Browsing category

Reviews

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal
Blog, Photography, Reviews, Uncategorized,

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Kodachrome Movies

Jika Anda berharap menyaksikan kisah para fotografer dengan aksinya di lapangan pada proses pengambilan gambar seperti pada Bang Bang Club maka di Kodachrome tidak akan banyak ditemukan. Kecenderungan lebih mirip film drama The Secret Life of Walter Mitty. Dan berfokus hubungan antara ayah dan anak yang tidak begitu harmonis.

IMDb memberikan rating 6.8/10 dan skor 71% pada Rotten Tomatoes tentunya sudah cukup layak dipertimbangkan untuk ditonton.

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar nama Kodachrome?

Kodachrome  adalah salah satu color slide film dengan ASA 64 turut menghiasi jajaran produk Eastman Kodak yang diperkenalkan pada tahun 1935, meskipun banyak diminati namun sepertinya bukan menjadi pertimbangan dari pihak Kodak untuk tetap memasarkan. Sehingga pada tahun 2009 slide film ini akhirnya discontinued.

Kodachrome juga menjadi pilihan favorit bagi beberapa fotografer ternama seperti Steve McCurry & Joel Meyerowitz.

Pada film ini dikisahkan Benjamin Ryder (Ed Harris) seorang fotografer profesional yang semua karya menggunakan Kodachrome ingin memproses 4 rol dari awal karyanya ke Kansas, karena hanya di kota ini lah tersisa satu lab terakhir di dunia yang melayani proses development roll film ini yaitu Dwayne’s photo.

Dalam perjalanan ke Kansas Ben ingin ditemani oleh putranya Matt Ryder (Jason Sudeikis), yang bekerja di label musik rekaman dengan karir tidak begitu menggembirakan. Hal ini terlihat pada adegan pembuka ketika perseteruan terjadi dengan atasannya, karena Ia tidak menunjukkan hasil bagus dalam hal pencarian artis berbakat untuk direkrut rekaman.

Yang menarik dari Kodachrome adalah konflik sudah bermula dari awal film ini berjalan. Matt sudah mendapatkan banyak masalah karena gagalnya melakukan perekrutan artis, dan nasibnya di ujung tanduk. Cuma punya waktu 2 minggu untuk mendapatkan band Spare Sevens yang kala itu sedang naik daun.

Ketika kembali pada ruang kerjanya Matt mendapati Zoe Kern (Elizabeth Olsen) yang mengaku sebagai suster pribadi Ben, tujuannya adalah memberikan informasi kalau ayahnya sedang sekarat karena kanker hati, dan sisa umur berdasarkan prediksi dokter cuma sebatas 3-4 bulan. Zoe juga meminta kepada Matt untuk turut serta dalam perjalanan ke Kansas. Sudah bisa ditebak bahwa Zoe ini wanita yang cantik.

Wajah Elizabeth Olsen membuat saya penasaran, karena seakan tidak asing. Ternyata jika mengikuti Avengers  dari seri Age of Ultron sudah hafal tentunya dengan Wanda Maximoff / Scarlet Witch.

Mungkin karena momen tidak begitu pas, baru saja pusing dengan tekanan kerja Matt terlihat agak emosional ketika menerima kabar ingin diajak kembali bertemu dengan Ben. Dalam percakapannya bersama Zoe diketahui lah bahwa anak dan ayah ini sudah tidak bertemu selama kurun waktu 10 tahun. Wow, sungguh hubungan rumit yang tidak bisa saya bayangkan.

Zoe sepertinya bukan wanita yang tidak begitu mudah menyerah, hal ini terbukti karena terus berupaya membujuk Matt setidaknya untuk menghadiri makan malam di rumah Ben. Rasa sayang kepada ayah dalam hati paling terdalam membuat Matt sepertinya menyempatkan hadir.

Pertemuan di rumah Ben membuat saya cukup kagum, bukan karena mewahnya rumah dan segala pernak-perniknya. Namun kemunculan sosok Larry Holdt (Dennis Haysbert) yang menjabat sebagai manajer pribadi Ben. Tentunya Ben bukan fotografer sembarangan, sehingga butuh seseorang untuk mengatur segala sesuatu tentang dirinya.

