran dengan Matt, kemudian ditonton oleh Zoe dan Larry. Matt juga tidak ketinggalan berbicara lantang menanggapi apa yang dibicarakan Ben.

Dan begitulah makan malam yang bertujuan untuk membicarakan rencana perjalanan ke Kansas menjadi gagal, karena Matt memutuskan meninggalkan rumah Ben dengan amarah.

Setelah pertemuan ini Larry mengambil peran penting untuk membujuk Matt, Ia menawarkan bisa mengatur pertemuan dengan Spare Sevens sembari berkunjung ke Kansas. Karena band ini akan mengadakan konser di Chicago sebagai bagian dari tur musik mereka. Dengan alasan membutuhkan Spare Sevens akhirnya Matt memutuskan mengikuti perjalanan ini.

Perjalanan ke Kansas memakan waktu selama seminggu, berangkat dalam mobil kap terbuka dengan isi penumpang Matt, Ben dan Zoe. Sudah bisa dibayangkan jika konflik kembali terjadi Zoe menjadi penengah 2 orang pria ini. Sepintas saya jadi teringat film 3 Hari untuk Selamanya ketika menyaksikan alur ini. Berbeda memang secara keseluruhan.

Awal mobil mulai melaju konflik kembali terjadi, Ben menjadi risih karena suara operator penunjuk GPS dari smartphone Matt, tanpa basa basi benda itu dibuang ke jalan dengan alasan dimobil ini khusus hanya untuk analog.  Anda bisa bayangkan ekspresi Matt seperti apa, karena awal film diperlihatkan Ia tidak bisa lepas dari smartphone.

Tindakan ini berbalas ketika Ben sedang asyik mendengarkan musik, Matt mengambil dan membuang kaset dari tape yang sedang digunakan, persis sama seperti apa yang dilakukan Ben. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan ini, terlihat childish dan lucu hahah.

Jika menyaksikan suguhan pemandangan di sepanjang perjalanan saya berasa ingin turut serta pada mobil itu, sungguh menarik sepertinya bisa melirik kiri dan kanan begitu menyaksikan hal menakjubkan. Apa lagi oleh mata yang tidak begitu terbiasa melihat landscape Amerika.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konflik sepertinya menjadi bagian dari kehidupan Ben, karena dengan sikap sarkasnya selalu menjadi pemicu timbulnya masalah. Hal ini kembali terjadi ketika di tengah perjalanan mereka memutuskan berkunjung dan bermalam di rumah Dean yaitu adik Ben sendiri.

Di sini terlihat keluarga terdekat Ben sudah maklum dengan sikapnya, dan di sini baru terungkap fakta bahwa Matt lebih banyak menghabiskan waktu bersama paman dan istrinya karena pernah tinggal di sini sampai lepas remaja. Pada suatu acara malam saya sempat terkagum dengan Ben.

Dean: “Apa yang begitu istimewa pada foto-foto ini hingga kau menempuh perjalanan jauh untuk mencetaknya?”

Ben: “Ini semacam karya-karya awalku, foto-foto yang aku ambil sangat lama”

Matt: “Bagaimana jika saat kau mendapatkan hasilnya dan itu sampah? Bagaimana kau tahu apa saja isi di dalam rol film itu?”

Ben: “Aku ingat setiap foto yang pernah aku ambil”

Terdengar seperti percakapan yang akrab, namun tetap saja tidak berakhir demikian. Karena Matt kembali kesal ketika ditanyakan kepada Ben kapan tanggal ulang tahunnya Ben kebingungan menjawab, bahkan jawabannya dibantu oleh Dean.

Meskipun perseteruan selalu berulang, perjalanan tidak batal di tengah jalan. Mungkin karena faktor kebutuhan akan Spare Sevens oleh Matt dan patuhnya seorang Zoe sebagai perawat pribadi. Sembari meneruskan perjalanan Ben seperti tidak ada belas kasih karena mempertanyakan kenapa Matt dan Zoe tidak bercinta padahal mereka telah sekamar dan sama-sama dalam desakan biologis, notabene keduanya telah sama-sama gagal dalam pernikahan.

Tentunya hal ini membuat Matt yang menjadi memanas, meski Zoe terlihat masih sabar. Meski matanya mulai sembab dan suasana melanjutkan perjalanan mulai canggung dan berkaca-kaca. Seperti sebuah adegan jelas seseorang ingin menumpahkan air matanya.

“Apakah kau pernah bahagia Ben” Matt melontarkan pertanyaan demikian ketika Ben masih memancing konflik.

“Biar aku beritahu padamu. Kebahagiaan itu omong kosong. Itu hanya mitos besar dari abad ke-20. Kau pikir Picasso bahagia? Kau pikir Hemingway juga bahagia? Hendrix? Mereka semua menyedihkan, takkan ada seni bernilai besar tercipta dari kebahagiaan. Aku bisa beritahu itu padamu. Ambisi, seks, amarah. Itu adalah mesin yang menggerakkan seniman besar. Setiap orang-orang besar. Sebuah lubang yang takkan dipenuni. Itu sebabnya kita semua adalah bajingan yang sangat menyedihkan” Dengan gamblangnya Ben tentunya memberikan pernyataan ini.

Meskipun Ben digambarkan sebagai pria tua yang menyebalkan, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum jika sisi bijaksana muncul dan kata-katanya begitu menggugah.

Tak peduli betapa bagusnya sesuatu terlihat, kau tidak bisa mengalahkan yang nyata sebenarnya. Orang lebih banyak mengambil gambar saat ini melebihi sebelumnya. Miliaran foto, tapi tak ada klisenya. Tak ada cetakannya. Itu hanya data, debu-debu elektronik.

Bertahun-tahun dari sekarang saat mereka menggali kita, tak ada satupun foto yang ditemukan. Tak ada catatan tentang siapa kita, bagaimana kita hidup.

Saya menjadi begitu terperangah dan sempat mengulang kembali pada adegan ini, sepertinya inilah pilihan yang dilakukan oleh banyak rekan-rekan sesama pegiat fotografi yang masih saja bertahan dengan kamera analog. Dan Matt memicu pertanyaan kepada Ben, sehingga jawaban ini keluar seakan mewakili alasan kenapa fotografi analog masih eksis meskipun digempur oleh majunya teknologi kamera digital belakangan ini.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Baca juga: Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Sesampainya di Chicago pada malam harinya, adalah kesempatan Matt untuk negosiasi dengan Spare Sevens. Di sini mulai terjadi percakapan positif antara kedua anak, berkat tantangan Ben meminta Matt presentasi mengenai pertemuannya. Saran dari Ben akhirnya diterima Matt, meski setelah akhir pembicaraan salah satu personil band menertawakan Ben yang tidak bisa menahan diri untuk ngompol dalam celana.

Matt terlihat tidak nyaman, nurani seorang anak perlahan mulai diperlihatkan. Dengan pilihan sulit meninggalkan band yang selama ini diburunya begitu saja. Namun, apa yang terjadi? Ben tidak merasa bersalah dalam gagalnya negosiasi ini. Zoe ikut membela Matt dengan menjelaskan bahwa Ia membela Ben. Meski berujung perdebatan dengan bosnya kemudian berakhir dengan pemecatan. Konflik tetap terjadi berulang.

Bagaikan segala sesuatu terjadi dengan alasan, pagi keesokan harinya Matt menemukan Ben sedang tidak sadarkan diri di lantai kamarnya, hal ini membuat Ben harus diopname. Pada bagian ini Matt mulai terlihat begitu khawatir, dan pada suatu momen sang ayah dengan bercucuran air mata bercerita tentang kesalahan dimasa lalu dan meminta ma’af sambil bercucuran air mata. Sungguh adegan yang begitu menyentuh, Anda jangan sampai melewatkan adegan ini!

Keesokan harinya adalah batas terakhir proses Kodachrome, meski dalam kondisi semakin melemah Matt memaksa Ben untuk segera melanjutkan perjalanan ke Parsons, Kansas. Menempuh perjalanan sepanjang malam akhirnya sampai pada tujuan. Apakah berakhir begitu saja?