Sebagai seorang fotografer tentunya menjadi hal lumrah jika dinding rumah dihiasi dengan foto yang dipajang dengan ukuran besar. Entah kenapa melihat karya-karya di sini saya langsung teringat dengan Steve McCurry. Layout tertata rapi layaknya pameran tunggal.

Kesan pertama ketika karakter Ben ditampilkan sebagai sosok yang terlihat bugar, karena dengan penuh enerjik menabuh drum. Sempat terlintas dugaan saya kalau ini hanya suatu trik supaya Matt mau mengunjunginya. Dan ternyata saya berburuk sangka hahaha.

Ben digambarkan sebagai seorang pria dengan umur 60-70an, cenderung sarkas dalam setiap kata yang terlontar. Tentunya suasana makan malam tidak menjadi begitu bersahabat, yang ada malah sikap Ben memicu pertengkaran dengan Matt, kemudian ditonton oleh Zoe dan Larry. Matt juga tidak ketinggalan berbicara lantang menanggapi apa yang dibicarakan Ben.

Dan begitulah makan malam yang bertujuan untuk membicarakan rencana perjalanan ke Kansas menjadi gagal, karena Matt memutuskan meninggalkan rumah Ben dengan amarah.

Setelah pertemuan ini Larry mengambil peran penting untuk membujuk Matt, Ia menawarkan bisa mengatur pertemuan dengan Spare Sevens sembari berkunjung ke Kansas. Karena band ini akan mengadakan konser di Chicago sebagai bagian dari tur musik mereka. Dengan alasan membutuhkan Spare Sevens akhirnya Matt memutuskan mengikuti perjalanan ini.

Perjalanan ke Kansas memakan waktu selama seminggu, berangkat dalam mobil kap terbuka dengan isi penumpang Matt, Ben dan Zoe. Sudah bisa dibayangkan jika konflik kembali terjadi Zoe menjadi penengah 2 orang pria ini. Sepintas saya jadi teringat film 3 Hari untuk Selamanya ketika menyaksikan alur ini. Berbeda memang secara keseluruhan.

Awal mobil mulai melaju konflik kembali terjadi, Ben menjadi risih karena suara operator penunjuk GPS dari smartphone Matt, tanpa basa basi benda itu dibuang ke jalan dengan alasan dimobil ini khusus hanya untuk analog.  Anda bisa bayangkan ekspresi Matt seperti apa, karena awal film diperlihatkan Ia tidak bisa lepas dari smartphone.

Tindakan ini berbalas ketika Ben sedang asyik mendengarkan musik, Matt mengambil dan membuang kaset dari tape yang sedang digunakan, persis sama seperti apa yang dilakukan Ben. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan ini, terlihat childish dan lucu hahah.

Jika menyaksikan suguhan pemandangan di sepanjang perjalanan saya berasa ingin turut serta pada mobil itu, sungguh menarik sepertinya bisa melirik kiri dan kanan begitu menyaksikan hal menakjubkan. Apa lagi oleh mata yang tidak begitu terbiasa melihat landscape Amerika.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konflik sepertinya menjadi bagian dari kehidupan Ben, karena dengan sikap sarkasnya selalu menjadi pemicu timbulnya masalah. Hal ini kembali terjadi ketika di tengah perjalanan mereka memutuskan berkunjung dan bermalam di rumah Dean yaitu adik Ben sendiri.

Di sini terlihat keluarga terdekat Ben sudah maklum dengan sikapnya, dan di sini baru terungkap fakta bahwa Matt lebih banyak menghabiskan waktu bersama paman dan istrinya karena pernah tinggal di sini sampai lepas remaja. Pada suatu acara malam saya sempat terkagum dengan Ben.

Dean: “Apa yang begitu istimewa pada foto-foto ini hingga kau menempuh perjalanan jauh untuk mencetaknya?”

Ben: “Ini semacam karya-karya awalku, foto-foto yang aku ambil sangat lama”

Matt: “Bagaimana jika saat kau mendapatkan hasilnya dan itu sampah? Bagaimana kau tahu apa saja isi di dalam rol film itu?”