Saya cukup tercengang ketika menyaksikan banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk tujuan sama. Bahkan ada yang memasang tenda di parkiran. Sungguh menakjubkan.

Sesampainya di Dwayne’s photo cukup membuat jantung berdebar-debar, karena seorang wanita operator lab menyatakan bahwa proses development telah ditutup bahkan pada hari sebelumnya. Bayangkan saja sudah menempuh perjalananan jauh selama seminggu tapi tetap tidak bisa memproses rol film yang telah dipersiapkan.

Akhirnya Dwayne sendiri selaku pemilik lab muncul, ternyata sudah disiapkan jatah untuk Ben meski antrian penuh sekalipun. Terlihat di sini Matt mulai kagum pada ayahnya.

Tidak berhenti di situ saja, ketika mereka mencari cafe untuk beristirahat sejenak. Ada salah satu pengunjung yang menyapa Ben, dan dalam waktu sekejap dia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Semua orang mengenalinya dengan begitu hormat.

Kita semua ketakukan dengan waktu, dan bagaimana sesuatu menghilang. Itu sebabnya kita menjadi fotografer. Tugas kita adalah melestarikan.

Kita memotret untuk menghentikan waktu. Untuk mempertegas momen terhadap keabadian. Sifat manusia membuatnya nyata.

Sepenggal petuah yang begitu menginspirasi pada potongan terakhir pada kisah ini. Karena pada malam harinya Ben meninggal dunia dalam keadaan sedang membersihkan peralatan kameranya. Jika diperhatikan lebih seksama maka terlihat Ia hampir tiap saat ketika istirahat merawat kamera dengan begitu telaten.

4 rol yang diantarkan ke Kansas ternyata menjadi suatu bagian paling mengharukan menurut saya pada film ini, kenapa? Ini menjawab prasangka Matt yang menganggap ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya. Karena semua rol ini adalah momen Ben bersama istri, foto ketika Matt berulang tahun ke-4. Suatu foto-foto yang memperlihat Ben begitu menyayangi Matt.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konklusi 

Jika Anda begitu berharap bisa mendapatkan begitu banyak pembahasan mengenai seputar fotografi, atau profil seorang fotografer besar. Maka film ini akan membuat kecewa.

Karena lebih banyak menceritakan mengenai konflik ayah dan anak. Dan tentunya dimbubui oleh kisah romansa oleh Matt dan Zoe. Perjalanan seminggu ke Kansas bisa menceritakan dengan jelas latar belakang konflik yang terjadi pada masa saat ini dan bahkan hal terjadi pada gagalnya pernikahan setiap tokoh utama. Pada Ben penekanan kesalahan sikap dia yang menyebabkan Matt sulit untuk mema’afkan

Film ini syarat akan pesan moral, apakah itu dari bagian mengasihi orang tua dan anak. Serta hal-hal prinsip Ben sebagai seorang seniman besar yang memilih hidup pada jalur fotografi. Banyak kutipan menginspirasi yang layak disimpan.

Blog, Photo Stories, Photography, Project, Uncategorized,

Fault Line, project by Sophie Barbasch

Fault Line, by Sophie Barbasch

About

I started studying photography in high school and then got more serious about it during college. After college, I realized I wanted to pursue my MFA.

Grad school helped me a lot in terms of understanding what I was trying to do and say with my work. I feel like I am still processing some of the feedback I got, even though I’ve been out of school for a number of years now.

I have experimented with other media, but I feel like photography comes closest to expressing how I experience the world. Even so, I still think a lot about what images cannot express and how to fill those gaps.

Preferences, preparations, photography equipment

It depends a lot on the project—sometimes, I stage the images and work with a tripod. For other projects, I just shoot hand-held and respond in the moment.

I am using the Mamiya 7 and the Sony mirrorless camera right now. I love film, but digital is very liberating.

Project statement

Artist Statement: Fault Line

Fault Line is a story about my family. The protagonist is my younger cousin Adam. It takes place in Brooklin, Maine, where he lives. I have been working on this project intensively since 2013.

It was then that I went to visit Adam and was overwhelmed by his intelligence, humor, and vulnerability. I couldn’t help but feel connected to him. We understood each other in a way no one else in the family did.