Ben: “Aku ingat setiap foto yang pernah aku ambil”

Terdengar seperti percakapan yang akrab, namun tetap saja tidak berakhir demikian. Karena Matt kembali kesal ketika ditanyakan kepada Ben kapan tanggal ulang tahunnya Ben kebingungan menjawab, bahkan jawabannya dibantu oleh Dean.

Meskipun perseteruan selalu berulang, perjalanan tidak batal di tengah jalan. Mungkin karena faktor kebutuhan akan Spare Sevens oleh Matt dan patuhnya seorang Zoe sebagai perawat pribadi. Sembari meneruskan perjalanan Ben seperti tidak ada belas kasih karena mempertanyakan kenapa Matt dan Zoe tidak bercinta padahal mereka telah sekamar dan sama-sama dalam desakan biologis, notabene keduanya telah sama-sama gagal dalam pernikahan.

Tentunya hal ini membuat Matt yang menjadi memanas, meski Zoe terlihat masih sabar. Meski matanya mulai sembab dan suasana melanjutkan perjalanan mulai canggung dan berkaca-kaca. Seperti sebuah adegan jelas seseorang ingin menumpahkan air matanya.

“Apakah kau pernah bahagia Ben” Matt melontarkan pertanyaan demikian ketika Ben masih memancing konflik.

“Biar aku beritahu padamu. Kebahagiaan itu omong kosong. Itu hanya mitos besar dari abad ke-20. Kau pikir Picasso bahagia? Kau pikir Hemingway juga bahagia? Hendrix? Mereka semua menyedihkan, takkan ada seni bernilai besar tercipta dari kebahagiaan. Aku bisa beritahu itu padamu. Ambisi, seks, amarah. Itu adalah mesin yang menggerakkan seniman besar. Setiap orang-orang besar. Sebuah lubang yang takkan dipenuni. Itu sebabnya kita semua adalah bajingan yang sangat menyedihkan” Dengan gamblangnya Ben tentunya memberikan pernyataan ini.

Meskipun Ben digambarkan sebagai pria tua yang menyebalkan, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum jika sisi bijaksana muncul dan kata-katanya begitu menggugah.

Tak peduli betapa bagusnya sesuatu terlihat, kau tidak bisa mengalahkan yang nyata sebenarnya. Orang lebih banyak mengambil gambar saat ini melebihi sebelumnya. Miliaran foto, tapi tak ada klisenya. Tak ada cetakannya. Itu hanya data, debu-debu elektronik.

Bertahun-tahun dari sekarang saat mereka menggali kita, tak ada satupun foto yang ditemukan. Tak ada catatan tentang siapa kita, bagaimana kita hidup.

Saya menjadi begitu terperangah dan sempat mengulang kembali pada adegan ini, sepertinya inilah pilihan yang dilakukan oleh banyak rekan-rekan sesama pegiat fotografi yang masih saja bertahan dengan kamera analog. Dan Matt memicu pertanyaan kepada Ben, sehingga jawaban ini keluar seakan mewakili alasan kenapa fotografi analog masih eksis meskipun digempur oleh majunya teknologi kamera digital belakangan ini.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Baca juga: Perbincangan Fotografi Analog with Slamet Riyadi (@rolleiflexology_)

Sesampainya di Chicago pada malam harinya, adalah kesempatan Matt untuk negosiasi dengan Spare Sevens. Di sini mulai terjadi percakapan positif antara kedua anak, berkat tantangan Ben meminta Matt presentasi mengenai pertemuannya. Saran dari Ben akhirnya diterima Matt, meski setelah akhir pembicaraan salah satu personil band menertawakan Ben yang tidak bisa menahan diri untuk ngompol dalam celana.

Matt terlihat tidak nyaman, nurani seorang anak perlahan mulai diperlihatkan. Dengan pilihan sulit meninggalkan band yang selama ini diburunya begitu saja. Namun, apa yang terjadi? Ben tidak merasa bersalah dalam gagalnya negosiasi ini. Zoe ikut membela Matt dengan menjelaskan bahwa Ia membela Ben. Meski berujung perdebatan dengan bosnya kemudian berakhir dengan pemecatan. Konflik tetap terjadi berulang.