I felt like he was my stand-in, my double. When we started taking pictures, we both wanted to make the same images; I didn’t have to explain anything.

In 2013, I had already been estranged from my father for seven years. I wanted to return to a family base to understand what had happened.

I wanted to make images that expressed moments from the past: moments of conflict, isolation, and despair. I also wanted to express the desire to connect to family and to belong to something.

I chose the surreal landscape of Brooklin, sandwiched between the coast and the dense forest, to begin exploring these fragments from my childhood. I used Adam as my model.

Over the years, I also began to incorporate myself, my brother, my aunt, my cousins, and finally my father, into the images.

Influences and favorite stuff within and outside of photography

At the moment, I am inspired by the Not Surprised project (http://www.not-surprised.org/) as well as Barbara Kruger’s new NYC Metrocard series. I just finished reading The Babysitter at Rest by Jen George, which I loved. My new favorite photo book is Blind Date by Leiko Shiga.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Sophie Barbasch

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Poison, by Aji Susanto Anom

POISON

Photo Series by Aji Susanto Anom

Orgasm, La petit mort, The Little Death

This is a poison, a poison delivering my visual interpretation about sex and death. Sex and death is a nature of being, sex is the gate to the birth yet death stands at the end human life. But is it true that sex and death is a matter of life and reproduction?

Bio

Aji Susanto Anom (b.1989) is a photographer based in Indonesia. His work is basically explores all his personal question about the darkness of his deeper life. He has published three photobooks independently called “Nothing Personal”, “Poison” and “Recollecting Dreams”. In 2015, he was selected as one of the participant of “Angkor Photography Workshop” under the mentor: Antoine D’Agata and Sohrab Hura. His works can be discovered through his featured publication on Lens Culture, The Invisible Photographer Asia, Top Photography Films, Monovisions, Dodho Magazines, Sidewalkers.Asia and more.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Aji Susanto Anom

Blog, Photo Stories, Photography, Project,

Move On, Photo Series by Adi Putra Purnama

Move On, Photo Series by Adi Putra Purnama

About

Nama saya Adi Putra Purnama, tinggal di Solo, Jawa tengah.

Saya lulusan S1 Pend. Teknik Mesin Universitas sebelas maret. Sekarang saya bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sragen Jawa tengah.

Awal mula saya mengenal fotografi yaitu ketika saya mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan. Sebenarnya perkenalan saya dengan fotografi karena ketidak-sengajaan. Anggota UKM yang saya ikuti sedikit dan hanya ada 6 laki-laki satu angkatan termasuk saya.

Saat itu yang tertarik dengan jabatan fotografer tidak ada, oleh karena saya ditunjuk untuk mengisi bagian tersebut, meski saya juga tidak mengetahui fotografi itu seperti apa.

Saya belajar fotografi secara otodidak. Kamera pertama yang saya gunakan adalah Canon 1000D (itu pun milik UKM). Lambat laun berkat bimbingan kakak tingkat saya mampu menguasai dasar-dasar fotografi. Dari sana lah saya mulai menyukai fotografi.

Pertemuan saya dengan mas Taufan Wijaya dan terinspirasi oleh film The Bang Bang Club membuat saya ingin menjadi seorang wartawan foto.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, saya gagal menjadi wartawan. saya pernah melamar ke sebuah koran lokal namun gagal.

Akhirnya saya menerima pekerjaan saya sekarang yaitu sebagai guru dan tetap memotret.

Pertemuan saya dengan mas Aji Susanto Anom mengusik pemikiran saya tentang fotografi. Dahulu menurut saya fotografi jurnalistik adalah foto yang sangat indah dan luar biasa, karena foto tidak hanya sebuah foto, ada sesuatu dibalik sebuah foto tersebut dan memiliki kekuatan yang luar biasa.

Setelah saya bertemu dengan mas Aji Susanto Anom saya baru mengetahui aliran foto yang lain, yaitu foto sebagai media mengungkapkan perasaan, foto yang diperuntukan untuk diri sendiri.

Mulailah saya membuat projek tentang perasaan saya, salah satunya projek ”Move On”.

Kamera saya yang pertama adalah Canon 1100D, kemudian saya membeli camera digital Canon Powershoot A2500. Berjalannya waktu saya lebih tertarik dengan kamera yang minim dalam kemampuan (saya terinspirasi oleh Daido Moriyama).

Saya mulai menganggap kamera adalah senjata, fotografer adalah orang yang menggunakan senjata tersebut. Hal terpenting dalam menghasilkan sebuat karya adalah orang dibelakang senjata tersebut (saya terinspirasi oleh Seno Gumira Ajidarma lewat bukunya “Kisah Mata”). Saat ini saya hanya memiliki kamera Canon Powershoot A2500, sedangkan DSLR saya jual.

Metode memotret saya sekarang ada tiga.

Pertama, saya memotret berdasarkan dasar-dasar fotografi jurnalistik. Saya masih memiliki ketertarikan dalam hal jurnalistik.

Kedua, saya memotret berdasarkan aliran Street Photography.

Ketiga, saya memotret berdasarkan perasaan yang saya rasakan (Saya sedikit susah menjelaskannya untuk yang kedua ini). Bagaimana suasana hati saya, saat saya memegang kamera, dan saya memotret apa yang saya lihat dengan perasaan saya saat itu. Begitulah metode yang kedua ini. hehe

Berhubungan dengan projek saya yang berjudul “Move On” ini adalah kerena perasaan saya yang ditinggal menikah seseorang yang pernah singgah di hati saya. Saat saya merasakan kesedihan itu, saat saya merasakan sakit hati itu, saat itulah saya memotret.

Hasilnya adalah rangkaian foto dalam projek “Move On”. Tentang judul “Move On” saya menganggap bahwa kebahagiaan yang sebenarnya adalah dengan menerima kesakitan, bukan lari dari rasa sakit tersebut.

Contohnya saat tangan kita terluka karena tergores pisau, kita tidak bisa membayangkan bahwa kita sedang tidak terluka, membayangkan dipadang rumput yang luas nan indah dan melupakan rasa sakit di tangan akibat goresan pisau, padahal tangan kita memang sedang terluka.

Berkat rangkaian foto-foto tersebut sekarang saya sudah terbiasa dan terbebas dari kesedihan akibat cinta.

Kegemaran saya diluar fotografi adalah membaca, berpikir dan olahraga. Seorang yang saya idolakan adalah Seno Gumira Ajidarma. Ia wartawan, fotografer, penulis, budayawan, dan pemikir. Sekarang pun saya sedang belajar menulis agar bisa menyalurkan pemikiran dan perasaan saya.

Ungkapan yang menginspirasi saya adalah dari Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah proses keabadian”. Didalam pikiran saya, ungkapan tersebut berubah menjadi “Berkarya adalah proses keabadian”.

Saya bukan seseorang yang mecintai fotografi dari awal atas diri saya sendiri, sehingga saya terlalu naïf jika mengatakan bahwa kalau tidak memotret saya akan mati.

Namun, fotografi adalah salah satu hal yang membuat saya lebih hidup.

Sekian, maaf jika terlalu bertele-tele, dan terima kasih atas ketertarikannya dengan projek saya yang berjudul “Move On”. Salam kenal.

 

 

 

Move On Project Desription

Aku merasa ini hanya mimpi buruk, tapi ternyata ini semua nyata.
Dia menikah 18 januari 2017, dan hari itu adalah akhir dari hubungan kami. Malam-malam setelah itu, sepi selalu menghampiriku. Handphone yang setiap malam selalu dipenuhi chat darinya, kini seperti mati suri. Aku sering membayangkan bagaimana dia melewati waktu malam bersama suaminya. Padahal sebelumnya, kita masih sering melewati malam bersama.

Beberapa foto ini adalah foto-foto yang aku ambil saat dia terlintas dalam pikiranku. Foto-foto tersebut merupakan proses diriku untuk bangkit kembali.

Berkat semua itu, sekarang aku mampu menerima rasa sakit dalam hatiku dan menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Aku yakin setelah ini akan datang “dia” yang lain.

Instagram
Website

Copyrights:
All the pictures in this post are copyrighted Adi Putra Purnama