Bagaikan segala sesuatu terjadi dengan alasan, pagi keesokan harinya Matt menemukan Ben sedang tidak sadarkan diri di lantai kamarnya, hal ini membuat Ben harus diopname. Pada bagian ini Matt mulai terlihat begitu khawatir, dan pada suatu momen sang ayah dengan bercucuran air mata bercerita tentang kesalahan dimasa lalu dan meminta ma’af sambil bercucuran air mata. Sungguh adegan yang begitu menyentuh, Anda jangan sampai melewatkan adegan ini!

Keesokan harinya adalah batas terakhir proses Kodachrome, meski dalam kondisi semakin melemah Matt memaksa Ben untuk segera melanjutkan perjalanan ke Parsons, Kansas. Menempuh perjalanan sepanjang malam akhirnya sampai pada tujuan. Apakah berakhir begitu saja?

Saya cukup tercengang ketika menyaksikan banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia berbulan-bulan sebelumnya hanya untuk tujuan sama. Bahkan ada yang memasang tenda di parkiran. Sungguh menakjubkan.

Sesampainya di Dwayne’s photo cukup membuat jantung berdebar-debar, karena seorang wanita operator lab menyatakan bahwa proses development telah ditutup bahkan pada hari sebelumnya. Bayangkan saja sudah menempuh perjalananan jauh selama seminggu tapi tetap tidak bisa memproses rol film yang telah dipersiapkan.

Akhirnya Dwayne sendiri selaku pemilik lab muncul, ternyata sudah disiapkan jatah untuk Ben meski antrian penuh sekalipun. Terlihat di sini Matt mulai kagum pada ayahnya.

Tidak berhenti di situ saja, ketika mereka mencari cafe untuk beristirahat sejenak. Ada salah satu pengunjung yang menyapa Ben, dan dalam waktu sekejap dia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Semua orang mengenalinya dengan begitu hormat.

Kita semua ketakukan dengan waktu, dan bagaimana sesuatu menghilang. Itu sebabnya kita menjadi fotografer. Tugas kita adalah melestarikan.

Kita memotret untuk menghentikan waktu. Untuk mempertegas momen terhadap keabadian. Sifat manusia membuatnya nyata.

Sepenggal petuah yang begitu menginspirasi pada potongan terakhir pada kisah ini. Karena pada malam harinya Ben meninggal dunia dalam keadaan sedang membersihkan peralatan kameranya. Jika diperhatikan lebih seksama maka terlihat Ia hampir tiap saat ketika istirahat merawat kamera dengan begitu telaten.

4 rol yang diantarkan ke Kansas ternyata menjadi suatu bagian paling mengharukan menurut saya pada film ini, kenapa? Ini menjawab prasangka Matt yang menganggap ayahnya tidak pernah memerhatikan dirinya. Karena semua rol ini adalah momen Ben bersama istri, foto ketika Matt berulang tahun ke-4. Suatu foto-foto yang memperlihat Ben begitu menyayangi Matt.

Kodachrome Movie, Perjalanan Terakhir Dengan Karya Awal

Photo from Kodachrome movie

Konklusi 

Jika Anda begitu berharap bisa mendapatkan begitu banyak pembahasan mengenai seputar fotografi, atau profil seorang fotografer besar. Maka film ini akan membuat kecewa.

Karena lebih banyak menceritakan mengenai konflik ayah dan anak. Dan tentunya dimbubui oleh kisah romansa oleh Matt dan Zoe. Perjalanan seminggu ke Kansas bisa menceritakan dengan jelas latar belakang konflik yang terjadi pada masa saat ini dan bahkan hal terjadi pada gagalnya pernikahan setiap tokoh utama. Pada Ben penekanan kesalahan sikap dia yang menyebabkan Matt sulit untuk mema’afkan

Film ini syarat akan pesan moral, apakah itu dari bagian mengasihi orang tua dan anak. Serta hal-hal prinsip Ben sebagai seorang seniman besar yang memilih hidup pada jalur fotografi. Banyak kutipan menginspirasi yang layak disimpan.